Antologi Perjalanan FISIP Vol. 18: Perjalanan Kucing Takor
Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.
Menjadi Tua di Jakarta - Seno Gumira Ajidarma
Sepasang mata berwarna kuning keemasan tajam memandang kesekitar. Tatapannya lembut tapi penuh kewaspadaan. Sesekali ia mengedip lalu memicingkan mata. Rupanya suara derap kaki manusia, satu persatu kemudian semakin banyak dan akhirnya semakin riuh. Sekarang telinganya meruncing dan bergerak ke kiri dan ke kanan. Suasana yang semakin ramai di mana semakin banyak bahasa-bahasa yang tidak dikenalinya dipertukarkan tidak membuatnya beranjak dari singgasananya. “ini rutinitas biasa”.
***
Berbicara tentang realitas, perkembangan kehidupan kampus kekinian nyata-nyata-nya sangat mengerikan. Jangankan untuk memikirkan makna hidup, sekedar berinteraksi dengan sekitar saja terkadang kita lupa. Perlahan-lahan ruang kritis dan empati dalam diri kita dimatikan secara struktural. Setiap harinya kita disibukan dengan rutinitas kuliah, dengan sistematisnya kita didudukan dalam kelas, disibukan dengan tugas-tugas, sambil berkejaran dengan deadline kelulusan. Melalui SK Rektor UI No. 2198/SK/R/UI/2013, untuk dapat mengambil jatah SKS maksimal sejumlah 24 SKS minimal kita harus mendapatkan IP sebesar 3,5. Belum sempat bernafas, kemudian kita dipaksa lagi berlari oleh Permendikbud 49/2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SNPT) tentang masa studi S1 maksimal 6 tahun 5 tahun. Pembatasan waktu berkegiatan yang semakin menjamur di berbagai fakultas (baca: jam malam). Setiap pagi sampai malam kita didudukan dalam kelas, lalu kapan nalar dan hati kita dilatih untuk menghadapi masalah-masalah yang nyata?
Ada apa ini? Masuk kuliah susah-susah, disuruh keluar cepet-cepet. Apa karena permintaan akan bangku kuliah yang sangat tinggi setiap tahunnya, sehingga setiap tahunnya, harus ada banyak bangku yang dikosongkan? Atau karena mengejar status akreditasi yang tidak boleh turun agar brand kampusnya tetap jadi top di pasaran? Terkadang saya merasa heran dengan logika bisnis yang ada di Universitas ini. Di tingkat atas kita diurusi oleh direktur, di tingkat fakultas kita diurusi oleh manajer – ini lembaga pendidikan apa lembaga bisnis? Diluluskan cepat-cepat, tanpa skripsi pula sekarang – Ini Universitas apa lembaga bimbel? Kemudian setelah lulus kita dibekali dengan SKPI (Surat Keterangan Pendamping Ijazah – semacam CV resmi yang dikeluarkan oleh UI). Setelah melalui proses produksi empat tahun, lengkap sudah daur hidup kita untuk dicetak sebagai pekerja, maka produk dengan label “lulusan UI” sudah siap untuk bersaing di pasar tenaga kerja.
***
Di sisi lain dua pasang kaki lincah berayun dengan anggunnya melompat dari satu meja ke meja lainnya. Waktu istirahatnya sudah selesai pikirnya. Sesuatu menarik perhatiannya. Hidungnya mulai awas lalu matanya memicing mengamati langkah kaki, lalu gerakan tangan, kemudian piring dan mangkuk yang berseliweran melintas di hadapannya. Ia masih ragu, koleganya sudah mengambil posisi dan menyiapkan jurus rayuannya. Namun, Ia masih menunggu di bawah meja. Aaaaaah, rupanya yang satu ini peragu.
***
Ternyata kami tidak bisa untuk tidak menghitung sisa-sisa waktu yang tersisa. Tidak terasa sudah hampir satu tahun kebersamaan dalam BEM FISIP UI 2014. Semua begitu cepat, rasanya benar-benar baru kemarin kita memulai langkah pertama bersama, bukan begitu keluarga? Bagaikan mimpi yang sekejap saja kemudian terbangun, rasanya begitu indah dan tidak ingin untuk terbangun kemudian menguap bersama kenyataan. Padahal semua ini adalah nyata, terus harus apa? Tertidur selamanya agar kebersamaan ini abadi dalam mimpi? Lalu ingatan ini melempar saya jauh kebelakang, untuk memaknai realita kehidupan kampus ini.
Saya masih ingat betul bagaimana wajah-wajah itu, wajah sepasang muda-mudi yang bingung. Mereka duduk bersama dalam satu meja, masing-masing sedang disibukan dengan pikirannya masing-masing. Dalam diam mereka sedang berkejaran dengan waktu. Hari itu merupakan garis mati yang menentukan apakah saat matahari terbit esok hari mereka masih bisa bermimpi atau tidak. Kurang lebih satu tahun yang lalu di hari terakhir pengumpulan berkas kami akhirnya lengkap bertiga. Sejak saat itu segalanya tidak pernah sama bagi kami.
Mari selesaikan suasana yang mulai mengharu biru ini, sebelum nostalgi ini menjadi overdosis. Sekarang kita bicara gagasan. Ada sebuah mimpi besar di balik nilai-nilai sederhana yang dibawa oleh BEM FISIP UI di tahun ini. Melalui semangat berbagi, bersenang-senang, bersama, kami ingin mewujudkan visi FISIP UI yang kolaboratif dan bermanfaat. Visi ini kemudian dibingkai dalam empat fokus isu utama BEM FISIP UI 2014 yaitu, Ruang Publik, Kolaborasi, Penguatan Jaringan dan Keberlanjutan.
Secara pribadi, visi ini lahir dari dua keprihatinan.
Pertama, perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin terkotak-kotakan dan terspesialisasi, nampaknya sedikit banyak membentuk pola pikir masyarakat akademis (civitas academia) yang berada di dalamnya. Alih-alih melakukan kajian antar disiplin, kita masih sibuk-asik sendiri di kamar masing-masing. Padahal FISIP begitu kaya akan keberagamannya. Betapa tidak, dalam memandang suatu masalah kita memiliki disiplin ilmu dan perspektif yang begitu beragam. Bayangkan ketika keberagaman disiplin dan perspektif yang ada berkolaborasi, betapa besar potensi kebermanfaatan yang dapat kita berikan.
Kedua, bahwa kita anak anak FISIP begitu digdayanya membuat acara-acara sifatnya grande, namun seringkali begitu disibukan dengan urusan-urusan teknis kepanitiaan. Sehingga membuatnya lupa menjadi manusia seutuhnya, dan akhirnya hanya memberikan aftertaste yang hambar. Banyak juga kegiatan penuh dengan suka cita pesta dan kegembiraan, tapi tidak meninggalkan apa-apa setelahnya. Tidak jarang pula ditemui, kasus-kasus terjebak bentuk-terkekang tradisi-dan memahami segala sesuatunya dengan dangkal. Setidak-tidaknya ketika kita berdiri di sini, sebagai pengurus BEM FISIP UI, minimal kita sadar, kita ada untuk memberikan kebermanfaatan untuk sekitar. Dalam dunia biner, kita adalah satu yang memberikan arti bagi nol-nol di sekitarnya.
***
Yang lainnya masih sibuk dengan permainannya. Berkejaran tidak peduli akan denting piring dan sendok yang bergesekan yang berpadu. Teriakan dari ujung meja yang saling bersahutan menjadi musik pengiring permainan mereka. Cakar mereka saling beradu, saling mempertunjukan taring, dan melakukan gerakan akrobatik. Ternyata mereka tidak sekedar bermain, mereka berdansa. Mereka merayakan sesuatu, kemerdekaan mereka.
***
Awal tahun kepengurusan BEM FISIP UI 2014 diwarnai oleh banyak pertanyaan. Terutama mengenai #SATUFISIP yang mendadak mencuat sebagai tajuk peluncuran akbar seluruh lembaga mahasiswa di FISIP, dan kemudian menjadi marak hingga akhir kepengurusan. Ada #SATUFISIP dalam konser amal Jingga Peduli: Air bersih untuk kelud, kajian #SATUFISIP dalam penyikapan terhadap pemilu presiden, ada juga #SATUFISIP dalam persiapan kontingen FISIP untuk menghadapi kompetisi-kompetisi di tingkat UI. Terserah mau dibilang apa dan akhirnya menjadi apa. Apakah #SATUFISIP adalah wadah, gerakan bersama, atau sekedar semangat, yang pasti #SATUFISIP tidak boleh menjadi sekedar dan terbatas pada manajemen persiapan kontingen apalagi melembaga untuk itu.
Mimpi besarnya, melalui #SATUFISIP akan ada komunikasi yang kembali terjalin, walaupun lintas jurusan, lintas generasi, terpaut angkatan dan usia yang jauh. Terkadang saya begitu iri, ketika melihat fakultas-fakultas dengan ikatan keluarga alumninya yang solid. Tapi sebelum mengurusi yang diluar, yang belum terjangkau, mari kita benahi dulu yang dekat-dekat. Melalui #SATUFISIP, sebenarnya banyak sekali hal-hal yang ingin dilakukan di tahun ini. Seperti, mendorong kajian lintas disipliner, membebaskan diri dari batas “ke-seganan” antar lembaga, memperbanyak kolaborasi dalam berkarya, anak-anak FISIP yang tidak ahistoris (keberlanjutan transfer wawasan antar generasi), saling support antar jurusan, ruang publik yang benar-benar hidup dengan interaksi yang marak! Saat itulah kita benar-benar terbebaskan dari sekat-sekat tidak terlihat dan kemudian menjadi satu.
#SATUFISIP
Depok, 8 Desember 2014
Bara Lintar Sanggabuana
Ketua BEM FISIP UI 2014

















