Yang mati sendirian, yang lahirkan sebuah bangsa
Ada satu ironi yang jarang diceritakan tuntas tentang Tan Malaka: dia adalah orang pertama yang menuliskan gagasan "Republik Indonesia" secara utuh — jauh sebelum republik itu benar-benar ada — tapi dia mati ditembak oleh tentara dari republik yang dia bayangkan itu sendiri, tanpa pengadilan, tanpa pengakuan, dan tanpa satu orang pun di sisinya.
Anak kampung yang jadi guru buruh
Dia lahir 2 Juni 1897 di Nagari Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat, dengan nama Sutan Ibrahim. Ayahnya buruh tani, ibunya dari keluarga terpandang di desa. Dari kampung kecil itu dia berhasil masuk Kweekschool di Bukittinggi — sekolah calon guru yang biasanya cuma bisa diakses anak priayi — lalu melanjutkan pendidikan ke Belanda.
Enam tahun di Belanda bukan masa yang mudah. Dia sempat gagal ujian, terlilit utang, dan pulang ke Indonesia tahun 1919 dengan cara yang jauh dari heroik: menerima tawaran jadi guru anak-anak kuli kontrak di perkebunan tembakau Deli, Sumatera Utara — pekerjaan yang diambilnya sekadar untuk melunasi utang ke gurunya sendiri.
Tapi di Deli itulah titik baliknya. Dia melihat langsung bagaimana buruh perkebunan diperlakukan seperti barang — dibayar murah, ditipu, hidup tanpa martabat, sementara dia sendiri sebagai guru pribumi digaji setara orang Belanda dan karena itu malah dibenci rekan-rekan Belandanya. Dari sinilah kemarahannya terhadap sistem kolonial mulai terbentuk jadi gerakan.
Bapak republik yang tak pernah menginjak republiknya dalam damai
Tahun 1921 dia jadi Ketua Partai Komunis Indonesia. Tapi dia juga wakil Komintern untuk Asia Tenggara — posisi yang membuatnya harus menimbang kepentingan gerakan internasional melawan realita lapangan di tanah sendiri. Ketika PKI memutuskan pemberontakan 1926 lewat Keputusan Prambanan, Tan Malaka menentang keras. Dia menilai langkah itu terlalu dini dan akan menghancurkan gerakan rakyat, bukan membebaskannya. Dia berpisah dari partai yang dulu dia pimpin.
Justru dalam pengasingan setelah perpecahan itu dia menulis Naar de Republiek Indonesia — buku yang pertama kali merumuskan konsep Republik Indonesia sebagai negara merdeka, bertahun-tahun sebelum proklamasi 1945. Karena inilah Muhammad Yamin menjulukinya "Bapak Republik Indonesia". Tapi orang yang menciptakan cetak biru sebuah bangsa itu justru menghabiskan hampir seluruh sisa hidupnya bersembunyi — di Filipina, Tiongkok, Singapura, dan berbagai negeri lain — hidup dengan nama samaran, dikejar intelijen kolonial, terputus dari tanah airnya sendiri. Pengalaman itu kelak dia tulis dalam otobiografi Dari Penjara ke Penjara, dan lewat Madilog dia menyusun kerangka berpikir materialisme-dialektika-logika yang jadi salah satu karya intelektual paling berpengaruh dalam sejarah pemikiran Indonesia.
Cinta yang tak pernah sampai
Ada satu sisi Tan Malaka yang jarang dibahas: dia tak pernah menikah. Seumur hidup dihabiskan berpindah dari satu persembunyian ke persembunyian lain, tak punya rumah tetap, apalagi keluarga. Ada beberapa nama perempuan yang pernah disebut dekat dengannya, tapi tak satu pun hubungan itu berlanjut. Suatu kali Adam Malik bertanya soal ini padanya, dan jawabannya kurang lebih menyiratkan bahwa perhatian dan waktunya sudah habis untuk perjuangan, hingga urusan hati sendiri selalu kandas di tengah jalan.
Ini bukan detail kecil. Ini gambaran manusia yang mengorbankan segala bentuk kehidupan pribadinya untuk sebuah gagasan — dan gagasan itu pada akhirnya tidak membalas dengan mengenalnya kembali.
Mati oleh tangan bangsa sendiri
Setelah proklamasi kemerdekaan, Tan Malaka justru sempat ditahan sebagai tahanan politik oleh pemerintah Republik yang dia bantu lahirkan — dituduh terlibat gerakan oposisi bersenjata. Dia baru dibebaskan September 1948, lalu mendirikan Partai Murba pada 7 November 1948. Awal 1949, di tengah agresi militer Belanda ke Kediri, dia ikut bergerilya bersama pejuang lain di sekitar Sungai Brantas.
Tanggal 21 Februari 1949, di Dusun Tunggul, Desa Selopanggung, kaki Gunung Wilis, Kediri, Jawa Timur — Tan Malaka ditangkap dan dieksekusi tembak mati oleh Tentara Nasional Indonesia sendiri, tanpa proses pengadilan. Orang yang menulis cetak biru republik ini, mati di tangan republik itu sendiri, dalam usia 51 tahun, dan lokasi makamnya sempat jadi misteri selama puluhan tahun.
Sejarawan Belanda Harry Poeze menghabiskan hampir dua dekade — dari pertengahan 1980-an sampai pertengahan 2000-an — mewawancarai saksi-saksi sejarah untuk akhirnya menemukan titik pasti tempat Tan Malaka gugur. Baru tahun 1963, empat belas tahun setelah kematiannya, Presiden Sukarno menetapkan Tan Malaka sebagai Pahlawan Nasional.
Kenapa ini terasa menyayat
Yang membuat kisah ini pilu bukan cuma karena dia mati muda atau mati tanpa pengadilan. Tapi karena seluruh hidupnya adalah pengorbanan yang nyaris tak pernah dibalas selagi dia masih hidup: diasingkan oleh penjajah, dicurigai oleh kawan seperjuangannya sendiri, kehilangan kesempatan untuk mencintai dan dicintai secara utuh, lalu di ujungnya justru dihabisi oleh institusi dari negara yang lahir dari pemikirannya sendiri.
Dia menyusun peta jalan menuju kemerdekaan sebuah bangsa, tapi tak pernah benar-benar diberi tempat untuk hidup tenang di dalamnya.
Catatan: detail biografis di atas disusun dari beberapa sumber sejarah yang saling melengkapi. Beberapa detail — terutama soal lokasi makam dan kronologi akhir hidupnya — masih diperdebatkan sejarawan, jadi kalau kamu mau menulis ulang bagian tertentu dengan sumber primer, saya bisa bantu telusuri lebih dalam.



















