Sebaris Cerita, Sepenggal Makna
“Sebuah kisah tentang jejak-jejak pertama para pejuang peradaban”
Sudikah dirimu mengenyahkan segala keraguan?
Sudikah dirimu memantapkan segala impian?
Siapkah dirimu menjadi pilar peradaban?
4 Agustus 2014, sekitar pukul 06.00 WIB, Pagi
“Demi Indonesia Mulia...”
Pagi itu adalah kali pertama aku menyanyikan sebuah lagu yang akhirnya menjadi ‘santapan’ rutin bagi kami selama menempa diri di asrama ini, Hymne PPSDMS.
Pagi itu, kami, 60 putra-putri Peserta PPSDMS Regional 1 Jakarta Angkatan VII untuk pertama kalinya melaksanakan Apel Pagi. Saat itu pulalah sebuah masa yang kami kenal dengan “Masa Internalisasi” dimulai. Kami sering memplesetkan Masa Internalisasi dengan ospeknya PPSDMS. Ya, karena pada kurun waktu satu bulan tersebut kami mulai diperkenalkan dengan tradisi-tradisi dan budaya-budaya insan PPSDMS, salah satunya adalah Apel Pagi yang akan kami laksanakan selama sepekan dua kali sebagai pertanda pembukaan dan penutupan pekan pembinaan. Namun, karena ini Masa Internalisasi, kami melaksanakan Apel Pagi selama sebulan penuh di Bulan Agustus. Hal lain yang tak pernah kami lewatkan di Bulan Agustus ini adalah Qiyamul Lail (QL) –tahajud– dan Waktu Berkah Shubuh (WBS). Kedua agenda tersebut merupakan program pembinaan harian yang wajib kami lakukan setiap harinya di Masa Internalisasi.
Setiap harinya, kami menunaikan salat tahajud berjama’ah mulai pukul 04.00 WIB dini hari hingga menjelang shubuh, setelahnya dilanjutkan dengan rangkaian WBS yang terdiri dari salat shubuh berjama’ah, dzikir pagi, pembacaan Sirah Riyadhus Shalihin, serta kuliah terserah antum (kultum). Rangkaian WBS biasanya selesai pada pukul 06.15 WIB. Setelahnya kami bergegas, bersiap-siap untuk Apel Pagi pada 06.30 WIB dengan seragam kemeja putih-celana bahan hitam-jaket almamater-sepatu pantovel. Menyikapi singkatnya jeda antara WBS dan Apel Pagi, tak jarang dari kami yang sekadar mencuci muka agar terlihat lebih segar, atau bahkan ada yang sudah bangun sejak 03.30 WIB untuk mandi pagi. Setelah Apel Pagi, kami mempersiapkan sebuah acara malam penyambutan bagi keluarga baru asrama. Acara tersebut bertajuk “Welcoming Night”, sebuah malam penyambutan yang mengundang seluruh stakeholder PPSDMS: Dewan Penasihat, Dewan Penyantun, para mitra PPSDMS, serta para orang tua kami, agar lebih mengenal kami dan pembinaan yang akan kami jalani selama dua tahun, yang disebut Bang Bachtiar Firdaus (Direktur Eksekutif Pusat PPSDMS) sebagai “ulat-ulat nakal yang baru memasuki kepompong untuk berproses menjadi kupu-kupu penebar manfaat.”
“...Mencabut Rasa Ingin Tidur Dari Pelupuk Mata Kami”
Sebaris frase tersebut merupakan bagian dari “Idealisme Kami” yang juga menjadi ‘santapan’ wajib kami dalam setiap seremoni PPSDMS. Namun, ini adalah bagian yang paling berat bagi sebagian dari kami, termasuk aku. Di awal Masa Internalisasi, tidak jarang aku menunaikan QL dan Salat Shubuh dalam keadaan setengah sadar, mata terpejam namun gerak tubuh mengikuti komando imam. Di antara bernyawa dan tidak bernyawa. Hingga akhirnya tercipta kesepakatan di antara kami untuk mengawali dzikir pagi dengan terlebih dahulu saling memijat, bahkan akhir-akhir ini ada wacana untuk diganti dengan lima kali push-up. Cara tersebut ternyata cukup ampuh untuk meredam kantuk beberapa dari kami, meski sebagian lainnya masih ada yang tertidur ketika dzikir pagi. Kesepakatan pun ditambah: barang siapa yang merasa mengantuk ketika dzikir pagi, wajib membaca dzikir dalam keadaan berdiri hingga kantuknya reda. Bila tak kunjung reda, silakan berwudhu lalu kembali melanjutkan dzikir pagi. Allah memberiku kesempatan untuk beberapa kali merasakan dzikir pagi dalam keadaan berdiri. Ketika berhasil melewati tantangan untuk tidak tertidur sejak QL hingga selesai Apel Pagi, aku berhadapan dengan tantangan selanjutnya, yakni menahan untuk tidak tertidur setidaknya hingga tengah hari. Aku berusaha menguatkan diriku ketika teringat perkataan Bang Arief, “Di darah Anda mengalir zakat, infaq, dan sodaqoh orang-orang yang tulus. Dana ummat.” Alhamdulillah, menjelang akhir Bulan Agustus, akhir Masa Internalisasi, aku mulai terbiasa akan gaya hidup sebagaimana insan-insan PPSDMS terdahulu melaluinya.
“Saya ingin kita berprestasi sebagai keluarga”
30 Agustus 2014 adalah hari terakhir kami melaksanakan Apel Pagi dalam rangkaian Masa Internalisasi. Pada saat itu, tempat pembina apel diisi langsung oleh Abang kami, Bang Arief Munandar selaku Pembina PPSDMS Regional 1 Jakarta. Mungkin bagi sebagian orang, termasuk aku yang dulu, mengenal asrama pembinaan PPSDMS sebagai penjara, tak jarang muncul sebutan “Guantanamo” karena konon saking padatnya aktivitas pembinaan di sana. Hal ini tak sepenuhnya, salah. Di sini, waktu kami benar-benar dimampatkan agar seefektif mungkin dapat melakukan amal-amal kebaikan. Karena, Bang Arief juga pernah berkata, “Senggangnya waktu yang tidak terjadwal akan meningkatkan potensi maksiat yang bisa diperbuat.” Karena di asrama ini, kami disuguhkan berbagai aktivitas kebaikan yang mampat sejak bangun tidur hingga akan sejenak beristirahat di malam harinya. Bahkan, selama Masa Internalisasi ini kami baru diperbolehkan meninggalkan asrama pada pukul 09.00 WIB. Di antara jeda itu, kami kerja bakti membersihkan asrama. Karena, Bang Arief paling tidak suka melihat ketidakbersihan dan ketidakrapihan, sekalipun pada sudut-sudut tersempit (pada 3 Agustus malam hari, kami sempat disemprot, karena Bang Arief menemukan gayung berlumut di kamar mandi). Namun, bukan berarti tidak tersedia ruang-ruang kemanusiaan. Kami tetaplah manusia yang butuh kehangatan untuk mengisi ruang-ruang hati kami, dan asrama ini pun menyediakannya. Hal ini dapat kami rasakan langsung dari Bang Arief yang berjanji untuk menemani seluruh rangkaian WBS kami jika sedang tidak berhalangan. Beliau adalah sosok yang mampu tegas sekaligus menebar kasih di saat yang bersamaan. Hingga semangat tersebut rasanya menular kepada kami sebagai adik-adik binaannya.
Di tengah padatnya agenda pembinaan di Masa Internalisasi, terkadang ada di antara kami yang pada akhirnya harus menyerah pada keadaan, terkapar lemas di ranjangnya karena kelelahan, makan yang tidak teratur, dan belum terbiasa dengan ritme kehidupan asrama yang harus dihadapi. Meskipun tak sehangat dekapan keluarga di rumah, namun aku dapat merasakan bahwa di antara kami berusaha sebaik dan sehangat mungkin dalam merawat sesama kami. Di sini, adalah suatu hal yang biasa untuk menanyakan “Udah makan?”, “Pucet amat, lo sakit?”, atau hal-hal lain yang mungkin lumrah dilakukan sepasang muda-mudi yang berbagi perhatian kala memadu kasih. Atau, sekadar bersantai bernyanyi bersama diiringi alunan gitar setelah menyelesaikan program pembinaan di malam hari. Atau juga, bercengkrama sembari menonton televisi di ruang keluarga. Hal tersebut semata-mata karena kami merasa bahwa kami adalah satu keluarga yang butuh untuk saling menjaga, butuh untuk saling memahami, dan butuh untuk saling mengingatkan setidaknya untuk dua tahun ke depan, meskipun kami bercita-cita untuk mengabadikan persaudaraan ini hingga di surga kelak. Juga, pada Apel Pagi terakhir di Masa Internalisasi ini, Bang Arief mengamanatkan, “Saya ingin kita berprestasi sebagai keluarga.” Hal ini mengingatkan kami bahwa Asrama Peradaban ini tidak pernah bercita-cita untuk mencetak Superman, melainkan Superteam demi Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.
Di hati t’lah tertanam cinta,
Rela korbankan jiwa raga,
Bagi kehormatan dan cita,
Tegakkan kejayaan bangsa,
Mengemban misi bersih suci,
Tanpa harap balasan jasa,
Hanya ridho Allah semata,
Muhammad Raditio Jati Utomo
Program Studi Rusia FIB Universitas Indonesia, 2012
Peserta Program Pembinaan SDM Strategis Nurul Fikri Angkatan VII Regional 1 Jakarta