01:11
Keping recehanku jatuh. Seorang tua yang menenteng helm membantu memungutkan dari samping, namun aku malah sibuk menderu pacu setelahnya karena barisan di belakang juga sibuk melempar klaksonnya. Aku tidak pula sempat tersenyum; padahal, di antara sumpek ruangan parkir itu ia masih berbaik hati. Apa refleks aku pada sosial telah berangkat keji tanpa sadar? Semoga kota ini punya lebih banyak tua sepertinya daripada aku-aku ini.
Beberapa keping kembali terjatuh.
01:18
Aku mengejar sebuah garis terang membubung dari tanah, naik turun memotong remang. Mungkin pertanda sebuah perayaan? Di samping mereka seorang anak tertidur dengan ayahnya mengipasi di atas dipan; di depan mereka sebuah sungai menangis karena kotanya lupa padanya.
Aku memutar arah. Cahaya sorot yang mengarung langit kota itu telah melihat semuanya, ia ikut meringis di atas denting-denting gelas pesta yang ramai.
Semua sinar yang mahal itu mencekik langit jadi ungu.
01:38
Berbelok kemudian di bawah rengkuh pepohonan, melewati pelataran sirkus kota yang esok pagi akan terjejal kepentingan-kepentingan luar biasa banyaknya. Tertabur kepingan daun kuning, wajarkah ibu merontok di musim yang basah? Apa mereka telah berangkat lelah dengan keapatisan anak-anaknya? Mungkin mereka meraung-raung di sana: jangan belah aku, jangan kotori nafasku.
Semoga anak-anakmu hanya sedang lupa.
01:44
Delapan puluh kilometer per jam. Di sela gurat-gurat bopeng jalan yang siap membunuh, sebuah kelontong modern yang mencoba menghangatkan namun beku berdiri. Melewati bayangan rak-rak makanan kaleng dan bungkusan identik yang tidak mengenyangkan hati. Semua lampu, tembok, ubin pucat memangkas ramah-tamah dalam pertukaran kebutuhan yang dulu hangat, yang aku kira akan selalu kuat mengakar di kepalaku.
Ah, bangunan itu sendiri kesepian, kedinginan.
01:52
Deretan palem bernyanyi. Seorang pedagang menutup lapaknya, mencuci peralatannya di ember yang bocor, menggulung terpal birunya. Puaskah ia akan hari ini? Di antara jutaan kendaraan mahal yang melintasi sudut matanya, di antara ratusan jam di balik gerobaknya, banggakah ia dengan perannya dalam akrobat akbar urban ini?
Bahkan kemudian: dekat di sampingnya masih ramai terlihat sebuah jamuan angkuh.
02:04
Deruku melonggar. Semuanya timpang: gelap, sepi; tapi jauh lebih hangat daripada hingar-bingar benderang kota paling riuh. Semua sudut di sini fasih bercerita, tentangku, tentang semua milik dan pemilikku. Semuanya merangkul jujur.
Beberapa ngengat menjajali cahaya.
Sedikit berbisik, assalaamualaikum. Hening...