Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
YOU ARE THE REASON
One Nice Bug Per Day
Cookie Run:Kingdom Official!
occasionally subtle

gracie abrams
hello vonnie
Show & Tell
h
EXPECTATIONS

shark vs the universe
$LAYYYTER
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

Game Changer & Make Some Noise

titsay
noise dept.
art blog(derogatory)
Noah Kahan
d e v o n
Not today Justin
seen from Philippines

seen from Singapore
seen from Argentina
seen from United States
seen from Germany
seen from Bangladesh
seen from Canada
seen from United States
seen from India
seen from Indonesia
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United Kingdom
@lembar---bisu-blog
Like What’s attractive about a man who isn’t excited as hell to be with you? Who doesn’t smile when you walk up? Who doesn’t hold your hand? Who isn’t all in? What’s attractive about a man who is too prideful to just let go and love? What’s attractive about an emotionally unavailable man?
Sang Pemilik Hati
Memang ya, obat paling mujarab mengenai cinta ialah dengan berdoa kepada-Nya.
Bukan hanya rasa sakit hati saja yang terobati, namun Ia membimbingmu kpd hati yang tepat.
Bersyukurlah jika saat ini Allah sdg menjauhkanmu dari seseorang, sesungguhnya Ia sedang melindungi mu dari mereka yg hanya akan memakan dan meninggalkan luka di hati.
Kejora di Sepertiga Malam
Saat senja datang semua terasa berbeda, jalanan kembali ramai dengan hadirnya para penjajah jalanan, kedai pinggir jalan bersiap untuk melayani para tamu yang akan datang, melodi dari setiap klakson pun menjadi teman setia dikala senja. Sesibuk dan seburuk apapun harimu, senja datang untuk memeluk dengan indahnya lukisan yang tergambar di langit.
Ajaib ya, seolah senja memiliki mantra tersendiri yang dapat menghipnotis para jiwa yang sedang berpergian tanpa arah.
Namun senja tak bertahan lama, ia pulang dan digantikan oleh kemerlap bintang dalam kegelapan malam. Jika senja memeluk dengan jingganya di langit, malam memiliki kejoranya yang menawan.
Tidak semua jiwa dapat menatap sang kejora pada malam hari karena kejora memberikan cahaya indahnya terutama saat sepertiga malam.
Mereka, para jiwa yang suci, akan terbangun dan memaparkan sinarnya dan bersatu pada cahaya sang kejora. Langit pada malam itu bagaikan pertunjukkan kembang api, indah, mengagumkan, dipenuhi oleh kemerlap cahaya yang tak ada hentinya. Seakan menyaksikan keajaiban yang tercipta di langit.
(Bersambung)
Baru ku sadari, tidak sedikit aku mengucap kata rindu dalam tulisanku. Apapun jenisnya ada saja selipan kata rindu dalamnya.
Ya, karena memang aku sedang dilanda rindu.
Aku rindu padamu.
Rindu akan dekapanmu. Rindu akan hadirmu. Rindu akan, kita.
Tapi, betulkah aku merindukanmu? Atau aku rindu untuk dirindukan olehmu?
Tak Terarah
Sudah lama hujan tak datang. Wahai hujan, taukah kau bahwa setiap helai daun yang ada merindukanmu? Taukah kau betapa ranting haus akan hadirmu? Taukah kau, aku menantimu?
Aku merindukanmu seolah kita telah terpisah rentang waktu yang lama, sangat lama.
Ku rindu kau disetiap hari yang ku lalui. Hari ku berat tanpamu, dan kau tau betul akan itu. Sudikah kau mendekap ku lagi dalam setiap tetesan yang kau curahkan pada bumi?
Berjalan Pulang
Sudah lama aku mencari rumah. Pernah kukenal hangatnya berada di rumah, dahulu sekali, saat kau ada bersamaku.
Ya, kaulah rumahku.
Tempat ku berteduh dan mencurahkan segala isi hati. Tempat ku melepaskan lelah yang melanda. Tempat dengan rasa nyaman yang tak terbatas. Tempat dimana aku mengenal bahwa rumah bukanlah sekedar pintu dan fondasi kokoh, melainkan pelukan hangat dan senyum di wajahmu. Ah, aku rindu jadinya.
Sekedar informasi untukmu, tidaklah mudah untukku mencari rumah baru. Rasanya masih ingin untuk pulang ke kamu. Tapi kurasa aku bukanlah lagi rumahmu ya? Tak apa, kuharap kau menemukan rumah baru yang menghangatkan hatimu.
Terlepas dari semua permasalahan yang pernah kita hadapi, aku mau berterima kasih karena telah memberikan sekaligus mengajariku kasih sayang yang tulus. Terimakasih ya.
Aku tidak berusaha untuk melupakanmu, karena aku tau itu tak akan bisa. Tapi aku berusaha untuk iklas melepasmu.
So long, old friend.
Hidup itu pilihan. Pilihan itu sendiri dimulai dengan doa.
-----Mama
Sepersikian Detik.
Aku rasa aku memasuki lorong kedua dalam hidupku. Lorong ini tak terasa asing, mungkin karena dulu pernah melewati lorong yang serupa. Namun terasa ada yang berbeda terlepas dari kegelapan dan kesendirian yang kurasakan, kali ini aku berjalan dengan… hmm senang? Tidak tidak, lebih tepatnya dengan tenang. Beban yang kupikul tak seberat apa yang dulu pernah kurasakan,karena aku tau akan ada secercah harapan terang menanti ku diujung lorong.
Ingat betul saat pertama kali memasuki sebuah lorong yang gelap dalam hidupku. Saat itu aku masih belia dan tidak punya peta yang berkiblat pada arah yang benar dan kompasku menunjukkan hanya pada arah duniawi. Aku begitu membenci diriku dan seluruh kehidupanku. Bahkan aku mengutuk penciptaku sendiri karena telah memberikan kehidupan dengan bukit dan lembah curam didalamnya. Pengetahuanku akan kehidupan masih terbilang minim, dibenakku hidup hanya selangkah dengan kematian dan didalamnya terdapat gemerlap cahaya yang indah tapi ternyata hidup tak semudah itu. Pikiranku tidak lepas dari pertanyaan kepada Sang Pencipta, terutama mengenai “Kenapa aku ya Tuhan?” “Mengapa hidupku tak seindah teman temanku?” “Mengapa hidup ini tak adil? Aku jauh lebih berusaha dari mereka, lalu kenapa aku?” Dan segenap pertanyaan lainnya. Kemarahanku memuncak karena tak juga aku menemukan jawaban yang mengisi kekosonganku. Seiring berjalannya waktu aku menyadari bahwa kemarahan tak membawaku ke lain tempat kecuali tempat yang jauh lebih kelam. Sehingga aku menyerahkan diriku pada Sang Pencipta, karena seberapa baik aku membuat rencana tidak akan terlaksana bila tidak dengan seizin-Nya dan sesungguhnya Ia memiliki rencana yang lebih hebat dari segala rencana. Tak lama kemudian aku melihat setitik cahaya yang menemaniku dan menuntunku keluar dari kegelapan lorong itu. Terdapat pelajaran berharga yang kupetik dari perjalanan itu, bahwa hidup memang tak mudah, namun akan terasa mudah apabila dijalani dengan sabar, ikhlas dan syukur. Aku rasa itu kunci kebahagiaan dan kesuksesan dalam hidup.
Kini aku kembali dihadapi dengan sebuah lorong gelap, andai saja ada jalan pintas ya mungkin semua akan terasa lebih mudah. Senyumku mengembang saat melihat pemandangan indah di tempatku berada. Dari atas sini aku dapat melihat jalur yang telah kutempuh dulu, lorong yang pernah kulewati dan taman berbunga yang kutemui di ujung lorong itu. Ya, aku yakin, Allah akan memberikan kejutan lainnya diakhir lorong ini. Terlebih aku pernah berhasil melewatinya dahulu jadi kurasa kali ini tak akan begitu sulit, bukan begitu?
Tidak, ternyata tidak begitu.
Aku keliru. Kufikir proses ini akan lebih cepat dan ringan tapi ternyata sebaliknya. Medan yang kutempuh jauh lebih berat dari sebelumnya, kali ini tidak dengan jalanan datar nan mulus melainkan jalanan terjal dan berlubang. Tidak hanya sekali aku jatuh dan melukai diriku sendiri, tapi apadaya aku harus bangkit kembali dan melanjutkan perjalanan. Ah terseok aku dibuatnya. Namun ada perasaan yakin dan rasa tenang yang menyelimutiku sehingga aku tau aku akan sampai pada taman berbunga di sisi lorong ini. Jujur aku lelah, tapi menyerah bukanlah pilihan.
Yah namanya jg hidup, susah, kalo gampang mah tutorial ya? Hee jhayush ah.
Satu yang kuyakin, bahwa semua manusia pasti menemukan lorongnya tersendiri dan lorong itu pasti tidak akan melampaui batas kemampuannya. Dan ketahuilah makna yang tersirat dari lorong yang diberikan kepadamu, bahwa Allah sedang membentukmu menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan sesungguhnya Allah rindu padamu. Allah rindu akan kehadiranmu setiap detik di sisa sisa hidupmu ini, jadi datangilah Allah dengan cinta dan ikhlasmu.
Batu berlian tak dihasilkan dari kedipan mata dan adakadabra, melainkan kikisan yang sempurna untuk menghasilkan berlian yang mempesona.
Ahya, satu lagi, ingat bahwa tidak akan ada lorong yang tak berujung. Abadi hanya berjalan bersama akhirat. Jadi lorongmu, hanya terjadi sepersekian detik.
Cutting Ties.
Know what my favorite part of this is? That one only has ties on a small part of their body whereas the other is tied all along one side up to the face, meaning one person is not quite as invested in the relationship as the other. Even better thought, the one with most ties is the one with the scissors. Im so glad they’ve built up the courage to leave even if it means cutting out a larger part out of their life than the other.
Aku
Aku rindu akan kita. Ya, kita. Keberadaanmu yang lekat padaku untuk waktu yang lama membuatku lupa akan aku dan terbiasa dengan kita. Aku menjadikanmu sebagai bagian dariku, sehingga aku tanpamu terasa hampa. Salahkah aku? Salahkah aku menjadikanmu sebagai aku yang seutuhnya?
Ya.
Tidak.
Entahlah.
Tak kuasa aku menjawabnya, apalagi dengan keadaanku sekarang, dimana butir butir kehidupan pecah menjadi partikel kecil dan berserakan. Buram aku dibuatnya. Ah sudahlah. Aku harus tetap hidup. Tidak hanya ada dan nyata sebagai mahkluk hidup tapi menjalani kehidupan dan hidup didalamnya.