“Mbah Zaenab meninggal, Mbak. Baru aja.” pesan dari Ibuk datang tepat jam 12 siang. Aku diam.
Mbah Zaenab ini (yang pakai tudung kepala) adiknya Simbah Puteri (baju hijau pupus paling kiri), atau bisa dibilang Buleknya Bapak. Saudara Simbah Puteri ada 6, perempuan semua. Sudah meninggal tiga. Mbah Zaenab adalah saudara perempuan yang paling dekat dengan Simbah Puteri. Dekat tempat tinggalnya dan dekat hatinya. Ke mana-mana berdua. Ngaji berdua, tarawih berdua, kajian berdua. Kalau ada Simbah Puteri, selalu saya lihat Mbah Zaenab. Mereka berdua kayak gengs, selalu bersama ke mana-mana. Aneh kalau ngelihatnya salah satunya aja. Kalau Simbah Puteri sakit, maka Mbah Zaenab yang selalu tergopoh-gopoh lari ke rumah beliau untuk mengurus banyak hal yang dibutuhkan (kalau Ibuk dan Bapak sedang tidak bisa karena bekerja).
Sekarang Mbah Zaenab sudah dipanggil Allah. Simbah Puteri pasti sedih sekali. Memikirkan Simbah Puteri pasti sedih sekali, saya jadi pusing sendiri. Semoga Simbah Puteri nggak ikut sakit-sakitan karena kehilangan. Ah, Simbah pasti lebih tahu, perihal ini pasti sudah ia persiapkan jauh-jauh hari.
Lebaran-lebaran lalu masih ditanya “Kapan baline seko Jakarta kok Mbah ora ngerti?” (Kapan baliknya dari Jakarta kok Mbah nggak tau?) sama beliau atau melihat beliau tersenyum sumringah di depan rumah sambil bilang “Weeehhh lha kok wes bali toh.” (”Weeehhh lah kok udah pulang toh.”) ketika melihat saya lewat, naik motor. Tahun depan, sudah tidak begitu lagi.
Foto (dari kiri ke kanan): Ibuknya Bapak, Mbah Zaenab (almh) dan Mbok Gimah. Tiga-tiganya pernah mengasuh saya ketika kecil dulu. Semoga dua simbah yang lain diberikan umur yang berkah. Aamiin.
Foto diambil dari instagram Mbak Nurul, tetangga sebelah rumah yang sama-sama diasuh simbah-simbah ini.
Ini postingan murni mau curhat, mohon dimaafkan kalau jadi spam.
Simbah Puteri hari ini sudah dipanggil Allah. Aku patah hati sekali. Semoga Allah ampuni segala dosanya dan menerima semua amalnya.












