Mahkota yang Menjadi Duri
Di atas meja, nasi mendingin tanpa sapa,
Hanya denting sendok yang beradu dengan cerca.
"Kau lelaki tak berguna, pembawa sial di rumah ini!"
Katamu tajam, menyayat hening yang coba kujahit kembali.
Apapun yang jatuh, akulah yang meletakkannya di tepi.
Apapun yang hilang, akulah pencuri yang tak berhati.
Bahkan saat badanku menggigil, dibalut peluh dan demam,
Suaramu masih meninggi, merobek malam yang kian kelam.
"Sakitmu hanya alasan! Kau malas, kau beban!"
Di depan matamu, aku hanyalah rongsokan yang salah jalan.
Ada sepi yang lebih dingin dari suhu tubuhku yang membara,
Yaitu menyadari bahwa di matamu, aku tak lagi punya harga.
Aku bukan suamimu, aku hanyalah samsak bagi amarahmu,
Tempat kau membuang segala kecewa yang tak mampu kau tuju.
Ketulusanmu telah menguap, terbang bersama angin lalu,
Meninggalkan aku yang bertahan hanya demi sisa abu.
Aku tetap berdiri, meski punggungku sudah retak seribu,
Bukan karena aku kuat, tapi karena aku tak tahu kemana harus mengadu.
Ternyata, mencintai bisa sesakit menggenggam bara,
Dan pengabdianku, hanyalah lelucon di tengah riuh makianmu yang membara.
_keset













