I Berbicara ia pada kenangannya Dengan sungguh hati-hati takut kalau-kalau jejaknya tersesat Maka dibawanya terus berjalan Menapaki remang malam Terkadang berselempang bara Meninggalkan teriakan yang koyak Pada seluruh ruang asing yang diam Pada mata yang tak mampu melihat Kegundahan langit yang menggelap II Seperti kala ia memanggil terang Sementara pekat malam tak kunjung hilang Katanya tak ada fajar bertaut di mataku Atau ia ingin aku pilu? III Sama menajubkannya meski senja tak selalu jingga Pun terkadang tak selalu ada yang awan kisahkan pada udara
Aku seperti menyelami kenangan Manakala riuh sangat sunyi Dua kekasih yang tak pernah saling mengunjungi Sepasang kesepian Saling mencari bagian paling intim dari seluruh yang simpang Ada bunga jatuh pada malam Sedang aku diam dan merasa kalah Katanya jengah Sebab waktu terbagi dua Denganmu dan semua yang tak sempat terjawab Bertahun ku kecupi, rindu yang penasaran Berminggu kau ciumi, dan ku harap akan Seperti langit bermata merah Apinya membakar jantung kata Sebab tak ada surat hari ini Dari malam atau yang sedang kebingungan
Saya ingin sedikit bercerita tentang cinta saya yang bukan lagi untuk kepompong. Kepompong telah jauh pergi meninggalkan saya, terbang menjadi kupu-kupu dan bertemu kupu-kupu lainnya. Saling mencintai dan meyakini. Dua hal yang sama sekali berbeda.
***
Mungkin kau tak pernah bermimpi sebelumnya.
Tapi saya?
Saya selalu dihantui oleh mimpi sekitar beberapa tahun lalu. Berada dalam ruangan sempit yang sesak dan apek. Hanyalah sebongkah kecil entah bernama apa. Semakin hari semakin memanjang. Lalu saya meyakini bahwa yang memanjang ini adalah tangan dan kaki. Saya tahu dari yang dikatakan Tuhan.
Kaki dan tangan saya menekuk, kram setiap jam. Tak ada celah cahaya. Hanya suara-suara yang beradu samar-samar. Terkadang tawa, teriak, bisik-bisik lalu saling cumbu. Juga elusan yang terkadang terasa penuh kebimbangan. Darimana asalnya? Sedang ujungnya saja tak kelihatan. Hal yang harus saya lakukan jika sudah begini hanya harus sabar.
Saya meyakini tidak ada yang terlalu misterius dalam hidup ini. Karena hidup sudah dipertemukan dengan kita jauh sebelum menemui kenyataan. Saya hanya harus mencari pintu yang bukan ujung. Yang mengantarkan saya pada ruang-ruang sempit lainnya. Tapi saya lemah, tak berkekuatan. Saya seperti akan jatuh. Rasanya sangat sakit seperti tulang-tulangmu dipatahkan persendiannya, hidungmu dibekap dan jantungmu memompa lebih kuat hingga tubuhmu gemetaran. Ruangan sempit ini menjadi semakin sempit. Saya takbisa melihat. Hanya sakit yang saya rasa. Pun teriakan yang sangat dalam. Entah oleh siapa.
Pada akhirnya, saya meyakini bahwa tak ada yang namanya ujung. Saya terbebas dari ruang sempit itu. Tapi saya tak menemui ujung bahkan pintu. Mungkin saya telah terbangun dari mimpi. Mungkin inilah yang dinamakan kenyataan. Seperti yang dikatakan Tuhan beberapa waktu lalu, saya berada dalam kenyataan bila berada pada ruang yang bukan ujung dan bukan pintu. Hanya sunyi yang sangatdiam dan sunyi yang sangat sunyi. Kau akan menemui ketenangan.
Sudah lebih dari tiga puluh minggu aku mengenalmu. Tapi baru ini surat cinta pertama yang ku tulis untukmu. Perjalanan telah membawa kita sedemikian rupa. Tiap kali matahari terbit setiap harinya, aku merasa bahwa pemahamanku terhadapmu semakin bertambah. Banyak kisah yang telah kita pelajari bersama. Banyak ketimpangan yang coba kita topang bersama agar sebisa mungkin jadi sama. Aku jadi teringat cerita kemarin lalu. Katamu, senja itu misterius. Banyak hal yang sifatnya rahasia sebelum ia menenggelamkan matahari perlahan-lahan dan digantikan oleh langit gelap. Banyak mimpi yang tercipta kala itu. Katamu, senja mengajari kita untuk dewasa dan bijaksana. Ia hanya muncul sesaat sebelum gelap menyeruak. Tapi ia mampu memberi ketenangan setelah sepanjang siang matahari menyalakan terangnya yang terkadang terlalu terang. Kalau boleh aku bilang, senja juga mengajari kita untuk memahami bahwa setelah kedatangan pasti ada kepulangan. Walau senja hanya mampir sebentar, ia bisa mengobati rindu setiap harinya. Ia juga mengajari kita untuk memahami jarak. Kemanapun, sejauh apapun kita masih bisa memandang ia yang sama. Seperti yang kita lakukan kemarin saat sedang rindu-rindunya.
Bagaimana kabarmu sore ini, Sayang? Hari ini sepanjang siang hujan turun di kotaku. Katanya, ia dapat melunturkan penat dan lelah. Namun aku harap hujan dapat melunturkan rinduku yang sudah ku bendung agar cepat sampai padamu utuh. Sepanjang siang aku menatap hujan dari jendela ini. Aku masih berharap akan menemukan wajahmu yang kebasahan. Berlari berjingkat-jingkat karena sepatu kulit kesayanganmu sambil memeluk tubuhmu yang menggigil. Dan sepanjang siang yang sudah tiga puluh minggu lebih ini, aku menanti wajah itu. Kapan kau pulang?
Orang bilang, cinta boleh pergi kemanapun dan sejauh apapun. Tapi selama hatinya menyatu denganmu. Dia akan selalu kembali lagi. Itu pula yang senja, langit, dan matahari ajarkan padaku. Sayang, mari ceritakan tentang perjalananmu hari ini. Mungkin cerita tentang angin, hujan, atau bocah-bocah kecil yang bermain di lapangan bebas. Ceritakan saja semua yang ingin kau ceritakan, tapi jika malu untuk mengatakan, bisikkan saja secara perlahan di telingaku kata demi kata.
Dan soal janji yang kau katakan kemarin lalu. Benarkah kau akan menepatinya? Aku menunggu.
Saya sedang dalam keadaan tidak baik sekarang, karena kekasih saya sedang patah hati. Semalaman saya menangis berlama-lama dengannya. Tapi kami telah berjanji hanya sampai malam ini. Dan semalaman kami mengobrol panjang lebar. Kemudian didapati sebuah premis: untuk bisa mengobati luka maka dibutuhkan hati yang patah. Untuk tahu pilihan yang tepat harus ada pilihan yang salah.
Terkadang permintaan dan harapan memang tidak sama dengan kenyataannya. Jika kamu hatinya sedang patah. Jika kamu sudah tidak bisa membangun harapan bersama. Jika kamu sudah tak lagi saling menuntun di lorong yang gelap. Itu artinya waktumu dengannya sudah selesai.
Saya tahu tidak akan ada habisnya membicarakan perihal hati apalagi hati yang patah. Setiap ceritamu saya perhatikan dengan seksama bahkan setiap tetes air matamu. Kekasihku, maafkan saya tak bisa jadi penghibur yang baik. Saya cuma bisa bilang jika kamu sudah tak bisa lagi berjalan beriringan dengannya. Itu berarti waktumu dengannya sudah selesai.
Kemarin malam saya bercerita banyak kepada hujan. Sebetulnya saya tidak menyukai bunyinya yang pongah. Tapi tetesnya pada jendela begitu menenangkan. Ada sebuah rahasia yang saya sampaikan pada hujan dan doa. Sebuah permintaan besar yang saya sendiri takut untuk ceritakan, bahkan pada buku harian saya yang paling rahasia sekalipun. Tapi saya ingin membagi sedikit cerita tentang rahasia ini. Semua ini perihal kepompong yang telah lama hilang dan kembali lagi pada mimpi dua malam yang lalu. Ia merupa bentuk, ia berdetak.
Bagaimana kabarmu kepompong?
Saya kira kamu hilang. Rupanya kamu sedang tidur dan tidak ingin mengusikku dulu.
Tahukah kamu bahwa di setiap malam saya sampaikan doa pada Tuhan. Sebuah harapan telah banyak tercipta untukmu.
Untuk kepompong yang dulu selalu membangunkan saya dengan gelitik dan sentuhan halus diantara usus dan dinding perut. Untuk kepompong yang selalu riang kala saya perdengarkan lagu-lagu klasik. Saya kira kamu telah hilang. Rupanya kamu sedang tidur.
Sebuah harapan besar untukmu telah saya catat dan saya masukkan dalam botol kaca yang mengalir di samudra luas sana. Sebetulnya saya takut akan harapan itu sendiri. Saya menyadari ada yang keliru. Tapi Kupu-kupu selalu mengingatkan saya untuk selalu berhati-hati, karena suatu keputusan sekecil apapun akan membawa saya pada jalan-jalan berikut yang harus saya hadapi. Tapi saya tidak takut selama ada kupu-kupu yang menuntun saya.
Dan pada pagi yang berawan kemarin. Saya dibangunkan kembali oleh rasa menggelitik di perut. Rupanya kepompong telah bangun dari tidurnya. Selamat pagi. Terbanglah bebas di dalam sana dengan ceria.
Kekasihku, Maafkan Saya Pulang Karena Rindu Tertahan
Adakah memang setiap kita butuh tempat untuk pulang? Dan setiap orang memang butuh pulang. Setiap orang butuh kembali ke sebuah tempat dimana ia rindui dan dirindui. Ketika memikirkan pulang, kamu pasti sedang merindu. Ada pertanyaan besar dalam hati ketika memikirkan pulang.
Kapankah waktu yang tepat untuk pulang?
Pulang adalah sebentuk tindakan untuk rindu panjang yang tertahan. Kamu bisa melepaskan segala apapun yang selama ini kamu tahan.
Kemarin ketika membicarakan tentang pulang dengan sang kekasih, ia bertanya kepada saya:
Kenapa kamu pulang?
Mungkin karena saya sedang rindu. Rindu pada sebuah tempat dimana saya pernah bahkan sedang berkisah dalam perjalanannya. Mungkin karena saya rindu pelukannya. Mungkin karena saya rindu dengan tanya-tanya sederhana ketika saya pulang. Mungkin karena saya rindu dengan obrolan yang panjang seperti obrolan menjelang tidur sembari memandang wajah ayunya dan mendengar tawanya yang khas yang membuat saya tambah rindu. Mungkin hanya ia yang jadi pilihan untuk rinduku. Dan kekasihku, Saya hanya ingin pulang.
Pulang selalu tentang sebuah perjalanan. Saya membayangkan berada pada sebuah jalan panjang yang telah saya lalui. Mungkin karena saya lelah berjalan sendiri pada gelap yang lama atau bahkan pada terang yang begitu singkat. Untuk itu saya hanya ingin pulang.
Kekasihku, Saya hanya ingin pulang. Karena saya sedang merindu.
Saya rindu pulang dari hati. Saya mengerti akhir-akhir ini urusan hati ini membuat kamu belajar banyak, Kekasihku. Mungkin kamu sedang mengenali dirimu sendiri. Banyak mendengarkan dirimu sendiri.
Karena saya hanya ingin pulang.
Kekasihku, surat ini saya tulis pada malam petang ketika kamu terlelap kelelahan setelah bercinta dengan saya sembari memandangmu yang sedang mendengkur pelan.
***
Kekasihku, kemarin ada seorang teman yang menanyaiku kenapa kamu murung?
Mungkin saya sedang patah hati. Mungkin saya sedang kecewa karena ia lah yang kamu jatuhi dengan pilihan rindumu. Dan semalaman yang saya lakukan adalah curhat panjang bersama seorang teman lalu menangis berlama-lama. Saya menulis dan menangis lagi.
Kekasihku, saya sedang belajar mendengar diri saya sendiri. Dan saya membiarkanmu untuk pulang. Karena saya mengerti kamu sedang merindu.
Seminggu ini teras rumah terasa lebih lembab dari biasanya. Rumput-rumput liar semakin menghijau karena nutrisi hujan. Dan jendela ini, satu-satunya tempat dimana aku leluasa memandang. Kamu.
Sejak seminggu lalu, kamu terlihat lebih sering menyambangi jendelamu. Berhenti sejenak, memandang ke arah yang sulit ku tebak. Aku menyukai cangkir pada genggamanmu. Entahlah, aku seperti bisa mencium aroma kopi dari dalam cekungnya. Juga sebentuk cekung samar-samar terlihat pada bibirmu. Mengarahku. Mungkin kamu sedang bahagia memikirkan peristiwa semalam. Entahlah, bagiku bahagia ataupun miris sama-sama mampu menciptakan sebentuk lengkung pada bibir.
Pada pertemuan kami malam itu. Aku lebih banyak diam. Terlalu indah. Terlalu manis. Mulutku bungkam. Tak mampu mengucap, atau lebih karena aku tak ingin siapapun tahu jika aku sedang bahagia dengan jalan yang sedang kupijaki. Aku ingat saat dalam diam dia mencuri pandang dariku. Aku membiarkan diriku untuk lebih ia nikmati. Berharap perasaannya akan semakin bertumbuh terus-menerus meskipun aku tahu persis ada perkara dibaliknya.
Tuhan, jangan biarkan ia berlari. Biarkan saja ia berjalan disampingku perlahan, karenanya dunia ini terasa amat nyata. Biarkan ia menikmati indah kuasaMu bersamaku saja. Tuhan, apa Kau sedang menguji kedewasaanku? Jika iya, aku bahkan berniat tak ingin lulus dari ujianMu. Biarkan aku disini saja, bersama bahagia yang baru pernah kurasakan ini.
Berjanjilah sayangku, jadilah parasut yang manis. Terbangkan aku selama kau mampu. Ajak aku mnegitari indah warna-warni dunia. Jangan ingatkan aku tentang fana. Bagiku, ia berada di titik jauh yang teramat kecil, begitu samar oleh kilau embun yang sejuk. Yang ada hanya kebersatuan kita pada kisah yang tak bernama.
Aku jatuh cinta pada pikiranmu. Pada sudut pandangmu yang selalu berbeda. Pada cara dinginmu bertutur kata. Pada habisnya cerita. Pada duniamu yang tak kutahu seluas apa. Pada setiap setapak yang akhirnya bisa aku lihat karena kau memaksaku untuk berjalan lalu berlari. Pada caramu memperkenalkanku pada diriku sendiri, dan menghormatinya sebagai pribadi yang pantas diperlakukan dengan baik. Pada kegelisahanmu yang coba kau tenangkan. Pada sesuatu dalam tabir yang aku tak pernah tahu jika tak kucari tahu padamu. Akhirnya, aku jatuh cinta pada ketidaktahuanku sendiri.
Aku kehabisan tinta pena. Tunggu sebentar aku akan berkelana. Siapa tahu sekembalinya aku bawa kisah, untuk kita berdua.
Hari ini, 12 November 1998. Hanya itu yang sempat kutulis dipojok kanan atas catatan harian dengan tinta yang kian memudar. Aku bergerak ke arah Semanggi, begitu sesak. Berdiri di ujung kalipun tak ku bergerak. Sedang aku hanya seberat ratusan katak. Aku hanya ikut berarak. Semoga bertemu pena yang terjatuh secara acak. Tapi aku enggan tamak. Aku telah merambah dengan desak. Apa yang terjadi pada emosi mereka yang retak. Kutengok kanan kiri dalam tunduk tak kudapati pena keikhlasan, aku beranjak.
Kulirik jam yang melilit tangan kekar sebelah. Pukul 18:02. Aku teringat janjiku pada Loanne malam kemarin lusa. Hari ini terjadwal makan malam bersama keluarganya. Berpakaian seperti apakah aku nanti? Haruskah aku memangkas rambutku yang melewati kuping ini? Namun hanya sekelebat bayangan itu, aku tersentak oleh suara tembakan begitu memekakkan telinga. Aku terhuyung kemudian tersungkur. Lengan kananku terasa berat dan hangat seperti belaian Loanne biasanya. Tapi ini lain, amis. Tubuhku seperti tertindih. Ku tengok ke arah lengan kananku. Ada kepala bersandar dilenganku, dan dia terbelalak. Dari kepalanya mengucur darah. Aku melonjak, berlari secepat yang kubisa.
Aku terengah-engah, belum sempat aku sembunyi suara menyeramkan itu terus menerus diperdengarkan seolah sebagai musik peperangan namun tentu tanpa tangga nada. Selamanya akan menyeramkan bagi yang trauma, sepertiku. Baru pernah aku menjadi bagian dalam peristiwa begini. Hanya demi sebatang pena. Lalu aku teringat sesuatu, memoriku kembali pada saat sebelum aku meninggalkan rumah, aku buru-buru ingin menulis surat pada Loanne, aku memohon maaf karena aku tak bisa hadir pada acaranya. Karena suasana telah begitu buruk, hari yang biru untuk acara membahagiakan. Maafkan aku, Loanne. Aku kepayahan, aku sedang mengupayakan. Cepat atau lambat, surat itu akan sampai agar kecemasanmu setimpal.
Pohon-pohon dan jalanan semakin menghitam dalam pandang. Keringat mengucur deras dari seluruh lubang pori. Ini kacau. Mengapa aku terjebak dalam situasi yang tak kumengerti, tapi aku terpaksa mengerti demi nama nasionalisme. Pada akhirnya keterpaksaan ini menjadi sebuah keikhlasan untuk tanah yang kupijak. Kudengar akhir-akhir ini, televisi menayangkan berita penuh ego dalam hitam putih. Si Joni dibui, karena ia tak sependapat. Ia mati mengenaskan (jelas tanpa pemberitaan media). Ku tahu karena Ia tetangga kampung sebelah. Dunia begitu gila, lalu untuk apa Tuhan menciptakan mulut kalau tak bisa bicara, tangan kalau tak bisa menepis, dan kaki kalau tak bisa melompat. Pada bagian mana ini disebut keadilan?
Emosiku bergejolak, pikiranku kacau. Yang terlintas adalah yang tanpa permisi. Aku berdiri, berteriak pada keadilan yang tak kunjung menyelamatkan. Satu-satunya keikhlasan adalah tanah yang kupijak. Aku teringat pada lelaki yang menindihku senja tadi. Lalu kunamai Ia sebagai lelaki senja. Aku akan membuatmu indah dan setimpal, percayalah. Bimbing aku kemana harus kulangkahkan kaki, kulantangkan suara. Agar mereka tak semena-mena. Keputusan harus dibuat berlandaskan persetujuan segala pihak. Ia yang mengaku mewakili, tetapi tanpa melibatkan suara kita sebagai pertimbangan. Segala sesuatu menjadi maksimal ketika fungsi tunggalnya semakin terasah. Induk burung betinapun tak mampu menjalankan dwi fungsi sekaligus, membangun sangkar dan mencari makan secara bersamaan. Dan inilah akar permasalahan yang harus menelan lelaki senja itu.
Melayang-layang di atas kabut itu sesuatu yang melenakan. Inilah kenyamanan yang hakiki, begitu pikirku. Aku masih terpejam, tapi tidak otakku. Aku masih dengan jelas melihat kedua mata yang cemas dan takut. Kabut ini menjadikan aku dan tubuhku menerima segala hal yang tak pernah ku tahu. Musik-musik tanpa tangga nada penuh kecemasan melesat dari orang-orang yang patuh. Orang-orang yang pada dasarnya hanya menjalankan perintah, tubuhnya menolak kejahatan tapi tidak otaknya yang telah terperintah dalam sistem yang jelas pernah dibicarakan. Begini aku mampu berpikir dalam segala hal sekaligus. Setiap masing-masing memang menjalankan satu tugas. Lelaki senja maupun otak-otak terperintah itu. Begini aku bisa yakin bahwa memang yang kulakukan adalah kebenaran. Ketika setiap masing-masing diberi fungsi ganda, akan rancu dan bentrok. Lalu mengapa mereka begitu bersikeras tak mengindahkan suara-suara keresahan. Mereka begitu angkuh untuk mengakui kesalahan. Merengkuh keserakahan dengan cara biadab.
Kedua bola mata yang kulihat senja tadi mengajakku masuk kedalam retinanya menembus setiap batas-batas cahaya yang kian lama kian mengabut. Kabut yang berbeda. Kabut keputusasaan yang cenderung mengarah kehitaman. Dari kehitaman itu jelas tergambar coretan seperti asap sketsa wajah perempuan cantik turunan campuran Jepang-Sunda dengan rambut hitam legam terurai sebahu tanpa mata sipit melainkan bulat telur. Paduan sempurna dan sangat memesona andai saja akulah si empunya memori ini. Bayangan-bayangan yang melengkapi kelenaanku, beruntung aku memasuki memori lelaki yang telah sedikit mengurangi kesakitanku senja tadi karena mengalasiku dengan tubuhnya. Kunamai saja Ia sebagai lelaki senja agar tak begitu panjang ‘tuk kujelaskan padamu. Kuharap Ia bisa tenang karena telah menyaksikan kengerian yang kuyakini sebagai peristiwa kali pertama dalam hidupnya. Sedetik kemudian aku ditarik masuk lebih dalam lagi lewat celah yang sangat sempit dan gelap seolah Ia ingin memberi tahu sesuatu yang penting bahkan genting. Samar-samar kulihat buku catatan harian yang tergeletak diatas meja kayu. Lalu ku duduk pada bangkunya, kulihat perempuan yang sama bergincu merah terbingkai pada pigura klasik, sangat cantik. Tanpa sadar jemariku menuliskan serangkaian huruf-huruf tanpa pena. Aku hanya menyentuhkan telunjukku padanya. Dan Ia merah.
Hari ini, 12 November 1998.
Aku sedang duduk pada bangku yang tenang. Aku ingin memberitahukan padamu tentang kegelisahan yang selama ini belum sempat terceritakan. Bukan aku tak menginginkannya, namun aku belum mendapat waktu yang tepat untuknya. Mungkin pada kali ini aku akan terbuka.
Ini dimulai tentang Joni. Joni sahabat kecilku. Kau mengenalnya bukan? Ia pernah kukenalkan padamu pada hari ini namun lima tahun silam. Ketika itu ulang tahunmu, dan kau begitu cantik. Mungkin kau akan berpikir negatif tentangnya karena Ia mati dibui. Bui memang identik dengan keburukan. Namun keburukan bui bisa saja karena kesialan. Namun tunggu dulu, ini bukan tentang dia. Hanya saja keadaannyalah yang membuatku tak nyaman, aku tak bisa tinggal diam. Tanah yang kita pijak ini mulai tak nyaman bagi kita. Kita semua, Loanne.
Pemerintah begitu angkuh dan semena-semena. Ini seperti yang selalu kau bilang Loanne bahwa kelak aku dan kau akan mengemban tugas masing-masing meski dalam satu jalinan. Ketika masih ada kau, aku tak bisa mengurus dapur. Begitu sebaliknya. Kau tahu kan tentang keputusan dwi fungsi ABRI itu, entah mengapa orde baru terasa begitu memaksakan. Memang ini tak lepas dari keinginanku menjadi seorang ABRI. Aku menaruh hormat padanya di peringkat ketiga setelah Tuhan dan orangtuaku. Hari ini akan terjadi peristiwa besar dan akan tercatat dalam sejarah, Loanne. Aku ingin menjadi sejarah. Setiap individu memang akan menjadi sejarah bagi orang-orang tertentu. Namun aku ingin menjadi sejarah dalam keadilan banyak orang.
Hari ini, aku ingin memberitahumu bahwa aku tak bisa hadir pada acara ulang tahunmu kali ini. Bukan aku tak mau, tapi keadaan memaksaku untuk ikhlas bahwa terkadang sesuatu yang diinginkan kadang kandas oleh kepentingan yang lain. Bolehkah kita bersua pada kesempatan yang lain? Aku berjanji sekembalinya ini, aku akan bercerita apapun yang kau mau. Aku akan tinggal bersamamu seperti yang selalu kau minta. Aku berjanji kali ini saja aku mengingkarinya, kumohon kau memakluminya Loanne.
Aku menulis ini dengan gelisah. Takut kalau-kalau kau tak bisa menerimanya. Tapi tekadku sudah bulat. Aku akan membela kebenaran yang mengabut ini, aku mengupayakan angin kencang agar kabut-kabut itu sedikit demi sedikit pudar menjadi gambar yang jelas.
Matahari terik sekali disini, aku harus bergegas bersama kawan yang lain. Segera aku mengirim surat ini kilat, agar keresahanmu mendapat jawab. Jangan cemas, aku yakin kita akan bersua di lain waktu. Kumohon maafkan dan maklumi aku. Aku mencintaimu dengan penuh kasih sayang, Loanne.
Sampai jumpa.
Aku terbelalak. Memandang kertas yang penuh dengan merah. Aku sedang duduk di bangku yang tenang seperti yang kutulis. Aku begitu merasakan diriku menyatu dengan memori lelaki senja ini. Sungguh kabut-kabut itu telah membuat takdir yang tak pernah kutahu. Sekarang aku meyakini diri bahwa akulah si lelaki senja itu. Tak ada orang yang kutindih saat aku tertembak. Tak ada kedua bola mata yang cemas. Tak ada lengan yang kusandari. Aku terjatuh kesakitan dan jiwaku terjerembab masuk ke dalam tanah yang penuh dengan kabut. Kabut yang hangat namun dingin. Akulah penggambar sketsa perempuan itu, akulah penulis catatan harian itu. Lelaki senja dan aku adalah satu. Itu yang kuyakini namun tak kutahui.
Kupukul meja begitu kencang hingga kayunya retak sebagai luapan ketidaktahuanku akan diriku sendiri. Siapakah aku? Dimanakah aku sebenarnya? Aku kehabisan tinta pena, dan tak pernah kembali pada catatan harianku. Lalu mengapa aku duduk di depan catatan yang telah terisi dengan merah. Ini bukan tinta melainkan darah. Aku tertunduk lesu mengamati catatan merah ini, kuamati satu persatu hurufnya lalu ku bertanya mengapa orang yang menuliskan ini begitu mirip denganku, cara menuliskan hurufnya begitu sama. Aku semakin menunduk dan fokus padanya. Lambat-lambat merah itu meluber, terbang mengabut melepaskan diri dari buku catatanku. Aku tersentak oleh keadaan yang ajaib ini.
Kabut itu semakin membesar, menebal lalu menipis, memenuhi ruangan. Aku berdiri mematung memandangi kabut raksasa ini, tak mampu kulihat ruang kamarku, dimana-mana hanya kabut yang kadang menipis lalu samar terlihat pohon-pohon bambu. Sedikit kupicingkan mataku untuk meyakinkah diri dimanakah aku berada namun kurasa kabut tak mengijinkan, Ia kembali menebal. Aku ketakutan. Aku memaksa kakiku untuk berlari sekencang-kencangnya. Aku berharap akan segera terbangun pada saat yang tak mampu kuatasi seperti ini. Semakin kencang ku berlari, harusnya kabut ini semakin memudar karena angin yang kubawa. Tetapi tidak, Ia berkebalikan. Ia menebal begitu tebal dan terasa mencengkeram tubuhku hingga ku tak mampu lagi berlari, aku terseok-seok. Aku berteriak kencang sekali, aku rasa. Namun kabut itu tak bergetar. Ia mengikatku. Membawaku melayang dalam kesakitan. Kalau aku mengelak, akan terasa lebih menyakitkan. Untuk itu aku memaksa tubuhku menerima keadaan seperti ini. Aku menerima kemana saja aku akan dibawa. Semakin tubuhku menerima, semakin kurasakan ketenangan. Kantuk memeluk mataku begitu kuat. Keadaan begitu cepat berbalik. Nyaman adalah keadaan terkini.
Aku terpejam perlahan ketika kabut tebal merah itu memudarkan warnanya menjadi kabut putih pada umumnya. Ini seperti dejavu, aku merasa pernah merasakan hal yang sama untuk kali kedua. Aku melayang-layang di atas kabut yang empuk. Sedetik kemudian kurasakan lembut mengisi jemari-jemariku yang terbuka. Kubuka mata dan betapa terkejutnya aku saat Loanne berada disampingku dengan pandang teduh begitu cantik tengah menggenggam jemariku. Ia tersenyum ramah. Senyum yang selalu kusuka sedari dulu. Aku tenang Loanne tak berubah. Sejurus kemudian kutangkap Ia membuka mulut seperti akan mengucap sesuatu. Kufokuskan pandang pada mulutnya. Mulut yang rapat lalu perlahan terbuka dan membentuk bulatan lalu membuka kembali, menutup kembali begitu seterusnya sampai benar-benar menutup tanda Ia usai berbicara. Tanpa terdengar suara. Agak lama, lalu aku memahaminya sebagai “Akupun mencintaimu, aku memaklumimu”. Begitu lega mengetahuinya. Aku tersenyum lepas dalam pejam. Baru pernah kurasakan bahagia sehebat ini. Aku telah menjadi sejarah bagi banyak orang, terutama bagimu. Tahun-tahun yang begitu membahagiakan bersamamu.
Terima kasih atas pemahamanmu, Loanne kekasihku. Aku pergi bersama bahagia.