Rephrased.
Source: https://www.instagram.com/p/CvSXnmVB_Kj/?igshid=MzRlODBiNWFlZA==
Phantogram Three
occasionally subtle
KIROKAZE
No title available
sheepfilms
macklin celebrini has autism
🪼
ojovivo
h
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
I'd rather be in outer space 🛸

#extradirty
No title available
Game of Thrones Daily

ellievsbear

shark vs the universe
Mike Driver
Keni
Interview Vampire Daily
𓃗
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Türkiye
seen from Türkiye
seen from Thailand
seen from Italy
seen from Colombia

seen from United Kingdom
seen from Saudi Arabia

seen from United States

seen from Germany
seen from United States

seen from Oman
seen from Indonesia
seen from Tunisia

seen from Singapore
@laily-masruro
Rephrased.
Source: https://www.instagram.com/p/CvSXnmVB_Kj/?igshid=MzRlODBiNWFlZA==
Ya Allah, tanpa sadar, diri ini udah makin jauh dari-Mu.
Dulu apa-apa inget Engkau. Sekarang, rasanya pikiranku duniawi banget.
Dulu kalau ada masalah selalu melibatkan Engkau. Sekarang, seolah aku bisa menyelesaikan semuanya sendiri. Padahal nggak, nggak bisa.
Tapi aku sadar, Engkau selalu hadir dalam kehidupan kami.
Banyak keberkahan yang bahkan kami ngga usahakan, tapi Engkau berikan.
Maafkan aku, ya Allah.
Terima kasih karena tidak pernah meninggalkan kami.
Izinkan aku kembali menghadirkan-Mu dalam hidup kami.
Apapun itu nantinya, aku pasrah ya Allaah. Satu hal yang ku minta. Tolong aku selalu, selalu, dan selalu.. sebab aku begitu khawatir atas apa-apa yang sudah Engkau jamin. Namun aku selalu merasa takut dan sering kali lupa. Bahwa tidak ada kedzoliman dalam sebuah takdirMu..
Suatu hari aku bertemu dengan seorang teman. Dia telah pergi ke berbagai negara. Kemampuan bahasanya pun tak tanggung-tanggung, dia mengusai lebih dari lima bahasa.
"Kamu keren banget, bisa berbagai macam bahasa dan pernah ke banyak negara. Sedangkan aku bahasa inggris aja belepotan", kataku seketika.
"Kamu lebih keren, kamu bisa menuliskan apa yang ada dalam pikiranmu. Sedangkan aku, tak pernah bisa. Padahal aku ingin sekali bisa menulis perjalananku selama traveling".
Agaknya manusia seperti itu, mendambakan kemampuan orang lain dan meremehkan kemampuannya sendiri.
Biasakan untuk biasa saja.
Yang terberat itu bukan bagaimana mendapatkan sesuatu, tapi yang terberat itu melepas sesuatu yang bukan milik kita tapi kita merasa memiliki seutuhnya, seperti barang, jabatan, pekerjaan dan apapun yang sekarang sedang ada padamu. Gampang kok bagi Allah buat bikin semua tadi hilang. Gunain buat kebaikan, mumpung masih Allah titipi.
Jangan mencintai terlalu dalam, karena saat ia hilang kamu pasti akan sangat sakit hati. Tanamkan dalam jiwa bahwa semuanya ini akan ada masa pisahnya, tanpa pemberitahuan atau permisi. Mereka yang berat melepas, adalah mereka yang terlalu menggenggam cintanya, padahal soal hati itu tidak ada yang pasti, yang pasti hati itu selalu bergejolak dan berubah-ubah rasanya. Dan semua yang berlebihan, sudah pasti tidak baik.
Biasakan untuk biasa saja, biasakan merasa bahwa semuanya titipan, biasakan untuk menerima.
@jndmmsyhd
2012 masalahnya ini
2013 masalahnya itu
2014 problemnya ini
2015 problemnya itu
2016 kecewanya ini
2017 kecewanya itu
2018 galaunya ini
2019 galaunya itu
2020 ya tetep adaaa aja problemnya
Tapi bukankah emang masalah itu selalu ada? Bukankah kecewa juga selalu mampir? Bukankan sedih juga tak pernah absen?
Namun dalam bentuk yang berbeda-beda. Satu terlalui satu lagi muncul begitu seterusnya. Kalo ga ada masalah kapan bisa berkembangnya coba? Kapan bisa mengasah ilmu ikhlasnya? Kapan bisa meningkatkan tawakkalnya?
Namanya hidup ga cuma seneng-seneng terus, ada sedihnya juga. Kan seneng ga bakal kerasa kalo kita ga ngerasain sedih dulu. Sedih juga ga akan kerasa kalo kita ga ngerasain seneng dulu. Mbulet ae to yo. Yo ancen ngunu kuwi sih.
‘ilm (2)
“Dalam buku-bukunya, Einstein dan Hawking tidak pernah membahas tentang ada atau tidaknya Tuhan. Mereka cuma mempelajari bagaimana alam semesta bekerja”
“Tapi mereka memeriksa cara kerja alam semesta seolah alam ini bekerja sendiri tanpa ada yang mengatur. Seolah bilang bahwa setelah Big-bang, atom-atom itu bergerak sendiri membentuk semesta”
“Emang kamu berharap buku teks semesta bakal berisi apa? Allah menciptakan semesta melalui bigbang dan seterusnya, dan seterusnya?”
“Hahaha, kamu lucu kadang-kadang”
“Saya cuma nggak mau kamu antipati sama banyak hal hanya karena cara mereka menyampaikan ilmunya nggak sesuai dengan apa yang kamu pengen. Sumber ilmu itu ada dari qur’an, hadis, penalaran rasio dan pengamatan empiris. Einstein menalar dengan rasio. Fisikawan generasi selanjutnya memvalidasi teori dengan pengamatan empiris. Nggak ada yang perlu dipermasalahkan dari hasil pekerjaan mereka”
*
Gue teringat apa yang disampaikan oleh guru Aqidah sewaktu gue masih Tsanawiyah. Beliau bertanya:
“Bagaimana hujan turun?”
“Hujan turun dari awan”
“Dari mana datangnya awan?”
“Dari uap air di daratan”
“Mengapa air bisa berubah menjadi uap?”
……
“Karena Allah mentakdirkan demikian”
……
Setelah dialog ini, gue jadi berpikir, cukupkah jika kita menyandarkan semua dengan jawaban:
“Karena Allah mentakdirkan demikian”
Jika semua cukup, tentunya kita tidak perlu mengetahui sifat-sifat air beserta segala macam perubahannya. Kalau hujan deras, kita cukup berdoa agar tidak banjir. Kalau sudah doa ternyata masih banjir, ya berarti Allah memang mentakdirkan demikian.
…..
“Kak Alfin, katanya orang arab itu jarang yang ke dokter. Soalnya kalo mereka sakit, mereka tawakkal dulu dan sembuh. Nggak perlu ke dokter”
“Kata siapa?”
“Kata grup WA sih hehe”
…..
“Gue kadang bingung, usaha dulu baru tawakkal atau tawakkal dulu baru usaha?”
“Nggak usah rumit mikirnya. Tawakkal aja di setiap waktu. Di awal proses, di tengah, di akhir dan bahkan setelah proses selesai”
“Kadang orang baru tawakkal setelah usahanya mentok”
“Ya nggak apa-apa, daripada nggak tawakkal sama sekali”
…..
“Kak, kenapa ya Allah nyuruh kita usaha dulu baru cita-citanya tercapai? Kenapa nggak dikasih langsung aja”
“Kalo tanya kenapa, cuma Allah yang tahu. Tapi kalo dicari hikmahnya, bakal banyak banget. Bayangin kalo kamu dari fresh grad tanpa pengalaman, langsung dikasih jabatan manager operasional. Gaji enak. Tapi kamu bisa jalanin amanah kamu nggak? Tanpa pengalaman, pasti berantakan”
“Kak Alfin mau bilang usaha kita ngasih kita pengalaman gitu?”
“Salah satunya”
…..
Apakah dengan beriman artinya kita mencukupkan diri untuk menjawab setiap pertanyaan dengan:
“Karena Allah mentakdirkan demikian”
…
“Apakah kalau gue bilang air mendidih karena suhunya sudah mencapai 100 derajat celcius artinya gue meniadakan kehadiran Allah dalam proses mendidihnya air?”
“Lo kenapa nanya yang ekstrim-ekstrim gitu sih Fin? wkwk”
“Soalnya yang gue temui kadang-kadang ekstrim jugaaaa”
“Semisal?”
“Semisal bencana banjir dibilang karena banyak maksiat. Itu kan berarti kalo gue bilang banjir terjadi karena kurangnya resapan air, gue bisa di-judge meniadakan campur tangan Allah yang mendatangkan banjir karena orang-orang maksiat”
“Lo sampe mikir sejauh itu kayak beneran ga ada kerjaan wkwk”
“Gue kalo mau tidur suka kepikiran kayak gini tau”
….
“Dimana kita meletakkan iman kita ketika kita belajar sains?
Banyak yang masih berpersepsi bahwa kita belajar sains untuk membuktikan keberadaan Allah. Padahal setelah kita bersyahadat, kita sudah declare percaya bahwa Allah itu ada. Sudah tidak perlu pembuktian lagi.
Ketika mempelajari sains, kita sesungguhnya sedang memahami tentang bagaimana sunnatullah bekerja. Sunnatullah adalah aturan-aturan yang ditetapkan Allah kepada semua makhluk-Nya. Sunnatullah ini dapat kita kenali polanya sehingga kita bisa mengelola dampak dari setiap perubahan kondisi alam sekitae kita. Jika kita bisa mengelola dengan baik, kita bisa menjalankan amanah sebagai khalifah di muka bumi dengan cara yang adil.
Kita perlu memahami bagaimana matahari dan bumi yang berputar sesuai garis edarnya. Bagaimana tanaman dapat berbuah sesuai musimnya. Bagaimana sistem kekebalan tubuh bekerja melawan virus.”
“Jadi cukupkah menjawab segala pertanyaan tentang alam dengan jawaban karena Allah yang mentakdirkan?”
“Kalo dalam konteks iman, cukup. Kalo dalam konteks amanah untuk mengelola sumber daya di muka bumi, jelas enggak cukup. Justeru iman yang mewajibkan kita untuk menggali sebanyak-banyaknya tentang bagaimana alam semesta ini bekerja”
……
“Allah meninggikan derajat orang-orang berilmu beberapa derajat”
“Kenapa Allah meninggikan orang berilmu beberapa derajat?”
“Wallahu a’lam. Tapi kalau diamati lagi, orang berilmu punya banyak sekali kelebihan. Semakin kita berilmu, semakin kita punya banyak ruang untuk berdzikir, semakin banyak titik yang mengingatkan kita untuk bertawakkal. Alfin, kebodohan itu daya rusaknya hebat. Sementara ilmu yang bermanfaat, bisa membawa jutaan kebaikan”
“Meskipun itu bukan ilmu agama?”
“Iya”
“Iyanya nggak ikhlas gitu”
“Gue sebenernya ngerasa nggak pas aja sama dikotomi ilmu umum sama ilmu agama. Tapi gue lagi males bahas”
…..
Hari ini saya lagi ngerjain novel dan jadi berimajinasi tentang percakapan tokoh Alfin dan Cakra. Alfin yang kepalanya selalu penuh pertanyaan dan Cakra yang wawasannya luas sehingga selalu punya jawaban.
….
Pandemi ini membuat saya belajar tentang betapa besarnya manfaat ilmu untuk kemaslahatan. Dan betapa besarnya daya rusak kebodohan bagi diri sendiri dan orang lain.
Oh ya, selama Ramadhan ini, saya membaca tafsir Juz Amma yang disusun syaikh Yusuf Qardhawi. Saya belum selesai membaca dan masih sampai pada surat At Takwir. Pembahasan dalam tafsir ini diawali dari surat Al Fatihah, dilanjutkan dengan An Naba’, An Naazi’at, ‘Abasa lalu At Takwir. Hal yang saya jadikan catatan selama membaca tafsir ini adalah, syaikh Qardhawi sangat berhati-hati menyampaikan pendapat pribadi. Dan saat menuliskan makna dari suatu ayat, beliau menjabarkan ikhtilaf-ikhtilaf yang ada sambil menuliskan referensi yang berkaitan dengan ikhtilaf tersebut.
Ini menjadi semacam penyegaran yang melegakan buat saya. Mengingat selama pandemi ini ada begitu banyak kajian akhir zaman yang berseliweran di timeline saya.
Beberapa tema disampaikan dengan baik. Namun beberapa tema disampaikan dengan cara seolah islam adalah agama yang mendukung ramalan-ramalan ala primbon tentang kapan datangnya hari kiamat.
Saya tidak akan menulis ulang penjelasan syaikh Qardhawi di sini. Hanya yang perlu saya garis bawahi, pembahasan hari kiamat dalam Al Quran bukan diarahkan untuk memprediksi kapan datangnya. Allah memberitakan hari kiamat kepada kita agar kita mengingat mati, mengingat hari akhir dan meningkatkan taqwa.
Ini apa hubungannya sama awal pembukaan tulisan ini sih?
Saya nulis aja tanpa kerangka ~XD Jadi mengalir aja begitu. Makanya maaf banget kalo rada-rada ngalor ngidul. Kebetulan, selain baca Tafsir Juz ‘Amma, saya juga lagi baca buku tentang Cosmos. Daaaan di grup WA lagi banyak kajian yang mengaitkan pandemi dengan ramalan datangnya kiamat. Jadinya banyak hal yang berkecamuk di kepala saya.
Melihat rumitnya penanganan Covid-19 ini, saya jadi pusing sendiri. Pengen diem, hibernasi berapa bulan dan yaudah pasrah aja sama takdir Allah. Tapi kepala saya selalu terngiang:
“Cukupkah berdiam diri dan bersembunyi dalam dalih tawakkal?”
“Bagaimana kalau tahun ini kiamat beneran?”
saya cuma geleng-geleng dengan segala macam overthink saya.
Juz ‘amma nya masih saya pegang. Masih ada ayat:
“Yas’aluunaka ‘anissaa’ati ayyaana mursaaha. Fii ma anta min dzikraahaa. Ilaa Robbika muntahaahaa.”
Cuma Allah yang tahu kapan datangnya kiamat.
Saya lantas teringat hadis:
“Jika terjadi hari kiamat besok sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, maka jika ia mampu menanam sebelum datang kiamat, tanamlah”
(HR Bukhari)
Sekalipun besok kiamat, kita masih diperintahkan untuk berpikir tentang kehidupan.
Islam tidak mengajarkan tawakkal untuk memendekkan nalar kita tentang cara kerja semesta. Iman itu menuntut amal. Dan Al Quran banyak sekali meminta kita untuk memperhatikan, merenungkan segala hal yang di sekitar kita. Bukan sebagai pengamat pasif tetapi sebagai manusia berakal yang memiliki kemampuan untuk menaburkan benih kebaikan serta mencegah segala macam kerusakan.
Bagaimana kita bisa mencegah kerusakan kalau kita tidak belajar tentang alam? Bagaimana kita bisa mencegah kerusakan kalau kita alergi dengan berbagai macam sumber pengetahuan?
Setiap bertambahnya nikmat akan bertambah pula ujian, dan pertanyaan yang akan ditanyakan dihari akhir nanti.
Untuk teman-teman yang sedang dalam masa penantian jodoh ingat jodoh itu rezeki, selalulah berhusnudzon pada Allah, ingat Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk hambanya.
Menikah itu nikmat yang diberi pada orang yang Allah pilih, namun, belum diberi bukan berarti tidak disayang, atau tidak baik untuk kehidupan,atau hidupmu jadi kurang berarti, tidak, bisa jadi Allah tidak ingin membebani kita, walau kita merasa sudah siap, Allah-lah yang paling tahu dengan kesiapan setiap hamba, karena pernikahan selain nikmat didalamnya juga berupa ujian.
Lihatlah kawan, berapa banyak orang yang tak mampu lulus dari ujian pernikahan lalu berakhir dipengadilan agama, begitu banyak yang akhirnya berpisah dengan orang yang mereka perjuangkan itu, kasus perceraian meningkan tajam, rata-rata dikarenakan gugat cerai dari sang istri.
Ketika melihat mereka yang tidak siap menikah, apa yang kau pikirkan? apakah Allah tidak adil? tidak, Allah adil, Allah tak akan bertanya padamu soal ketaatan pada suami, karena Allah tak memberimu nikmat tersebut. Kita ini kawan, tidak akan ditanya perihal nikmat yang tidak Allah beri, justru kita akan ditanya mengenai nikmat yang telah Allah beri.
Bagi kawan yang telah menikah, kau akan ditanya oleh Allah darimana nafkah pada keluargamu kau dapatkan, bagaimana kau mendidik anak-anak dan istrimu? apakah kau biarkan mereka bermaksiat pada Allah sedang kau asik dengan game onlinemu?
Untuk manusia bernama wanita, kau akan ditanya bagaimana kau menaati suamimu? karena laki-lakii pada dasarnya selalu menginginkan wanita yang mau patuh padanya, dan wanita pada dasarnya selalu menginginkan laki-laki yang tegas dalam keputusan namun lembut dalam bertutur kata.
Untuk yang sedang menanti rezeki berupa jodoh, ingatlah, setiap nikmat yang bertambah, maka bertambah pula ujian yang akan kita hadapi, bertambah pula amanah yang akan kita jalani, maka bersyukurlah apapun keadaanmu sekarang, karena bisa jadi Allah sangat menyayangimu sehingga tak ingin memberikanmu ujian yang melebihi batas kemampuanmu.
Sekalipun dirimu merasa siap, tapi Allah lebih tahu perkara kesiapanmu itu, belajarlah dari orang-orang yang gagal dalam ujian pernikahan, kemana mereka berakhir? pengadilan agama bukan? bersyukurlah jika Allah menyelamatkanmu dari perkara demikian, bersabarlah, dan nikmatilah nikmat sendirimu itu, luruskan niatmu jika ingin mendapatkan nikmat lainnya.
Mr Fix-It Vs The Home-Improvement Comitte
Ngomongin bedanya cewek sama cowok emang gak ada abisnya ya ternyata haha. Banyak buku yang ngebahas tentang ini dari mulai Why Men Dont Listen and Women Can Read Maps, Men are From Mars Women are From Venus, sampai Why Men Want Sex and Women Need Love. Di buku-buku ini tuh disebutin kalau cowok sama cewek intinya beda aja. Entah dari susunan otak sampai personality-nya.
Nah dibuku Men are From Mars Women are From Venus karya John Gray, Ph.D. itu disebutin di chapter 2, katanya cowok itu Mr Fix-it sedangkan Cewek itu The Home-Improvement Comitte. Emang apaan sih itu?
Mr Fix-It
Misalnya nih ya cewek ini curhat panjaaaaang banget (ia pengen ngeluarin 20K kata per harinya). Tapi kan kadang cowok gak nangkep apa yang pengen dibilangnya gitu yah haha (iya lah kebanyakan yang diungkapin). Karena kepanjangan jadi bingung mana maksudnya. Tapi sebagai cowok, kita pengen keliatan tetep keren dongs di hadapan cewek kita. Iya gak? haha. Biasanya ngapain? Kaya ngerjain soal, kalau kita dapet sebuah problem, kita bakal ngasih solusi sebagai bentuk cinta kita. Mr Fix-It Exists. Tapi inget, cewek itu selalu ngeluh “Why Men Don’t Listen”. Cewek ini sebenernya cuman butuh didengerin. Dia pengen empati aja ko. Dia cuman pengen didengerin, tapi cowok mikir kalau si cewek pengen solusi.
The Home-Improvement Comitte
Nah beda lagi nih sama cewek. Satu hal yang paling malesin buat cowok itu keinginan si cewek yang selalu pengen ngubah si cowok. Emang mungkin fitrahnya kali ya cewek kalau cinta sama cowok itu ia bakal assisting sama ngebantu nge-improve si cowok. Dia bakal mikir kalau dirinya itu something called The Home-Improvement Comitte. Intinya si cowok ini bakal jadi fokus utama si cewek buat diurusin aja intinya. Gak peduli seberapa banyak dia bilang it’s okay gapapa gak perlu dibantu, si cewek malah terus konsisten nungguin waktu buat ngebantu dia atau ngasih tau apa yang harus ia lakuin. Si cewek mikir kalau si cewek ini ngebantu dia berkembang. Padahal si cowok ngerasa kek dikendaliin gitu loh sama si ceweknya. Cowok gak butuh solusi harus ngelakuin A B C dll. Si cowok cuman butuh penerimaan aja. Dia cuman butuh dipercaya aja ko.
Sebenernya masih banyak sih perbedaaannya. Cuman istilah ini kayaknya masih banyak yang belum tau ya haha. saya juga baru tau pas baca bukunya sih. Jadi mungkin biar lebih akrab sama pasanganya. Ganti kontaknya dari yang namanya “bebebz” jadi Mr Fix it atau The Home Improvement Commite. Atau kalau dia cewek ganti namanya jadi Men are From Mars atau kalau dia cewek, ganti namanya jadi Women are From Venus. Hal-hal kecil kek gini menarik deh dilakuin. Jadi andai suatu saat ada pertengkaran, kita langsung mikir “oh iya ya, dia kan Mr Fix it atau dia kan itu Women are From Venus. Saya harus lebih ngertiin dia”. Dah ah segitu dulu buat kali ini. Semoga nambah insight baru. Merci beaucoup and thanks for having a beautiful mind!
Jadi, mana yang lebih baik?
Saya pernah terlibat percakapan mengenai perjalanan mengarungi bahtera, in case dengan orang yang telah menjalaninya. Ia memberi saya banyak petuah tentangnya. Mengarunginya adalah babak dimana arus tempaannya lebih dahsyat daripada yang dibayangkan. Sesaat saya jadi teringat akan sebuah hadits tentang masuk surganya seorang wanita, salah pintunya adalah taat kepada suaminya.Dan surga itu tidak murah. Ujian menujunya juga pasti berat. Itulah mengapa kita diminta untuk selalu memohon pertolonganNya dalam segala kondisi.
“Percaya gak kalau menikah itu adalah ibadah?” tanyaku pada temanku.
“Ya, percayalah! Ibadah terlama kalau menurutku.” Jawabnya.
“Berarti kalau mau ibadah, penting gak kita harus tau ilmunya dulu?” tanyaku lagi.
“Ya penting, Nis” Jawabnya lagi.
“Nah, makanya sebelum menikah, banyakin ilmu dulu. Al-ilmu qobla qouli wal amal. Apalagi menikah itu salah satu pintu surga, jangan sampai salah langkah cuma gegara kita gak tau ilmunya. Seperti ibadah yang lainnya juga. Sekali kita menjalaninya, jangan biarkan ia menjadi ibadah yang sia-sia tidak menghasilkan apa-apa. Sayang banget kan, ujiannya pasti berat, jadi kita harus berusaha untuk bisa sukses menjalani ujian itu dan mendapat apa yang dijanjikan oleh Allaah Ta’ala. Semoga Allaah Ta’ala selalu memberi kita taufiq dan hidayahnya ya.” tuturku yang sebenarnya lebih tepat ditujukan untukku sendiri.
Maka, jika masih sendiri, itu bukan berarti tidak memiliki ujian. Yang sudah menikah diuji dengan pernikahannya, yang masih sendiri diuji dengan kesendiriannya. Semua menjalani ujian, jadi fokus saja dengan kehidupan yang kita jalani saat ini. Bekali diri dengan taqwa. Karena taqwa adalah sebaik - baik bekal.
Jika sempat terbersit, sepertinya menikah lebih baik. Lebih mudah dalam menjalankan taqwa, karena ada partner yang selalu membantu dan mengingatkan. BELUM TENTU!
Bisa jadi, waktu sendirimu itu lebih baik dimata Allaah Ta’ala jika kamu bisa semaksimal mungkin menggunakan waktu sendirimu untuk bertaqwa. Menunaikan haq Allaah Ta’ala, menunaikan haq manusia di sekeliling kita.
But no doubt, being married to someone with good Deen is better than being single…:))
Maka, jika masih sendiri, itu bukan berarti tidak memiliki ujian. Yang sudah menikah diuji dengan pernikahannya, yang masih sendiri diuji dengan kesendiriannya. Semua menjalani ujian, jadi fokus saja dengan kehidupan yang kita jalani saat ini. Bekali diri dengan taqwa. Karena taqwa adalah sebaik - baik bekal.
Menuliskan ini beberapa hari sebelum menikah. Masya Allah, sunggulah menulis adalah sebaik-baik nasihat untuk kembali dibaca. so, bagi yang masih sendiri, jangan khawatir. perbaiki diri dengan banyak bekal. sebab ujian setelah pernikahan setiap orang berbeda-beda..:))
But no doubt, being married to someone with good Deen is better than being single…:D
"Susah nyari yang cocok dan bisa saling. Trus sekalinya nemu, Kalo ga rumit, waktunya yang salah"
Kisah cinta siapa nih?
Lagu kekinian di yutup kok gitu amat yak
Puncak dari Harapan adalah Ikhlas
Usia seakan terus mengejar kita, padahal kematian pun juga sama. Sebenarnya bukan masalah kita menggenap di angka berapa, selama langkah kita tetap berupaya di jalan-Nya.
Setiap laki-laki tentu ingin ditunggu; setiap perempuan tentu ingin diperjuangkan. Keduanya sama-sama berupaya, berjalan hingga berlari, tetap berada pada koridornya.
Namun, akankah keduanya bertemu di satu titik? Atau pergi dengan jalan takdirnya masing-masing?
Bagaimana jika yang ditunggu tengah memperjuangkan orang lain? Sebaliknya, bagaimana jika yang diperjuangkan sedang menunggu orang lain?
Apakah setiap rasa yang sama akan sampai pada titik temu? Bagaimana jika ternyata tidak bisa menyatu?
Pikiran kita terjebak, terbayang-bayang kegagalan masa lalu dan ketidakpastian tentang masa depan. Juga, urusan-urusan kita yang rasanya tak kunjung usai. Kita seringkali mengandalkan matematika kita sampai lelah sendiri.
Ya, banyak hal yang menjadi tanda tanya hari ini. Namun, kita tak punya kuasa untuk membuka tabir rahasia sebelum waktunya. Tugas setiap hamba ialah berikhtiar, melangitkan doa sebaik-baiknya.
Jikalau yang menjadi takdir bukanlah keinginan kita, sudah semestinya kita berlapang dada. Bukankah tak ada yang benar-benar kita miliki di dunia?
Jikalau takdir benar seirama dengan keinginan kita, bersyukurlah dan tak perlu jemawa. Bukankah ujian bisa datang dari hal-hal yang kita suka?
Nyatanya, sabar bukan sekadar bertahan pada pilihan, tapi juga yakin atas setiap ketetapan. Toh pada akhirnya, puncak dari sebuah harapan adalah keikhlasan.
Lagi-lagi baliknya ke Allah, kan?
Pena Imaji
Iklas itu mudah di ucapkan, susah di lakukan
Memberikan Nama Perempuan
Hari ini ada rasa bahagia tersendiri ketika mengetahui salah satu teman ada yang sudah resmi menjadi seorang "ayah". Melalui sosial media kami bertukar sapa dan saling menanyakan kabar, tanpa diduga ia bertanya perihal nama untuk putri pertamanya. Mempersilahkan padaku untuk memberikan nama yang nanti akan diberikan pada putrinya. Ada rasa berat karena nama itu adalah bagian doa dari orangtua, ia jauh lebih pantas memberikan nama sebagaimana ia berdoa.
Di akhir percakapan, akhirnya kuberikan sebuah nama yang barangkali menjadi salah satu doa dari ayah ibunya. " Alula Hisymah Azkiya Hawari " . Doa yang akan menjadi kepribadian seorang perempuan muslimah, menjadi sebuah prinsip pegangan kehidupannya.
Setiap perempuan memiliki takdirnya masing-masing, setiap perempuan memiliki doa dan harapannya masing-masing, tapi setiap perempuan pasti memiliki sifat wajib, malu dan pintar.
Nama itu berartikan "seorang anak perempuan pertama (sebagai pembuka keluarga) yang memiliki rasa malu, namun ia pandai cerdas berwibawa dan berbudi luhur, dari keluarga hawari".
Begitulah seharusnya setiap perempuan, mereka haruslah malu pada kemasyhuran, malu pada kemaksiatan berhubungan dengan laki-laki yang bukan mahromnya, malu pada apa-apa yang mengundang ketertarikan penampilan. Begitu pula seharusnya perempuan dengan semua kepintarannya dan kecerdasannya mampu mendidik anak, dan menjadi ibu yang pandai. Dan yang terakhir, sungguh indah perempuan yang bisa bertutur kata lemah lembut, bersikap lemah lembut lagi berbudi luhur pada suami juga keluarganya, tau kapan menjadi seorang ibu, istri, juga teman.
Tidak mustahil akan ada perempuan seperti itu, sebagaimana Al Quran dan sejarah telah mencatatnya. Juga bagian dari doa orangtua untuk anak perempuannya, investasi terbaik keluarga. Semoga Allah jadikan kalian sebaik-baik perempuan, dan Allah jadikan kalian sebaik-baik laki-laki. Agar keduanya bertemu dalam muara kebaikan, untuk keduanya.
@jndmmsyhd
Percaya engga sih kalau jodoh kita itu sudah ada yang mengatur? Maksudnya, kamu sudah dipilihin jauh-jauh hari sebelum kamu nyari siapa sebenarnya jodoh kamu.
Seperti kelahiran dan kematian, jodoh adalah sesuatu yang mutlak berada dalam kuasa-Nya.
Kamu memang bisa berencana dan mengusahakan untuk memperjuangkan siapa, tetapi jika itu bukan jodohmu, kamu pasti gagal entah bagaimana caranya.
"Kalau tidak dicari, kita ga bakal bertemu jodoh kita siapa." Sering banget orang-orang disekitar kita bilang seperti ini, bahwa jodoh adalah hal yang perlu kita usahakan.
Tetapi bukannya setiap pertemuan sudah ada yang mengatur? Kita sering tidak sengaja dipertemukan seseorang di mana, melalui siapa, dan dengan cara apa.
Masih mau bilang kalau jodoh itu kita yang pilih? Jodoh itu kehendak-Nya. Kemantapan hatimu, keyakinanmu, semuanya Allah yang gerakin supaya hatimu mau bilang "IYA"
Memang sesederhana itu. Tiba-tiba ada, tiba-tiba yakin, tiba-tiba mungkin, dan tiba-tiba mudah. Ada saja jalannya, entah restu orang tua, atau caranya yang diluar dugaanmu.
Banyak yang pacaran lama, melalui berbagai macam masalah, tidak direstui, berkali-kali menyerah, tetapi akhirnya mereka menikah. Ya, karena memang itu jodohnya.
Ada juga yang sudah berencana menikah, mempersiapkan segalanya, lalu tiba-tiba gagal, dan tiba-tiba menikah dengan yang lain. Ya, karena memang itu bukan jodohnya.
"Kalau gitu untuk apa pacaran?" Kita tidak sedang mencari pembenaran dan perdebatan antara yang pacaran dan tidak pacaran.
Kita hanya sedang menempuh ikhtiar kita masing-masing untuk menemukan siapa jodoh kita. Tetapi pada akhirnya Allah yang akan memilihkan. Siapa yang kita butuhkan dan siapa yang paling pantas untuk kita.
Jika sekarang ada yang masih sendiri dan tidak kunjung menikah. Ya, karena memang dia belum waktunya. Bukan usianya yang menjadi ukuran, tetapi ketepatan waktu yang Allah tetapkan.
Setiap orang akan dipertemukan dengan cara dan waktu terbaiknya masing-masing. Jika sudah waktumu, tidak ada alasan lagi bagimu untuk mengatakan suatu keraguan.
—ibnufir
Masalah hati emang nyebelin.. Kayak gitu.. Ga janjian tiba-tiba ketemu..
Menjadi Perempuan
Subuh-subuh tadi gue dapet pasien anak yang datang dengan keluhan demam dan muntah-muntah. Dia datang diantar dua perempuan, satu agak muda, satu lebih tua dan kayaknya seumuran nyokap gue. Saat menjelaskan hasil lab dan kesimpulan diagnosis gue ke mereka berdua, gue baru tau ternyata tidak satupun dari mereka adalah ibu kandung si pasien. Yang nampak lebih muda adalah tantenya, yang nampak seperti nyokap gue adalah neneknya. Menurut si tante, ibu si pasien sudah meninggal sejak si pasien masih bayi. Ayahnya di luar kota.
Saat akan berpamitan pulang, si tante cerita sedikit kalau dia harus sampai rumah sebelum jam 6, karena ada 3 anak lagi yang harus dia siapkan untuk berangkat sekolah; 1 orang kakaknya si pasien, dan 2 lagi anaknya sendiri. Katanya, yang mengurus mereka berempat ya hanya dirinya dan si nenek. Saat dia dan nenek ke rs, ketiga anak tadi dititipkan ke tetangga.
Gue menatap kepergian mereka keluar dari pintu UGD dengan mixed feeling. Ingatan gue terlempar pada perempuan-perempuan dengan bermacam tanggungjawab dan memutuskan mandiri--yang pernah gue temukan dalam hidup gue.
Menjadi perempuan itu mungkin sama saja dengan menjadi manusia pada umumnya. Tapi (maafkan untuk opini-opini sexist setelah ini), entah kenapa rasanya menjadi perempuan makin hari makin banyak term and condition-nya, dan makin banyak yang...how to say it, take them for granted?
Well, mungkin karena gue juga perempuan, jadi gue lebih melihat bagaimana dunia sekitar gue memperlakukan perempuan. Gue tau pasti menjadi laki-laki juga ada saja problematikanya. Sayangnya, gue belum pernah menjadi laki-laki, jadi sulit untuk membayangkan rasanya menjadi laki-laki.
Gue melihat bagaimana teman-teman gue yang memberanikan diri menggugat cerai suaminya yang toxic, lalu setelah dia merdeka sebagai janda, lingkungan sekitar tidak berhenti menyalahkannya, dibilang egois dan tidak memikirkan nasib anaknya. Gue bahkan pernah menyaksikan salah satu dari mereka dijadikan olok-olok dengan guyonan mesum di sebuah pertemuan formal, hanya karena caranya memegang mikrofon ketika sedang menjadi pembicara. Ntar giliran mereka dress up properly, merawat diri dengan passionate, dibilang janda gatel potensi jadi pelakor.
Gue melihat bagaimana perempuan sekitar gue melawan stigma atau terjebak stigma harus begini dan begitu, tidak boleh begini tidak boleh begitu. Gue tau masih banyak kerabat gue yang tidak peduli dengan gelar dokter gue selama gue masih belum menikah, dan gue akan selamanya jadi perbandingan dengan sepupu entah berantah gue yang anaknya sudah tiga padahal dulu kami bermain di selokan depan rumah kakek bersama-sama. Gue bahkan pernah mendengar adik gue yang perempuan dikasihani karena lensa kacamatanya makin tebal, sedangkan adik laki-laki gue yang silinder-nya lebih parah malah dibilang tampan.
Gue menyaksikan sendiri bagaimana nyokap sering dibahas rakyat sekitar karena bekerja dan sekolah lagi, padahal punya anak yang masih kecil-kecil. Sedangkan senior gue yang jadi spesialis bedah dan belum menikah dighibahin perawat dibilang perawan tua, ngga akan ada lakik yang mau sama perempuan yang sekolahnya ketinggian. Sama halnya kayak tante gue yang mau ambil S3. Sudah nikah mau sekolah lebih tinggi, salah. Belum nikah mau sekolah tinggi, salah juga.
Gue pernah sekolah di tempat yang jauh dari kota besar. Sebagian besar teman-teman gue saat itu, tidak melanjutkan sekolah sampai kuliah. SMA saja sudah mewah. Ada yang akhirnya hanya di rumah, menikah sebelum usia dua puluh, dan beranakpinak. Katanya, perempuan ya mau bagaimana juga hakikatnya adalah dapur-sumur-kasur. Sudah begitupun masih ada saja mulut bangsat yang terus berkomentar, kapan menambah anak, kenapa belum ada anak laki-laki, kenapa tidak ASI, kenapa tidak lahiran normal, kenapa bayinya tidak dibedong, kenapa ari-arinya ngga langsung dikubur, dll dsb dst.
Oh belum lagi kalau mau membahas bagaimana dunia mengatur cara perempuan berpenampilan. Sudah pakai jilbab, disuruh pakai cadar. Tidak pakai jilbab, dibilang dosa jariyah. Pakai bikini di pantai, dihujat tidak sudah-sudah. Pakai make up sedikit, dibilang menor dan tidak alami. Tidak pakai make up, dibilang tidak merawat diri.
Padahal katanya perempuan selalu benar. Tapi seringnya malah perempuan serba salah.
Pedihnya lagi, yang menyalahkan ya perempuan-perempuan juga.
Udah pernah nonton Kim Ji-Young, Born 1982? Salah satu film tentang perempuan yang sangat membuat gue patah hati. Se-patahpatahnya. Bahkan abis nonton itu, gue menangis sepanjang credit, sampe lampu bioskop menyala. Terlalu relate, terlalu dekat dengan kehidupan sehari-hari.
(bentar, spoiler alert dulu)
Ceritanya tentang ibu muda anak satu yang akhirnya mengidap mental issue serius karena stress dengan tekanan sekitar sejak dia menjadi ibu. Bagaimana dia harus berkutat dengan rutinitas mengurus anak, mengorbankan karir cemerlang, siang malam menghabiskan waktu demi suami, anak dan rumah. Sudah begitu, all the credits still go to the husband.
Ini bagian paling perihnya. Menjadi perempuan, kadangkala, adalah menjadi bayang-bayang. Ketika berhasil mencapai sesuatu, jika sudah menikah, yang disebut adalah suaminya. Jika belum menikah, yang disebut orang tuanya. Perempuan seperti tidak boleh dipuji sebagai dirinya sendiri, dihargai sebagai dirinya sendiri tanpa imbuhan orang-orang lain. Seolah-olah perempuan tidak mungkin berdiri sebagai entitas sendiri.
Sebagain besar perempuan di sekitar gue yang sudah menikah, panggilannya bukan lagi namanya, tapi nama suaminya dengan tambahan kata Bu. Misal, Bu Bambang, Bu Broto. Atau kalau sudah punya anak, yang disebut nama anaknya. Misal, Mamanya Aisyah, Bundanya Keanu. Padahal si Bambang sama Broto ngga bakal bisa punya Aisyah atau Keanu kalo ngga ada si perempuan ini sebagai entitas nyata. Aisyah sama Keanu juga ngga bakal ada di dunia kalo ngga ada rahimnya si perempuan ini sebagai sosok spotlight.
Dulu, nenek gue pernah nasihatin gue pas gue abis sumpah dokter. Katanya, gue harus ngerasain dulu jadi perempuan mandiri yang tau harus apa dengan diri sendiri, mencapai apa yang mau gue capai selagi gue belum menikah. Karena ketika sudah menikah, kehidupan gue sebagai diri gue sendiri, akan berakhir.
Gue akan jadi Bu-(nama laki gue), atau Mamanya- (nama anak gue). Gue akan menjadi imbuhan, bukan lagi kata dasar. Segala apapun yang gue capai, credit-nya akan diberikan kepada mereka, bukan kepada gue. Bahkan ketika anak gue melakukan sesuatu yang membanggakan pun, yang akan disebut pertama kali adalah bapaknya.
Gue dulu mungkin ngga paham dengan itu, sampe akhirnya gue makin tua dan teman-teman sekitar gue satu persatu menikah. Nasihat nenek gue mulai masuk akal.
Mungkin maksud nenek gue bukan mendiskreditkan peranan istri dan ibu. Nenek gue hanya memberikan bitter pill yang sebaiknya gue ketahui sebelum menjalaninya. Karena toh dalam hal apapun akan ada menyenangkan dan tidak menyenangkan-nya.
Pada akhirnya, gue cuma mau bilang ke sesama perempuan dulu aja deh. Muluk-muluk banget kalo gue berharap semua orang paham.
Tolonglah, perempuan, kita tuh sama-sama perempuan. Sedikit banyak, kita lebih mudah memahami sesama, dibanding yang beda. Jadi, apa susahnya berhenti saling mengintervensi keputusan dan pilihan hidup satu sama lain, apalagi dengan kata-kata pedih menyayat hati, hanya atas nama "peduli"? Ngga ada peduli yang melukai, sayang.
Tolong biarkan perempuan mau menikah atau tidak, mau punya anak atau tidak, mau melahirkan caesar atau normal, mau asi langsung atau asip, mau beli baju anak di mothercare atau itc, mau bekerja atau tidak, mau sekolah sampai phd atau sampai smp, mau pakai skincare drugstore atau high end, mau rambut dicat atau dibotak cepak, mau pakai backless atau gamis, mau jadi escort atau biarawati, mau bela Kale atau bela Awan, mau mpasi instan atau masak sendiri, mau pulang malam atau pulang pagi, mau suka Hindia atau BTS, mau jadi janda atau perawan sepanjang usia, mau tinggal sama mertua atau tinggal di kontrakan sempit, mau jadi gojek atau dokter perusahaan tambang lepas pantai, mau pakai balenciaga atau produk miniso, mau gaya make up tasya farasya atau bare face kemana-mana, dll.
Mari saling peluk, saling tepuk pundak, saling rangkul, saling genggam--atas apapun keputusan dan pilihan hidup masing-masing. Mari menjadi lingkungan yang nyaman untuk sama-sama ditinggali. Mari saling menjadi kekuatan disaat dunia sedang jahat-jahatnya.
Mari berhenti sok tau, sok paling benar. Hidup nelangsa lo ngga akan lebih baik dengan opini-opini "sekedar mengingatkan" lo ke sesama perempuan, dan hidup bahagia lo juga ngga akan berkurang nilainya dengan menerapkan standar bahagia lo ke sesama perempuan lainnya.
Mari sibukkan diri dengan berbagi kabar baik, memuji dengan bahasa baik, berbagi info diskon skincare di online shop, saling mengingatkan jika ada flash sale popok atau tempat thrift shop atau spa yang enak atau makanan yang murah meriah kenyang, bertukar kabar kalau ada shade lipstik terbaru atau warna cat rambut atau merk catokan yang reccomended.
Mari menjadikan perempuan sebagai dirinya sendiri, sebagai kata dasar, bukan imbuhan.
thanks for the insight, Amy. akhirnya apa yang ada di kepala tersuarakan juga :')
Mari bercerita tanpa kata.
Karena bibir terlalu kelu untuk berucap.
Biar rasa tertangkap lewat tatap mata.
Rindu terbayar oleh senyum manismu.
.
Mari bercerita tanpa kata.
Karena kata terlalu riuh.
Biarlah hanya suara angin mengendus ceritanya.
Tanpa orang lain untuk tau.
.
Mari bercerita tanpa kata.
Merangkai kisah bersama-sama.
Menuliskan dalam aksara nyata.
.
Pic : pexels.com
.
@30haribercerita
#30HBC
#30HBC2004
.
After 2 hari bolong, akhirnya ada ide buat nulis.
Mumpung hari Sabtu, nulis yang agak romantis dikit. Biar kerasa Sabtunya.
https://www.instagram.com/p/B65a6IRpIFv/?igshid=12tcd3o0njgc2
Beda Jalan
Ada yang menikah di usia 20an, alhamdulillah. Energi masih banyak. Idealisme masih membara. Perjuangan membangun keluarga insyaallah menjadi amal salehnya.
Ada yang menikah di usia 30an, 40an, atau lebih, alhamdulillah. Secara finansial sudah lebih mapan. Lebih matang juga dari berbagai segi. Kesabaran menjaga dan menyiapkan diri insyaallah menjadi amal salehnya.
Ada yang bekerja sesuai impian dan passion, alhamdulillah. Kerja jadi ngga kerasa kerja. Dedikasi insyaallah menjadi amal salehnya.
Ada yang bekerja di luar passion, alhamdulillah. Ada manfaat untuk sesama yang kadang lebih utama daripada impian pribadi. Kelapangan hati insyaallah menjadi amal salehnya.
Ada yang memulai bisnis dan berhasil di usia 25, alhamdulillah. Masa mudanya produktif dan bermanfaat. Kerja keras insyaallah menjadi amal salehnya.
Ada yang mencoba berbisnis berkali-kali dan baru berhasil di usia 40, alhamdulillah. Pengalaman gagal bisa jadi jalan buat rezeki tak ternilai bernama kebijaksanaan. Ketekunan insyaallah menjadi amal salehnya.
Hidup tidak selalu berjalan sama untuk semua orang. Ada banyak hal yang terjadi di luar kendali kita. Tetapi, itu ngga perlu jadi masalah. Kita hanya berbeda dalam memilih jalan amal saleh. Tujuan kita tetap sama, kan?
Kita mungkin bertolak dari titik yang berbeda. Rute perjalanan kita barangkali ngga sama. Waktu keberangkatan dan kedatangan kita pun mungkin beda. Tetapi, jika kita mengarah ke tujuan yang sama, perbedaan itu tidak menjadi masalah.
Rute mana pun yang tengah kita jalani, duluankah atau belakangan kita memulai, cepat maupun lambat kita berjalan, selalu ada kesempatan untuk menghimpun amal saleh.
Toh, yang ‘menang’ bukan yang paling duluan sampai. Tapi yang paling banyak bawa muatan amal saleh selama perjalanannya. Biasanya kalau pengen dapet muatan banyak, perjalanannya pun bakal lebih berat. Semoga kita kuat.