Kamu dan semaumu.
Setelah perpisahan ini,
setiap pagi kamu akan dikagumi mata yg bukan mataku,
rambut hitammu yg sarat kenangan, dielus oleh tangan yg bukan tanganku. Keningmu, setiap pagi atau bahkan sering sekali sebelum tidur, dikecup bibir yg bukan bibirku.
Dadamu didaki jemari yg bukan jemariku. Dan, tubuhmu dijelajahi tubuh lain,
tubuh seseorang yg jatuh cintamu ada di dalamnya, tubuh yg menjadi bagian terpenting setelah tubuhmu sendiri, tubuh yg senantiasa senang tubuhmu tiduri, yg tidak hanya merasakan kenikmatan, tetapi juga kebahagiaan.
Tubuh paling beruntung yg sayangnya bukan tubuhku.
Sudah jauh sekali aku menatap masa depan yg bahkan terlalu getir untuk sekedar terbayangkan, sebelumnya senyata-nyatanya kuhadapi. Padahal punggungmu yg menjauh masih berada dalam jangkauan mataku.
Namun, ini bukan soal satu atau dua atau seribu langkah.
Seberapa pun angkanya, jika bukan aku lagi yg hatimu mau, itu nestapa.
















