barangkali, untuk bersedihpun butuh alasan
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
YOU ARE THE REASON
One Nice Bug Per Day
Cookie Run:Kingdom Official!
occasionally subtle

gracie abrams
hello vonnie
Show & Tell
h
EXPECTATIONS

shark vs the universe
$LAYYYTER
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

Game Changer & Make Some Noise

titsay
noise dept.
art blog(derogatory)
Noah Kahan
d e v o n
Not today Justin
seen from Brazil
seen from Colombia
seen from Russia
seen from Colombia

seen from Türkiye
seen from Colombia
seen from Mexico
seen from United Kingdom
seen from Chile

seen from Malaysia
seen from Bangladesh
seen from Venezuela
seen from Italy
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Türkiye
seen from United States
seen from Chile
seen from United States

seen from France
@langitmataharisenja
barangkali, untuk bersedihpun butuh alasan
Jangan karena rindu sesaat, kau melepaskan siapa yang telah menggenggam tanganmu hingga saat ini. Kemudian, jika rindumu sudah terlampiaskan, kau kembali menggenggamnya dengan santai.
Belajar untuk tidak sekurang ajar itu.
Jika tak sanggup bertahan, pergilah. Jangan dipaksakan terus berjalan. Karena aku, tak'kan menjadi seperti yang kau pikirkan.
Jangan terlalu memikirkanku.
Beberapa orang memutuskan untuk saling mengenal. Kemudian, saling melupakan dengan cepat.
Menyedihkan
Do your part, but stop trying to steer your destiny. You’re not in charge.
Yasmin Mogahed (via hujanbulanapril)
Tulisan : Perempuan Setelah Menikah
Barangkali dulu, ketika masih gadis. Di usianya yang telah memasuki kepala dua dan usia pernikahan, salah satu kekhawatirannya adalah tentang pasangan hidup. Entah bentuk khawatir seperti; apakah ada laki-laki yang mau menikahinya? atau apakah ia cukup siap untuk menjadi seorang istri? dan lain sebagainya. Dan kekhawatiran itu pun tumbuh subur seiring usianya yang merangkak naik, seiring banyaknya laki-laki yang datang silih berganti tapi tak satupun menarik hatinya.
Di bayangnya, kehidupan pasca menikah, apalagi menikah dengan laki-laki yang dicintainya adalah kehidupan yang segalanya indah. Padahal tidak demikian. Kata siapa bahwa selepas menikah, kekhawatiran perempuan akan sirna begitu saja? Justru sebaliknya, kekhawatiranya bertambah, semakin banyak. Dan ini menjadi sesuatu yang mungkin tidak akan pernah terbayangkan sebelumnya.
Khawatir ketika sudah menikah tapi belum juga hamil. Apalagi ketika melihat teman-temannya yang lain memperbarui halaman sosial medianya dengan berita kehamilan atau kelahiran. Lebih khawatir ketika ditanya oleh keluarga. Dan ini menjadi pembelajaran berharga bagi siapapun, bahwa barangkali ungkapan kebahagiaan kita di sosial media bisa menjadi sebab ketidakbersyukuran seseorang yang melihatnya. Juga ini akan menjadi pelajaran berharga bagi semua perempuan yang menikah nantinya dan belum segera dikaruniai anak, ia akan menjadi lebih memahami dan lebih empati kepada perempuan yang lainnya.
Kekhawatiran ketika suami atau anaknya sakit. Apalagi ketika melihat mereka tidak bisa tidur tenang, tidak bisa makan masakan yang dibuatnya dengan susah payah.
Kekhawatiran ketika belum bisa memasak. Meski kita tahu bahwa memasak bukanlah sebuah hal paling penting dari kesiapan menikah seorang perempuan. Tapi bagi perempuan itu sendiri, memasak untuk keluarga, apalagi melihat keluarganya memakan apa yang ia buat dengan susah payah adalah kebahagiaan yang entah bagaimana menjelaskannya. Khawatir ketika suami tidak mau memakan masakannya, khawatir kalau masakannya tidak enak. Meski, sang suami berusaha untuk menganggapnya bukan sesuatu yang penting. Tapi tetap saja itu penting bagi istrinya.
Kekhawatiran tentang bagaimana ia bisa berbaur dan bergaul dengan keluarga suami. Entah tentang bagaimana ia bisa membuka pembicaraan dan mertua. Bagaimana ia bisa menjadi menyenangkan untuk saudara-saudara suami. Dan memang selama ini tidak ada panduan tentang bagaimana membangun hubungan antara istri dan mertuanya. Dan itu selalu menjadi kekhawatiran tersendiri bagi perempuan yang akan dan baru menikah.
Ada begitu banyak kekhawatiran yang semakin hari semakin bertambah. Dan perempuan yang perasa, membuat kekhawatiran itu kadang tumbuh tak terkendali. Dan tugas laki-laki yang menjadi seorang suaminya nanti sebenarnya sederhana yaitu; jangan menambah kekhawatirannya. Jadilah laki-laki yang baik.
©kurniawangunadi | 10 Februari 2017
Anggap saja keramaian yang kau dapatkan hari ini, menemani perpisahan yang sudah terjadi. Kau hanya perlu menyadari bahwa dalam keramaianpun, banyak hal yang dirayakan. Perpisahan salah satunya.
Rumah.
Terkadang bukan tentang suatu tempat atau bangunan. Pelukan hangatmu, penerimaanmu, melengkapiku, adalah sebuah rumah untukku.
Tetap menjadi yang meneduhkan untuk hati yang kadang suka meragu. Tetap menjadi yang menenangkan untuk pikiran yang kadang terlalu rumit dan jauh.
Mewangilah. Hiasi dengan bahagia dan rasa syukur di dalamnya. Agar siapapun yang berada di dalamnya akan betah berlama untuk selamanya.
Tetap menjadi rumah, untukku.
Ada yang bisa dileburkan saat hujan turun, kenanganmu contohnya.
Entah apa yang sedang mereka jaga. Bukankah penjagaan yang terkuat sesungguhnya ada pada sebuah doa yang tulus datang dari hati manusia yang memiliki rasa. Entah apa yang membuat mereka akhirnya menuliskan nama yang bahkan mungkin bukan jodohnya. Agar dapat berjodoh dengan nama yang ditulis bersama. Sebutlah namanya, jagalah semuanya dalam setiap doamu kepada-Nya. Mendekatlah, rayulah DIA secukupnya untuk nama itu. Bukankah doa harus diimbangi dengan usaha dan percaya. Kemudian, semoga menjadi lebih baik berikutnya. _ekawidyapratiwi.
Warna Dari bagian tergelap dalam hidup, jangan takut untuk percaya. Bahwa ada banyak warna yang akan singgah dan mewarnai hidup kita. Percaya semua sudah diatur oleh-Nya. Di manapun berada, beridirilah pada kaki sendiri untuk tetap berusaha, berdoa dan percaya. Sekecil apapun usahanya, tetap baik dan bijaksanalah untuk meraih semua cita. Kemudian, setelahnya, pulanglah dengan bahagia yang secukupnya atas pencapaian yang sudah kamu genggam atas percayamu kepada-Nya. Selamat mencari warna dalam hidupmu. (at Rawa Pening, Ambawara, Semarang) _ekawidyapratiwi.
Tumbuh. Jangan menyesali sedikitpun apa yang telah pergi. Jangan menyalahkan diri. Apapun yang sudah terjadi, adalah sebuah ketetapan dari yang Ilahi. Sekarang, berjalanlah menuju ke masa depan. Tumbuhlah bersama dengan ridho-Nya. Yang hilang akan terganti. Bukankah selalu seperti itu janji-Nya. Maka, tumbuhlah. Jangan kau mati sia-sia. Tinggalkan apa yang menyesakkan. Hancurkan apa yang membuatmu tak berkembang. Bahagia kemudian bersyukurlah. (Umbul Sidomukti) _ekawidyapratiwi.
Mari kita duduk bersama. Menyelesaikan apa yang sebenarnya membuat kita jauh duduk terpisah. Di rimbun hijaunya pepohonan, mari kita cari jalan keluar. Di sejuknya alam yang begitu menyejukan, mari kita selesaikan segala keresahan yang mengumpat sesak di dalam dada. Aku duduk di sebelahmu. Siap menemani segalanya dari kamu dan aku. Mari kita bersatu dalam satu waktu. Di dalam setiap perjalananku, semoga kelak ada kamu. :) (Vanaprasta gedong songo park semarang) _ekawidyapratiwi.
Menjadi diri sendiri adalah menjadi yang paling benar-benar kamu, menjadi yang paling nyaman versi kamu, menjadi yang paling tidak takut dengan sederet tuntutan atau penilaian yang ada di sekeliling kamu, menjadi yang paling tidak ikut-ikutan demi mendapatkan pujian atau teman.
Rintik Kecil
(via rintikkecil)
Aku biarkan kali ini kamu bahagia dengan dia yang katanya adalah pilihan hatimu. Meninggalkan beberapa genggaman untuk dia yang katanya sudah dahulu kamu sayang. Kamu tidak pandai berperan. Seharusnya bukan benci yang kamu tinggalkan.
ekawidyapratiwi
Tak banyak orang yang ketika salah mau mengaku salah. Jadi, sudahkah setiap dari kita benar-benar berani mengandalkan diri sendiri? Tak perlu meminta untuk dimengerti. Buktikan saja jika kesalahan yang sama tak akan pernah terulang lagi.
Rintik Kecil
(via rintikkecil)
Kuat
Kamu itu terlahir kuat–yang bertambah kuat hari ke hari.
Ada masalah jangan lari. Bertemu kesusahan jangan berdiam diri, menyendiri di kamarmu sendiri ditemani secangkir kopi–yang menambah gusar bukan malah menenangkan hati.
Ada masalah, selesaikan. Kesulitan ada untuk dibereskan, ditenangkan, dan diajak berdamai. Bukankah orang kuat seharusnya bekerja seperti itu?
Sekali lagi saya ingatkan, kamu itu terlahir kuat–yang bertambah kuat hari ke hari. Seharusnya begitu.
Jangan minta Tuhanmu untuk mempermudah segala kerumitan yang tengah kamu hadapi. Mintalah untuk menguatkanmu di segala keadaan. Maka, dengan segala rahmat-Nya kamu akan semakin pintar, semakin tegar, semakin kuat, dan semakin-semakin lain yang bisa membantumu untuk menyelesaikan apa-apa yang seharusnya kamu selesaikan. Tuhanmu selalu bersamamu sampai melarikan diri, kabur menjadi pecundang tidak pernah terpikirkan olehmu sama sekali. Sampai kamu berani bersehadap dengan apa saja yang ingin sekali kamu hindari. Sampai kamu pandai berkompromi dengan semua masalah yang sedang dan akan kamu hadapi.
Jadilah kuat, sebagaimana kamu memang dilahirkan untuk itu. Percaya pada dirimu sendiri, kamu tidak selemah apa yang pernah terpikirkan olehmu di tengah kondisi terburukmu.
Kamu kuat. Tuhanmu selalu menguatkanmu.
Bandung, 5 September 2016.
Saya kepada aku di dalam diri saya.