MEMILIH BUSANA DI PERTOKOAN Susi berdiri, melangkahkan kaki-kaki. Susi berdiam, lirik ke sana dan sini semau susi menatap dengan matanya sendiri. Susi setengah berlari, mencari-cari hingga ke pojok busana, memilah-milih pakaian dalam yang pas dengan ukurannya, mengenakan sepatu, melepas sepatu, mengenakan sepatu lain, melepas lagi sepatu yang lain dari kaki-kaki Susi. Susi memejamkan mata, mencari-cari almari dalam kepala, tak ada laci tetapi, kehilangan kunci. Mata Susi adalah mata malam, menilik seisi kantung pakaian seadanya yang ia kenakan, Susi berdiam, berjalan kembali. Susi berdiam lalu melihat-lihat kembali, mengingat warna kesukaan dan nomor sepatu, mencatat nama merek-merek ternama. Orang-orang menatap Susi, Susi tak menatap orang-orang, hanya tas dengan warna emas palsu itu yang ia pandang, ia ingat-ingat kembali, anaknya belum makan, suaminya belum juga pulang. Gaji Susi, tidak ada gaji untuk Susi. Susi berdiri dalam diam, tidak jalan, orang-orang menegur Susi, tetapi tak ada jawaban. Susi roboh, jam di tangannya telah dirogoh, dompetnya hilang di angkot tadi, Susi tidur. Tetapi Susi tak mati-mati, seperti orang-orang mati-matian mencari-cari nama Susi di sini, menghitungnya, lalu menukar dengan kupon belanja di toko itu juga. Susi menjadi merek, menggantikan Gucci atau Yongki, memajang dirinya sendiri di seisian sana dan sini. Tetapi, orang-orang tidak punya uang untuk membawa Susi pulang, Susi malang, Susiku sayang. Ini manekin untuk Susi, berbadan sedingin suhu tubuhnya sendiri. Toko-toko menutup diri, mengunci Susi lebih dalam lagi. 2017