Get Your Heart, Get Your Victory
2015 merupakan tahun kemajuan bagi diri ini. Tahun dimana langkah menjejak ke pulau seberang, waktu terasa begitu terisi hingga lelah menjadi rutinitas. Tidur menjadi suatu hal yang dirindukan, serta jalan-jalan terasa sebagai hal yang istimewa. Tentu tidak setiap hari seperti ini, namun mayoritas begitu sih. haha
Januari, awal dari segala perjuangan. Pertama dalam hidupku selama menjadi mahasiswa, PKM yang diusulkan didanai oleh DIKTI. Selama 3 bulan kedepan pula waktu diluangkan untuk mengabdi di masyarakat bantaran sungai Kalimas Keputran Surabaya. Di sela-sela waktu KKN, menyempatkan diri untuk rapat bersama tim S-Mar, menyiapkan bahan dan bergerak bersama mencoba membangun kemandirian warga dengan usaha kreatif berbasis lingkungan.
5 orang dengan 4 fakultas berbeda menjadi sebuah tantangan serta peluang. Tantangan karena waktu serta tempat kuliah yang berbeda menjadikan waktu untuk bisa berkumpul menjadi lebih susah, serta peluang membuka cakrawala pengetahuan baru lintas jurusan. Psikologi, Kesehatan Masyarakat, Ekonomi dan Bisnis serta Ilmu Budaya adalah rumpun keilmuan yang membaur dalam sebuah tim Smar Ceria.
Monitoring serta evaluasi 3 kali yang dilakukan menjadi saksi atas perjuangan yang dilakukan. Pengalaman-pengalaman unik pun didapatkan. Dari ditegur karena memakai sandal waktu Monev, hingga perjuangan hanya tidur beberapa jam untuk presentasi akhir.
Warna-warni perjuangan ini menjadi sebuah pembelajaran berharga bagiku. Dinamika hidup berkelompok, saling menghargai, berbagi, berkorban serta bekerja sama adalah nilai yang patut disyukuri selama 3 bulan ini.
Moment paling menyenangkan adalah ketika warga bisa membuat bunga lebih dari ekspektasi awal, dimana ternyata warga membuat bunga yang lebih rapi dari kami dengan jumlah yang banyak. Membuat kami yang awalnya sempat peseimis menjadi sangat excited. Presentasi monev terakhir adalah moment terkocak yang pernah kulakukan. Pertama kalinya berani tampil “beda” memakai hijab selendang berwarna terang di kampus, duh ketika mengingat gimana gitu ya haha.
Sayang beribu sayang, foto kami saat monev terakhir hilang karena simcard temen yang memfoto rusak. ah, mungkin lain kali barangkali tahun ini bisa didanai lagi, Aamiin.
Belum lolos PIMNAS merupakan hal yang sempat membuat sedih, namun pelajaran selama 3 bulan lebih telah mendidikku menjadi seseorang yang jauh-jauh be better than yesterday. Terima kasih tim Smar, makasih warga Keputran : ) .
Bermimpilah, biar Tuhan memeluk mimpimu. Jangan menyerah, menyerah berarti menunda masa senang. Selama masa PKM sekitar bulan April-Mei Juni mendapat amanah mengikuti beberapa proyek dosen. Alhamdulillah bisa mencoret salah satu mimpi dalam daftar impian. Mendapat pengalaman baru, menyelami lebih jauh kehidupan kampus dengan masyarakat serta mendapat penghasilan sendiri pertama kali selama kuliah. Well, it’s a part of happiness for me. Dinamika pun berjalan disini, apapun keputusan yang diambil semoga berkah dan membawa manfaat lebih. Aamiin.
Saat-saat itu adalah saat dimana waktu terasa sangat berarti, tiap menit adalah berharga. Mobilitas kos-kampus-luar kampus menjadi santapan yang biasa. Lelah itu terbayar, dengan adanya hikmah yang bisa dipetik setiap saat.
Menjejak bulan selanjutnya, sekitar bulan Juli, part of happiness for me muncul kembali. Menjadi finalis mawapres di tingkat Fakultas, dengan final di bulan Oktober. Bulan Juli-Agustus ini juga menjalani moment PKL di Probolinggo selama satu bulan. Selama di sana mencoba untuk latihan, namun sering sekali gagal focus. Menjadi sebuah pelajaran, suatu hal yang telah dicanangkan tanpa aksi nyata adalah sebuah hal yang tak membuahkan hasil nantinya.
Presentasi Mawapres di tingkat Fakultas dilakukan di bulan Oktober, akhirnya kurang persiapan. Terlalu banyak menduga sebelumnya, sehingga meski sudah menjadi tiga terbesar angkatan di tingkat fakultas, gagal menjadi mawapres utama di tingkat Fakultas. Sebuah pembelajaran yang sangat berharga bagiku, untuk selalu dapat upgrade diri menjadi yang lebih baik lagi.
Kesedihan karena gagal itu lumrah, namun berlarut-larut dalam kesedihan adalah hal yang sia-sia. Alhamdulillah di akhir Oktober mendapat sebuah kabar gembira, lolos LKTI di Universitas Muhammadiyah Makassar. Makassar, kota dengan seribu kenangan yang bergentayangan dalam sudut-sudutnya. Sekitar tujuh tahun yang lalu, langkah kaki kecil ini pernah menjejak kesana dalam event Olimpiade Sains Nasional bidang Biologi waktu SMP dulu. Benar-benar seperti diajak fieldtrip mengenang masa lalu dengan suasana dan orang –orang yang berbeda.
Time flies, everything changes. Tujuh tahun berlalu, arah hidup sekarang berbeda dengan dulu. Impian menjadi seorang bioteknolog berganti menjadi pejuang kesehatan masyarakat. Sebenarnya masih dalam ranah tujuan mimpi yang sama, yakni dalam upaya penyembuahan serta pencegahan penyakit ke masyarakat, namun berbeda. Perbedaan inilah yang sempat menjadikan awal-awal tahun perkuliahan menjadi sangat sensitive. Namun untunglah, jejas-jejas dari luka itu saat ini telah mengering dan mengelupas. Telah terganti dengan lapisan kulit yang baru, yang tumbuh dengan adanya semangat serta teman-teman yang menguatkan. Hingga akhirnya bangga aku mengatakan, aku akan menjadi seorang ahli kesehatan masyarakat nantinya!
Mungkin engkau menyukai sesuatu, namun hal itu tak baik untukmu. Mungkin engkau tidak menyukai sesuatu, namun itulah jalan terbaik untukmu. Tuhan mengerti dan selalu bermurah kasih sayang kepada hamba-Nya. Jalan menuju impian mulai terbuka satu persatu…
Berbicara mengenai LKTI di Makassar, menjadi juara dalam kompetisi ini awalnya adalah sebuah hal yang sempat kami pesismiskan. Mendengarkan pengumuman satu per satu juara tingkat mahasiswa dari harapan satu hingga juara tiga, dua menjadi moment yang menggetarkan hati. Oh kelompok kece-kece yang juara. Mungkin kelompok *** yang presentasinya kece yang menjadi juara. Namun tak disangka namaku disebut, iya namaku Salsabila serta Universitas Airlangga disebut sebagai juara satu. Sontak kami sekelompok langsung histeris dan berpelukan satu sama lain. Laa haula walaa quwwata illa billah.
Moment tehebring selama di Makassar, benar-benar kebahagiaan meningkat dalam hidupku. Alhamdulillah, kahirnya perjuangan selama ini membuahkan hasil. Langsung juara satu pula. Sungguh kebahagiaan yang tak terperi.
Mengingat perjuangan di LKTI ini cukup mengharukan dan menguras perasaan. Mungkin di lain waktu ada tempat untuk berbagi cerita untuk hal ini ^_^
Terakhir Bukan Akhir Segalanya
Pekan pertama setelah berjuang di Makassar hal yang dilakukan adalah menempuh Ujian Tengah Semester. Kami berangkat dari sana hari ahad malam dan untungnya pada hari senin sedang tidak ada ujian. Jadi bisa beristirahat dengan lumayan nyaman.
Menjadi seorang juara adalah sebuah ujian. Ujian untuk bisa mempertahankan atau nantinya hal ini bisa membuat kita terlena, hal ini seperti yang diucapkan oleh salah satu teman seteam. Adanya kemenangan bisa menjadikan diri kita lupa akan hakikat diri, perlu upgrade setiap saat menjadi insan yang lebih baik dan mengambil pelajaran dari setiap langkah kehidupan.
Weekend pertama saya pulang kampong ke Kediri, dengan membawa oleh-oleh untuk adik serta orang tua. Pas pulang adik bungsu saya, Bara kebetulan pas mengikuti seleksi nasional lomba cerdas cermat matematika dan bahasa Inggris yang diselenggarakan oleh Gontor. Awalnya masu memberikan kaos yang bisa dipakai oleh adik, namun adik keburu sudah berangkat. Jadinya dititipin kepada ibu di rumah.
Menyenangkan bisa berbagi kebahasgiaan bersama orang tua. Terutama memberi kabar gembira kepada ibu. Alhamdulillah akhirnya bisa membanggakan mereka. hidup itu seimbang dan ada takarannya masing-masing untuk tiap orang. Sehari setelah lomba sebenarnya mendapat kabar yang sedikit banyak menyayat hati. But, in syaa Allah we can solve it clearly. Aamiin.
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. Jangan menyerah. Menyerah berarti menunda masa senang. Quotes dari Imam Syafi’I ini menjadi quotes favoritku hingga saatini. Untuk mendapatkan kebahagiaan perlu adanya perjuangan. Baik perjuangan diri sendiri atau mungkin jika mendapat hadiah tanpa usaha apa-apa dari kita dari orang lain, ada usaha dari orang lain untuk memberikan itu.
Weekend pecan selanjutnya adalah HUT FKM, sedikit menyedihkan memang saat itu aku sendiri saja di kos, banyak teman-teman yang pulang tinggal beberapa butir saja yang di kos. Sempat mampir ke fakultas namun kurang terasa euforianya. Entahlah..
Pekan selanjutnya Alhamdulillah diberi kesempatan untuk mengikuti final LKTI yang diadakan oleh FKM Unair sendiri. Walau gagal, seiyanya dapat teman baru yang berlatar belakang macam-macam. Lomba terakhir yang ingin kuikuti adalah Steroid di FKG Universitas Airlangga. Terakhir di tahun ini, namun bukan yang terakhir bagiku untuk terus berkarya. Masih ada skripsi, jurnal atau konferens dan event lain yang ingin kuikuti tahun depan. Saat ini berusaha focus ke skripsi serta UAS di akhir desember nanti.
Tetap semangat, tetap berkarya serta berusaha berbagi ilmu dengan yang lain adalah semangat yang ingin selalu ada dalam diri ini. Untuk mendapatkan semangat yang maksimal, memerlukan lingkungan yang positif, oleh karenanya saat ini rajin banget kepo biografi orang-orang yang kece. Agar suatu saat nanti bisa tertular ilmu mereka. aamiin.
Ditulis oleh insan yang berkekurangan dan terus belajar. Semoga dapat bermanfaat.