Pagi tadi smartphone saya berdering berkali-kali karena alarm yang saya pasang dengan selang setiap sepuluh menit. Sejak pukul dua hingga tiga, saya bangun dan mematikan deringnya. Perbuatan tersebut tak patut ditiru jika kamu memang harus bangun pagi-pagi sekali. Saya memutuskan tetap kembali tidur saat alarm terakhir saya matikan, pukul tiga tepat. Di jadwal, saya bangun pukul dua untuk packing perlengkapan, kemudian mandi dan langsung menuju kampus untuk upacara pelepasan KKNM selepas shubuh. Rencananya begitu, namun saya baru tidur pukul sebelas karena ketagihan membaca satu buku bagus karya Paulo Coelho. Smartphone itu saya himpit dengan bantal, saya mau tidur, masa bodoh KKNM. Bisa menyusul kalau telat kok, katanya.
Tak sampai semenit ia kembali berdering. Saya kesal dan berniat mencabut baterainya!
Loh nada deringnya beda? Otak saya mulai waras dan sadar kalau itu panggilan telepon. Mungkin dari ibu yang berniat membangunkanku. Atau Puti? Oh bukan, tentu bukan Puti. Sebesar apa pedulinya padaku untuk bangun pagi? Kita baru bertemu kemarin sore, dan interaksi pun masih sedikit, bahkan lewat chat. Toh dia bisa jadi tetap tak tahu saya berangkat hari ini, meski sudah saya beritahu beberapa kali.
Namun saya memang berharap itu Puti sehingga saya kecewa melihat nomor yang menelepon adalah nomor yang tak saya simpan, beda operator dengan nomor-nomor Puti. Siapa? Tak mungkin ibu..
Ah tak penting, saya mau tidur. Telepon itu saya reject. Kurang dari lima detik ia berdering lagi, dan nomor yang sama menelepon kembali. Saya angkat,
“Uda, bangun yak. Ini Noni.”
Oalah Noni memang janji membangunkan saya pada malam sebelumnya. Saya berusaha bersuara tak seperti orang setengah sadar agar tak malu masih belum bangun,
“Iya non, aku udah bangun kok.”
Dan saya ketahuan masih berbaring dengan mata setengah terpejam.
“Langsung bangkit dan jangan tidur lagi ya. Ayo bangun, kan berangkat hari ini.” Ucapnya dengan lembut di ujung sana. Noni memang saya kenal lembut, sebatas yang saya kenal ya begitu. Oke, kelembutan itu membuat saya duduk dan memberitahunya saya sudah benar-benar bangun.
Segera saja saya mengucapkan terima kasih dan menyelamati keberangkatannya nanti. Noni membalas hal yang sama, menyemangati saya. Dan telepon dimatikan.
Saya (harus) siap berangkat!
Upacara terlambat dimulai karena rektor baru berangkat dari Bandung pukul tujuh pagi, sementara kami sudah menunggu dari pukul enam di Jatinangor. Ya tak apa sih kalau dari awal tak perlu mewanti-wanti harus datang tepat waktu pukul lima tiga puluh. Namun semuanya lancar. Noni terlihat di sana sebagai perwakilan mahasiswi KKNM dalam penyematan topi. Terima kasih non sudah membangunkanku.
Satu hal, dan hanya satu yang paling berkesan dalam pemberangkatan ini. Sekian orang teman dan senior saya datang membawakan bingkisan sebagai kenang-kenangan. Mereka memeluk saya, mendoakan, mengajak berfoto, dan tertawa bersama. Saya kira tak akan ada satupun yang datang menghampiri pelepasan saya di KKNM saat ini, karena belakangan saya sering menghilang dari kampus. Kejenuhan terhadap pola pikir yang berkembang di lingkungan kecil ini membuat saya berkelana kemana-mana dan memutus banyak komunikasi dari sebagian besar orang yang saya kenal. Meski kadang masih sering berbalas chat, namun saya tak terlalu mempedulikannya. Dan mereka tetap melepas saya dengan dadah-dadah manis ketika bis kami melaju ke arah Sumedang kota, menuju desa tujuan, Karangasem, di Indramayu. Saya menyayangi mereka, namun mungkin memang waktunya saya segera pergi dari kampus ini dan melihat banyak hal di luar sana.
Perjalanan kami bisa dibilang cukup lama dari waktu tempuh normal Jatinangor-Indramayu. Sesekali saya ikut asyik mengobrol dan tertawa dengan teman sedesa, Iyan di samping kanan, Zia dan Nafa di kursi depan, dan Ina yang duduk di seberang Nafa. Juga dengan tetangga desa sebelah, Luthe, akhwat yang (sempat) menjadi impian.
Ah, soal Luthe. Ia duduk tepat di belakangku. Rasanya baru kemarin saya memimpikannya dan kini semuanya berbeda. Saya hanya ingin becanda ringan dan bukan untuk menarik perhatiannya. Dulu begitu kuat keinginan untuk membuat komitmen, sayang ia selalu berusaha menghindar. Ketika saya bilang ingin main ke rumahnya, ia bertanya kenapa, ada apa, kok harus, dan segalanya. Saya ingin menjawab biar lebih dekat, ia menghindar dan tak pernah mencoba menanggapi hal tersebut. Mungkin memang ia tak tertarik kepada saya. Jadi wajar kan saya harus menghentikannya. Hal yang membuatnya terlihat agak tak mengenakkan adalah, sebenarnya saya pernah mendiskusikan soal keinginan berkomitmen itu di lingkaran kecil liqo saya kala itu. Namun yasudahlah, semua sudah berlalu juga. Kini ia tetap tak mau menunjukkan sikap jelas ketika saya goda dengan pertanyaan,
“Luth, mumpung aku nakal saat ini. Kalau aku ngajak kamu jalan, mau ga?”
Kemudian saya ya ribet harus membalas pertanyaannya, jalan kemana, buat apa, kenapa harus jalan, dan segala macam pertanyaan yang ia lontarkan sebelum menjawab apa yang saya tanyakan.
“Kamu jawab dulu, mau ga?” Saya desak.
“Satu syarat, kita ga hanya berdua. Mesti ada orang ketiga.”
Dan itu absurd. Ia tak memercayai saya. Yah, meski sejujurnya Ia sedang menjalankan prinsip agama untuk ‘menjaga’, namun tetap absurd. Tak mungkin orang ketiga ini akan membantuk kami menepok nyamuk ketika kami berbicara berbagai macam hal. Lagipula Luthe bukan tipe orang yang memulai pembicaraan, sehingga kalau bukan saya yang memulai kami tentu akan diam sepanjang perjalanan. Pun setelah berbicara sedikit ia tak pernah mau mengungkapkan isi pikirannya, pendapatnya, pandangannya, dan pemahamannya. Ia memilih diam. Membayangkan kami diam, dan ada orang ketiga, sudah pasti saya yang akan tersisihkan. Karena tentu orang ketiganya harus kenalan dekat Luthe, Ia selalu punya bahan dengan kenalan dekatnya. Dan saya tak pernah jadi kenalan dekatnya.
Meski pembicaraan itu terjadi ketika pertemuan sebulan sebelumnya, di bis kira-kira ia melakukan hal yang sama. Begitulah, saya tak mau memperpanjang waktu yang terbuang untuk memikirkan hal tersebut.
Kami akhirnya sampai di Desa Karangasem, yang ternyata berwajah kota, ketika matahari sudah mulai berwarna kejinggaan. Sudah sore. Sebelumnya kami di pendopo kantor bupati Indramayu, disambut wakil bupati, dan melanjutkan perjalanan hingga rasa kantuk tak lagi terelakkan. Saya sering menguap dan Iyan malah bersemangat. Namun Iyan berhasil membuat saya melek dengan kisahnya, lain waktu saya ceritakan soal hal tersebut. Saya setidaknya turun bis dengan perasaan setengah kecewa karena Puti sepertinya menolak untuk dichat, katanya sedang tak enak badan.
Ya sudah, toh ia berhak kok untuk tak diganggu.
Satu hal yang membuat saya agak kaget. Saya tersadar, ternyata saya benar-benar berangkat KKNM hari ini! Sampai juga di desa rasa kota ini. Oh terima kasih alarmku. Eh Noni..