Jurnal di Penghujung 2020
Terinspirasi dari personal blognya Dara , yang bercerita tentang hal-hal apa saja yang udah berhasil dirinya lalui dan lakukan di tahun 2020. Katanya sebagai pengingat bagaimana hebatnya diri ini bisa melalui tahun 2020 yang benar-benar luar biasa ini. saya jadi termotivasi untuk ikutan juga bikin list seperti itu.
Di beberapa blog yang saya ikuti, memang banyak dari mereka yang menyarankan untuk keep journaling di masa yang sulit ini. Tujuannya untuk membuat kita tetap waras dalam bertahan hidup, other than that, sebagai bukti sejarah bagaimana kita dapat melaluinya.
Saya rasa kita semua sepakat, kalau tahun 2020 adalah tahun yang kejam. Awal tahun dihadiahi musibah banjir, dilanjutkan gempa yang bersahut-sahutan di beberapa daerah, Nafas sebentar, kedatangan pandemi covid 19 yang belum kunjung berakhir sampai hari ini.
So ya, inilah recap kehidupan saya di tahun 2020 :
1. Mendekatkan yang jauh. Thanks to technology! Gak kebayang sih kalau pandemi ini kejadiannya sewaktu saya masih SD atau SMP. Dulu mana bisa belajar online / wfh , internet aja engga ngerti itu barang apa. Di masa pandemi ini gak nyangka, ketemuan sama temen-temen lama jadi much easier. Bermodalkan ajakan “ngobrol di zoom yuk”, jadi deh ajang reuni versi super low cost tapi tetep dapet intimate dan silaturahminya.
2. Stay at home terlama dalam pengalaman merantau. Sampai hari ini genap sudah delapan bulan saya di rumah, bukan di kota perantauan. Delapan bulan jadi golden time buat saya, zaman kuliah dulu paling lama 3 minggu di rumah itupun liburan semester. Kejadian langka ini adalah hal yang paling saya syukuri di tengah-tengah pandemi seperti ini. Bisa kumpul bareng keluarga, weekend gateway bareng, quality time yang gak bisa saya dapat di ibu kota.
3. Time Traveler. Delapan bulan di rumah juga bikin saya flashback ke masa-masa ABG (?) . Seperti misalnya reunian dengan meja belajar, saksi bisu saya belajar mati-matian demi dapet piala ‘bintang kelas’ di SD dulu, yang artinya saya bisa dapet 1 boneka barbie baru. Kalau dipikir-pikir lagi, harusnya dulu saya mintanya duit aja ya buat ditabung haha. Meja belajar ini juga sahabat karib saya yang tahu gimana bahagianya saya diterima di sekolah favorit, galaunya saya sama si crush, sampai sedihnya saya ketika gak keterima masuk ITB. Gak nyangka ternyata meja sakral ini juga menyaksikan bagaimana stressnya saya menjadi corporate slave yang pernah nangis cuma gara-gara zoom meeting. Dasar labil, gitu kali ya dia mikirnya.
4. Healthier than ever. Masih agak gak percaya saya yang mageran ini bisa 3x seminggu ngikutin gerakannya mbak cloe thing sampai ketagihan gitu. Mungkin pelarian dari pound fit yang harus rehat sejenak sampai korona ini kelar kali ya. But ya, it’s good to finally finding my ‘comfort workout’ meskipun di awal-awal badan pegel dan biru-biru semua.
5. Kerja atau dikerjain ? hahahahahahahhahaha… Mama Papa sekarang akhirnya ngerti kenapa saya sering pulang malem di Jakarta, beneran bukan kongkow atau main-main, tapi karena kerjaaa. Kocak kalau inget respons mereka di awal-awal WFH, “Mbak masih kerja ??” tanya mereka takjub ketika melihat laptop saya masih nyala jam 8 malem atau “mbak puasa?” ketika jam 12 siang masih online meeting sampe jam 2. Harus saya akui wfh ini bener-bener bikin burnout dan lupa waktu buat istirahat. Ayo sini siapa yang masih bilang saya gila kerja ??!! *emosi*
6. Data Science Class on weekend. Masih relate dengan kerjaan, saya masih inget pada suatu webex meeting saya merasa “kok saya bego banget ya” karena gak ngerti per-data-an ini sama sekali padahal lulusan IT, eh IS ding. Seperti biasa google is always listening, always understanding jalan pikiran saya, di lemparkanlah advertising data science class ketika saya lagi scroll timeline Instagram. And ya welcome, sabtu minggu pagi ku kembali diisi dengan deretan coding yang bikin throwback zaman kuliah dulu. Suprisingly, I enjoy it. Apa mungkin ini juga pertanda kalau saya harus lanjut study ?
7. Semakin lama di rumah saya sadar bahwa selama ini saya terlalu banyak menghabiskan waktu dan tenaga untuk mencari arti “bahagia” atau “pengakuan” . Saya belajar arti kata “cukup”. Should I move here ?
8. Tiktok dan Twitter adalah ruang kelas baru bagi saya. LOL. Semasa pandemi ini juga rasanya lebih banyak investasi untuk leher ke atas. Mulai dari technical things, financial planner, kelas-kelas self improvement sampai kelas bahasa saya ikuti. lelah ? iya pasti, namun ternyata semenyenangkan itu belajar hal-hal di luar ilmu terapan. Will keep it counting next year.
9. Ini juga penting, semakin dewasa nya saya, saya bener-bener sadar kalau fall in love with people you can not have itu bener-bener wasting time yaaaa. Saya belajar untuk live the real world bukan di bayang-bayang negri dongeng versi pikiran saya. So ya semoga disegerakan apa yang menjadi semoga ya.
10. Drafting a Life Plan. Kalau diingat-ingat terakhir kali saya menuliskan daftar rencana short time & long time saya itu, 4 / 5 tahun yang lalu. Tahun-tahun selanjutnya saya memutuskan untuk go with the flow, yang lama-lama ternyata malah bikin kehidupan saya gak jelas arahnya. Seorang teman karib pada suatu hari berbagi cerita bahwa kehidupan itu seperti berlayar , mau tanpa atau menggunakan peta itu pilihan, namun memiliki nahkoda kapal itu kewajiban, se-simple agar kapal tidak karam atau tenggelam. Dan jadilah draft life plan saya, yang ketika membuatnya seperti meluruskan benang-benang pikiran yang kusut di kepala saya.
11. Tidak ada yang terlalu cepat pun terlalu lambat, semuanya tepat waktu. Saya (mungkin) akan bikin satu tulisan terpisah tentang ini. Pelajaran yang saya dapet dari temen-temen terdekat. Tentang kisah percintaan mereka, karir, mimpi, dan hal-hal lainnya yang dulu pernah kita galauin bareng. Ya everything takes time.
Terlepas dari poin-poin di atas , satu hal yang paling saya syukuri di tahun ini adalah, saya bisa ‘survive’. Meskipun belum sepenuhnya ikhlas dan berdamai dengan diri sendiri, saya mencoba survive dengan belajar memaafkan diri sendiri. Menggantungkan segala harapan kepada sang pencipta, tempat sebaik-baiknya menaruh harap.
Jadi, apa yang paling kamu syukuri di tahun 2020 ini ?