1/365
Terimakasih sudah memiliki hati yang kuat. I'm proud of myself✨️💖
Sade Olutola
wallacepolsom
Not today Justin
will byers stan first human second

tannertan36

Andulka
No title available

Kiana Khansmith
No title available

izzy's playlists!

#extradirty
AnasAbdin
we're not kids anymore.
One Nice Bug Per Day

JBB: An Artblog!
Mike Driver
Three Goblin Art
noise dept.
No title available
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
seen from United States
seen from Poland

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Argentina
seen from Germany

seen from Türkiye

seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
seen from Germany

seen from Malaysia
seen from Greece
seen from Japan

seen from Australia

seen from T1

seen from Türkiye
seen from Germany
seen from United States
seen from Nigeria
@depnotfound
1/365
Terimakasih sudah memiliki hati yang kuat. I'm proud of myself✨️💖
Soal gagal aku selalu menjadi yang paling sempurna ✨
Tumpah Ruah
Aku terbiasa menahan banyak hal sendirian, seolah menangis adalah sesuatu yang harus disembunyikan. Tapi hari ini dada terasa penuh, seperti ada beban lama yang akhirnya pecah tanpa permisi. Air mata jatuh begitu saja, membanjiri ruang yang selama ini kusimpan rapat demi menjaga hati orang-orang yang kucintai. Mungkin karena terlalu sering aku mencoba menjadi ‘baik-baik saja’, terlalu takut membuat siapa pun khawatir. Namun justru di titik rapuh inilah aku sadar: menjadi kuat bukan berarti menelan semua rasa. Ada waktunya hati perlu berbicara, meski hanya dalam diam dan sesak yang tak bisa dijelaskan
Narsistik
Kamu mungkin akan bertemu dengan orang yang selalu menganggap dirinya benar. Bahkan untuk hal yang dirasa tidak masuk akal, baginya adalah kewajaran. Ia yang bersembunyi dibalik kisah perjuangannya melawan dunia. Menganggap luka masa lalunya adalah bahan bakar abadi yang menyalakan semangat hidup. Tapi ternyata, itulah yang membakar orang-orang di sekitarnya. Mereka yang tadinya percaya adalah orang yang pertama terluka karena sifatnya. Tapi ia tak pernah menyadarinya. Bahwa selama ini, dalam cerita, ia adalah korban yang telah berjuang mati-matian di masa lalu. Kini, ia adalah pelaku utama dalam kehidupan orang lain. Tanpa sadar, atau bahkan mungkin sebenarnya ia menyadari. Ia telah berubah menjadi pelaku. Akhinya ia ditinggalkan. Kecuali orang-orang yang masih hidup dalam cara berpikir "nggak enakan" dan "merasa berhutang budi". Akhirnya, ia hanya menerima orang yang sepaham dengannya. Menutup kemungkinan lain dalam hidup. Menutup diri dari ketulusan orang lain. Yang akhirnya ia dapatkan adalah kepalsuan. Bentuk tindakan yang didasari dari rasa sungkan dan kepolosan. Karena orang yang telah mengenal dirinya, memilih untuk tak lagi ada dalam orbitnya. Pergi.
(c)kurniawangunadi
100 menuju 0
Aku ada di ruang yang sama , tapi tak pernah dianggap cukup untuk masuk ke dalam ceritanya, Kini aku melihat jelas batas yang sejak awal hanya memberiku tempat di luar, saatnya menyadari porsiku. Yang dulu terasa riuh, perlahan berubah menjadi kekosongan yang hanya dapat kurasakan sendiri.
Dunia ini bisa terdengar rancu dan terasa kejam saat memberi kabar justru dibilang cari perhatian, bercerita dibilang berlebihan, meminta tolong dibilang tak punya kekuatan, menangis dibilang meratapi kesulitan, marah dibilang tidak sabaran, diam dibilang tidak meminta bantuan, sebaliknya meminta bantuan justru diolok-olok katanya tak bisa mengatasi masalah sendirian. Lalu kita harus seperti apa kalau usaha bertahan hidup malah mendapat penghakiman dari mereka yang lupa caranya memanusiakan manusia. Apakah memang takdir kita untuk mati sendirian?
Gapapa ya? Kalau aku ambil jalan terjal, jauh, dan memutar itu?
Gapapa ya? Kalau aku harus berjuang lebih banyak lagi?
Gapapa ya? Bakal sakit sedikit?
Gapapa ya? Bakal susah sedikit?
Gapapa, ya?
- Sastrasa
ketika luka paling dalam justru ditancapkan dari keluarga
Hari Raya
Untuk yang tetap merasa kesepian di tengah hiruk-pikuk manusia, sungguh kita jauh lebih punya alasan agar tetap berbahagia. Nikmati kesendirianmu dengan hal-hal yang membuatmu bahagia. Jika menulis itu membuatmu nyaman, menulislah. Jika keluar rumah membuatmu menemukan banyak jalan, keluarlah. Jika makanan bisa menemanimu berbincang tentang kehidupan, makanlah. Bahkan, jika sekadar menikmati cimol pinggir jalan kita sudah sangat nyaman, boronglah.
Orang lain tidak perlu menjadi mata angin kebahagiaan kita. Fokus pada diri dan apa yang harus kita cari. Selamat berhari raya semua.
ujung ujungnya yang bisa terucap "yaudahlah".
maaf, karena aku masih banyak irinya. bahkan perihal yg kecil.
Setiap sakit akan ada obat dan masa sembuhnya, setiap luka akan ada yang membasuhnya, bahkan setiap dosa akan sangat mudah bagi Allah untuk menghapusnya.
Dan ternyata, semua itu berkumpul dalam 1 waktu, saat kamu menangis dalam doamu, tak ada yang tahu kecuali kamu dan Tuhanmu. Malam ini, bangunlah, mendekatlah, menengadahlah, berceritalah pada Tuhanmu.
Penghujung Malam
Ya Allah, jika hatiku terasa sempit, aku mohon lapangkanlah. Aku sandarkan semuanya padamu, atas kebaikan atau ujian yang engkau berikan. Lembutkanlah hatiku agar bisa menerima kebaikan, agar mudah pula mata ini menangis karena sadar betapa diri ini lemah dan butuh sandaran padamu, bukan manusia.
Aku pernah mendengar seseorang berkata, "Hati itu kecil, tapi di sanalah semua hal besar disimpan." Awalnya aku tidak memahami maksudnya. Namun semakin aku menjalani hidup, semakin aku sadar bahwa hati memang tempat segalanya bermula. Cinta, keimanan, bahkan keraguan.
Kamu tahu, hati itu ibarat tanah? Jika tidak dirawat, ia bisa tandus. Jika terlalu banyak diberikan sesuatu yang salah, ia bisa busuk. Namun jika kamu pelihara dengan baik, ia bisa menjadi kebun yang indah. Pun, hati itu seperti cermin. Jika sering dipoles dengan kebaikan, ia akan bersinar. Namun jika terus-menerus dilapisi dosa, cerminnya akan buram.
Sering kali kita sibuk dengan apa yang tampak di luar, bukan? Penampilan, karier, atau hal-hal lainnya. Padahal, apa artinya semua itu jika hati kita kosong? Kadang, ketika kita jauh dari Allah, kita tidak sadar bahwa hati kita sebenarnya meminta untuk diisi. Ada ruang di sana yang hanya bisa diisi dengan dzikir, doa, dan rasa berserah diri.
Aku tidak mengatakan bahwa semuanya mudah. Memperbaiki hati itu adalah pekerjaan seumur hidup. Tidak ada yang bisa langsung sempurna dalam sekejap. Tetapi yang penting adalah kita bersedia untuk memulai. Setiap hari, bersihkan sedikit demi sedikit. Perbanyak istighfar. Lakukan kebaikan-kebaikan kecil. Kurangi hal-hal yang bisa membuat hati kamu gelap. Karena pada akhirnya, yang Allah lihat bukanlah seberapa banyak yang kamu miliki, tetapi bagaimana hati kamu ketika kamu datang menghadap-Nya.
Manusia memang paling hebat saling menyembunyikan luka, memilih babak belur sendirian, padahal sedang di penuhi lebam di mana-mana, pikiran kacau, perasaan tak karuan. Tapi hebatnya selalu berusaha menahan semuanya sendirian.
Gimana kabarmu hari ini? Masih menunggu malam dan sepi biar bisa nangis sepuasnya?
@terusberanjak
realized that have nobody, just God☺️
Tulisan : Tumbuh dalam Ketakutan yang Besar
Waktu yang terus melaju semakin menguatkan prasangkamu terhadap hidup. Bahwa hidup harus berjalan sesuai dengan kehendakmu. Kamu merasa harus selalu mengandalkan dirimu sendiri. Karena di masa lalu, tidak pernah ada yang menolongmu.
Hari berganti hari, semakin membuat ketakutanmu menjadi-jadi. Sehingga orang-orang yang bahkan percaya denganmu satu per satu lari dan pergi. Karena setelah kepercayaan yang mereka berikan, bertepuk sebelah tangan. Ternyata kamu tidak pernah percaya sama sekali dengan mereka. Bahkan radar siagamu terus menyala, kepada orang yang bahkan menjadi pasanganmu sendiri kamu sangat takut ia tiba-tiba meninggalkan dan berkhianat, lebih besar prasangkamu dibanding rasa percayamu. Setidakpercaya itu.
Manusia berubah, tapi kamu tidak pernah mau berubah dari sakitnya pikiranmu sendiri. Memilih untuk menjadi seperti itu karena selama ini kamu merasa itu jalan yang paling benar. Menunjukkan kelemahan diri adalah dosa besar bagimu. Karena di masa lalu, kelemahan membuatmu diinjak-injak. Tapi sekarang, pikiranmu menginjak-injak orang lain yang berada di sekitarmu. Tapi kamu tetap merasa bahwa kamu adalah korbannya.
Pikiranmu terus berkecamuk, berusaha untuk mencari hal-hal yang membuatmu berada di posisi benar. Dan yang terjadi, orang-orang yang kini disekitarmu adalah orang terpaksa ada di sana karena urusan saja dan mereka yang kamu rasa setuju dengan semua isi pikiranmu. Tidak pernah ada yang berani mengatakan di depan mukamu bahwa kamu adalah pelaku utama dari masalah hidupmu sendiri.
Masa lalu telah berlalu. Orang-orang yang menyakitimu di sana, beberapa telah mati, beberapa telah memetik dosanya sendiri. Dan kamu tetap membawa mereka semua sebagai gambaran semua orang yang ada di dunia ini selain dirimu sendiri. Bahkan pasanganmu sendiri. Sungguh menyedihkan sekali hidupmu ini.
Apakah kamu tidak cukup merana dengan segala keangkuhan dan kerasnya kepalamu untuk menerima hal-hal yang melembutkan hati? Sampai-sampai, empatimu menguap tanpa sisa. Kamu berbuat sesuatu hanya karena orang lain tidak ingin mengatakan sesuatu yang buruk tentangmu. Sampai kapan kamu akan seperti itu?
Izinkan dirimu di masa lalu pergi. Biarkan dirimu yang baru belajar lagi menjadi dirimu sendiri. Dirimu yang terlahir kembali. Dirimu yang tenang hatinya, yang baik pikirannya, yang berjalan sesuai dengan fitrah-Nya. Yang siapapun berada di dekatmu, mereka merasa tenang. Sehingga mereka terus ingin menjadikanmu sahabatnya, kekasihnya.
Bukan takut dan tertekan, seperti sekarang. Mereka melakukan sesuatu hanya untuk membuatmu senang. Seolah-olah semuanya berjalan dengan baik. Kasihan sekali kamu, dikelilingi oleh orang-orang yang tidak pernah jujur kepadamu.
Dan kamu terus menerus mengelak, bahwa semua baik-baik saja. Mau sampai kapan kamu terus menerus membuat ketakutanmu menjadi kendali atas hidupmu yang berharga? (c)kurniawangunadi