Kubiarkan kita berlubang; Nyalang, kekasih. Satu hal mendesak yang kubutuhkan sekarang, Ialah rehat dari berandang. 9/8/10 8:53
Xuebing Du
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
Sade Olutola
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

祝日 / Permanent Vacation
h
occasionally subtle
No title available

Love Begins
🪼

oozey mess
Show & Tell
YOU ARE THE REASON
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

Kaledo Art

Janaina Medeiros
Mike Driver
I'd rather be in outer space 🛸

ellievsbear
art blog(derogatory)
seen from Malaysia

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Pakistan
seen from United Kingdom

seen from Spain
seen from Germany

seen from Australia

seen from Malaysia

seen from Germany
seen from Taiwan
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
@kujarat
Kubiarkan kita berlubang; Nyalang, kekasih. Satu hal mendesak yang kubutuhkan sekarang, Ialah rehat dari berandang. 9/8/10 8:53
Kau memagutku dengan taring ular tandukmu Aku buai dalam racunmu Aku abai pada mesummu. 27/4/19 7:57
Padahal perbincangan itu seharusnya tak perlu kau adakan Belumkah segalanya jelas sekarang? 16/4/19 00:52
Aku bangkit dari duduk dan kau berangsur baring Aku pergi menjelang sambut dan kau berbalik untuk tak tinggal Kita berada di bandara yang sama, tapi kau tak berniat untuk transit Kau melaju dalam udara, aku lupa cara pulang dengan janggal. Sayang. Benang merah kita adalah ketiadaan benang merah itu.
Agustus 2019
I was a half-full cup when I offered you myself tonight. You were empty; but very strangely, you could not contain me. So you left me undrank, unscathed, yet in the same substance of void my cup started to bathe. The matter in me was still; it does not grow anywhere lesser yet neither anywhere fuller. In fact, you were way too unfulfilled to assume any role of a fulfiller. ** Uncompleted, my matter grew cold. For too early that evening, my brew was sentenced unsold. It is indeed uncertain what your emptiness beholds, but it has proved itself to be dense enough to jostle me out of your deepest vault. As the night unfolds, I learned; silence isn’t always better than gold. Sometimes, when received from your most beloved colt, could serve as nothing but a painful jolt. *** This early evening, darling, when I came to you, I was a half-full cup. But as I left, somehow, I learned that I was half-empty. “A Half-Full Cup” 5/6/19
Ibumu Ini Bulan Hitam
Kau mabuk kena air susunya; Meski harusnya kau hapal, infatuasimu selalu lahir dari asi. Tapi ibumu kali ini, sungguh tak pernah membuaimu di sore lengang! Hanya ia garap habis engahmu Di tiap-tiap malam senang. Tak pernah lagi coba kusangkal, Ibumu itu tak lebih seorang induk semang. Pemilik kamar-kamar remang nan lengang Tempatmu singgah di kala tanduk tegang. Apa harus aku cipta segugus harap Agar kau kembali jadi bayi dalam dekap? Agar tak kadung kau khatami kamus desah Dan ayat-ayatnya yang bikin aku resah? Ah. Entah harus menunggu kapan. Kapan akan mulai kau rutuki perempuan satu ini, Lalu belajar makna dewasa yang tak melulu perkara dosa. Ah. Entah harap apa yang mesti dicipta. Agar kau tumbuh dewasa dan pergi mencampakkannya, Atau menyusut lagi jadi bayi, yang dengan tanganku yang berdarah, tak mampu juga aku timang.
Mei 2019
Rokok itu tak sampai habis kau isap. “Sudah terlampau pahit,” ujarmu, “memualkan.” Kulihat, kini kau gampang menyerah pada segala apa yang memuakkan Hingga aku mulai menghitung jumlah getir yang pernah rela kulupakan. Mungkin bara itu akan berujung pada asap di napas sesak Mungkin juga pada rusak di dasar asbak Tapi, yang mana pun jua, tak lagi soal bagi seorang budak Budak candu penolak lindu; kekasihmu yang mulai belajar muak. 27/5/19
Astaga, Tuhan. Tak bisakah hamba bertopang dagu sahaja? Diam-diam menunggu kau berdua putus asa?
9 April 21:00
Gedung-gedung kosong, dan aula puisi rahasia Kelana malam, dan pemantik api diam-diam. Hampar laut kursi merah, dan warna patah yang berdarah.
Juli 2019
Kau menanggalkan selimut yang sudah kelewat lama membuat dirimu terbaring sesak, Dan mulai pasrah pada malam yang memang kodratnya terasa dingin. Kau pun berserah pada api-api yang dibotolkan, dan membiarkan mereka membakar habis air mata di kerongkongan. Malam semakin kering sekarang, dan tanpa pertukaran ludah dalam lisan atau atas ranjang, Kau ujarkan bahwa cairan hitam dalam gelas itu bukan lagi sajian yang tepat untukmu sekarang. Namun, seperti juga tiap ujaran yang memang kodratnya arbitrer, kuantisipasikan cabang jalanmu yang untuk kini katanya solitaire; Dan di satu malam yang mungkin bagimu kelewat dingin, Aku melihatmu mampir ke toko kelontong; Membeli selimut baru dan gelas cairan hitam pengisi kosong. “Sudah Hangatkah Kau Kini, Saudara?” 7/10/19 09:37
Jangan ajak aku turut memandang dosamu dengan kacamata diminutif, sementara “cela” yang kau kata aku buat, kau hajar habis dengan suryakanta.
28.9.19
Arsip.
Aku memiaramu seperti kolektor bangka menyimpan memori tua; Mengawetkanmu jadi tugu dan prasasti batu.
Menjadikanmu aset sejarah, sebab tualangmu direkam benakku sebagai peristiwa berdarah.
Membatalkan kemanusiaanmu; seperti kau membatalkan gaung namaku,
Merekapitulasimu jadi puisi, seperti kau mengarsipkanku sebagai ekspedisi.
1/9/19
21:44
Bawang putih berubah merah; Ditelan arak menangis darah.
“Putih Cuma Dongeng:
15/8/19 00:56
Memang tidak mungkin, menjauhkan pelimbang dari dulang. Rasa-rasanya, pinta serupa itu hanya borok yang diulang.
“Memang Jamnya Aku Pulang:
13/8/19 23:54