Video Favorit yang Menampilkan Adegan Lari
Beberapa waktu yang lalu saya membahas soal pamer hasil latihan lari di strava pada media sosial dengan seorang mantan mahasiswa yang 9 tahun lebih muda daripada saya. Katanya, penekanan hasil yang ingin dipamerkan banyak orang adalah soal kecepatan. Saya tidak sependapat, tapi bisa memahami pilihan tersebut. Dia balik bertanya: memangnya, apa yang ingin saya pamerkan? Dari awal, saya tidak peduli soal kecepatan atau jarak. Yang paling penting âselain tujuan menurunkan berat badanâ adalah pilihan rute. Buat apa kita lari atau naik sepeda melalui rute yang tidak memanjakan mata? Saya ingin melewati jalur-jalur terkurasi yang menawarkan pemandangan permai, memuaskan secara visual, dan seperti di film-film. Mengelilingi Tokyo Imperial Palace dan menara kembar Petronas, mengitari kuburan Yanaka dan kuil Sensoji, atau menyusuri sungai Kamo. Alih-alih jadi yang tercepat atau terjauh, bisa berlari dan naik sepeda melintasi rute-rute semacam itu adalah kemewahan yang sesungguhnya. Berikut ini adalah tiga dari banyak video favorit saya yang membantu membentuk visi dalam berjalan kaki, berlari, dan bersepeda.
Serial Zero Day (2025)
Adegan rutinitas pagi Robert De Niro seusai bangun tidur bagaikan visualisasi masa pensiun yang saya impikan. Saya ingin punya kolam renang untuk alasan yang sama. Bangun tidur pukul lima, berenang dengan segar di pagi hari, berlari ringan melintasi hutan berbatas sungai atau pantai ditemani anjing, lalu ditutup dengan mengecek persediaan pakan burung liar sebelum sarapan enak sambil membaca koran fisik. Banyak perdebatan di Twitter soal orangtua yang kesepian di hari tua karena anaknya sudah besar dan hidup terpisah. Kenyataannya, âsebagaimana De Niro dan Lizzy Caplan di Zero Dayâ setiap orang akan tumbuh dan memiliki kehidupannya sendiri. Juga, tidak semua anak dan orangtua bisa terus kompak menganut nilai yang sama atau memiliki hubungan selayaknya pertemanan seiring bertambahnya usia. Yang terpenting adalah mereka tetap saling menyayangi âdan tidak secara sengaja dan dengan konsisten merugikan satu sama lain. Keterbukaan, dukungan, dan ingatan akan hari-hari dan apa yang penting bagi keluarga. Pertemuan yang tidak setiap hari namun rutin dan selalu berkualitas. Selain itu, untuk menemani kesehariannya orangtua bisa memilih untuk mengadopsi balita abadi: anjing atau kucing. Yang lebih penting, usai tandas berenang, berlari bersama anjing bahagia, mengecek pakan burung, dan sarapan penuh selera, utusan presiden datang kepada De Niro menawarkan tugas menarik lagi misterius yang menantang namun membutuhkan semangat, kecerdasan dan ketulusan*. Sebuah pekerjaan yang jauh lebih bermakna dan contended bagi sanubari, dibandingkan jadi tua bangka letih yang inkompeten dan delusional, sibuk mencarikan anaknya pekerjaan, atau pusing membagi-bagi jabatan dan mengeksploitasi alam.Â
*Adegan lain yang mirip adalah ketika di tengah sesi berenangnya, Tom Hanks didatangi utusan dari Vatikan di film Angels and Demons (2009). Iya sih, film (dan novel) ini terlalu terasosiasikan dengan selera mainstream, teori konspirasi, dan kurang keren untuk dijadikan atribut diri jika kita ingin tampil sebagai hipster. Namun sejujurnya, sebagai orang yang pada saat kelulusan SD dengan serius mengidentifikasi bentuk-bentuk UFO di buku âDajjal akan Muncul dari Segitiga Bermudaâ karangan M Isa Dawud, saya cukup menikmati film tersebut.
Video Klip Holding On - The War on Drugs (2017)
Meskipun multitafsir, namun bisa jadi salah satu interpretasi yang sahih atas lakon yang ditampilkan pada video ini menunjukkan bila ajal adalah sesuatu yang bisa dirangkul dan dirayakan. Usai hidup yang penuh di kota kecil yang damai, almarhumah pasangan tercinta yang telah lama berpulang kembali tiba di rumah dalam wujud kuda putih âmungkin simbol atas kesucian yang agungâ, menjemput sang karakter untuk kembali berkumpul bersama, berlari perkasa melintasi sabana dan berujung di hutan cedar bermandikan komorebi. Tentu saja tafsiran tersebut dapat diperdebatkan. Namun, agaknya kita semua bisa setuju secara absolut soal keelokan rute jalan kaki pagi menuju kota dari sang karakter yang ditunjukkan hidup di dalam isolasi. Berpapasan dengan tetangga yang sedang mengajak anjingnya berjalan pagi di kelokan tebing yang rindang, pertemuan dengan pramusaji warung kopi lama yang hangat dan mengharukan, hingga berkumpul kembali bersama teman-teman senior untuk bermain billiard sambil bertukar kabar. Apakah itu benar-benar terjadi di kota, ataukah itu di akhirat? Di perjalanan pulang, Adam Granduciel menawarkan tumpangan bagi sang karakter, kemudian bersama-sama, mereka memacu mobil bak terbuka menyisir jalanan berpagar pohon cedar yang disinari sisa-sisa cahaya matahari yang mulai terbenam, namun belum benar-benar tenggelam. Sang karakter meraih kamera polaroid di dasbor mobil, mengambil foto, dan mobil melintas semakin cepat tanpa pernah disadari. Seperti hidup.
Iklan The Moon is Too Far from the Sun - Rimowa (2025)
Iklan dari produsen koper premium ini tidak menunjukkan adegan orang berlari atau bersepeda. Namun, potongan momen-momen para pemerannya berjalan kaki dan berseluncur menggunakan sepatu roda di sepanjang garis pantai Kamakura cukup membekas. Sebab, pemandangan tersebut secara implisit menguarkan nuansa yang mengingatkan saya pada saat berlari atau bersepeda pada pagi yang abu-abu di sepanjang teluk Hakata, mulai dari kota Fukuoka, pesisir Imazu, hingga perbukitan Itoshima. Rute-rute yang hening, magis, sekaligus muskil. Menolak namun memikat. Yang perlu diingat sebagai diaspora, terkadang tidak mudah untuk tidak meromantisasi atau terjebak pada glorifikasi akan eksotisme Jepang. Suatu pagi kita melintas di depan gapura Sakurai Futamigaura dan berhenti, lalu terhanyut dalam penantian panjang akan kata maaf dan gestur untuk memperbaiki keadaan sulit dan keliru yang mungkin tidak akan pernah datang. Bahkan usai lebih dari 30 tahun berlalu.







