Andai Kau Duduk Di Hadapku
Angan itu bagai kabut. Kita tak pernah tahu misteri pengabulannya. Apa taman anggur yang menantimu atau jurang duka yang menyergapmu. Tapi biar kuterjang itu. Entah energi dari mana ku bertahan puluhan ribu jam menanti kabut itu tersibak, sedikit demi sedikit.
Bicara soal jam, ya, memang itu satuannya. Aku tak menantimu per hari. Aku selalu menunggumu tiap satuan waktu. Benar-benar tiap waktu. Tak ada jam yang kulewati tanpa kutelisik apa yang kau rasa dan kau pikir. Aku jadi tahu sebagian cerita panjangmu. Aku rasakan sakit, takut dan gembiramu. Aku juga jadi sakit ketika kau memutuskan meninggalkanku.
Jadi biarlah aku di sini tetap mengandai, seperti yang pernah ku bilang. Walau kau kemana, meski apa yang kau pikir soal ini, jikapun kau telah menghapusnya, selama belum ada kata "Tidak" dari Sang Pemberi, aku takkan menyerah.
Andai kau duduk di hadapku.
Itu andai yang sering aku gumamkan. Aku bayangkan aku bicara sejujur-jujurnya tentang puluhan ribu jam itu. Tentang cerita mengapa aku sampai di sini, bagaimana aku bisa begini, dan apa yang akan ku ingin di sini. Aku bahkan sudah menyiapkan kata-katanya.
Yang lebih jauh kuharap adalah kehidupan yang benar-benar bahagia. Memang tak selamanya sesuatu itu bahagia. Setidaknya aku bisa merasa tenang, pulang dengan senang dan karena senang, bisa merindu dan merencanakan. Itu asyik, lho.
Berangkat berjuang, pulang menceritakannya, berjuang lagi, cerita lagi. Aku sudah belajar banyak untuk cerita lho, jadi tak perlulah kau meminta-mintanya terus seperti dulu.
Mungkin kita juga akan banyak marahnya. Tapi aku ga bisa marah sih orangnya, cuma diem aja hehe, dan aku masih yakin aku akan tetap memperjuangkanmu meski kau marah padaku dan aku marah padamu, tidak seperti dulu.
Mungkin juga kita terkadang sedih, dan aku sudah belajar mendengarkan sekarang. Aku juga sudah belajar soal rasa dan bagaimana merasakan. Kau menemukan tempat pulang, dan aku juga begitu, tak seperti dulu.
Mungkin juga kita kadang bosan. Aku sudah buatkan program untuk kita biar kita mencoba hal baru. Setidaknya, kita berusaha untuk tak bosan bersama. Aku sudah buatkan roadmap keluarga, lho. Tapi ku pikir percuma kalau ku jalankan tanpamu.
Mungkin kita juga akan melupakan mimpi-mimpi kita. Tapi kurasa, aku ga akan menghalangi mimpimu. Aku tak mau menuntutmu sesuai kemauanku. Aku malah akan jadi garda terdepan meraih mimpimu. Kau tahu, aku akhirnya juga punya mimpi, lho, setelah puluhan tahun aku tak tahu harus kemana. Itu karena kamu. Dan salah satu mimpinya adalah menjadi penjaga senyummu.
Yah, pada akhirnya aku juga bodoh. Aku tahu aku belum selesai dengan kehidupanku ini. Mungkin itu yang membuatmu pergi. Tapi anganku ingin sekali ku sampaikan di saat tak ada lagi yang akan mau mendengarku.
Oleh karenanya ku sampaikan di sini, di tempat mungkin kau tak menyadarinya, karena tempat dimana kau bisa mendengarku sudah kau tinggalkan.
Intinya, tempat ini kuberi nama kepadamutiara. Karena muaraku adalah Mutiara, dan mutiara itu adalah kamu.
- Dari Cahya yang selalu berprasangka kau juga merasakannya.