Kepada Calon Bapak yang Tak Berbapak
Beberapa kawan bilang, tidak tahu bagaimana rasanya punya Bapak. Beberapa mengaku tak diaku, beberapa lupa karena sang Bapak telah berpulang ketika masih dalam kandungan, beberapa benci karena ditinggal pergi tapi bukan karena mati.
Beberapa khawatir akan jadi Bapak amatir. Tidak tahu cara mengasuh anak, berhubung mereka tak mengenal sosok Bapak.
Bapakku sering kali bertanya “Bapak mana yang sebaik Bapak?”
“Bapaknya Bapak” jawabku.
Bapak terdiam, melihat ke arah berbeda.
Aku kira, hebatnya Bapak adalah hasil didikan Bapaknya, Mbah Kakung. Eh, lupa. Bapak ditinggal Bapaknya ketika masih anak-anak. Mungkin kenangannya tak seberapa, atau mungkin bahkan tak tersisa.
Menjadi orangtua tak ada sekolahnya.
Kalau sekiranya kau adalah orang yang tak punya sosok Bapak untuk diceritakan, jadilah seorang Bapak yang kelak adalah lakon utama dalam cerita yang anakmu kisahkan.
Kalau sekiranya sekarang kau bertanya apa rasanya punya Bapak, jangan biarkan anakmu menanyakan hal yang sama. Dan jika anakmu mendapat pertanyaan serupa, entah dari siapa, pastikan anakmu menjawab dengan cepat, seakan ia paling tahu rasanya punya Bapak. Secepat menjawab satu ditambah satu sama dengan dua. Walaupun untuk mendapatkan angka dua, tidak harus dengan satu ditambah satu.