Dan yaaa terkadang kita cukup diam dan menonton saja...bergegas mengambil arti dan peran ketika sudah usai untuk membaur kembali. Terima kasih teman

@theartofmadeline
The Stonewall Inn

Game Changer & Make Some Noise
macklin celebrini has autism
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
noise dept.

❣ Chile in a Photography ❣

Kiana Khansmith

bliss lane
Phantogram Three

izzy's playlists!
Show & Tell
Sweet Seals For You, Always
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
almost home
Keni
The Bright Sessions
The Bowery Presents
art blog(derogatory)
I'd rather be in outer space 🛸

seen from United States

seen from Finland

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Germany
seen from Finland

seen from Germany
seen from Russia
seen from United States
seen from United States

seen from Brunei
seen from Malaysia

seen from Germany

seen from Finland

seen from United States
seen from Türkiye
seen from United States
@krakerskeju
Dan yaaa terkadang kita cukup diam dan menonton saja...bergegas mengambil arti dan peran ketika sudah usai untuk membaur kembali. Terima kasih teman
Sexy Killers
Wajar kalau orang jadi pengen golput abis nonton Sexy Killers. Tapi pointnya menurut saya bukan golputnya, bukan gak percayanya. Melainkan gak ada orang yang bisa kita kultuskan bener-bener baik dan bersih. Gak ada orang kayak gitu.
Barangkali orang-orang yang akhirnya memilih golput karena sebelumnya mereka terlalu menganggap sosok yang mereka dukung ini sosok yang bersih dan baik 100%. Dan saat mereka tau boroknya, akhirnya bingung sendiri. Kalo gitu, kita yang naif namanya. Hampir ga ada orang kayak gitu.
Politik kita itu lingkaran setan. Kalau kamu masuk politik gak bawa uang yang cukup (cukup=tumpeh-tumpeh), mau gak mau kamu harus meniti karir dari jadi kroco sambil jilat sana-sini. Pada akhirnya yang pinter ngomong dan cari muka yang dapet panggung.
Ketika para pengusaha rame-rame ngebawa gerbongnya masuk politik, kamu percaya aja gitu mereka tulus? Ya gak senaif itu juga. Ada persaingan dunia usaha yang mau gak mau mereka harus bertahan dan setidaknya kebijakan pemerintah bisa menjamin kelancaran bisnis mereka.
Salah? Ya belum tentu sih. Selama gak nyelewengin duit negara, gak korupsi, gak ngerugiin rakyat, dan gak ngelanggar konstitusi belum bisa dibilang salah kan.
(Hahaha ini saya berasa jadi kayak ngebelain ya)
Bayangin, bergerbong-gerbong orang dengan kepentingan macem-macem masuk ke arena politik untuk dapet kekuasaan yang katanya dari, oleh, dan untuk rakyat. Kamu bakal kultus dan percaya aja gitu sama dia/mereka? Ya janganlah.
Itu kenapa di demokrasi ga ada kekuasaan absolut. Kekuasaan dan kewenangan dipisah-pisah. Seenggaknya jadi eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Karena kita ga boleh percaya dan ngasih kekuasaan absolut ke satu orang/kelompok. Ada yang kerja, ada yang bikin aturan, ada yang ngawasin, ada yang ngadilin.
Dengan sistem pembagian kekuasaan gitu aja masih bisa kong kali kong colong-colongan. Itu makanya butuh partisipasi orang kayak kita. Mulai dari ngenalin siapa dan gimana rekam jejak para politisi, milih mereka pas pemilu, sampe kita ikutan ngawasin, ngomenin kerjaan mereka, dan ‘neriakin’ saat mereka korup.
Well, kita gak bisa naif. Negara demokrasi kita ini emang didesain begitu. Ada celah yang kalo orangnya baik ya baik, kalo orangnya jahat ya jahat. Pokoknya makin amburadul aja kalo kita gak partisipasi.
Ee jangan salah. Partisipasi kita bahkan bisa sampe nurunin presiden lho. Itu dimungkinkan oleh konstitusi. Kan kekuasaan di tangan rakyat, janganlah kita merasa lemah dan tak berdaya.
Balik ke poin awal. Nyoblos atau golput itu pilihan. Yang penting jangan naif dan reaktif deh. Pikir dulu mateng-mateng mau nyoblos 01, 02, atau golput.
Masih ada beberapa hari lagi sampe tanggal 17. Coba flashback lagi ke kampanye dan debat-
debat kemaren. Amatin gagasan, performance, dan ekspresi-ekspresi mereka. Secara subjektif kamu akan bisa menilai mana yang paling punya visi, kompeten, ngerti masalah, punya niat paling lurus, dan gak fake-fake banget.
Yang paling penting kita nemuin perbedaannya. Keberpihakan dan kecondongannya kemana. Apa yang jadi perhatian utama mereka. Yang dengan itu akan ada kebijakan yang mungkin gak akan langsung bikin kamu kaya, tapi seenggaknya bisa ngasih jalan buat kamu hidup dengan baik, tanpa masalah, dan bisa meraih cita-cita kamu.
Jujur aja saya skeptis sama 'kesucian’ mereka. Tapi saya masih bisa ngeliat perbedaan dari jualan mereka selama debat dan kampanye. Seenggaknya itu ngasih harapan ke saya bakal ada kebijakan-kebijakan yang lebih baik lagi, yang tentunya akan nguntungin kubu yang menang, juga sekaligus kita sebagai rakyat.
Masih memungkinkan kok ada irisan antara kepentingan mereka itu dengan kepentingan kita sebagai rakyat. Ini yang kita perjuangkan.
Pada akhirnya, setiap pilihan ada konsekuensinya entah itu Kamu pilih 01, 02, atau golput. Yang jelas saat satu kubu yang menang, orang-orang yang mengisi pos-pos penting akan berbeda dengan kalau kubu lain yang menang.
Barangkali iya sama-sama brengsek. Tapi beda orang, artinya beda karakter, beda kompetensi, beda gaya, beda output, beda kepentingan yang diakomodir.
Menurut saya, ketika hampir semua orang gak bisa dipercaya, yang perlu kita lakukan adalah membatasi kekuasaan mereka supaya kekuasaan orang-orang brengsek ini gak makin absolut dan gak makin langgeng. Karena kekuasaan absolut cenderung korup.
Pemilu ini cuma 'game’ buat milih orang yang mimpin. Kamu boleh bereksperimen, kalo di pemilu lalu saya pilih si ini, kali ini saya pilih si ono buat ngeliat perbedaan keduanya. Kalo orang yang kayak gitu gak mampu, mungkin orang kayak gini yang mampu. This is just a 'game.’
Pikirin juga, pihak yang kalah pastinya bakal jadi oposisi. Ini menarik juga, karena somehow mereka inilah yang bakal menyeimbangkan kekuasaan pemenang pemilu.
Kuncinya adalah membatasi kekuasaan. Buat saya, pemilu bukan cuma soal milih pemimpin, tapi juga perihal membatasi kekuasaan. Lewat pemilu ini Kamu bisa bilang 'Cukup, Ferguso!’ untuk orang yang menurut Kamu paling berpotensi korup.
Balik ke film Sexy Killers. Nontonnya jangan sepotong-sepotong yah. Ntar Kamu jadi cuma nganggep satu atau dua orang doang yg brengsek, padahal maksud film ini adalah 'everyone is an enemy.’
Mampang Prapatan | Taufik Aulia
Menyibukkan jiwa
Burung-burung masih berkicau riuh rendah kala itu, matahari pun masih malu-malu mengintip dari tempat terbitnya di ufuk timur, saat ketika anak manusia sedang menggeliat di tidurnya. Pagi itu seperti ratusan pagi yang telah berlalu di tanah pertiwi ini saat anak manusia berkumpul dalam lingkaran kebaikan sebakda shubuhnya menanti datangnya fajar.
Duduk di tengah-tengah lingkaran kebaikan itu gurunda dari anak manusia yang sering di sebut sebagai santri itu, mengajarkan anak-anaknya akan Kalamullah dan sunnah nabiNya. Di penghujung halaqoh itu terbetiklah sebuah untaian mutiara dari sang gurunda tersebut, sebuah pepatah yang berbunyi
"و نَفْسكَ إنْ أشْغلتْها بالحقٌّ وإلاَّ اشغلتْك بالبَاطلِ"
Nafsu(jiwa)mu jika engkau tidak sibukkan ia dengan yang haq maka ianya akan menyibukkanmu dengan kebatilan.
Lanjutnya kemudian betapa begitu banyak waktu kita tersia-siakan dalam hal yang batil dari pada yang haq?, betapa kita dalam masa keemasan kita di usia muda, kita sebagai pemuda-pemuda islam dan penghafal Kalamullah berapa banyak waktu yang telah kita buang dengan percuma dan ianya lewat begitu saja?
Sebuah perumpaan pun terlintas dalam ucapan beliau betapa kita sebagai pemuda bagai sebuah kendaraan yang dalam kondisi prima dengan kapasitas mesin yang besar serta bahan bakar yang cukup namun hanya di gunakan untuk memutari lapangan saja, padahal begitu banyak hal-hal besar yang kemudian dapat dilakukan dengan kendaraan tersebut, bagaimana kemudian kita memaksimalkan segala potensi yang kita miliki dengan sebaik-baiknya dan sekuat-kuatnya yang kemudian dr. Abdullah Azzam seorang mujahid dari mesir mencontohkan yang di maksud dengan semampu kalian ialah berarti segala kemampuan yang di kerahkan hingga titik darah penghabisan, inilah masa untuk mengukir sejarah dengan sebuah goresan tinta emas.
Bukankah umur kita ditentukan dengan karya yang kita hasilkan? , Betapa banyak manusia yang berumur bahkan hingga seratus tahun namun ketika ia meninggalkan dunia habis pula masanya, namun begitu banyak yang kemudian kita ianya sudah meninggalkan dunia yang fana ini puluhan, ratusan bahkan ribuan tahun lamanya namanya masih tetap terkenang dalam sejarah manusia, namanya bahkan masih tersebut dalam kata-kata yang membicarakan tentangnya.
Maka inilah kita duhai pemuda-pemudi islam, pemuda-pemudi Indonesia merentang jarak kisah kita dengan para pengukir tinta emas dalam sejarah, akankah umur kita hanya sebatas hadirnya kita di dunia ini atau tetap harum walaupun raga kita sudah tidak berada di dunia ini.
Sudah seharusnya kita menyibukkan diri ini, menyibukkan jiwa ini dengan hal-hal yang haq. Kenapa menggunakan imbuhan me- karenya ia adalah kata kerja, karena kita adalah jiwa-jiwa yang akan terus haus dan akan terus berperang manakah yang kemudian mengisi jiwa tersebut, dengan sesuatu yang haq kah? Atau justru dengan sesuatu yang batil. Tidak ada yang tau bahkan satu menit nanti kita masih di sibukkan dengan yang haq ataupun batil.
Sebuah untaian nasihat dari Gurunda Ustadz Umarul Faruq Abubakar yang setia menemani dan membimbing kami di tahun terakhir berada di tanah Troso.
Our 10 Years Challenge
Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar. Sepuluh tahun cukup untuk melunasi cicilan KPR dan tabungan haji.
Sepuluh tahun berlalu, dan kita telah banyak berubah. Selamat, kamu makin cantik, ganteng, dan siap bereproduksi! Tapi apa yang sebenarnya kamu lihat dari sepuluh tahunmu.
Perkara fisik, kamu ‘diamkan’ saja, tubuhmu tetap akan tumbuh. Masa pubertasmu tetap akan datang tanpa perlu diundang. Tapi perkara hati dan pikiran, ia akan lusuh dan berkarat jika kamu diamkan.
Mari barang sebentar kita selami hati dan pikiran. Apa yang dibungkus oleh raga nan sempurna ini? Seonggok sampah atau sebongkah berlian?
Sepuluh tahun ini, berapa persen waktu untuk mengaji, berapa persen untuk nonton TV? Berapa banyak buku yang dikhatamkan, berapa episode drama yang ditamatkan?
Sepuluh tahun ini, adakah perbedaan signifikan dari surat-surat pendek dalam shalat-shalatmu? Ataukah masih itu-itu saja?
Sepuluh tahun ini, sedewasa, sebijak, secerdas apa kamu telah menjadi? Masih sering bermasalah dengan temanmu? Masih sering mengeluh atas kesulitanmu? Masih sering julid dengan hidup orang?
Sepuluh tahun ini, sebanyak apa kamu mendekat pada-Nya? Atau selama ini kamu sudah melangkah, tapi ternyata malah semakin jauh?
Astaghfirullah.
— Taufik Aulia
Berubah
Dari tahun lalu hingga tahun ini, berapa banyak kita menyadari hal-hal yang berubah?
Mungkin,
Keterbukaan dan kedekatan dengan orang tua, yang dulu renggang menjadi dekat. Yang dulu malu-malu untuk bercerita, sekarang menjadi terbuka. Dulu selalu bertengkar soal cita-cita, kini menjadi orang tua yang paling mendukung cita-citamu Atau sebaliknya, hubungan yang dulu hangat menjadi dingin.
Kondisi finansial keluarga yang dulu pas-pasan bahkan kurang, sekarang terasa cukup. Yang dulu harus pusing untuk mencari jalan keluar akan hutang-hutang, sekarang satu persatu simpul hutang itu terlepas. Begitu juga sebaliknya, yang dulu berkecukupan, sekarang tak tentu pendapatan.
Teman-teman kita yang sedang meniti jalan berhijrah, ada yang dulu jauh dari majelis ilmu, kini jauh lebih rajin dari kita sendiri. Yang dulu shalatnya suka tertinggal, sekarang menjadi orang yang paling tepat waktu. Yang dulu belum menutup aurat, sekarang malah lebih rapat daripada kita. Begitu juga sebaliknya, ada yang dulu kawan satu kajian, sekarang hilang entah kemana. Yang dulu paling rajin mengingatkan kita akan maksiat, sekarang justru ahli maksiat. Yang dulu kerudungnya terurai panjang, kini lepas dari ikatan.
Kalau kita mencari, ada banyak perubahan disekitar kita yang mungkin tak kita sadari tapi terjadi. Terjadi seiring dengan perubahan yang ada dalam diri kita sendiri. Karena fokus hidup kita selama ini tidak ada di sana, kita tidak mengamati, juga tidak tahu apa saja yang terjadi sebenarnya. Hanya bisa menyangka tanpa memahami proses.
Begitulah perjalanan, hidup seorang manusia naik dan turun. Yang kita sangka baik, ternyata tidak, dan sebaliknya. Yang kita kira akan bertahan dalam perjalanan ini, ternyata lebih dulu berhenti. Yang kita sangka akan menemani perjalanan kita, ternyata memilih untuk pergi.
Berubah, adalah tentang dirimu sendiri. Orang lain, juga berubah, dan bukan kapasitas kita untuk menilai dan menghakimi. Hakimilah diri ini, apakah aku sudah berubah menjadi lebih baik dari hari kemarin? Yogyakarta, 5 Januari 2019 | ©kurniawangunadi
Mentalitas
@edgarhamas
Barangkali kamu sering melihat fenomena ini; ketika di waktu sekolah, ada temanmu yang selalu peringkat I, dan ada temanmu yang biasa saja. Tapi di masa depan, semuanya berbalik. Yang sering berprestasi di kelas jadi orang biasa, sedang yang biasa malah jadi bintang di masyarakatnya.
Tidak semuanya begitu, tapi kejadian ini banyak berulang dan membuat kita berpikir, apa yang terjadi? Mengapa keadaan berbalik?
Jawabannya adalah; masa depan bukan ditentukan dengan kepintaran, melainkan dengan mentalitas. Kepintaran adalah produk, namun mentalitas adalah bahan bakar.
Orang pintar banyak, tapi jika mentalnya bukan petarung; maka dia berhenti menanjak tepat ketika ia tak mau berbenah. Sedangkan orang-orang yang biasa saja tapi ia bermental tangguh hingga “menerima” dan “diterima” oleh perubahan, merekalah yang akan bertahan. Dan itulah spirit Islam, selalu kapabel dengan arus zaman.
Orang yang punya mentalitas pembelajar, walau dia lambat memahami, pasti suatu saat dia akan jadi bintang. Namun orang yang mentalnya cuma demi angka di atas kertas, maka ia belajar hanya sampai wisuda, bukan untuk mentafakkuri rahasia kehidupan.
Jepang jadi negara maju bukan karena pintar, tapi karena mentalitasnya adalah keingintahuan yang tinggi. Inovasi yang tercipta bukan karena otaknya encer, tapi karena mereka bermental suka bereksperimen dan observasi.
Kalau kita memosisikan diri terhadap Eropa sebagai “konsumen,” maka Jepang memosisikan dirinya terhadap Eropa sebagai “murid.” Dan betapa banyak murid yang di kemudian hari lebih hebat dari gurunya? Sedangkan, apakah ada konsumen yang tiba-tiba jadi produsen?
Mentalitas petarung dan pencari tahu sudah jauh-jauh hari dikabarkan oleh Al Qur'an. Ayat-ayatnya memberi sinyal padamu bahwa bumi ini adalah pagelaran tarung antara al haqq dan al bathil. Dan Allah memberitahu kita bahwa posisi kita di bumi ini bukanlah sebagai objek, melainkan subjek (Khalifah)
Sedangkan mentalitas pencari tahu dikabarkan berkali-kali dengan narasi “Innama yatadzakkaru Ulul Albab”, “fa'tabiru yaa Ulil Abshar”, yang kesemuanya punya inti; kamu akan jadi lebih hebat dan lebih bertaqwa dengan terus berpikir, mencari tahu dan menggunakan akal sehat. Dr Mustafa Mahmud pernah bilang,
“Sungguh Allah lebih dekat dengan mereka yang berusaha mengenal Allah dengan ilmu daripada mereka yang mengenal Allah hanya karena taklid.”
Sebab, akal jika dalam keadaan sehat akan bisa mengungkapkan sesuatu yang sangat berarti, hanya dengan melihat hal yang sederhana. Dan manusia selalu melihat berdasarkan informasi yang disajikan oleh akalnya, dan yang lebih banyak tahunya, lebih besar keuntungan didapatnya. “I own everything, just because I know”, kutipan Magnussen dalam serial Sherlock.
Bagaimana jika mulai sekarang kita menyebut semua yang “belum halal” dengan sebutan “masih haram”? Setidaknya kita akan lebih takut dengan dosa dan tak akan bangga dengan yang haram.
— Taufik Aulia
Jadi gitu, masih haram yee...
Mencoba Membuat Diri Menjadi Lebih Baik
Cobalah untuk menurunkan ekspektasimu terhadap orang lain, agar kamu tidak kecewa karena mereka pasti memiliki kekurangan. Sebab kita seringkali tidak bisa memberi ruang pada rasa kecewa di hati kita.
Cobalah untuk melemaskan egomu terhadap setiap kehendak, agar kamu tidak lelah dalam menjalani hidup. Sebab banyak sekali urusan kita yang harus bersinggungan dengan banyak orang, sementara setiap orang memiliki kehendaknya masing-masing.
Cobalah untuk melapangkan ruang penerimaan. Sebab, menerima orang lain itu lebih sulit daripada saat menumbuhkan perasaan berharap. Sebab, seringkali kita sulit menerima karena kita seringkali merasa tidak diterima. Dan sekalinya ada yang bersedia menerima kita, kita yang seringkali tidak bisa menerimanya. Membuatnya kecewa dan pergi.
Cobalah untuk berani mengakui kesalahan. Sebab, hidup ini bukan tentang menang dan kalah. Kebahagiaan yang hakiki tidak hadir karena kita bisa mengalahkan orang lain. Mengakui kesalahan, bersedia untuk bertanggungjawab, bersedia untuk menerima risiko. Adalah sikap-sikap yang akan memudahkan kita dalam memaknai kebahagiaan. Bukankah perasaan bersalah, yang membuat kita sulit bahagia?
Malang, 4 Maret 2018 | ©kurniawangunadi
Takut dan Harap
Pernahkah kau merasa,
Atas benang-benang mimpi yang setia kau rajut dalam angan dan doa,
Atas setiap harap yang kau bisikkan dibawah cahaya rembulan setiap malamnya,
Atas segala khayal yang selalu kau tuliskan diatas putih tak ternoda,
Bagaimana bila tiap-tiap dari mereka merajuk merepotkanmu saat di akhirat?
Bagaimana bila apa yang telah mati-matian kau perjuangkan di dunia justru menuntut hal yang bahkan tak pernah kau hiraukan sepanjang usia?
Bagaimana bila 100 keping mimpi yang telah berhasil kau raih nantinya berubah menjadi 100ribu jarum yang siap menusukmu kapan saja bahkan saat lelah dan letih?
Bagaimana bila mereka meneriakkan pertanggungjawabanmu?
Atas dasar apa kau gigih ingin meraihnya?
Dengan tujuan apa kau ingin membuatnya nyata?
Tidakkah segalanya akan menjadi rumit bila dari awal tidak kau luruskan niatmu untukNya?
Tidakkah segalanya akan memberatkan langkahmu menuju surga Allah bila ternyata kau hanya mengikuti surga duniamu yang tak ada habisnya itu?
Tidakkah segalanya akan merepotkanmu bila apa yang kau pinta selama ini hanya euforia semata?
Tetiba aku menjadi takut
Aku takut bila dunia akan menyusahkanku menuju kehidupan abadi nan indah itu
Aku takut bila dunia akan menelanjangi ku dengan kesaksian yang sama sekali tak bisa aku bantah
Aku takut impian duniaku itu melenakanku
Aku takut khayalan duniaku itu melalaikanku
Aku takut bila serangaian pujian yang mereka katakan padaku hanya akan membuat hatiku keras
Aku takut bila harta yang telah aku dapatkan hanya akan membuatku pelit sebab merasa itulah hasil kerja kerasku
Aku takut bila jabatan yang berhasil kucapai membuatku merasa tinggi pun lalai terhadap perintah Allah karena tuntutan pekerjaan
Sungguh tiada kugantungkan segala harapku kecuali padaMu
Sungguh tiada kutitipkan segala mimpiku kepada selainMu
Sungguh tiada inginku selain ridhoMu
Sungguh tiada yang kudamba selain balasan syurgaMu
Ya Rabb
Tetiba aku takut akan dunia
Akan fitnah yang ia sembunyikan
Akan euforia yang ia bangga-banggakan
Akan kebahagiaan semu yang ia tawarkan
Allah, kukembalikan segala harapku atasMu
Kumuarakan segala impiku padaMu
Kuberikan segala inginku untukMu
Sebab aku merasa takut
Sedang aku tak berdaya menghadapi ketakutanku sendiri
-shine
Saat rindu hadir, apa yg pertama kali kau lakukan? Apa yg pertama kali akan kau ucapkan?
Kalau aku, aku membisik istighfar.
Sebab katamu, ia penyembuh bagi segala sakit.
Maka begitu pula aku saat rindu tetiba datang menyapa. Tidak, memang bukan sakit. Memang bukan luka.
Aku hanya sesak.
Namamu memenuhi rongga dadaku. Namamu pula yang memenuhi ruang doaku.
Sesak. Segala tentangmu bagai hujan mulai meluruhi hati dan pikiranku.
Sesak. Kau tahu kenapa?
Sebab rindu adalah ketidakberdayaanku membuatmu kembali, disini, menemaniku.
Sebab rindu adalah ketidakmampuanku membuat nyata segala layang harap yang pernah kuulur. Segala sayap doa yang pernah kuterbangkan.
Sebab rindu adalah kepasrahanku pada Yang Maha Membolak-balikkan Hati. Berharap rindu ini ada pada kadar halalnya. Berharap rindu ini terselip pada bingkai cinta padaNya.
Sebab rindu membuatku lemah untuk berkata jujur tentang rasa. Sebab rindu membuatku luluh akan kenangan. Sebab rindu mengajakku untuk tetap berjalan menyusuri jalan cinta yang tak tahu kapan akan segera jumpa denganmu di satu persimpangan jalan, pun yang entah mana.
Rindu tahu aku lelah. Rindu tahu aku tak kuasa. Tapi ia tak peduli.
Dan disinilah aku,
Sendiri menata rindu menatap harapan.
Berbisik menenangkan,
Pastilah akan ada saatnya, ketika rindu berbuah temu.
-shine
....
Saat aku menyuruh orang lain untuk bersyukur, mungkin kesyukurannya jauh lebih banyak daripada yang kuucapkan. Saat aku menasihati orang lain untuk bersabar, mungkin kesabarannya jauh lebih besar daripada yang kumiliki. Aku hanya tidak tahu, tidak juga mencari tahu.
Saat aku merasa berhak untuk berkeluh kesah atas ujian-ujian yang menimpa, mungkin harusnya aku lebih pantas untuk malu sebab ujianku tidak ada apa-apanya dibandingkan orang lain.
Kini, hati dan pikiranku lebih terkendali. Lebih berhati-hati dalam berucap, tidak lagi sibuk menilai, juga tidak lagi merasa berhak untuk memberi nasihat tanpa diminta. Sebab, aku menyadari. Aku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan masalah yang mereka hadapi, aku bahkan belum pernah menjalani masalah serupa, bagaimana mungkin aku bisa memberikan jawaban yang baik, nasihat yang tepat?
Kini, hati dan pikiranku lebih tenang. Kini, aku merasa lebih tepat untuk menemani dan mendengarkan.
©kurniawangunadi | 4 Februari 2017
yeah....
Menyerah
Kalau kamu belum menyerah, silakan berjuang. Tapi aku di sini, hanya akan melihatmu. Sebab, sudah ku katakan kepadamu sebelumnya jika kita tidak bisa memaksakan segala sesuatu seperti yang kita harapkan. Kekuatan kita terbatas, daya kita ada habisnya. Kalau bukan karena izin-Nya, kita tidak bisa sampai sejauh ini.
Kalau kamu masih mau berjuang, silakan. Aku tidak akan menunggumu, apalagi mengharapkan. Sebab, sudah ku katakan kepadamu sebelum ini, kalau aku sudah di titik terakhir. Kamu mungkin memiliki keleluasaan yang lebih, aku tidak. Kamu mempunyai keberanian yang lebih, aku tidak. Kamu masih yakin pada dirimu, aku? entahlah. Aku hampir tidak percaya bahwa aku pernah ikut memperjuangkanmu. Namun, justru ku dapati aku semakin jauh dari Tuhanku. Menjadi hamba yang sering memaksa, menjadi anak yang seringkali berselisih dengan ayah dan ibu, menjadi teman yang sering berkeluh kesah.
Biarlah waktu yang menjawabnya. Aku dengan jalanku, kamu dengan jalanmu. Jika kamu ingin berjuang, kamu hati-hati. Sebab, bisa jadi jalan yang kamu paksakan itu justru jalan yang membuatmu semakin jauh dari keimanan.
©kurniawangunadi
aku, kamu berada dijalan yang berbeda...
menempatkan kepercayaanmu.
©kurniawangunadi
Seseorang begitu tenang dalam menunggu, sebab dalam hatinya ada rasa percaya. Mengapa ada keresahan, kekhawatiran, kegelisahan? Karena tiadanya percaya. Tidak ada satu hal yang pasti memang, tapi rasa percaya mampu meredakan ketidakpastian.
Kau menunggunya, itu ketidakpastian. Kau mau percaya? Tidak ada satupun darinya yang bisa membuatmu percaya bahwa kau harus menunggu sekian lama. Jadi, meletakkan kepercayaan itu harus pada tempatnya.
Allah masih menjadi yang pertama, kan?
yes..
Menemukan ini dari postingan teman, rangkuman salah satu kajian ustadz Adi Hidayat. Entah siapa yang buat ini, tapi MasyaAllah bermanfaat, semoga menjadi catatan amal kebaikan.
Ternyata Selama Ini...
•Bagaimana?•
Bagaimana bila aku salah?
Bagaimana bila aku keliru?
Merasa telah beranjak padahal masih ditempat
Setiap langkahku hanya membawa aku kembali ke titik yg sama
Titik dimana aku memutuskan untuk pergi
Ternyata menjadi titik aku kembali
Bagaimana bila sosokmu ternyata masih menjadi bayang dalam kehidupanku?
Bagaimana bila namamu ternyata tak pernah hilang barang sedetikpun di hatiku?
Bagaimana bila hati yg kupikir telah saling berjauhan justru semakin mengikat?
Bagaimana bila jarak yg kurasa telah beribu" mil kutempuh hanyalah halusinasi semata?
Bagaimana bila rindu yg kukira telah tiada justru setia menunggu diujung jalan untuk kembali kurengkuh?
Bagaimana bila kenangan yg kutahu telah larut dalam jarak justru semakin indah menyejarah?
Menanti untuk kembali diputar dalam damai
Damai yg menyenangkan juga menenangkan
Bagaimana?
Bagaimana bila,
*Rasa yang kukira 'pernah' ada ternyata 'selalu' ada?*
-Shine
Mempersilakan Dunia Mengetahui
Terbukalah pada dunia tentang dirimu. Saat kau cemas, jangan tutup kecemasanmu. Saat kau terluka, jangan berpura-pura bahagia. Saat kau sedang hancur, tidak perlu menutupinya seolah-olah segalanya baik-baik saja.
Dunia ini sudah cukup penuh oleh orang-orang yang sibuk memanipulasi dirinya. Menampilkan diri yang tidak sebenarnya, berbohong tidak hanya kepada diri sendiri, melainkan juga alam semesta.
Barangkali, inilah bagian terberatnya. Menerima keadaan diri, jujur pada orang lain, bagian itu adalah bagian yang seringkali mengusik dirimu. Sesudah keadaanmu selama ini. Tapi justru, disitulah kamu akan menemukan orang-orang yang tulus menerimamu, mendampinginmu sebisa mereka, juga menjadi orang-orang pertama yang hadir untukmu.
Tidak perlu berpura-pura bahwa segala baik-baik saja, masalah tidak akan pernah selesai dengan kepura-puraan. Jika tak mampu menghadapinya sendiri, mintalah bantuan.
Dari sana, kita akan belajar untuk berempati. Belajar untuk menerima kekurangan orang lain, bersedia membantu masalah mereka, memahami kekurangan-kekurangannya, meredakan kecemasannya, sampai pada bersedia menemaninya membangun dirinya yang hancur.
Sudah cukup rasanya untuk sibuk memikirkan diri sendiri, sudah cukup rasanya untuk merasa diri ini selalu hebat. Sudah cukup juga untuk berpura-pura bahagia. Biarkan dunia tahu keadaanmu :)
©kurniawangunadi
Masih Ada Batas
Akan ada yang selalu menunggu tulisanmu. Karena hanya dari situ, dia bisa tahu apa yang sedang kamu pikirkan, apa saja yang sering kamu diskusikan, juga bagaimana caramu mengambil sudut pandang.
Ada yang menunggu untuk bisa berbicara denganmu. Tidak berdua, tapi juga bersama dengan yang lain. Karena hanya di saat itu, ia bisa membaur sambil mulai membuka topik pembicaraan. Dan tentu saja sambil mengajukan pertanyaan untuk semua yang ada disana. Meski yang akan ia catat dalam ingatannya, tentu hanya jawabanmu saja.
Ada yang terus berharap, agar kamu dan dirinya terlibat dalam sebuah urusan yang sama. Urusan maha penting yang mungkin tidak bisa diselesaikan dalam kurun waktu yang sebentar. Karena baginya, hampir tidak mungkin untuk mengada-adakan sendiri urusan sepele hanya untuk melibatkan kehadiran kalian berdua.
Dan hanya sebatas itu yang bisa ia lakukan sampai saat ini. Meski bisa saja ia berbuat lebih, tapi bukan cara itu yang ia pilih. Karena jika ia lebihkan sedikit saja, sampai seberapapun dekatnya. Ia tahu Tuhan tidak akan suka, karena ia sadar, dimata-Nya ia masih bukan siapa-siapa.
Surabaya, 29 Desember 2017 © Danny Dzul Fikri