Btw, selamat malam takbir semuanya.
Hari ini...penuh dengan eco-friendly. Kenapa eco-friendly? Karena saya jalan dari MOG sampai Pasar Besar. Buat yang tinggal di Malang pasti ngertilah berapa jauh jaraknya itu. Dan, iya, jalannya sendirian. Jadi berasa turis yang lagi backpacker. Hahaha.
Jadi ceritanya, hari ini job desk-nya lagi jadi sopir keluarga, mengantarkan para ibu-ibu ini belanja. Tapi, karena menghindari jalanan utama yang macet banget, jadilah memilih jalan yang memutar. Jadi, awalnya yang aku jadi sopir, turun duluan di MOG buat cari sesuatu dan nanti kalo udah selesai aku bakalan nyusul ke Pasar Besar, naik angkot. Tapi, waktu belanja itu, aku mikir; pasti nanti kalo naik angkot nunggunya lama dan...kejebak macet. Jadilah milih buat jalan kaki. Gimana rasanya? Nikmat.
Serius. Meskipun jaraknya lumayan jauh dan nggak ada awan mendung sama sekali, tapi rasanya nyaman. Apalagi jalannya juga bareng bule-bule yang lagai liburan di Malang. Jalan kaki juga mengajari banyak hal. Contohnya harus sabar waktu mau nyebrang, karena kita yang jadi pedestrian adalah kaum minoritas di jalanan. Jalannya juga harus minggir banget biar nggak kesenggol truk, tapi sialnya buat yang badan lebar begini minggir kayak begimanapun juga tetep kayaknya ke tengah -_- hahaha.
Selain pembelajaran toleransi itu, kita jadi ketagihan kayak mau jalan kaki terus. Rasanya jadi beda banget, kayak lagi nggak di Malang ataupun di Indonesia. Contoh aja kayak di Bali, gitu. Tapi ya itu resikonya, kaki jadi belang dan juga kaki lecet. Tapi semua itu worth it, dengan semua pembelajarannya dan juga mengurangi polusi udara malang yang semakin hari semakin macet.
Selain pembelajaran dari menjadi pedestrian dadakan itu, sewaktu di MOG, sewaktu nunggu SMS dari Ibu kalau belanjanya sudah selesai dan waktu itu aku belanjanya sudah selesai, aku duduk di tempat duduk yang memang di sediakan sama mall itu. Jadilah duduk di situ sambil dengerin musik dan juga baca novel. Ciri khas banget kalau yang ini. Sebelumnya ada seorang ibu dan anaknya yang duduk di sebelahku, tapi nggak lama mereka pergi dan dua bangku di sebelah jadi kosong beberapa waktu. Lalu, datanglah seorang bapak-bapak yang gayanya gaul banget; topi pelukis, hem, celana cargo, dan sepatu Crocs.
Awalnya, bapak itu diem aja dan aku juga nggak menghiraukan. Tapi terus bapak itu bersuara di sela-sela suara merdunya John Mayer.
"Baca apa?" tanya bapak itu.
"Hehehe, novel, Pak," jawabku salah tingkah.
"Oh..." jawabnya sambil manggut-manggut. "Kuliah apa sekolah?" lanjutnya.
"Oalah, Universitas Bangunan?"
Aku langsung ketawa. Ternyata emang iya, UB bisa jadi Universitas Bangunan, soalnya universitas itu emang selalu aktif membangun gedung-gedung baru.
"Jurusan apa?" tanya Bapak itu lagi yang alhasil aktifitas baca novelnya jadi berhenti.
"So, what will you be after that?"
Aku jadi mikir, senyum, jawabnya agak lama. Jadi sadar kalau mulai sekarang sudah mulai mikir serius ke cabang mana yang pengen kita tekuni.
"I wanna be a marine ecologist."
Bapaknya manggut-manggut lagi. "Saya dari Sastra Bahasa Inggris," katanya tiba-tiba.
"Dosen, Pak?" tanyaku memastikan kalau itu profesi bapaknya, bukan alumninya.
"Iya. Makanya saya bisa bilang kalau UB itu Universitas Bangunan," jawab Bapak itu sambil nyengir, aku juga jadi ikut nyengir.
"Sudah punya pacar?" Ebuset, bapak yang lagi nungguin istrinya belanja ini doyan banget ngobrol. Jadi deh novelnya kututup dan kumasukin tas.
"Hehehe. Kenapa, Pak?" Agak nggak nyaman sama pertanyaan ini.
"Jaman sekarang harus mulai start dan mulai nentuin untuk serius. Jadi ada tujuannya. Jangan cuma pacaran karena emosi. Kamu pasti tahu maksud saya. Kalau mulai sekarang sudah start dan ada tujuannya, insha Allah di hari belakang bisa jadi," kata Bapak itu. "Ya, saya kan juga orang tua, makanya saya bisa bilangin seperti itu."
Aku cuman bisa senyum denger nasehat dari stranger ini. Baru juga ngobrol berapa menit, kayaknya topiknya udah bikin mikir begini. Kayaknya sepele, tapi terus jadi sadar kalau kita harus mulai mikirin apa yang mau di tekunin dan nasehat yang terakhir itu juga harus di pikiri.
"Hehehe. Iya, Pak. Makasih."
Jadilah hari ini, hari yang paling rame dan macet, tapi juga hari yang penuh sama kesadaran dan pembelajaran. Berkah ramadhan, isn't it?
Jadi, apa pembelajaran untukmu hari ini?