Di negeri ini, segalanya perlu panggilan
Tapi bukan panggilan nama, melainkan ejekan
Yang suka membaca langit di layar kaca, dicemooh "wibu"
Yang menggandrungi semesta musik negeri seberang, dihina "plastik tak berakal"
Yang suka menulis puisi dan sajak melankolis, dicap "anak senja"
Seolah kata-kata tak punya tempat di dunia nyata
Yang suka menari di tengah keramaian konser, disebut "anak kalcer"
Seakan bahagia harus ikut standar
Kadang aku bingung, siapa yang menetapkan aturan?
Kenapa setiap minat harus diuji dengan cemoohan?
Apa karena tak sama dengan seleranya,
Lalu tak pantas bahagia dengan caranya?
Mereka tertawa di atas label yang diciptakan sendiri
Membanding harga, mencibir usaha, merasa paling suci
Padahal bukankah cinta selalu layak diperjuangkan?
Enah untuk lagu, puisi, atau mimpi yang tampak asing bagi sebagian
Padahal kita semua sama:
Lahir dari rahim ibu yang menahan luka
Dibesarkan oleh waktu yang tak bisa kita pinta
dan berjalan di bumi yang sama-sama fana
Tak semua tawa harus kau mengerti
Tak semua cinta harus kau setujui
Tapi jika kita sama-sama ingin dimengerti
Mengapa saling menyakiti jadi pilihan pertama?