Hanya Sebuah Makam
Malam tadi, kau bilang atas nama rindu, kepergiannya kembali mengajakmu memelukku dengan debar dada yang menyimpan banyak sekali penyesalan. Haruskah aku setabah itu menjadi seseorang yang selalu memiliki maaf untuk segala bentuk kesalahanmu?
Tapi kembali lagi, dan selalu saja seperti ini. Akhirnya semua itu membawaku kepada sebuah rasa yang kusimpan dalam-dalam. Rasa yang tak pernah sekalipun diketahui, didengar, atau dibaca siapa saja, kecuali aku dan Tuhan. Permohonan-permohonan perasaan yang selama ini hanya bisa kusampaikan dalam sujud malam dan doa-doa panjang, akhirnya pulang meskipun hanya membawa hati yang tak utuh lagi beserta jutaan rasa bersalah.
Ya, barangkali aku hanya sebentuk rumah yang tak bisa menyediakan semua kebutuhanmu. Tapi setidaknya, meskipun anggap saja sebagai pelarian, selalu aku yang kau ingat sebagai arah pulang ketika bebatuan runcing menyakiti telapak kakimu selama menempuh perjalanan — menghindari aku sebagai takdirmu. Aku hanya seseorang yang beruntung karena masih memiliki waktu, untuk kau menceritakan cara dia menyakitimu, dengan pelukan yang dipenuhi permohonan maaf dan isak tangis yang tak tertolong.
Atau untuk selanjutnya, alangkah lebih baik jika kau cukup menganggap aku sebuah makam; yang di dadanya tertancap nisan bertuliskan namamu, sepanjang hidup bertugas menjaga dan menenangkan lelap tidurmu.











