Plong!
Dalam perjalanan menuju bunker persembunyian di daerah Chernobyl Kidul, saya menumpang pesawat UFO yang dirakit pendahulu saya pada tahun 2018 dari rongsokan radio, kaset dan CD bekas. Tahun-tahun itu rupanya banyak produsen radio tutup karena radio digital sudah tertanam di tiap telepon genggam, diikuti pabrik kaset dan CD. Secara berkala mereka menghentikan produksi dan memecat jutaan pekerja. Masa-masa ketika anda mendengar Walkman merupakan hal yang paling keren dan mengirimi pacar anda kado setlist lagu-lagu cinta lewat kaset adalah hal romantis, semuanya telah dikubur hidup-hidup oleh perubahan zaman.
Sopir UFO itu tahu betul ketika saya mabuk dan menderita lara hati, tak ada alasan lain kecuali memutar suara emas Lord Didi Kempot. Artificial Intelligence yang tertanam di kepala sopir pribadi saya itu memang diprogram untuk hal-hal menyedihkan yang menimpa saya. Ia Bleki, cuma seekor anjing. memang, tapi tak sepenuhnya anjing, ada beberapa bagian tubuhnya yang terpaksa memakai organ hewan lain. Kepala hyena, mata buaya, telinga codot, leher jerapah, tangan kelinci, kaki kancil, tubuh trenggiling dan ia juga dibekali sepasang sayap burung dara di alat kelaminnya. Satu-satunya organ orisinil milik Bleki yang bertahan di tubuh kompilasi itu adalah jantungnya. Bleki si anjing berbulu pink.
"...Sewu kutho uwis tak liwati, Sewu ati tak takoni..." Lagu pertama membuat udara dalam pesawat tiba-tiba menjadi biru. Semoga ini bukan lagu pembuka yang salah, perjalanan masih jauh, saya tak mau mati beku karena banjir airmata di sini.
"...Aku pancen wong cilik ra kaya raja, Iso mangan wae aku uwis trima..." Awal lagu kedua, semoga masih baik-baik saja. Duduk di dekat kaca jendela pesawat, seperti biasa menyalakan rokok lintingan, menghisapnya dalam-dalam, mencoba masuk ke dalam jagad kenang yang saya punyai. Saya pikir si Bleki telah lebih dulu melakukannya lebih dalam, sebab masa lalu telah memiliki separuh kenangan Bleki soal itu. Dahulu sebelum masa krisis seperti saat ini, Bleki pernah bercintaan dengan anjing ningrat. Akhir cinta itu adalah alasan Bleki kenapa ia sangat menghayati lagu berjudul: Aku Dudu Raja itu. "... Pupus godong gedhang, Ajang pincuk saiki ra kelingan... Biting pringe garing, Mbok apusi awakku nganti gering...", Jingaaaan! Begitu kata Bleki, saya tahu meski ia tak mengucapkannya lewat mulut. Beruntung mata Bleki kini adalah mata buaya, saya belum pernah melihat buaya menangis.
“... Tanggal limolas padhang njingglang mbulane bunder.. (ser~) Aku dikudang suk yen gedhe dadi dokter.. (sing ngudang mbok e~) Tanggal limolas padhang njingglang mbulane bunder.. (ser~ ser~) Bareng wis gedhe aku disuntik bu dokter...” Seharusnya tak ada hal sedih yang terkandung pada tembang Kuncung ini tapi entah kenapa ketika sekarang mendengarkannya menjadi sedih. “... Pis holopis kuntul baris... Gegere gek mbok ndang uwis...” di lirik bagian ini saya rasa harus mbrebes.
Ini hari terasa panjang meski hanya duduk-duduk di jok. Omprengan, Stasiun Balapan, Terminal Tirtonadi, Tanjung Mas Ninggal Janji, Cidro, Kalung Emas, Lingso Tresno adalah beberapa trek lagu yang berapapun airmata yang saya dan Bleki punya, selalu kering setelah mendengarnya. Mungkin kebebasan tanpa kehendak itu menyedihkan, sebuah bunga bisa saja layu atau kelopaknya koyak diterpa angin melulu. Saya tak mau demikian dihajar lagu-lagu ini. Untuk mengistirahatkan hati saya request tembang Lord Didi yang lain, ya: Plong, si Bleki memutar judul itu. "..Plong rasane njero dadaku, Rasane mak plong..." Saya dan Bleki sepertinya sepakat bahwa Plong cukup untuk menutup serangkaian tembang-tembang emas Lord Didi yang kita putar hari ini. "...Rasane kepiyeee...", si Bleki menyaut, "...plong, plong, PLONG!"
Dhuar! Perasaan lega memang terdengar seperti suara tembakan. Kabin bagian belakang pesawat terlihat bolong, suara speaker tiba-tiba melemah, sepertinya ada yang menembaki pesawat ini. Si Bleki melihat layar di dek depannya, terlihat 13 titik merah di radarnya, yang artinya kita sedang dikepung 13 pesawat asing. Perlu kalian tahu bahwa di tahun 2069 ini sayalah satu-satunya manusia tersisa di bumi ini. Sewu kutho yang Lord Didi lewati di kehidupan nyata sudah menjadi puing-puing dan sewu ati yang ia takoni pun sudah punah spesiesnya semenjak 50 tahun yang lalu saat aliansi robot dan makhluk luar angkasa itu bersekutu dan menginvansi seluruh penjuru bumi.
*****
"Blek," ucap saya pada anjing berbulu pink kesayangan saya, ada jeda panjang setelah itu sebab sebuah tembakan laser melubangi dada saya dan seperempat tubuh Bleki juga telah dimakan puing pesawat, "Blek, setelah ini saya ingin jadi hantu di tembang Sewu Kutho, ingin saya kunjungi 999 kota yang pernah disinggahi Srinthil, dan bertemu dengannya di kota ke 1000,"
"Tunggu di sana, Cah Ayu. Kangmas menyusul!"
"...Ning stasiun Balapan... Kutho Solo sing dadi kenangan..." Kini tak hanya kota Solo yang menjadi kenangan.














