Terbunuh Ekspektasi
Jika bintang - bintang dan semesta sanggup memberi nyawa sebuah doa, mereka berhasil membisikan mimpi di telinga. Ber-konspirasi pada celah ruang dan waktu agar aku bisa berjalan bersamamu. Tepat ketika membisu jadi pilihanku tuk meredam rindu.
Apa ini? Dihadapkan lagi dengan ekspektasi. Memang akan berawal dengan indah, membuatmu memuja, bahagia, berandai, lalu ditikam kau setelah masuk kedalam perangkap mimpi. Ilusi yang begitu nyata, rasanya seperti mendapat peran utama dalam drama realita.
Dan dapat kau tatap kedua bola matanya yang berbinar. Dapat kau lihat tubuh nya yang menyembunyikan luka bakar. Dapat kau dengar suaranya memanggil namamu dari balik pintu keluar. Dapat kau rasakan hangat kedua tangannya menghampiri, tuk bertukar peluk. Dan dapat kau pahami betapa ia ingin melarikan diri dari rutinitas sakit hati.
Kau ini terlalu egois, kau terlalu mengais. Kau pasang senyum palau walau hati mu ter-iris. Kau begitu sok suci untuk menolongnya pergi dari bagian dirinya yang ia benci. Kau terlalu lemah ketika usaha terbaikmu dibalas dengan tatapan jijik.
“Lalu kau masih menyebut dirimu seorang ksatria?”
Iya, aku berbicara kepada cermin retak yang merah karena darahku sendiri. Lalu mengapa romansa cepat sekali berubah menjadi ironi?. Begitu banyak kata-kata yang tak terucap mengedap di dasar hati. Padahal namamu telah lama menggema di laut dan luar angkasa, wahai hawa.
Munafik, kata itu mulai menghantuiku di malam hari. Kepalaku dipenuhi imajinasi tentang-mu yang lekat tak mau pergi. Setiap kata pada sajak - sajak brilian mu, terkonversi menjadi nafsu. Andaikan aku adalah sosok yang kau ceritakan, aku akan tahan. Menjadi bulan - bulanan hasrat terdalam-mu yang tak pernah mau kau tunjukan. Menjadi poros tatapan, saat ku telusuri setiap lekuk tubuh mu dengan sentuhan. Menjadi penyulut api yang makin memanas setiap bibir kita bertukar liur ciuman. Menjadi pusat daya gravitasi yang akan memasuki setiap lapisan orbit dunia kenikmatan-mu dengan perlahan. Sebelum ku mendengarmu memanggil namaku dengan lirih, tak akan ku lepas raga mu walau kau berteriak, memohon untuk berhenti. Sampai sekujur tubuhmu bergetar, panas seperti matahari terbit pagi tadi. Berbalas kata kasar, kotor, dan seketika ruangan itu sepi. Hanya kau rasakan aku yang memelukmu sampai pagi. Lalu kau sadar bahwa aku sebenarnya penuh rasa dan arti.
Aku ini bukan seperti keturunan adam yang kau gemari dan berpura-pura peduli dan pergi. Aku ingin menghunuskan pedang ke iblis yang berupa pikiran romatis yang tak rasional dan menggelapkan matamu. Aku ingin memasukimu, dengan sebuah lingkaran emas di jari manis. Tubuhku menjadi rumah tuk berteduh dari panasnya matahari. Menyeduh dua gelas kopi hitam pahit kesukaanmu di setiap pagi. Sampai kelak telapak kakimu menjadi surga untuk mahluk - mahluk kecil kita nanti.
Aku sungguh lancang dalam meramu mimpi, sampai lupa bahwa kau sama sekali tidak peduli. Sampai tak ingat kalau tak ada pijakan sama sekali untuk ku berdiri. Setiap bait kata tenggelam dalam air mata. Berharap kamu membaca dan mengerti. Tidak cuma meninggalkan emoji hati.
Me-nyatakan perasaan sesal mu kan buat ku teduh, seperti hujan di mimpi. Jika kau akan menghentikan dayuh kapalku yang perlahan mulai menjauh dari pelabuhan, tolong pastikan. Kau mengalah pada elegi, mencair karna puisi ini. Ingatkan aku untuk kembali, sebelum waktu menghanyutkan sisa-sisa harapan di hati. Sebelum aku memberi ucapan teruntuk diriku sendiri;
“Selamat! Kamu telah terbunuh ekspektasi!”.
Dieng, 8 oktober 2017.
















