It's my 10 year anniversary on Tumblr 🥳
hello vonnie
d e v o n
TVSTRANGERTHINGS

Product Placement
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

roma★

@theartofmadeline
🪼

JBB: An Artblog!
h

祝日 / Permanent Vacation
Cosimo Galluzzi
Today's Document
No title available
DEAR READER
Peter Solarz
$LAYYYTER

★
Lint Roller? I Barely Know Her
macklin celebrini has autism
seen from United States
seen from United States
seen from Greece
seen from France
seen from Indonesia
seen from Japan
seen from Colombia
seen from Belarus

seen from United Kingdom
seen from Egypt

seen from Bangladesh
seen from Colombia
seen from Colombia

seen from Malaysia
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
@keset-welcome
It's my 10 year anniversary on Tumblr 🥳
Si Bungsu dan Dunianya
adik kecil yang dulu diajari a, b dan c
kini sudah membentangkan pandangannya sendiri
bisa berargumen x, y hingga z meski kadang suaranya pelan
katanya, kamu masih kecil
adik kecil yang dulu selalu ingin ke luar rumah
kini menjadi orang terakhir yang bertahan di dalamnya
melihat sepi dan hampanya depan tv
hingga ia membuat ramainya sendiri
si bungsu itu yang melihat satu per satu menutup pintu–sampai mata
menyaksikan duka yang memenuhi setiap sudut rumah
memilih menjadi riang hingga meriang
demi menjaga senyum yang masih tersisa
kata mereka, ia masih adik kecil
“Tidak perlu menyesali segala sesuatu yang telah terjadi. Kita harus mulai belajar memahami bahwa kesempurnaan dalam menjalankan sebuah rencana memang hal yang mustahil untuk didapatkan.”
Di belantara kehdupan ini, sering kali kita disajikan pada episode-episode yang mungkin tidak berjalan sebagaimana ‘manuskrip’ yang telah direncanakan sebelumnya; karir impian, target menikah di usia kesekian, melanjutkan studi, dan sebagainya. Namun, disinilah letak keseruannya, betapapun kita mungkin memahami konsep kehendak absolut Sang Maha Pencipta, kita tetap harus berencana dan terus berupaya.
Kegagalan seringkali disikapi dengan raca kecewa, amarah bahkan rasa frustasi. Kita mungkin menghabiskan seluruh energi dan waktu untuk terus meratapi. Apakah ini salah? Tentu tidak. Tidak apa, tidak perlu mengabaikannya, biarkan rasa itu tetap mengalir sebagaimana naluriahnya. Hanya saja, jangan sampai membuatmu larut, kemudian patah, kemudian berakhir kehilangan arah.
Kehidupan harus terus berjalan, bagaimanapun keadaannya. Setiap kegagalan selalu menghadirkan kepingan-kepingan hikmah yang akan menuntun pada episode keberhasilan suatu saat nanti. Maka, jika kesedihan pasca ketertundaan itu kamu rasa sudah cukup, tiba masamu untuk meramu kembali keyakinan, harapan dan semangat, lalu sempurnakan itu dengan kepingan hikmah yang kamu dapati pada episode kegagalanmu di masa lalu.
Pada akhirnya, setiap ketertundaan adalah hikmah yang begitu bernilai. Tidak perlu terburu-buru menyusun kembali potongan-potongan rencana yang sempat berserakan itu. Ambil waktu yang diperlukan, biarkan luka sembuh dengan sendirinya. Lalu, saat kamu merasa cukup kuat, mulailah melangkah lagi, perlahan. Percayalah, meski tidak ada yang sempurna, setiap usaha yang tulus akan selalu menemukan jalannya.
kalau bisa, aku juga ingin cepat sampai.
pada tuju yang jalannya terlalu berliku, aku kerap jatuh berkali-kali. entah bangun untuk yang keberapa, ternyata lelah semakin jadi. sambil memandang kaki yang penuh bekas luka kanan dan kiri. terlalu banyak yang mengamati, iya iya akan ku percepat lagi.
Kapan Menikah?
seperti biasa, idul fitri tahun ini pun penuh pertanyaan "kapan nikah?" dari menjawab hingga hanya tersenyum karir. sebenarnya ramadhan kali ini membuat aku banyak refleksi diri, takdir seperti apa yang bisa aku terima lebih cepat, berjodoh dengan pernikahan atau kematian? apa aku sudah siap menghadapi salah satunya dalam waktu dekat?
Luka dari Bapak
kepergiannya yang bukan tiba-tiba, tetap membuat seisi rumah tak bersedia. aku masih ingat kisi-kisi awal yang kami terima, dinginnya lorong rumah sakit di pusat jakarta, juga berkas yang harus aku bubuhi tanda tangan–sebagai walinya. satu cincin terpasang pada saluran kehidupannya.
tak apa selama masih berdegup.
tahun ke tahun, dari ugd hingga icu, aku masih mampu.
sampai datang subuh itu, aku buka ruang khususmu ragu-ragu. aku tau banyak hal berat yang sudah dilaluinya, tapi kali ini berbeda. pundaknya yang biasa tegap, kini melemas. kakinya yang selalu kuat, terpasang selang dan beragam alat. badannya yang biasa terkena angin pagi-malam perjalanan kerja, terkulai ditutup selimut yang dingin.
monitor di sebelah ranjangnya terus berkedip menampilkan berbagai angka. di depannya, ada aku. anak terakhirnya–yang selalu dianggap kuat, menahan tangis sambil meminta izin untuk berangkat kerja.
aku pulang untuk bersiap. memecahkan tangis di kamar mandi. berharap setelah pulang nanti, jadi lebih kuat menemani.
belum sempat berhias diri, aku sudah dipanggil untuk mengaji. suara parau dan bacaanku yang jauh dari sempurna menemani diam-mu.
hari itu, hari pertama aku terluka karenanya.
satu-satunya luka yang bapak goreskan adalah kepergiannya.
berita tentang bunuh diri akhir-akhir ini cukup menggangguku. semakin hari semakin banyak, satu dua di berbagai kota. aku ingin tau seberapa berat sampai tak bisa lagi ditahan, seberapa sepi sampai tak ada yang menahan, dan seberapa ramai sampai tak ada yang sadar.
2023 sudah lewat separuh, tak ku sangka berhasil melewati setengahnya dengan baik-baik saja.
tahun ini, aku belajar mulai meromantisasi sekecil apapun momen dalam hidup. menikmati sesendok kuah mie instan yang aku masak selepas magrib, memotret diri sendiri setelah berdandan, juga mengambil lebih banyak momen bersama teman.
bersyukur masih diberi raga yang sehat hingga kuat melewati banyak bukit kecil yang aku sebut rintangan. meski tak sampai garis akhir yang didefinisikan orang-orang harus sesuai dengan timeline mereka, ternyata aku masih baik-baik saja.
tumblr, akan aku ceritakan bagaimana langkah kecilku meromantisasi tahun ini.
p.s. mendengar teman terkekeh akan lelucon murahku adalah salah satu hal paling menyenangkan😂🫶🏻
Kelana
lima tahun lari-lari, ternyata melelahkan kaki
kamu yang pernah melesat hebatpun kini memilih berhenti
menyisakan aku yang awalnya tak ingin lari, kini jalan cepat sendiri
memang tak semua perjalanan harus dibersamai
lelah sebadan menghantui sejak perhentianmu
aku juga ingin duduk dan menikmati hari
tapi kaki, masih saja sibuk menyusuri setapak jalan ini
sibuk menanti jarum jam tak lagi bergerak ke kiri
Died multiple times
November 2021, June 2022, December 2022
but no one noticed because there was no blood.
Kembali ke Tumblr
halo, keset-welcome!
terima kasih masih hangat menyapaku –yang harinya terasa dingin.
maaf datang hanya saat butuh. setahun yang berdarah-darah, aku hilang arah dan bingung ke mana harus becerita.
aku lupa di sini tempatnya.
mama bertanya apa aku pernah menangis di atas bantal, karena katanya aku terlalu kuat sampai ia lupa kapan terakhir lihat anaknya ini nangis.
bukan aku terlalu kuat, mungkin doa-doamu yang terlalu ampuh itu banyak sekali diaamiinkan malaikat.
barangkali doa itu bergabung dengan pandainya aku menyimpan sedih.
ma, setahun lebih anakmu setiap hari menangis di atas bantal sambil memunggunggimu yang terlelap. ternyata bukan aku yang terlalu kuat atau doamu yang sekarang kurang ampuh. waktu kemarin belum seberat saat ini.
Apakah benar kamu tidak seberharga itu?
Apakah diri ini tidak utuh sehingga kita merasa perlu sekali untuk dilengkapi? Apakah diri ini jika sendiri tidak bahagia sehingga kita merasa baru akan bahagia jika bersama? Apakah diri ini tidak berharga sehingga baru merasa berharga ketika kita bisa sama seperti orang lain? Apakah sebenarnya kita tidak mencintai diri kita sendiri tapi menutupinya dengan label mimpi dan cita-cita? Apakah sebenarnya kita tidak bisa menghargai diri kita yang seperti ini adanya? Berharap orang lain dulu yang bisa menerima kita, baru setelahnya kita bisa juga menerima diri kita sendiri? Apa kamu tidak kasihan dengan dirimu sendiri yang selama ini kamu hindari dan sembunyikan? Tak pernah kamu peluk, barang mengucapkan maaf dan terima kasih ke dirimu sendiri? ©kurniawangunadi
apakah dewasa itu saat sudah bisa mempertahankan hal-hal yang bahkan ngga punya harapan?
bukannya saat kecil kita diajarkan buat percaya sama apa-apa yang ada harapannya?
apa menjadi dewasa berarti kita harus menerima hal yang di luar kuasa sambil mengelus dada tiap nyeri melanda?
kenapa pas kecil ngga ada yang kasih tau kalau jadi dewasa itu harus bisa bertahan hidup tanpa harapan apapun?
banyak pelajaran dan cerita menarik yang hampir tiap hari aku dapatkan dari rekan-rekan kerja, yang notabennya sudah lebih dewasa bahkan ada yang seusia mama.
aku ingat, saat itu kami sibuk menggosip pesohor negeri yang cerai di hari ke 42 pernikahan. cerita tentang pernikahan pun dimulai. ibu A bercerita ia sering geli lihat pasangan seusianya saling berucap kata cinta. menurutnya, di usia pernikahan yang semakin bertambah, cinta itu semakin pudar dan hanya menyisakan kebiasaan. terbiasa saling melengkapi itu sudah menjadi keseharian, hingga ia merasa cintanya sudah tiada. ibu B dan C menimpali dengan pendapat yang sama. bagi mereka yang terpenting adalah perasaan saling melengkapi dan percaya. katanya, buat apa menikah saling cinta tapi tak bisa diajak bekerja sama?
ada satu yang paling aku ingat. salah satu dari mereka berkata:
"nikah itu pekerjaan seumur hidup, harus cari yang cocok. bayangin aja kerja seumur hidup sama orang yang ngga bisa diajak kerja sama. pasti berat sendirian."
mama bertanya apa aku pernah menangis di atas bantal, karena katanya aku terlalu kuat sampai ia lupa kapan terakhir lihat anaknya ini nangis.
bukan aku terlalu kuat, mungkin doa-doamu yang terlalu ampuh itu banyak sekali diaamiinkan malaikat.
barangkali doa itu bergabung dengan pandainya aku menyimpan sedih.
sini duduk sebentar.
ku ceritakan tentang sebuah tempat yang terlalu ramai dan hangat tetapi kosong.
seperti warung-warung kopi yang sering kamu singgahi.
ternyata hatimu juga sama saja.
pada waktu tertentu terlalu bising, memotret banyak momen—yang bahkan hanya ada di kepala saja.
di waktu lainnya, seperti kastil berhantu, sepi pun bosan ada di dalamnya.
kamu tau apa yang memberatkan hari-harimu?
saat suasana hati yang begitu tidak stabilnya menguasai tubuh, dari pagi hingga ke pagi lagi. dalam sepinya ia merayap ke kepala, mentitahkan otak agar berhenti bekerja, agar tak bahagia. rasa malas menyergap hingga ke tangan, kaki.
begitu terus lagi dan lagi.
setiap hari hanya meratapi, semua yang dikerjakan hanya menjadi penggugur wajib.
tak ada hati di sana, karena kamu sibuk menikmati kosong.
[akhir-akhir ini disibukkan dengan banyak penyesalan. sesal dan sadar terlambat adalah dua hal yang menyebalkan. dasar pemalas!]