Perihal Pendidikan, Kita Semua Pemula
Pendidikan sangat erat dengan lingkungan keluargaku. Ibu yang sebagai guru dan kepala sekolah di SMP pelosok dikampung dan ayah yang dulu berprofesi sebagai pengawas tingkat sekolah dasar. Hal itu yang membuatku melanjutkan sekolah menengah atas di sebuah SMA dengan jarak kurang lebih 500 km dari rumah. Juga diikuti dengan tanggapan orang tuakku yang mengatakan “Gakpapa, pendidikan itu memang mahal”, ketika mendengar kabar kalau UKT saya di Biologi UGM sebesar 11 juta persemester.
Tapi bukan mau bercerita tentang mahalnya pendidikan. Ini hanya pengantar untuk celotehan saya yang pemula ini. Oke kita mulai. Bismillah.
Saya sebenarnya tidak terlalu paham kondisi sekolah sekarang seperti apa. Tapi melihat adik saya yang baru saja lulus SMA dan bercerita banyak hal dengannya yang males-malesan masuk kelas, mungkin itu bisa jadi dasar celotehan ini. Dewasa ini, terlalu banyak sekolah yang fokus pada menjejalkan informasi. Dulu mungkin in relevan dan masuk akal, itu karena informasi sangat langka. Sebaliknya, jaman now, bukan hanya Jakarta aja yang kena banjir, kita semua juga ikut banjir oleh sejumlah besar informasi, bahkan tidak ada sensornya. Sekarang kalau kamu punya android Redmi Note 7, kamu bisa menghabiskan banyak waktu baca artikel di mojok.co, nulis laporan dari Wikipedia, nonton Ted-talk pake subtitle bahasa Indonesia, dan ngambil kursus online. Selain itu juga semuanya tinggal klik, sehingga kita sulit fokus. Ketika ada berita tentang pemilu dan harga saham yang rumit, kita tergoda oleh video kucing lucu, gosip lambe turah, maupun video bokep.
Kenapa kita masih dijejal informasi ketika kita sudah punya semuanya? Kita Cuma butuh kemampuan untuk memahami informasi, untuk membedakan antara mana cewek yang baik-baik mana cewek yang dating hanya untuk sekedar singgah ;(, dan diatas segalanya menghimpuns semua informasi menjadi gambaran luas dunia.
Jadi apa yang harus diajarkan di sekolah? Banyak ahli pedagogis bilang kalau sekolah harusnya mengajarkan 4C, yaitu Critical thinking (Berfikir kritis), communication (komunikasi), creativity (kreatifitas), dan collaboration (kolaborasi). Yang paling penting dari semuanya adalah kemampuan menghadapi perubahan, seperti kehadiran startup yang demandnya akan programmer semakin tinggi dengan talent yang sangat kurang. Ini situasi yang tidak biasa. DIbutuhkan fleksibiltas mental dan cadangan keseimbangan emosi yang besar. Bukan produk yang gampang baper dan sumbu pendek. Bukan yang gampang nyebarin berita hoaks di media sosial. Tapi sayangnya, mengajarkan itu semua jauh lebih sulit daripada mengajark persamaan hukum newton atau penyebab agresi militer Belanda yang kedua. Para guru banyak yang tida memiliki kapasitas seperti itu, karena mereka sendiri adalah produk system pendidikan yang kuno.
Makanya, saya sendiri menyarankan jangan terlalu mudah percaya pada orang tua kalau mau lepas dari sistem seperti ini. Mereka itu baik, tapi mereka tidak lebih mengenal dunia dari kamu. Siapa yang bisa kita andalkan? Teknologi? Bahkan ini lebih beresiko. Saaaaaaaangat beresiko. Teknologi mungkin bisa banyak membantu, tapi sangat bisa menyandra dan mencuci otakmu. Bukan saya mau bilang teknologi itu buruk. Teknologi itu baik kalau kamu tau apa yang kamu mau. Kamu akan dipandu dengan sangat baik menuju apa yang kamu mau. Tapi saat kamu kehilangan arah dan menjadikan teknologi sebagi alat bantu, hati-hati. Nanti kamu akan diperalat, dan bakal dijadiin zombie.
Terus gimana? Know your self.
Kenali dirimu
Ini materi yang pertama kali saya dapatkan saat ikut kaderisasi organisasi di kampus. Konsep diri. Banyak cara yang bisa kamu lakukan untuk tau dirimu sendiri. Naik gunung lah, nongkrong di warung kopi saat senja hari, maupun ikut kajian di masjid-masjid bertemakan Hijrah Fest. Semua bisa kamu lakukan. Selanjutnya setelah kenal dengan dirimu, jangan lupa, perbaiki pendidikan generasi selanjutnya.






