The Inner Power of Isra Miraj
“Ada sesuatu yang mesti kita pahami dari setiap peringatan hari besar Islam”, tutur seorang guru suatu hari dalam kultumnya, “bahwa yang terpenting dari itu semua adalah interaksi kita dengan nilai, bukan interaksi kita dengan apa-apa yang menghias nilai.” Sebagai contoh, setiap hadir peringatan Nuzulul Qur’an di pertengahan Ramadhan, kita diberi banyak sekali ruang bicara untuk membahas keajaiban-keajaiban Al Quran, namun di saat yang sama, kita tidak punya waktu khusus untuk membahas sejauh apa interaksi kita dengan Al Quran.
“Kita terlalu sibuk berinteraksi seputar Al Quran”, lanjut beliau, “namun lupa untuk berinteraksi bersama Al Quran.”
Dan itu sesuatu yang jelas berbeda. Kesalahan yang sama terjadi pada cara kita memperingati Isra Miraj, sebuah momentum kolosal yang tidak pernah terjadi kecuali sekali di muka bumi ini, satu perjalanan menembus ruang dan waktu yang dianugerahkan Allah pada Nabi Muhammad ﷺ, di detik-detik kesedihan sepeninggal Khadijah dan Abu Thalib, sedatangnya beliau dari hina dan cercaan masyarakat Thaif.
Kita kemudian, terlalu takjub dengan pertanyaan-pertanyaan template yang bisajadi kita bahas setiap tahun, seperti apa itu Sidratul Muntaha, apa itu Buraq, dimana Buraq ditambatkan, dan lain sebagainya. Memang bukan sebuah kesalahan, namun sebagiamana dipesankan Sayyid Quthb, jika memang Al Quran tidak menyebut nama, tak usahlah dicari. Jika memang Al Quran tidak menyebut ruang, tak perlu penat menelisik, sebab segala yang diutarakan Al Quran, itulah pelajaran intinya.
Logikanya, apa yang Allah inginkan dari kita ketika dibentangkan sebuah mukjizat bernama Isra Miraj, tentunya akan lebih dari sekedar perjalanan ke langit, akan lebih dari sekedar pengabadian dalam Al Quran untuk dijadikan nama surat. Lebih dari itu, Allah menginginkan kita untuk membaca hikmah besar dari ruang dan waktu ketika peristiwa itu terjadi, kondisi Rasulullah dan keadaan hatinya ﷺ, lalu menyusunnya kembali sebagai bekal bagi kita untuk menghadapi hari ini.
Pertama, peristiwa ini memahamkan kita bahwa Nabi Muhammad adalah manusia biasa, yang bisa sedih, bisa bahagia, mampu menangis, dan jua sanggup tersenyum. Isra Miraj adalah bentuk nyata Kemahatahuan Allah tentang hati anak-anak Adam.
Ketika manusia-manusia lalim yang mengklaim dirinya sebagai maharaja tak tahu menahu tentang urusan hati rakyatnya, acuh pada keadaan jiwa masayarakatnya, Allah Sang Maharaja menghibur Nabi Muhammad dengan perjalanan megah. Jika Allah berkehendak, Dia bisa saja terus memberi beban-beban berat pada Nabi Muhammad tanpa peduli dengan keadaan jiwanya. Namun Allah Mahatahu sisi psikologis manusia, maka setelah kehilangan Khadijah dan Abu Thalib, setelah diusir dari Kota Thaif, Dia beri pertunjukan yang tiada duanya bagi kekasih-Nya. Agar kuat hatinya, kokoh lagi jiwanya, dan bening lagi cara pandangnya.
“Isra Miraj adalah hadiah dan hiburan bagi Rasulullah”, tutur Syaikh Yusuf Qardhawi dalam salah satu khutbah Jumatnya, “sebagai penguatan setelah beliau ditimpa musibah, seakan Allah ingin memberi tahu, ‘Wahai Muhammad, walaupun penduduk bumi memusuhimu, tenanglah, penduduk langit menyambutmu dengan hangat, walau mereka menentangmu, teguhlah, Allah disini membersamaimu, para Nabi juga mengiringi langkahmu.’”
Kedua, momentum ini berfungsi sebagai hard power yang menjadi tool bagi Nabi Muhammad, untuk memberi pelajaran pada bangsa Quraisy; bahwa ada kekuatan Mahadashyat yang jauh lebih hebat dari kekuasaan mereka.
Orang-orang Quraisy memiliki kebiasaan berdagang ke Syam yang menghabiskan waktu perjalanan berangkat selama sebulan, dan pulang selama sebulan. Sedangkan beliau ﷺ melakukannya hanya dalam waktu sepertiga malam saja. Lebih-lebih lagi, ketika beliau ditanya tentang deskripsi Masjidil Aqsha –seperti berapa tiangnya, bagaimana bentuk pintunya, keadaan pelatarannya- beliau bisa menjawab dengan detail dan memuaskan, sedangkan mereka semua tahu bahwa Muhammad belum pernah ke Al Quds sebelumnya.
Di saat yang sama, ini juga menjadi ujian seleksi juga bagi orang beriman, karena momentum ini terjadi di luar nalar manusia biasa, dan hanya mereka yang meyakini kekuasaaan di atas kekuasaan manusialah yang akan mengamininya.
Ketiga, DR Yusuf Qardhawi memilih judul yang tepat untuk yang satu ini, yakni “sebuah estafeta kepemimpinan yang baru.”
Salah satu alasan, mengapa Allah memperjalankan Nabi Muhammad dari Makkah ke Al Quds dulu, baru ke langit, adalah karena Al Quds menjadi satu latar utama ‘serah terima kepemimpinan umat manusia’ dari nabi-nabi sebelumnya kepada Nabi Muhammad. Dan serah terima ini, disimboliskan dengan dijadikannya Nabi Muhammad sebagai imam shalat ratusan Nabi dan Rasul di malam agung itu. “Dengan dijadikannya Nabi Muhammad sebagai Imam shalat para nabi”, tutur DR Yusuf Qardhawi, “menjadi isyarat bahwa kepemimpinan umat manusia telah berpindah kepada umat yang baru dan Nabi yang baru ﷺ, kenabian yang sifatnya untuk semesta raya, bukan lagi yang terbatas pada satu kaum di ruang dan waktu yang berbeda. Kenabian ini untuk seluruh warna kulit manusia, segenap zaman, dan sampai hari akhir nanti.”
“Itulah mengapa, ketika Dinasti Ummayah memimpin umat Islam”, tutur Syaikh Ali Muqbil, Ketua Dewan Ulama Palestina, “serah terima jabatan kekhalifahan dilakukan di Masjid Al Aqsha, sebagai bentuk meneladani dipilihnya Rasulullah untuk melanjutkan estafet kepemimpinan dunia, maka Al Aqsha memiliki gelarnya sendiri, yakni Ramzul Imamah, simbol kepemimpinan.”
“Ketika Nabi Muhammad mengimami seluruh Nabi dan Rasul di malam Isra”, tulis DR Sayyid Karim Ghanim dalam Kitab Mausu’ah Al I’jaz Al Ilmi fil Quran was Sunnah, “ia menjadi dalil yang kuat, menerangkan pada dunia bahwa risalah Islam ini untuk semesta, dan syariatnya telah mencakup semua aturan-aturan umat terdahulu, serta yang paling utama, ketika para Nabi dan Rasul menjadi makmum shalat di belakang Rasulullah, jelaslah bahwa tujuan mereka semuanya adalah satu; mengajak manusia untuk menyembah Allah, yang tak ada sekutu bagi-Nya.”
Keempat, banyak sekali isyarat yang Allah bentangkan ketika Dia memperjalankan Nabi Muhammad dari Makkah ke Al Quds terlebih dahulu. Satu diantaranya adalah, Allah ingin menciptakan pemahaman pada Umat Islam, bahwa ruang gerak umat ini semenjak awalnya bukan sebatas Makkah saja, namun menembus wilayah-wilayah luas di seluruh dunia, Al Quds salah satunya.
Di saat yang sama, Allah juga mengingatkan umat ini bahwa dakwah Islam bukanlah dakwah untuk bangsa Arab saja, melainkan juga untuk bangsa-bangsa lainnya, disimbolkan dengan Al Quds, karena saat itu ia dibawah kekuasaan Romawi dengan nama Elia Capitolina. Dampaknya, umat ini akan memiliki mental ekspanisonis dan observasi, penjelajah dan dinamis.
Kelima, terperintahkannya shalat dengan segala mekanismenya dalam Isra Miraj, mengindikasikan bahwa perintah ini datang langsung dari Allah, untuk Rasulullah tanpa perantara apapun. Hanya perintah shalat saja yang diterima Rasulullah tanpa perantara, merupakan hentakan bagi kita untuk menghayati bahwa shalat bukan main-main kedahsyatannya.
“Seorang Raja, jika ingin menyampaikan hal mahapenting untuk disampaikan pada duta-duta besarnya, tak akan memilih surat sebagai pengantar pesan itu, melainkan akan segera memanggil mereka dan menyampaikannya secara langsung”, seperti itu yang diumpamakan DR Yusuf Qardhawi.
Perintah shalat yang disampaikan ketika Mi’raj, akhirnya juga menjadi satu kesimpulan baru. Seorang hamba, ternyata, bisa kapanpun dia mau untuk melakukan mi’raj-nya sendiri. Setiap hamba punya kesempatan untuk mengarungi perjalanan ruhaninya sendiri-sendiri. Bagaimana caranya? Shalat. Dengannya, manusia yang hidup dalam alam fana bernama bumi, dengan leluasa dapat menjalin koneksi lurus dengan alam langit yang abadi.
Di tengah kasak-kusuk dunia yang sempit dan penuh persoalan, Allah memberi manusia akses untuk mengadu pada Presiden semesta, langsung tanpa administrasi dan birokrasi yang pelik. Akses ajaib itulah shalat kita, yang seringkali kita lalaikan penghayatannya.
Maka, dengan segala fasilitas mewah ini, apakah kita akan tetap banyak mencela nikmat?