Aku sering berharap. Adalah aku yang kau maksud dalam puisi-puisimu. Aku ingin berbicara padamu. Bahwa seluruh puisiku tentangmu. Aku ingin kau mengerti. Itu saja.
alg
ojovivo
I'd rather be in outer space 🛸

No title available
official daine visual archive
Noah Kahan
Game of Thrones Daily
trying on a metaphor
YOU ARE THE REASON
TVSTRANGERTHINGS

ellievsbear
Monterey Bay Aquarium
🪼

oozey mess
RMH
d e v o n
taylor price

Andulka
almost home

Discoholic 🪩
wallacepolsom
seen from Brazil

seen from United States
seen from Mexico
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Nepal

seen from Russia

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Argentina

seen from Argentina
seen from Argentina
@krisankuning-blog1
Aku sering berharap. Adalah aku yang kau maksud dalam puisi-puisimu. Aku ingin berbicara padamu. Bahwa seluruh puisiku tentangmu. Aku ingin kau mengerti. Itu saja.
alg
Aku hanya bisa tersenyum, membiarkan ingatan tentangmu berkelebat. Entah harus kuapakan perasaan sialan ini. Aku tidak tahu. Aku bahkan tidak tau apa yang aku inginkan. Aku suka sekedar menyapamu hanya untuk mengobati rindu. Aku berusaha cukup dengan itu. Jika tidak, berarti aku harus berusaha lebih keras. Menjadikan perasaan sialan ini sebagai sahabat terbaikku. Tempat aku berbagi cerita. Jika di sini nyatanya aku hanya sendirian saja. Pada akhirnya, aku harus berpura-pura baik-baik saja.
@algmaydha
Di sini aku sekarang. Duduk di antara ratusan peserta seminar. Seluruh mata fokus menuju padamu, tak terkecuali aku. Sengaja kukenakan kerudung merah muda darimu, dengan harapan kau mengenali dan melirik sedikit saja ke arahku. Sudah berapa lama kita tak saling temu? Lihatlah orang-orang yang berdecak begitu kagum melihatmu di atas panggung itu. Dapatkah kau mengerti patah-patah hatiku? Kurasa tidak. Apakah peduli? Bahkan sekali pun tak pernah kau tanyakan kabarku. Selesai, MC menutup acara yang baru saja kau isi. Satu per satu manusia ini meninggalkan kursi, membubarkan diri. Lihatlah, betapa berseri wajahmu itu. Apakah kau sebegitu bahagia dengan orang-orang yang berebut mengajakmu foto bersama? Sedangkan denganku, sekali pun tak pernah. Sengaja aku tak bergeming, masih merawat harap kau melihat ke arahku. Sampai ruangan ini hampir benar-benar sepi, nyatanya apa? Pada akhirnya aku berdiri dengan perasaan yang sama ketika datang, atau bahkan lebih buruk. Aku benar-benar merasa kepayahan. Dengan lesu kubawa pulang patah-patah yang semakin bernanah. Aku masih berharap. Perasaanku kesal. Ingin sekali aku berteriak. Bagaimana aku bisa menjelaskan tentang ini. Setidaknya panggil namaku, cukup sesederhana itu. Sekali lagi aku melirik ke arahmu, ah, kau masih sibuk. Kutarik senyum sinis, kemudian berlalu melanjutkan langkah ke arah pintu keluar. Beberapa langkah pendek kuhentikan. Allah, ada yang berat untuk kutinggalkan. Sekali lagi, aku menoleh ke belakang mencari seraut wajah itu. Ah, kau.. ingin sekali aku membunuhmu. Sedikit embun merebak, basah di pelupuk mata. Buru-buru kutahan untuk kembali melangkah keluar ruangan. "Tunggu!" Satu suara menyentak kedalaman hati dan pikiranku. Seolah memberi komando seluruh gerak tubuhku. Ada yang panas dan ngilu mendadak di rongga dada. Aku berbalik, mencari suara itu. "Hai!" sapamu dengan begitu ramah dan senyum khas, seperti biasa. Ah, jika bisa ingin sekali aku memukul wajah ini. Lihatlah, kau bahkan terlihat tak merasa berdosa sedikit pun. Tidak. Aku tidak baik-baik saja sekarang. Aku yakin. Ngilu yang kurasa kian menyayat kentara. Tanpa menjawab apapun, hanya kupamerkan embun yang sudah hampir mendesak pertahanan. Satu tetes jatuh. Aku tak peduli. Berbalik, pergi. "Hei, ada apa?" Kudengar langkah kecilmu berusaha mengejar. Aku tidak peduli dengan penjahat sepertimu. Bahkan kau masih bertanya ada apa? Sama sekali tidak penting, bodoh. Apakah aku salah? Apakah salah aku menunggumu dan tetap menunggu.
Kalau kau menginginkan yang cantik, bukan aku orangnya. Kalau kau menginginkan yang bisa diajak bertemu sesering mungkin, bukan aku orangnya. Kalau kau menginginkan yang bisa kau sentuh sesukamu, bukan aku orangnya. Semua ada di wanita lain. Tapi mereka belum tentu bisa memahami dirimu sebagaimana aku. Mereka belum tentu bisa sesabar aku menghadapi semua sikap menyebalkanmu. Mereka belum tentu sekuat aku mendengarkan kau bercerita tentang wanita lain. Mereka belum tentu sekuat aku menahan rasa cemburu. Aku wanita, kau menginginkan pembuktian cinta yang seperti apa?
(via sembilanjuli)
Am I Left Behind?
Ada sebuah penyakit, saya tidak tahu nama resminya. Tapi kita namakan saja “Sindrom Ketinggalan Balapan”.
Indikasinya begini:
• Kamu sedang belajar atau meniti karir, tapi have no idea kamu mau jadi seperti apa di ujungnya nanti.
• Kamu ngeliat figur-figur hebat di bidang kamu. Di satu sisi kamu jadi bersemangat, di sisi lain kamu jadi overwhelmed karena ngerasa banyak banget hal yang mesti kamu pelajari untuk berada pada posisi seperti mereka.
• Efek lainnya juga, mungkin kamu jadi ngerasa ketinggalan, atau bahkan ngerasa udah salah jalan selama ini.
• Lalu kamu ngerasa tahun-tahun yang sudah kamu lalui kamu habiskan begitu saja, agak sia-sia. Kesal dan menyesal rasanya.
• Terlebih, kalau figur yang kamu lihat adalah teman sebaya kamu. Ada yang udah sampai di sana, ada yang udah jadi ini, ada yang sudah menghasilkan itu. Rasanya pengen mencet tombol restart hidup–andai saja ada.
Apa yang mesti dipikirkan-dilakukan dalam kondisi begitu?
Penanganan pertama: “Ingat, hakikat yang paling hakiki tentang hidup, bahwa kita semua akan mati, lalu semua cita-cita, pencapaian, karir–betapapun cemerlangnya, akan berakhir. Tutup buku. Apa yang penting adalah amal yang kita niatkan, persembahkan, untuk Sang Pencipta.
Penganan kedua: “Ingat, semua orang berproses. Semua yang ada di puncak pernah mendaki dari bawah. Jika kita masih di bawah, santai aja. Panik tidak akan membuat kita tiba-tiba berada di puncak. Tenang. Terus bejalan, selangkah demi selangkah. Lakukan sekecil apapun upaya kamu untuk menjadi versi lebih baik dari diri kamu, setiap hari, setiap waktu.”
Penanganan ketiga: “Ingat, hidup bukan balapan. Yang lebih dahulu menjadi hebat tidak membuatnya superior secara permanen dibanding kita; suatu saat kita bisa melampauinya. Terlebih, yang di mata kita sudah hebat, barangkali payah dan berantakan dalam sekian aspek–yang mungkin kita baik di sana. Kasih sayang keluarga, pertemanan yang berkualitas, ibadah yang khusyu’–banyak sekali hal yang matters dalam hidup yang tidak perlu syarat untuk memilikinya.
Oke, sementara segitu dulu.
Tarik nafaaas, hembuskan. Ayo kita jalan lagi, selangkah demi selangkah.
It does not matter how slowly you go as long as you do not stop.
Confucius
Bismillah.
Kadang, rindu dan kekhawatiranmu pada seseorang tak perlu kau sampaikan lewat tanya, "Apa kabar?". Cukup bagimu memastikannya baik-baik saja hanya dengan melihat dari kejauhan.
www.krisankuning.com
Aku mendongakkan kepala. Satu titik basah jatuh di atas pipiku. Titik kedua mengenai kerudung merah muda yang kukenakan. Langit telah menggelap. Sudah tiga jam aku duduk di bangku tepi danau ini. Seharusnya, paling tidak dua setengah jam lalu kita sudah duduk manis bersisian di sini. Berbagi cerita, menyaksikan langit jingga oleh mentari yang hendak pulang ke peraduan. Mencumbu senja yang sama-sama kita suka. Detik terus mendetak, senja pun berlalu dijemput kelam malam. Dan aku masih di sini, sendiri. Ah, tidak. Kue tart yang kuletakkan di sebelah kananku ini menemaniku. Masih merawat harap dalam cemas, adakah sosokmu datang, muncul dari belokan jalan itu. Terus kupandangi cercah cahaya senja yang menubruk air danau, mengkilat keemasan, indah. Sayang aku tidak benar-benar menikmatinya seperti biasa. Kepalaku lebih banyak menoleh ke arah jalan itu. Berharap kau berjalan dari arah sana, datang menuju bangku ini. Lampu telah menyala, temaram cahayanya meremangi wajahku. Sementara titik-titik ini terjun semakin banyak, kian cepat. Kulirik kue tart yang tepian kardusnya mulai basah oleh air hujan, kupandang nanar. Mendadak ada yang berdesakan di dalam dadaku, nyeri. Aku masih ingat persis bagaimana semangatnya diriku mendengar jawabanmu di seberang telepon malam itu. Juga ketika dengan malu-malu kukatakan penuh kejujuran, "Aku rindu." "Aku juga." Malam itu kamu setuju kita bertemu di tempat ini, tepi danau kecil favorit kita. Setelah menutup telepon, dengan penuh semangat dan hati seperti dipenuhi ratusan bunga mawar aku menyibukkan diri di dapur. Berkutat dengan adonan tepung dan aneka warna butter cream. Ya, benar. Hari ini adalah ulang tahunmu dan kue ini untukmu. Belakangan ini kita jarang bertemu, tidak seperti dulu. Bukankah ada banyak kesibukan menyita waktumu? Ya, aku mengerti tentang itu. Hanya saja, kukira untuk sore ini saja meski sebentar kamu bisa menemuiku. Aku mengucapkan selamat ulang tahun, kemudian kamu menerima kue ini. Di bawah langit jingga kita lepas kerinduan yang telah bertumbuk-tumbuk menyesakkan. Mataku terpejam, untuk sesaat kurasakan rintik yang kian menderas. Biar saja hujan ini mengguyurku, aku tak peduli. Dan aku menyerah. Kamu mungkin benar-benar tidak akan datang. Pelan, dengan hampir tak bertenaga kususuri jalanan remang. Persetan dengan kue yang kutinggalkan di bangku itu. Seluruh rasa beradu menyesakkan. Ingin sekali kutumpahkan air mata, entah mengapa tak bisa. Derai hujan ini terus mengiring langkahku. "Maaf, aku terlambat." Tep! Langkahku terhenti mendadak. Satu suara itu diekori napas terengah memburu. Kudengar langkah mendekat di belakangku. "Cukup! Berhenti sampai di situ! Berhenti! Jangan mendekat. Jangan berani mendekat." Sesaat saling mematung. Hanya gemericik hujan yang menjadi latar cerita petang itu. Jika aku masih mau menekan ego sedikit saja, ingin sekali aku berbalik dan memintamu untuk sekedar bertanya tentang kabarku. Sayangnya emosi ini lebih banyak menguasaiku. "Kue ini pasti enak sekali. Kau membuatnya sendiri, kan?" Tak peduli, aku melanjutkan langkah. Berjalan menembus tirai-tirai air, meninggalkanmu bersama kue menyedihkan itu. "Maaf." Masih dapat kutangkap suaramu yang mengecil karena jarakku kian menjauh. Ah, ya. Kurasa kita memang butuh berjarak. Bukan untuk selamanya, sebentar saja hanya untuk mendewasakan rindu. Sampai jumpa lagi di pertemuan terbaik kita.
(alg) ~pada suatu senja menuju petang http://www.krisankuning.com/?m=1
Aku sedang berlatih untuk terbiasa tanpa kamu. Satu per satu luka menumpukkan sesak. Sialnya, rindu yang coba kuhentikan justru kian mengakar. Aku pernah berharap kepadamu, tentang masa depan indah yang akan kita jalani berdua. Aku pernah bahagia karenamu, selalu saja kamu punya banyak cara sederhana untuk membuatku tersenyum. Ini jika. Jika saja kamu masih mengingat apa-apa tentang kita. Kamu pernah begitu kagum padaku, tentang menu baru yang kumasak lalu kamu mencicipinya. Katamu itu enak sekali. Semoga juga kamu belum lupa. Ketika kali pertama kau memperkenalkan diri padaku dengan malu dan salah tingkah. Masa bergulir dan kita terbiasa. Aku terbiasa dengan manjamu, kamu terbiasa dengan marahku. Kita beriringan melangkah, sesekali bertengkar untuk kemudian saling meminta maaf dan kembali lebih dekat. Semoga ini hanya sementara. Kita berjarak sebentar untuk saling memahami, mengerti, mendewasakan diri. Kemudian kembali dekat, saling menggandeng lebih erat.
www.krisankuning.com
aku tahu bagaimana kerja kerasmu, aku pahami bagaimana lelahmu, aku mengerti kau hanya butuh dimengerti. dalam keadaanmu yang selelah apa pun, tidak akan kubiarkan kau merasa sendirian. meski tidak banyak hal yang bisa kulakukan, kuyakinkan diri untuk tidak pergi darimu sesulit ap pun kau dan aku menemui keadaan. - segala yang kupunya, untukmu kupersembahkan. menjadi pendengar yang baik, penyemangat yang setia, serta pendoa yang tulus— untukmu, akan selalu kuberikan. - kau laki-laki yang harus kusayang, bukan karena kau memaksakan, melainkan aku tahu— ada banyak hal yang saat ini kau sedang perjuangkan untuk menang. - kupercaya cinta itu memberi dengan utuh, dengan seluruh, tanpa setengah-setengah. kumendampingimu, kumenyemangatimu, kumendoakanmu— bukan karena kau yang memaksa, melainkan, kupahami cinta dalam artian yang seperti ini. - tidak lagi aku memiliki waktu, memiliki ruang, untuk jatuh cinta pada seseorang selainmu. kupercaya cinta tidak jatuh sia-sia, meski harus banyak sulit yang mencoba memisahkan kita. - dari jauh aku memandang, dari dekat aku mendoakan— sebagai perempuan yang mencintaimu, aku ingin dipercaya oleh Tuhan. - - 📷: @puuung1
Cerita kita adalah dongeng yang belum selesai.
Pernah? Saat kamu benar-benar ingin sendiri. Tanpa seorang pun mengusik.
Kepada Sebuah Hati
Sayang, maaf aku sering mendahului takdir Tuhan tentang kita. Aku tak jarang memikirkan kamu yang entah siapa dan dimana. Aku suka membayangkan masa depan yang akan kita jalani berdua. Apakah kamu juga? Jika tidak sampai sejauh itu, setidaknya kuharap rapalan doamu tak melewatkan tentang kebaikan masa depan kita. Sayang, izinkan hatiku merindukanmu mulai dari sekarang meski sosokmu masih menjelma siluet dalam benakku. Kepada kamu kelak seluruh rinduku bermuara. Hanya untuk kamu hati ini aku jaga. Doakan aku mampu bertahan sampai waktu berpihak menyatukan kita. Pun aku selalu mendoakanmu. Mari kita saling mendoakan, kemudian doa-doa kita membumbung tinggi turut di"aamiin"kan penghuni langit. Sayang, aku suka berkhayal tentang hari-hari yang akan kita lalui berdua. Kamu yang bersikap manja, atau aku yang tiba-tiba merajuk cemburu. Ketika aku memasak di dapur, kamu tiba-tiba datang membuat kacau. Aku sibuk mencuci piring, kamu dengan dalih membantu malah memeluk dari belakang. Menempelkan dagumu di atas bahuku, kemudian membisikkan kata-kata cinta. Selanjutnya pipiku bersemu merah dan kamu berkata, "Menggemaskan sekali Istriku ini." Sayang, aku tidak mau kalah romantis. Ketika menyetrika baju-baju kita, sesekali akan aku selipkan secarik kertas berisi puisi cinta ke dalam saku kemejamu. Setelah membacanya, entah ketika akan berangkat kerja atau di tempat kerja, sekembalimu akan kamu balas untukku hadiah sederhana. Kecupan mesra tanda sayang, misalnya. Kemudian lagi-lagi aku jatuh dalam pesonamu. Sayang, kelak aku ingin kita pergi berdua di tempat kesukaanku. Di sebuah tempat yang tinggi, kita lihat pemandangan kota dengan kerlap-kerlip lampunya. Atau di alam terbuka saat langit malam begitu cerah, bertabur bintang dimana-mana. Aku akan berteriak dan berlarian bahagia seperti anak kecil yang mendapat sekantong permen. Sementara kamu, hanya berdiam di tempat dengan senyum yang tak lekang melihatku. Kemudian aku sesekali berlari ke arahmu, memeluk erat, dan kamu membalasnya penuh cinta. Sayang, kemana pun kita pergi berdua genggamlah erat tanganku. Sekali pun tak bisa, biar aku yang menggandeng lenganmu. Aku tak akan bisa terlalu lama jauh darimu. Kelak, jangan sering membiarkan aku sendiri atau aku akan menyambut kepulanganmu dengan tangis rindu. Jika aku diam, tak mau bicara, itu adalah puncak amarahku. Jangan katakan apapun, cukup raih lenganku dan jatuhkan tubuhku dalam dekapmu. Sayang, kita akan punya banyak cara untuk menciptakan keromantisan-keromantisan yang sederhana. Bukan seratus tangkai mawar merah, atau makan malam di restoran ternama dengan pelayanan spesial. Cukup sepiring berdua, atau menikmati secangkir teh berdua di pekarangan belakang rumah sembari mencumbu gerimis sore. Aku bercerita banyak hal tentang masa kecilku, sementara kamu penuh perhatian menjadi pendengar yang baik. Sesekali kita tertawa, juga membicarakan rencana masa depan kita. Tentang buah hati, misalnya. Sayang, kelak kita ciptakan kebahagiaan dengan cara-cara sederhana. Menjaga komitmen atas dasar iman dan cinta kepada Allah. Kamu menjagaku, aku menjagamu. Kita saling menjaga sampai ruang keabadian masa. Sayang, aku rindu. Aku masih menunggumu. Kapan kamu datang menjemputku? - Al Ghumaydha' -
SESAL
Aku ingin menyudahi perasaan ini, berhenti memikirkanmu, dan mengikhlaskan seluruh rindu. Agar aku tak perlu repot lagi. Repot menunggu pesanmu, banyak mengkhawatirkanmu, menghabiskan waktu mengingatmu, sibuk merindu, bahkan tersiksa ditikam cemburu. Aku menyesal telah mengungkapkan perasaanku, juga tahu tentang perasaanmu. Karena setelahnya aku menjadi seperti ini, orang bodoh. Jika sejak awal tahu akan diabaikan dan lebih banyak menerima rasa sakit pada akhirnya, aku akan memilih diam dengan perasaanku. Itu jauh lebih menyenangkan, aku yakin. Menyimpan semua rasa terpendam dalam tulisan-tulisan adalah lebih baik daripada mengirim banyak puisi cinta namun hanya dianggap angin lalu. Aku benar-benar menyesal telah melukai diriku sendiri. Ah, memangnya kapan penyesalan datang di awal?
Ini adalah untuk pertama kalinya bagiku, setelahnya kupastikan tidak ada lagi. Tidak akan ada lagi sesal yang kedua, ketiga, keempat, dan yang lainnya. Setelah ini, akan aku berikan seluruh rindu pada dia yang benar-benar melihatku sepenuhnya. Kepada dia yang mengerti arti dari menghargai. Menghargai hadiah-hadiah sederhana seperti ucapan “selamat pagi” dengan balasan ucapan yang sama atau sekedar terima kasih. Dia yang mengerti tanpa harus aku menjelaskan. Meminta maaf atau sekedar menenangkan aku ketika mulai dihujam cemburu.
Dengan begitu, seluruh rasa yang aku jaga untuknya tidak berarti sia-sia. Tak ada sesal, tak ada kesalahan kedua.
(alg)
By author Krisan Kuning :)
Jika aku mau, bisa saja aku membunuhmu dalam tulisanku.
alg
PAMER
Dulu, pas SD ada temen sekelas yang sekali dapet piagam penghargaan dan meluapkan kebahagiaannya dengan melompat-lompat riang ala anak-anak sembari menunjukkan pada teman-temannya. Kemudian seorang teman saya yang lain, saingan sehat saya di kelas, dia yang sering dapet juara dan berprestasi mencibir seperti ini, "Baru dapet piagam gitu aja bangga banget." Di suatu hari yang lain, ada yang menegur saya secara tidak langsung. Menurut dia, saya suka pamer ke dunia kalo saya punya fans. Katanya, "Aku punya fans, tapi nggak pamer ke dunia." Pada suatu hari berikutnya, dalam sebuah forum kepenulisan. Ada salah seorang anggota menunjukkan pengumuman event yang dia ikuti. Di sana tertera namanya sebagai kontributor, dia terkesan membanggakan itu di depan member lain. Kemudian saya membatin, "Baru kontributor aja segitunya dipamerin, aku pernah beberapa kali jadi juara diem aja." Sudah bisa menyimpulkan sesuatu? Seorang teman mengatakan, "Ada saja orang yang lebih dari kita melihat diri kita mengungkapkan kegembiraan atas pencapaian kita, tapi baginya itu sesuatu yang berlebihan." Setiap orang memiliki titik pencapaian dan kebanggaan yang berbeda-beda. Bisa jadi menurut kita prestasi itu biasa saja dan terlalu berlebihan untuk dipamerkan. Tapi, kita mungkin tidak tahu bahwa maksudnya bukan pamer. Dia hanya merasa bahagia telah mencapai titik keberhasilan itu. Itu adalah suatu bentuk kepuasan terhadap apa yang berhasil dia capai. Jadi? Sudahlah, berhenti sibuk mencibir. Jika kamu melihat keberhasilan seseorang sebagai sesuatu yang biasa, berarti kamu memang lebih hebat. Jika kamu lebih hebat, semestinya kamu bisa bersikap lebih bijak dengan tidak mencibirnya. Hati-hati, jangan-jangan kamu justru iri dengan keberhasilan mereka. (alg)