Surakarta, 14 April 2020. 22.32
Hari ini ada dua hal yang membuatku terkejut. Yang pertama, ketika bangun memeriksa pesan masuk di gawai, salah satu mentor di tempat magang dulu mengirimkan pesan. Karena pesan tersebut aku lihat di widget, sebuah fitur yang aku gunakan untuk melihat pesan "dari luar aplikasi", tentu saja aku tidak yakin. Paling-paling cuma khayalan bangun tidurku saja.
Tapi ternyata pesan tersebut benar-benar ada. "Mau menulis liputan ga? Tayang Minggu besok."
Ketika membaca, jelas saja aku ragu. Padahal, aku kira, tawaran semacam ini tidak akan pernah aku dapatkan. Alasannya jelas, secara kualitas, kemampuan menulisku acak-acakan. Jelek saja belum. Sempat terbesit untuk menolak. Tenang, persediaan alasan di gudang masih banyak.
Tapi dua menit aku mencoba mematikan layar gawai dan berpikir, tabiat untuk merasakan tantanganku muncul. Sebuah pembawaan yang mungkin lain waktu akan aku ceritakan.
"Liputan apa mas? Bebas atau udah ada topiknya mas?" tanyaku kepadanya.
"Nanti aku cari topiknya... (Kamu usul juga boleh)... Kamu mau dulu ato gak tp"
Wah, sebuah pertanyaan lugas yang harus aku beri jawaban. Namun jika aku hanya bilang iya atau tidak, itu bukan aku. Karena kebiasaan untuk memikirkan terlebih dahulu ujung, atau minimal langkah-langkah ke depan dari sebuah rencana, biasanya aku enggan untuk langsung menolak atau menerima sebuah tawaran.
16 menit kemudian aku jawab, "insyaAllah boleh mas, aku kepikiran dua topik sih tapi pake topik dari mas ndak papa."
Sebuah tantangan telah kuterima, mari berdoa agar bisa kujawab dengan keren.
Dan hal kedua yang membuatku terkejut adalah sebuah momen ketika tiga penjual nenek-nenek yang saling membantu satu sama lain.
Siang tadi di Pasar Legi, aku berkesampatan untuk membantu progam salah satu ornop dalam menyalurkan bantuan kepada terdampak Covid. Kali ini dari sisi pangan.
Hingga di satu titik kami ingin membeli telur sebagai salah satu komponen di paket donasi tersebut.
"Beli 10kg nggih bu," pintaku kepada si penjual.
Setelah mengetahui bahwa harganya cocok, kami sepakat untuk membeli telur di situ.
Meski sebenarnya total telur yang kami butuhkan 30kg, kami memutuskan untuk membeli 10kg saja. Selain ketersediaan telur si penjual ini tidak cukup, keinginan untuk membuat transaksi di lebih dari satu pedagang menjadi alasan yang lain.
Satu, dua, sampai seterusnya, telur disusun oleh si penjual di dalam kardus yang disediakan olehnya. Sampai satu ketika, penjual di sebelahnya, yang juga nenek-nenek, ikut membantu menyusun telur yang kami pesan.
"Mboten tahunya sekalian mas?" tanya penjual yang membantu kepada kami sesaat sebelum membantu.
Sebenarnya aku ingin bilang, "yaudah mbah sekalian."
Tapi sayangnya tahu tidak masuk di perencanaan kami. Di saat itu juga aku merasa tidak cocok bekerja di lembaga seperti ini. Begitu mudah bagiku untuk keluar dari perencanaan, yang aku sadar kurang bijak bagi keberlangsungan progam.
Selang beberapa saat telur disusun, rupanya ada langganan pembeli tahu yang lewat menggunakan angkutan umum sewaan. Karena ia membeli tahu dan tempe dengan kuantitas yang lumayan banyak, penjual lain, yang duduk di sisi yang lain, ikut membantu si penjual tahu.
Momen ketiga penjual yang duduk bersama dan saling membantu membuatku takjub. Entah mereka tinggal bersama atau tidak dan membagi penghasilannya atau tidak, yang jelas kejadian tadi membuatku ingin menangis.
Betapa mudahnya bagi ketiga penjual tersebut untuk saling membantu. Aku iri.
Di perjalanan pulang, rasanya aku ingin memborong semua komoditas yang ada di pasar. Terutama para penjual seperti ketiga orang tadi. Begitu.