A month in the life I've prayed for
Well, where are we gonna start?
Pada suatu hari di bulan Agustus 2025, aku pernah menulis di caption di salah satu unggahan di Instagram.
Waktu itu aku baru pulang dari Suwon, Korea Selatan. Alhamdulillah aku diundang untuk turut mempresentasikan penelitian kecilku bersama seorang teman, Nilam, di sebuah konferensi buku anak di Suwon.
Tidak seperti Skotlandia atau Denmark atau Norway, negara-negara yang sangat ingin aku kunjungi dan berharap bisa tinggal lama di sana. Korea Selatan sama sekali tidak pernah ada di dalam list cita-citaku. Tidak memiliki tempat spesial dan istimewa di hatiku. Tapi, bulan Agustus 2025 sepulang dari Suwon, perspektifku berubah 300 derajat, dan aku justru bercita-cita sekali untuk bisa hidup dan tinggal lebih lama di Korea.
Alhamdulillah alhamdulillah. Allah maha baik sekali. Bulan Maret ini aku memulai babak baru hidupku di Korea. Untuk berapa lama, mari kita lihat Allah maunya bagaimana.
Selama masa persiapan dan pendaftaran, termasuk pembuatan visa, hari-hariku dipenuhi dengan kecemasan dan ketakutan. Rasanya campur aduk sekali. Khawatir iya, takut iya, excited juga iya, senang iya, nano-nano pokoknya. Aku bisa bilang, bahwa keputusanku untuk resign dari kantor dan memilih untuk belajar bahasa Korea adalah keputusan yang cukup mendadak, namun inshaallah sudah kupikir dan kupertimbangkan dengan matang. Awalnya aku tidak yakin dengan semua hal yang ingin aku ambil dan putuskan. Tapi akhirnya, jalan ini yang kupilih dan inshaallah mudah-mudahan juga merupakan jalan yang Allah inginkan.
Doaku hari-hari saat itu, hanya mengharap kemudahan dari Allah. Aku cuma minta, kalau memang jalanku ada di Korea, tolong Ya Allah permudah semua urusanku yang berkaitan dengan per-Korea-an ini.
Hari-hari mendekati keberangkatan, keragu-raguan mulai muncul. Ini sepertinya memang menjadi tipikal ujian bagi mereka yang sudah mengambil keputusan. Saat itu sosial media sedang ramai sekali dengan obrolan-obrolan dan cuitan-cuitan sisi negatif kehidupan sosial orang korea. Sempat ada rasa khawatir, apakah keputusanku benar? Apakah memang ini yang Allah mau? Apakah Korea akan menjadi cerita di buku kehidupanku beberapa waktu ke depan?
Aku mulai mempertanyakan, apakah pengalaman hidup lima hari di Seoul, bisa menjadi alasan kuat untukku memutuskan pindah ke Korea?
Aku tidak bisa melupakan bagaimana perasaan yang aku rasakan saat itu. Ketika kakiku melangkah menyusuri trotoar-trotoar Seoul dan Suwon, melewati peron-peron stasiunnya, melewati pepohonan dan tanaman yang terlihat begitu hijau di bawah sinar matahari musim panas.
Aku tidak bisa melupakan bagaimana hangatnya orang-orang lokal yang kutemui. Bapak-bapak yang dengan baik hati sekali, membantuku dan Nilam mengangkat koper di stasiun kereta. Seorang perempuan muda yang dengan keterbatasan bahasa inggrisnya, menjelaskan dengan sepenuh hati perihal arah peta kepada kami. Seorang ibu yang baru kami temui di bis, dengan baik hati membantu menyampaikan ke supir bis kalau kami tersesat dan supaya diantar ke tujuan kami yang seharusnya.
Aaa, rasanya kehangatan orang-orang itulah yang membuatku menyimpulkan, kalau Korea adalah 'rumah'.
Daannn, masyaallah Alhamdulillah. Ketika kemarin aku menginjakkan kaki di Busan, untuk pertama kalinya, dan untuk kedua kalinya di negara ini, Allah pertemukan aku dengan orang-orang baik (lagi). Di stasiun subway Gimhae, aku yang belum punya kartu t-money, dipertemukan dengan ibu-ibu baik yang memberiku kartu itu secara cuma-cuma. What a first day in Busan<3
Di hari pertama, pagi yang cerah di Busan, perempuan yang masih berusaha mencerna keadaan ini menggotong tiga kopernya untuk naik subway ke daerah Nam-gu. Aku yang sekarang akan bertanya kepada aku di waktu itu, kenapa nggak memilih buat naik taksi aja, sih? Menyusahkan diri sendiri aja! Haha, aku juga nggak tau kenapa waktu itu aku memilih naik subway yang harus transit, sembari menggotong tiga koper padahal cuma punya dua tangan. Tiga koper yang total beratnya hampir 50kg.
Mungkin karena kasihan dan prihatin ya, ada salah satu ibu-ibu baik yang menawarkan diri buat membantuku membawa koper-koper itu. Jujur, sebelumnya aku juga nggak kepikiran, gimana caranya bawa koper ini dari stasiun terakhir ke kampus tujuanku. Cuma percaya aja sama Allah, pasti dikasih jalan. Ternyata Allah mengirimkan ibu-ibu baik ini, yang ternyata tinggal di apartemen belakang kampus. Alhamdulillah.
Demikian hari pertamaku di Busan, dan hari-hari selanjutnya yang masih membuat kepala loading. Satu bulan ini mode settlement Inshaallah sudah terlewati. Masyaallah banget memang loading dan berusaha menyeimbangkan antara menjalani separuh ramadhan, konsentrasi untuk belajar bahasa (yes, this is my main reason why I moved to Korea), berusaha memahami apa yang dijelaskan guru-guru baikku di kelas yang pengantarnya pun pakai bahasa Korea (unik memang, belajar bahasa Korea dengan bahasa pengantar adalah Bahasa Korea), adaptasi dengan kehidupan dan hari-hari di Busan, mencari teman, bersosialisasi, menyelesaikan suatu urusan yang juga menjadi alasanku pindah ke Busan (soon, mudah-mudahan aku segera bisa cerita soal ini di lain waktu), mengatur ritme harian dan kebiasaan, dan lain-lain yang membuatku kembali menjadi Faiz yang seharusnya. Lumayan juga haha tapi asli, seru banget!
Walaupuunn, 'bayarannya' cukup mahal sih, nilai UTS ku di bawah rata-rata :")
Aku punya excuse buat ini, tapi nggak yakin sih ini bisa jadi excuse haha. Salah satunya adalah karena cepet bangettt satu bulan udah langsung UTS(?) Kata banyak orang, iklim akademik Korea se-pressured itu, dan se-kompetitif itu. Mungkin aku baru merasakan setetesnya aja, tapi jujur emang secepat itu proses belajar kami di kelas, yang nggak akan bisa maksimal kalau nggak diimbangi self-review.
Bismillah harus maksimal untuk UAS nanti!
Mulai ditulis awal Maret 2026, diselesaikan pertengahan April 2026













