Ibu saya sering bercerita tentang masa kecil anak-anaknya. Mengenai masa kecil Kakak sulung, dan kakak kedua saya, Ibu saya punya banyak cerita ānakalā dan lucu (layaknya kenakalan anak laki-laki pada umumnya). Namun, ketika sudah membahas anak ketiganya, yakni saya, ceritanya terasa datar.
āWaktu kecil, Teteh mah jarang ketawa, jarang ngomong, jarang nangis juga. Kalau diajak Abi ke kantor pas umur dua tahun, nggak rewel. Asyik gambar dan main sendiri.ā
Tentu saya ngga ingat dengan detail semua cerita itu. Tapi, sejauh yang saya ingat, saya memang lebih senang berpikir daripada bicara sejak masih anak-anak. Saya memang senang diam mengamati, merenung, sendirian, sejak lama sekali. Duh, kok masih anak-anak doyan mikir? Berasa tua. Old soul, jiwanya yang tua.
Mungkin bagi sebagian orang itu aneh. Saya pun kerap menganggap diri saya aneh. Terlalu serius. Terlalu peka. Kaku. Kenapa saya enggak bisa kayak anak lain yang kerjanya bermain, lari-lari, tanpa banyak bertanya-tanya dalam pikiran soal hidup ini buat apa, kenapa Allah menciptakan saya, kenapa saya ngga terlahir sebagai teratai, kenapa saya lahir di keluarga ini, di negara ini, di masa ini.
Beranjak lebih besar, saya juga sering merasa nggak nyambung dengan orang-orang. Ketika temen saya berkomentar soal aktor di sebuah film yang baru kami tonton, saya malah komen soal hikmah, pesan, makna metafora dan simbol-simbol yang ada di film itu.
Ketika temen saya menikmati lagu-lagu karena nadanya yang easy, lagu-lagu yang bikin jejingkrakan, saya malah ngekeep lagu-lagu jadoel yang punya lirik bagus. Bagi saya, yang penting liriknya bermakna. Makanya saya mah ketinggalan zaman kalau ditanya lagu2 zaman sekarang. Lebih sering dengerin Wind of Change, Man in The Mirror, Balada Sejuta Wajah, dan lagu-lagu bertopik 'seriusā lainnya.
Ketika temen-temen saya sibuk cari kerja, saya malah sibuk cari waktu buat 'bermeditasi.ā Cari waktu merenung. Berdiam. Mikir. Baca buku. Wandering sendirian. Duh, nggak produktif amat sih.
Saya nggak pernah melewatkan satu hari tanpa melepaskan pertanyaan-pertanyaan soal kehidupan dari kepala saya.
Saya seringkali ingin menjadi orang yang nggak terlalu serius. Nggak terlalu mikirin. Yah, hidup yang membumi saja begitu. Biasa aja. Mikirin hal-hal ringan. Menjalani hidup tanpa banyak tanya. Berhasil sih. Kadang-kadang. Tapi kecenderungan saya untuk jadi tukang mikir dan pendiam ngga berubah.
Sekarang Anda tahu kan kenapa blog saya kebanyakan nulis soal hidup, agama, hubungan dengan Tuhan, dsb.
Dan waktu kuliah, akhirnya saya menemukan istilah yang tepat untuk menamai kecenderungan saya dalam memikirkan makna dari segala sesuatu.
Namanya adalah : Existential intelligence. Kecerdasan eksistensial.
Existential intelligence adalah jenis kecerdasan ke-9 dari sembilan multiple intelligence yang dikemukakan Howard Gardner. Secara garis besar, existential intelligence adalah kemampuan untuk menjadi peka atau sensitif untuk memikirkan dan mempertanyakan hal-hal yang esensial tentang segala sesuatu, seperti penciptaan manusia, makna hidup, makna cinta, dan apapun itu.
Meski masih berupa postulat, namun ini bikin saya jadi bisa lebih memahami diri saya sendiri. Alhamdulillah. Minimal saya jadi nggak ngerasa bahwa saya tua sebelum waktunya.
Sejak itu, saya memutuskan untuk menerima diri saya yang seperti ini, sambil memahami siapa saya, kenapa saya begini, bagaimana mensyukurinya, bagaimana biasanya kelanjutan hidup orang kayak saya.
Kalau menurut Gardner, orang-orang yang mungkin punya existential intelligence tinggi antara lain Nabi Isa, Nabi Muhammad, Buddha Gautama, Mahatma Gandhi, Plato, Aristotles, memang kebanyakan adalah pemuka agama dan filsuf.
Beragam sekali, ya, bakat setiap orang. Menurut Gardner saja, ada sembilan jenis. Antara lain ada kecerdasan interpersonal, intrapersonal, linguistik, kinestetik, musikal, daan lain-lain. Jadi, sudah lewat masanya menilai bakat orang hanya berdasarkan kemampuan berhitung atau bernyanyi.
Kalau kamu bagaimana? Ada yang kayak saya juga? #caritemen
Kalau berminat mencari tahu lebih banyak soal Existential Intelligence, Anda bisa membaca sejumlah artikel. Salah satunya ini:
http://thesecondprinciple.com/optimal-learning/ninth-intelligence-existential-cosmic-smarts-2/