Gatel pingin jawab pertanyaan ini. Padahal ga terlalu penting banget, tapi semoga ada hikmah yang dapat diambil.
Pernah dong. Dan yang terjadi adalah jetlag sejenak.
Ceritanya saya dan dia satu desa, satu sekolah (kelas bersebelahan), dan ikut dua organisasi yang sama. Walaupun satu desa, saya belum terlalu mengenal dia seutuhnya. Karena saya anak pindahan dan ketika SD dan SMP tak diizinkan semesta untuk bersama, jadi hanya sekedar tau namanya saja.
Awal kenal saya tak terlalu tertarik dengannya, namun ketika mengetahui akhlak dan kepribadiannya saya menjadi begitu tertarik hingga perasaan ini mengusik. Perasaan ini mulai berkembang ketika ada agenda organisasi membuat kotak amal untuk digunakan sebagai kotak dalam pengumpulan infaq saat idul adha dan saat itu yang baru datang hanya dia. Hal yang bikin saya terpesona yaitu kala ia membuatnya seraya mendengarkan murottal. Entahlah, nyatanya hal sederhana itu mampu mengembangkan rasa yang tak sederhana.
Singkat cerita, semakin berjalannya waktu rasa ini semakin tak terkendalikan. Hingga akhirnya karena saya cenderung pendiam namun riuh di dalam, saya pun bikin akun palsu untuk berbincang dengannya. Dia membalas dengan begitu baik, sopan, dan santun. Sesuai dengan apa yang saya ekspektasikan.
Hal ini berlangsung selama satu tahun lebih. Hingga akhirnya dia menebak dengan tepat, karena beberapa kesalahan saya (mengungkapkan jika akun itu bukan akun asli, menggunakan akun untuk ngechat kakaknya, hingga menanyakan siapa saya ke dirinya).
Pagi itu saya dikejutkan dengan pertanyaan dia yang sangat to the point.
Kira-kira seperti berikut pesan yang ia kirimkan.
"Din.. Kenapa? Knp hrs jd orang lain utk bertanya pd ku? Knp hrs jd orang lain utk menegur ku? Knp hrs jd orang lain utk Memberi nasihat kepada ku?"
"Bukankah kita sahabat? Sebagai sahabat kau berhak memberiku nasehat Kenapa tdk mjd Din sahabatku, din yg ku kenal, utk melakukan itu? Maaf🙏"
Pagi itu saya terbangun dan terkejut dengan pesan yang ia kirimkan. Saya terlalu tidak pandai dalam membohongi seseorang :)) . Dengan khawatir tapi yakin akhirnya saya membalas pesannya.
"Maaf banget.. Iyaa.. Aku din, Adinda Kumala Jati. Sebelumnya harus banget ga sih aku jawab pertanyaanmu? Nek emang harus, okelah.. Tak jawab,insyaaAllah secara detail. Tapi tolong, jangan bilang siapa². Dan tetap bersifat biasa ajaa. Ok?"
Beberapa menit setelahnya ia pun membalas lagi. Hanya satu kalimat, tapi butuh kekuatan hati yang cukup untuk membalasnya.
"Tolong beri penjelasan.."
Saya butuh waktu sehari untuk konsultasi dan menyakinkan diri untuk menjelaskan segala hal yang saya rasakan. Dan akhirnyaa dengan berat hati namun cukup membuat lega lega khawatir, sayapun menjelaskan semuanya. Walaupun ada beberapa pernyataan yang hingga sekarang masih menjadi negasi bagi diri.
"Nek ditanyain kenapa aku ngelakuin ini. Sebenernya susah buat dijelasin, karena aku cuma bisa ngerasain. Mungkin bisa dibilang aku ngelakuin itu karena aku dulu pernah suka sama kamu. Iyaa, dulu pas kelas 11 sampai januari terakhir kemarin aku ngerasa nek aku kagum dengan kamu. Entahlah, mungkin cuma rasa yang dibuat oleh setan. Maaf 🙏
Dan akhir² kemarin rasa itu menggebu lagi. Nyuruh buat nge chat kamu. Jujur nih ya, sebenarnya pingin banget nge chat kamu langsung lewat account asli ku. Tapi aku ga seberani itu. Ya, mungkin aku cupu. Gitu tok ga berani. Wqwq, entahlahh..
Yaa, kamu sahabatku. Bahkan dulu aku pernah jadiin kamu lebih dari sahabat. Semacam orang yang ku kagumi. Jadi dulu itu aku sering banget merhatiin polah tingkahmu,entah tanpa kamu sadari atau enggak. Wqwq.. Tapi itu dulu.. Maaf aku terlalu berlebihan, sekarang aku udah nyadar kok. Kalau itu semua salah besar dan hanya bikin allah kecewa & cemburu. Maaf yaa 🙏
Dan satu lagi, tolong habis aku klarifikasi ini. Tetap jadi Tyo sing tak kenal. Tyo yang tetap biasa aja. Jangan terlalu menghindar. Anggap aja aku kaya Dinda yang dulu. Jadi bisa biasa aja. InsyaaAllah aku bakalan menyesuaikan secepatnya. Yang dulu biarkan berlalu, karena masa lalu bukan untuk kenangan. Tapi untuk diambil pelajaran."
5 hari pesanku dibaca begitu saja. Saat bertemu pun dia menjadi seperti menghindar, namun sepertinya pikirannya berkecamuk. Dan akhirnya saya beranikan diri lagi untuk meminta maaf yang kedua kali, barangkali ada kalimat yang tak sengaja menyakitinya.
"Maaf ya kalau penjelasanku bikin kamu jadi kepikiran. Cuma ngasih tau doang sih. Dan makasih ilmu yang udah dikasih.
Tetap bersikap biasa aja, maaf kalau aku sering banget bikin kamu ganyaman dengan tindakan yang ku lakukan. Maaf.. 🙏
Jazakallah wa barakallah 😊"
Dann.. setelah menunggu beberapa jam, ia pun membalas lagi. Sepertinya ia butuh waktu untuk merangkai kalimat balasan itu.
"Maaf.. untuk semua tingkah laku, ucapan & sikap ku yang selama ini mungkin menyakiti perasaanmu. Tak pernah ada niatan sama sekali untuk menyakiti perasaan orang lain terutama akhwat apalagi sahabat sendiri (tapi maaf aku sering lalai tentang itu) Terimakasih.. untuk semua perhatian mu (masukkan, kritikan, saran & semangat) untuk ku. Mungkin kamu orang ke-3 yang begitu memperhatikan kualitas ibadahku (setelah kedua ortu ku). Tapi aku merasa aku tak pantas utuk kau kagumi, begitu banyak kekurangan & kesalahan ada pada diriku, hanya saja Allah yang Maha Baik menutupi semua aibku. Tolong jika kau melihat kesalahan /kekurangan ku, kau punya hak sebagai saudara seiman utk memberiku nasihat. [Maaf & Terimakasih]"
Cukup legaa sih. Alhamdulillah. Walaupun pada akhirnya, tetap aja ada jarak. Tapi setidaknya hanya berlangsung beberapa bulan saja. Empat bulan setelahnya pun alhamdulillah sudah terlihat membaik lagi dan dia masih menganggapku sebagai sahabatnya (semoga) bahkan terakhir berjumpa dua tahun yang lalu dia berniat baik untuk menawari boncengan pulang setelah kesorean main sowan silaturahmi lebaran dan jika menunggu transportasi umum bisa sampai agak malaman, selain itu kebetulan arah rumah kami searah jadinya sekalian bareng walaupun saya meminta tidak diantar sampai rumah karena takut terjadi fitnah .
Saat ini saya tak tau apakah dia masih kecewa atau tidak. Yang saya tau, rasa kagum pada dirinya masih tetap ada, entah berbalas ataupun tidak, setidaknya doa itu masih tetap mengudara saat rasa rindu membara.
Fyi, saat ini kami melanjutkan mencari ilmu di tempat yang berbeda. Meskipun sedesa, nyatanya semesta tak mengizinkan untuk terjadi jumpa. Dan lagi lagi hanya doa yang dapat saya andalkan sebagai penawar rasa.
Makasih sudah membaca, maaf jika tulisannya belum rapi dan terkesan membosankan. Semoga ada hikmah yang dapat diambil ya, entah itu hikmah tentang menjaga rasa ataupun memaafkan saat telah dikecewakan. Feel free to comment anything :) Thanks 🐣
Numpang nulis di sini, karena dilapak sebelah sedang tidak ramah :")