Birthday well spent. I'm happy today too. Thank you, I'm grateful for everything
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Monterey Bay Aquarium
RMH

roma★
No title available
hello vonnie
Phantogram Three

bliss lane
I'd rather be in outer space 🛸

Game Changer & Make Some Noise

izzy's playlists!
Cosmic Funnies
taylor price

gracie abrams
No title available
almost home
tumblr dot com
Fai_Ryy
cherry valley forever
todays bird
seen from United States

seen from Italy

seen from Spain

seen from United States

seen from Germany
seen from Malaysia

seen from Brazil

seen from Netherlands
seen from United States
seen from United States
seen from Saudi Arabia
seen from Trinidad & Tobago
seen from Malaysia

seen from France
seen from United States
seen from Venezuela
seen from Uzbekistan
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Libya
@lipurlara
Birthday well spent. I'm happy today too. Thank you, I'm grateful for everything
Maaf aku tak bisa membalas semua kebaikan, pengorbanan, kesetiaan, kemurahan hati, pertemanan, dan kebahagiaan yang selama ini kau beri.
Aku berdoa pada Tuhan semoga dilancarkan dan dimudahkan urusan mereka.
Aku berdoa pada Tuhan agar dijauhkan mereka dari mara bahaya.
Aku berdoa pada Tuhan agar dilancarkan rezeki mereka. Rezeki berupa hal yang mencakup materi dan nonmateri, berupa keluarga yang bahagia, berupa anak dan cucu yang sehat, berupa teman serta keluarga yang selalu ada dan siap mendukung mereka, berupa kesehatan, berupa kebahagiaan, berupa perasaan berkecukupan.
Aku berdoa pada Tuhan, jika memang aku tak bisa membalas jasa mereka, tolong balaslah semua kebaikan yang telah mereka berikan.
Untukku di Masa Depan
Semoga kesendirian tak lagi menjadi kawanmu setiap malam.
Semoga kau temukan alasan untuk bertahan.
Semoga apa yang kau perjuangkan dan Tuhan kehendakkan sejalan.
Semoga kau temukan kebahagiaan pada hal kecil yang kerap kau abaikan. Pada matahari terbit dan terbenam. Bulan, bintang, dan nyanyian malam. Sepiring nasi goreng dan telur dadar, serta semangkok indomie goreng dan telur setengah matang. Ingatlah bahwa bahagia itu kamu yang ciptakan.
Semoga tangis yang keluar dari matamu tak lagi tentang kesedihan, ketertinggalan, dan kesendirian.
Semoga kau tak perlu merasakan lagi sakitnya dilupakan dan ditinggalkan.
Semoga kau temukan teman yang ikut bersorak saat kau temukan kebahagiaan.
Semoga kau dapat melupakan dan memaafkan luka yang pernah mampir dan terlalu lama tinggal.
Semoga bahumu senantiasa tegar menerima semua cobaan.
Semoga khayalmu kini tak sekadar khayal di masa depan.
Semoga kamu bahagia dan tak ada lagi sesal.
Semoga kau dapatkan jawaban dari tanya yang kerap kau utarakan.
Semoga kau berhenti berandai-andai dan hidup bahagia dengan pilihan yang kau buat sekarang.
Dan jika semua ini terus bertahan, dan tak kunjung ada perubahan, aku tahu bahumu masih sekuat baja, hatimu akan senantiasa tegar, dan sabarmu seluas lautan.
Aku tetap sayang kamu, terima kasih sudah bertahan.
Pasuruan, 22 September 2020
First Pet
This is a day two of 30 days writing challenge. The topic is what makes me happy. I could go on writing and never stop, because there’s so many things that make me happy. But for now, I’ll just tell you about my pet.
Dari dulu aku suka kucing, namun masih belum terlalu berani untuk memegang dan menggendongnya, cukup sekedar mengelus-elus kepala dan badannya saja. Namun meskipun suka kucing, aku ga pernah diberi ijin untuk memeliharanya, ibuku tidak suka kucing, dan adikku takut kucing. Waktu tinggal di Bekasi pun tidak bisa memelihara kucing, karena sepupuku takut dan tidak suka. Jadilah aku bersabar dan pasrah, kesempatan itu tak kunjung datang. Nanti saja kalau punya rumah sendiri, pikirku waktu itu.
Akhirnya tiba saatnya pindah kota, ke tempat kerjaku sekarang. Rumah bulek yang awalnya kutinggali, memelihara kucing. I was beyond happy, this is my first time to actually live with a cat, and it’s not even mine. Nama kucingnya Grey, warnanya putih butek agak keabu-abuan, kucing betina yang sering sekali beranak.
In the middle of the night, she will come to my room and knead my tummy, asking for food. I’m so happy because she trust and recognize me, it’s so worth it that I don’t mind being tired in the morning, because the lack of sleep that I got.
Namun akhirnya aku harus pindah dan ngekos sendiri. This is actually my chance to get a real pet, tapi keadaan kosanku tidak memungkinkan untuk pelihara kucing, so sad.
Sampai akhirnya...
To be continued
Psr, 15 Sep 2020
Sambil menunggu detik-detik uang makan cair
My Personality
I wish I could skip this topic and write another one instead. Not because I don't like it, but I don't really know what to write. Oh, this is a 30 days writing challenges by the way. And this is a day one topic. Let's get started.
Terkadang kita perlu melihat diri kita dari kaca mata orang ketiga, untuk benar-benar menilai diri sendiri tanpa menghakimi. Karena terkadang seringkali aku terlalu keras menilai diri sendiri. Aku pernah bertemu sahabatku waktu SMA, dan mendengar ceritanya tentangku membuatku menyadari hal ini untuk pertama kalinya. Other people doesn't see our flaws like we see it. Kita terlalu berlebihan menilai kekurang diri. Wait, is this still about personality, or am I going too far?
Yak walaupun pembukaan di atas agak ga nyambung dan cenderung maksa, kita langsung ke intinya saja. Aku termasuk orang yang cukup pesimis yang selalu merasa sebagai realis. Cukup melankolis namun tidak menyukai hal-hal romantis. Suka nangis karena hal kecil, tapi giliran hal yang cukup besar dan mengharuskan untuk nangis malah ga bisa nangis. Tidak suka tantangan tapi cukup kompetitif, ga mau kalah dan ga mau mengalah. Tidak menyukai ketidakpastian tapi tetap memeluknya dengan tangan terbuka di setiap kesempatan. Tidak suka keramaian tapi takut kesepian. Tidak suka penolakan dan seringkali takut menghadapi kenyataan. An overthinker and a day dreamer. A slytherin and a hufflepuff combine if that even possible.
Wow, I'm such a walking paradox.
Psr, 14 Sep 2020
Di tengah pandemi covid-19 dan PSBB jilid 2 di Jkt
(Tidak) Terbiasa Berpisah
Tak peduli berapa sering perpisahan terjadi, aku tidak pernah terbiasa olehnya. Perasaan sedih, rindu, dan enggan pergi selalu menghampiri. I’ve been away from home since high school, dan tak terhitung berapa banyaknya perpisahan yang sudah kujalani hingga saat ini. Apakah aku sudah terbiasa? Tentu saja tidak.
Jauh dari rumah membuatku kadang merasa terasing, tempat yang dari dulu kau kenal baik serta merta berubah setelah kau sudah tak disana lagi. Ada banyak peristiwa penting selama kau pergi, dan hal tersebut membuatmu seolah-olah tak mengenal tempat itu lagi. Hal itulah yang selalu kurasakan setiap pulang, ada hal-hal yang memang sejak dulu tidak berubah, namun ada juga hal yang sama sekali baru sehingga terlihat asing bagimu. Adikmu yang dulunya masih kecil dan bergantung padamu kini sudah bisa masak mie sendiri, dan kaupun sadar, hidup tetap berjalan selama kau pergi. Hal itulah yang kadang membuatku ingin tinggal, dan tak pernah pergi lagi. Karena bagaimanapun, waktu berjalan, keluargamu menua, adikmu terus tumbuh dan menjadi dewasa.
Dan akupun takut, takut jika mereka mulai terbiasa dengan ketidakhadiranku, dan takut jika aku mulai terbiasa dengan ketiadaan mereka. Selama 11 bulan aku jauh dari rumah, dan 1 bulan penuh dihabiskan di rumah, bagaimanapun juga waktu terasa tidak cukup, tidak pernah cukup. Aku takut, karena sebentar lagi, mungkin waktu sebelas bulan itu akan semakin melebar, menjadi 15 bulan, 20 bulan, dan seterusnya.
Tentang keahlianku nomor satu
Aku selalu lihai dalam menghindar dari situasi yang tidak aku sukai, atau bahkan situasi yang belum sanggup aku hadapi. Tidak hanya dalam kehidupan sehari-hari, aku juga selalu menghindari masalah dalam cerita yang kubaca. Mari kuceritakan lebih lanjut.
Entah bagaimana, aku selalu secara tidak sengaja membaca sebuah spoiler dari sebuah novel atau serial yang sedang kubaca. Ketika sedang membaca komentar di instagram, atau ketika membaca sebuah thread di twitter. Spoiler pertama yang kubaca adalah tentang trilogy novel Divergent, sebelum menyelesaikan serinya, aku tahu bahwa Tris akan mati, dan sebagai orang yang suka menghindari konflik, aku berhenti membaca serial itu, sampai sekarang. Spoiler kedua adalah serial novel The Maze Runner. Aku jarang sekali membuka twitter, apalagi membaca thread di dalamnya. Biasanya aku hanya scroll timeline tanpa benar-benar membacanya, dan entah kenapa pada saat itu secara tidak sengaja jariku membuka sebuah thread, dan aku juga tidak membacanya secara seksama, hanya screening isinya dengan cepat. Tapi entah kenapa, terbacalah juga spoiler itu, yang mengatakan bahwa salah satu tokohnya (tokoh yang aku sukai) akan mati, informasinya tidak lengkap, jadi aku tidak tahu di buku keberapa dia akan mati. Dan sepanjang aku baca novelnya, aku akan selalu berhenti setiap ada konflik, karena takut itulah saatnya karakter yang kusukai mati. Biasanya aku menghabiskan sebuah novel dalam sehari, namun untuk buku tersebut, aku menghabiskan berhari-hari, hampir dua minggu kalau tidak salah. Dan itu semua bukan tanpa godaan untuk berhenti seperti pada serial pertama, aku terus bertahan atas dorongan sepupuku yang telah membacanya terlebih dahulu.
Namun, pada akhirnya aku dihadapkan pada situasi dimana aku tidak mempunyai persiapan sama sekali. Pada saat SMP, aku membaca sebuah novel yang menurutku sangat brilian, novel tersebut berbeda dengan novel-novel lainnya, dan aku terpesona pada tutur kata penulisnya, sehingga sejak saat itu, setiap kesempatan pada saat ditanyakan penulis favorit, aku selalu menuliskan namanya. Pindah ke bangku SMA ada satu guru yang kukagumi, beliau adalah wali kelasku yang baru saja mundur dari jabatan kepala sekolah. Bisa ditebak, beliau mengajar mata pelajaran favoritku, Bahasa Indonesia. Pada saat membahas tentang novel, beliau menyebut nama pengarang favoritku dan buku karangannya, bertanya pada seisi kelas apakah ada yang sudah pernah membaca novel tersebut. Akulah satu-satunya orang yang mengacungkan tangan pada saat itu, tak terbayang betapa bangganya aku. Bayangkan, guru favoritmu juga menyukai pengarang favoritmu, aku merasa kami mempunyai ikatan mulai saat itu.
Tinggal di asrama dengan sambungan internet terbatas membuatku tidak begitu mengetahui dunia luar, satu-satunya kesempatan hanya pada saat pulang ke rumah. Dan betapa bahagianya ketika mengetahui bahwa serial terbaru dari novel favoritku sudah terbit, dan dengan meminjam pada teman tanteku, akhirnya aku berhasil baca buku yang ketiga. Ya, loncat memang, aku tidak menemukan pinjaman seri keduanya.
Kuliah di Ibukota membuat aksesku terhadap informasi semakin dekat, dengan berbekal uang beasiswa dan uang bulanan dari orang tua, aku menabung pundi-pundi untuk melengkapi semua buku karangan pengarang favoritku itu. Tidak selalu mudah memang, keiritan mahasiswa dan ketidaktahuanku mengantarkanku pada buku bajakan. Alih-alih membeli buku kedua, aku memilih untuk membeli dan membaca ulang buku pertama, untung hanya satu, tak terbayang ruginya kantong mahasiswaku jika membeli tiga-tiganya, bajakan pula. Namun dulu aku cukup puas dengan hal itu, aku membaca ulang buku yang terakhir kali kubaca pada saat SMP itu, dan betapa aku sangsi pada diriku dulu “Emang dulu kamu paham sama isi buku ini?” dan jawabannya adalah tidak selalu, aku paham garis besarnya, but not too deep.
Setelah menyadari bahwa buku yang kubeli adalah bajakan, aku mulai mengumpulkan uang lagi dan mulai serius mencari tahu tentang serial tersebut. Pada saat itu buku keempat sudah keluar, dan harganya cukup mahal untuk ukuran kantong mahasiswa, sehingga lagi-lagi aku terlambat berbulan-bulan untuk membacanya. Tak tanggung-tanggung, pada saat uang sudah terkumpul, aku langsung ke Gramedia, dan membeli disana. Tak terbayang betapa puasnya aku pada saat itu, dan novel keempat ini merupakan salah satu favoritku, selain novel ketiga.
Pada saat membaca novel, aku tidak pernah lupa membaca ucapan terima kasih, pengantar dari penulis, glosarium, dan daftar pustaka. Dan dari pengantar dari penulislah aku tahu bahwa serial ini berjumlah enam, masing-masing buku akan menceritakan orang yang berbeda dari perspektif mereka masing-masing, jadi pada setiap novel, aku seperti membaca dan terjun pada karakter yang berbeda, padahal ditulis oleh penulis yang sama. Sejak awal ada satu nama yang mencuri perhatianku, dan walaupun buku tentangnya belum keluar, aku sudah memutuskan bahwa dialah karakter atau tokoh favoritku dalam serial ini. Jadi bisa dibayangkan betapa tidak sabarnya aku menunggu buku kelima keluar, buku yang bercerita semua tentangnya. Aku sampai mengikuti pre-order dengan tanda tangan asli penulis pada saat itu, betapa niatnya untuk seseorang yang pernah beli buku bajakan. Tidak lama setelah itu, ada sebuah event book signing oleh penulis favoritku itu, sekaligus peluncuran bukunya yang kelima. Aku pun hadir membawa bukuku yang belum ditandatangani, buku keempat (jangan kalian tanya tentang buku pertama itu ya, karena sangat tidak layak untuk membawa buku bajakan ke acara book signing, selain bukumu tidak akan ditandatangani, kamu juga akan malu sekali). Sungguh niat sekali aku waktu itu, pergi sendirian ke acara book signing dengan membawa satu buku untuk ditandangani di tas. Kalian pasti menyangka bahwa ada suatu hal penting yang akan sampaikan pada penulis, atau setidaknya ungkapan rasa kagum. Namun kalian harus menelan kekecewaan, karena seperti fans bertemu idolanya, saya Cuma mampu menjawab nama dengan pelan ketika ditanya, dan tidak berkata apa-apa lagi, sampai penulisnya sendiri heran dan melihat saya dengan tatapan “and now what?” yang hanya dibalas oleh senyum kikuk. Dan berakhir sudah, pertemuan semenit itu ditutup dengan foto kaku dengan senyum gugup.
Oh ya, sampai dimana kita? Jadi sebenarnya aku tidak akan bercerita panjang lebar, ini semua tentang keahlianku dalam menghindari masalah, entahlah kenapa jadi sepanjang ini. Mari kita sambung lagi.
Terbitnya buku kelima merupakan kebahagiaan tersendiri buatku, disinilah tokoh favoritku lahir, buku ini bercerita semua tentangnya. Jika pada awalnya aku hanya tertarik, maka setelah mengenali karakternya bisa dikatakan aku telah jatuh cinta, I love his character so much, I like his arrogance and intelligent self, I like how naïve he is sometimes, I like how brave and cocky he is, I like everything written about him. Dan entah dari segi apa, I can relate to him, mungkin karena sama-sama merantau ke ibu kota, mungkin karena sama-sama berani menghadapi ketidakpastian, aku tidak tahu pasti. Jadi setelah membaca buku kelima dan sembari menunggu buku keenam lahir, aku mulai mencari-cari diskonan buku pertama hingga ketiga di instagram, dan akhirnya setelah penantian panjang, dan menabung yang tak berkesudahan, lengkap sudah serial ini ditangan, tinggal menunggu kelahiran buku keenam, buku dimana semua tokoh akan bekumpul, dan buku penutup untuk serial ini. Sebelum buku keenam terbit aku bahkan sudah mengoleksi semua karya dari penulis favoritku itu, sebagian bekas, tapi tidak ada lagi buku bajakan.
Buku keenam lahir pada Februari 2016, dan seperti buku sebelumnya, aku juga ikut pre-order edisi khusus tanda tangan. Namun setelah mengikuti satu serial cukup lama, aku juga tidak siap berkata selamat tinggal. Jadi alih-alih langsung membacanya, aku menyiapkan hatiku terlebih dahulu, salah satunya adalah dengan membaca ulang semua serialnya, mulai dari buku pertama. Tahun 2016 adalah tahun gencarnya serangan social media, dan untungnya tidak ada satupun spoiler yang tanpa sengaja kubaca, jadi aku bisa membaca buku keenam tanpa dibayangi ketakutan-ketakutan apapun.
Tidak ada yang lebih membahagiakan daripada pertemuan tokoh-tokoh yang awalnya tercerai berai hingga menjadi satu, dan interaksi antarmereka sangat unik sehingga seringkali membuatku tertawa terpingkal-pingkal. Bisa kuanggap bahwa di buku keenam ini, semua perasaan dikeluarkan, ada beberapa bagian yang menguras emosi, ada bagian yang membuat tertawa, ada bagian yang membuat tegang, dan ada bagian yang membuat tersipu-sipu, komplit jadi satu. Dan pada akhirnya, disinilah saat aku tidak bisa menghindar sama sekali. Karena tidak menyangka akan adanya kematian seseorang, aku membacanya dengan tenang dan tanpa ketakutan apapun, jadi ketika karakter favoritku mati, aku hanya tercenung lama sambil berteriak tidak di dalam hati, antara tidak percaya dan tidak terima. Tapi aku tidak menangis, sampai bukunya selesaipun aku tidak meneteskan air mata. Pertama karena dalam serial ini, mati itu hanya ragamu saja yang mati, tidak dengan jiwamu, tidak dengan kamu yang sebenarnya, jadi aku bisa lega sedikit. Kedua karena memang seharusnya begitu, aku lebih senang melihatnya mati dan berkorban demi teman-temannya, daripada melihatnya menjadi tokoh antagonis. Jadi tak usahlah ditangisi, ini adalah upayaku menghibur diri sendiri, hahaha.
Jadi intinya, kadang kita lihai menghindari sesuatu, namun ada saatnya sesuatu menghantam kita tanpa persiapan untuk menghindar, yang perlu kita lakukan adalah memahami, mungkin tidak hari ini, tapi suatu saat kita pasti paham dan mengerti kenapa ini semua terjadi. Maaf telah menjebak kalian dalam cerita panjang dengan ending yang cliché dan terlalu dipaksakan ini. Salam.
P.S sebenarnya tujuanku menulis ini adalah untuk melatih jari-jari dan otakku yang sudah terlalu lama vakum untuk merangkai kata.
100 Halaman Pertama
Aku punya rumus pada saat membaca buku, jika tidak menyukai awal ceritanya, aku akan bertahan hingga setidaknya 100 halaman, jika selama 100 halaman aku masih belum menyukai cerita tersebut, aku akan meletakkannya dan tidak akan membaca buku itu lagi. Hal ini juga tergantung ketebalan buku, jika bukunya tipis, aku hanya mengambil setengahnya saja, yakni 50 halaman.
Rumus ini terbukti ampuh, telah banyak buku yang berhasil kuselesaikan dan pada akhirnya kusukai walaupun pembukaannya terkesan panjang, bertele-tele dan membosankan. Namun ada sedikit sekali atau bahkan tidak ada buku yang kuletakkan karena 100 halaman pertamanya tidak menarik. Ada buku yang sudah menyihir kita dari awal, ada buku yang menjerat kita diam-diam tanpa disadari kita sudah berada di halaman dua ratus sekian dan tak ingin berhenti, ada pula buku yang susah diajak kenalan namun menyenangkan pada akhirnya. Karena itulah aku selalu melewati proses perkenalan itu terlebih dahulu, tak kenal maka tak sayang kan? Namun ada juga buku yang menjadi pengecualian, ini contohnya.
Aku pernah meminjam novel dari temanku, penulisnya sudah terkenal di instagram, quote-qoutenya pun sudah dikutip di akun-akun remaja (aku tidak tega menyebutnya akun galau), jadi karena penasaran, akupun meminjam bukunya, yang ternyata adalah kumpulan cerita pendek. Waah lebih bagus lagi, pikirku saat itu, karena dibandingkan novel, cerita pendek tidak membutuhkan banyak waktu dan komitmen, aku bisa saja menyelesaikan satu cerita dalam lima sampai sepuluh menit, not bad.
Dalam membaca kumpulan cerpenpun aku mempunyai rumus, biasanya aku akan mulai dari cerita yang dijadikan judul buku tersebut, karena cerita yang dijadikan judul utama pastilah paling menarik di antara semuanya. Mulailah aku membaca, kebetulan cerita yang dijadikan judul tersebut merupakan cerita pertama, aneh dan tidak biasa menurutku. Dari yang sering kubaca, cerita yang menjadi judul terdapat di tengah-tengah buku, tidak di awal dan tidak di akhir, namun penerbit mungkin mempunyai pertimbangan lain kali ini.
Membaca cerita pertama membuatku mengangkat dan mengerutkan alis berkali-kali. Bahasa yang digunakan penulis terlalu dibuat-buat sehingga terkesan tidak alami. Apalagi cerita tersebut diceritakan dari sudut pandang laki-laki, kesan mellow dan terlalu maksa sangat kental aku rasakan pada saat membaca cerita tersebut. Ada banyak sekali quote bagus dalam tulisannya, karena memang sepanjang cerita kita disuguhi oleh kata-kata indah, akan tetapi esensi dari cerita menjadi dangkal dan tidak tergali. Penulis lebih memilih untuk memoles kata daripada memoles masalah, emosi, dan karakter di dalam ceritanya. Jadi cerita tersebut kosong, dan tidak menimbulkan kesan apa-apa setelah membacanya. Maybe that genre is just not for me, maybe you will like that kind of story.
Setelah membaca cerita pertama, aku tidak serta merta meletakkan buku tersebut. Aku masih memberi buku itu kesempatan, dan pindahlah aku pada cerita ketiga, judulnya menarik jadi alih-alih membaca cerita kedua aku langsung membaca yang ketiga. Cerita ketiga ini tidak jauh berbeda dengan cerita pertama, worse jika saya bilang. Topik yang diangkat sama dengan cerita-cerita di sinetron. Yakni tentang seorang laki-laki yang menyukai seorang perempuan yang ternyata saudaranya sendiri. Yup, just like that. Akan tetapi kita dibuat berputar-putar pada emosi si pria, penulis seolah memaksa kita untuk bersedih dengan kalimatnya yang malah terkesan “ayo nangis doong, nangis ga? duh nangis kek, sedih nih” yang malah membuat kita ga sedih sama sekali. Lucu memang bagaimana otak kita bekerja, dari kecil kita cenderung melakukan kebalikan dari apa yang disuruh, dan itulah yang terjadi pada saat aku membaca cerita ketiga ini.
Pada cerita ketiga inilah akhirnya aku menyerah dan melambaikan tangan ke kamera. Tapi aku bisa mengerti kenapa sebagian besar remaja menyukainya, kita cenderung suka digombali dengan rayuan manis dan romantis, jadi yaah, kalau kalian suka hal manis nan romantis tersebut, silahkan dibaca. It’s not my cup of tea.
Karena penasaran, aku meminta sepupuku untuk membacanya tanpa berkata apa-apa cukup dengan “aku punya kumcer baru nih, mau baca ga?” dan dia pun bersedia. Mungkin pada saat itu I was too harsh and expect too much, so I need a second opinion. Aku melihatnya selama membaca cerita pertama, dan ekspresinya persis sama denganku, mengernyitkan dahi, geleng-geleng kepala, dengan ekspresi geli yang kalau diterjemahkan kira-kira “gila gue baca apaan nih?” dan berbeda denganku, dia hanya bertahan pada cerita pertama itupun tidak selesai, tidak memberi kesempatan untuk menyelesaikan satu cerita. Kita saling berpandangan dan tertawa terbahak-bahak. “kamu beli buku ini?” tanyanya. Aku hanya tersenyum simpul dan menjelaskan bahwa itu buku pinjaman. Kita kemudian berdiskusi tentang cerita tersebut, dan pendapatnya sama denganku, mungkin cerita itu memang diperuntukkan untuk remaja, dan kami bukan remaja lagi. Aku masih ingin meminta adikku yang masih remaja untuk membacanya. Karena selama ini, tidak ada satu bukupun yang benar-benar tidak aku sukai. Jadi saat ada satu buku yang tidak aku sukai, aku bertanya-tanya, salahkah aku? Atau salah siapa ini sebenarnya?
Dari temanku aku tahu bahwa buku kumpulan cerita ini merupakan bukunya yang keenam, sebelumnya penulis sudah menerbitkan lima buku. Hal ini mematahkan teoriku lagi, kalau ini buku pertama aku bisa maklum, tapi buku keenam? I don’t know what to think anymore. Dan setelah ini masih banyak bukunya yang diterbitkan, hal ini pun memunculkan teori baru, betapa orang Indonesia masih suka dibuai dengan kata-kata indah dan romantis. And no, there’s nothing wrong with that, I often read poetry too, and I enjoy it. I also like to read sad even tragic romance story. Tapi mungkin semua bergantung pada mood si pembaca cerita dan keahlian bercerita si pencerita. Karena masih penasaran, setelah menulis ini aku akan membaca ulang buku tersebut dan berusaha untuk tidak memikirkan apa-apa, just wish me luck.
I hope my opinion is not too harsh, I don’t even mention a writer’s name, so if you can guess it, there is a chance that you think the same way as I am. Last but not least, semua kembali pada selera dan kesukaan masing-masing. Kita tidak lantas tidak suka kopi jika ada satu orang yang berkata tidak menyukainya. Kenali, rasakan, dan tentukan pilihan. Life is about a choice, isn’t it?
Ayo kuajak jalan-jalan Menikmati pasuruan waktu malam. Kamu jemput aku, dan kita pergi ke Gor Keliling pasar rakyat dan beli banyak jajanan
You know what? Never mind, he muted me on Instagram. We're not going anywhere.
Haha
I still don't know what I did wrong tho. Am I being too much? Am I annoy you that you don't wanna see me and you don't wanna hear from me? Am I being too loud sampe kamu jengah? Or do I post too often it annoys you? Please, I need answer.
Tentang Sepi
Aku pernah menuliskan sesuatu disini, cerita tentang aku yang merindukan sepi dan bosan dengan keramaian. Tulisan tersebut aku tulis ketika tinggal di Bekasi dulu. Dan sekarang, setelah kurang lebih empat tahun, aku berada di tempat yang berbanding terbalik dari sebelumnya.
Jika dulu aku tinggal di ruangan 4x4 bersama dengan dua orang lainnya, sekarang aku tinggal di bangunan berlantai tiga, sendirian. Jauh dari tetangga, jauh dari keramaian.
Semua keinginanku waktu itu tercapai, I can finally find a peaceful silence. Tapi yang tidak kutahu waktu itu adalah, ternyata terlalu sepi juga menyakitkan, because that's when you hear your own thoughts, the loudest and the worst one.
Harusnya aku lebih spesifik waktu itu.
Ayo kuajak jalan-jalan
Menikmati pasuruan waktu malam.
Kamu jemput aku, dan kita pergi ke Gor
Keliling pasar rakyat dan beli banyak jajanan
Dan kutanyakan tentang harimu, atau juga tentang kucingmu
Kautanyakan tentang kosanku yang sedikit horor itu
Selanjutnya kuceritakan tentang asal dan anganku,
Satu coklat panas di depanku dan juga secangkir kopi untukmu.
Lalu kau bercerita tentang tempat kerjamu, tentang bapak yang mengambil hak orang lain itu.
Kau tersenyum, aku tersenyum.
Dan kau mengantarku pulang.
Tak perlu menungguku menutup gerbang,
Cukup pastikan kau tak salah ambil jalan pulang, ke kiri ya, jangan belok kanan.
Kurasa besok aku tak perlu makan seharian, aku punya cukup banyak energi, bahkan untuk menerangi seluruh kota ini.
Paginya aku terbangun, dengan perut keroncongan.
Oh indah sekali mimpi semalam.
Ternyata aku masih perlu sarapan.
Pasuruan, 14 September 2019
The Idea of You
I still remember the shape of the moon the night we met. Seeing you for three second made my entire night, and even an entire week after that. Funny how hard universe keeping us apart. I've never seen you in a million days, and when I decided to finally let go. There you are, standing in a place I always imagining you to be, in a place that I always try to visit. Why now?
Maybe I've never fall for you, I just love the idea of you. You are real, but I made up everything about you. I don't know what your favorite movie is, I don't know what you like to do during your free time, I don't know what kind of book do you read.
Maybe, if someday I know the real you, I won't have this feeling anymore. Or maybe, it will be stronger than this.
I'll never know, and I don't want to find out.
I love the impossibility about us. I'm not ready for it to be real. Everything's already beautiful inside my head.
December 2nd 2018
I'm scared..
This is our life, our future is depends on us, depends on our choice, depends on our habit, depends on everything we do. We're responsible for our own future, isn't that scary? I'm scared, I didn't realize that we have such a huge responsibility to take care of. Our parents had provide us anything since we're born, they've paid for our school, our foods and meals, our transportation, and everything we need, they've done their jobs, and now it's our turn. Our turn to provide them anything, our turn to pay what they've given to us (we'll possibly take a lifetime, and it will never be enough), our turn to make them happy, our turn to gives them a fruit they've planted. Are we ready? Would we ever be ready?
Let's Talk About Songs
I don’t really understand music and song, how to clasify them, which one is good, and which one is bad. But, I enjoy listening to it, a lot. According to me, a good song is the song with a deep lyrics, the one that gives you chill, gives you the feels, or gives you goosebumps everytime you listen to it. There's a song that I listen to for this past week, and this song is fulfilled all of the criteria I mentioned earlier. I like this song so damn much, but I don't want anybody to start knowing this song. Because when everyone start knowing this song and listening to it, I feel like 'meh, this is not fun anymore'. When I listen to a good song with a deep lyrics, I want to post it on social media, but then I realize, when I post it down, everyone will know what am I listening to, and then it'll become mainstream, everyone will know it, and everyone will start singing it. So I don't care how good the song is, I will not post it anywhere. Because I'm selfish like that.
Story About Procrastination
There’s so many things I want to change from myself, and one of them is my procrastination monster. Doing an assignment is something important to me, so before I start doing it, I have to do some rituals that sometimes (well, most of the time) irrelevant to my task, because it’s important to me to finish all of my task before starting another one. For example, when I have to revise my skripsi a.k.a my collage final assignment, I’ll finish all of acitivity that I’d like to do, like eating, drinking, cleaning my room, posting photos on instagram, posting something on tumblr, and other irrelevant things, so when I start revising my skripsi, there’s nothing left on my mind but my dear skripsweet. That’s what I like to believe, and that’s what I told myself everytime, but in fact, even after doing all of that activity, when I’m face to face with my netbook, I’ll find another activity that I need to finish, like arranging my folder, renaming my file, and all of unimportant task. And when I’m finally ready, I’ll feel tired already, how could I not? It’s like my rituals is longer than my actual task. When I was in the middle school, I do that a lot. For example, I need to study for my final exam, and because I can’t concentrate in a messy room, so I’ll start to clean my room (sometimes, It need five hours to make it tidy and presentable), it’s so tiring, and I usually end up sleeping after that. So, I’ll postpone my study schedule untill God knows when. And trust me, it’s not come everyday, my “I want to study” mood. And when that mood kicked in again, I’ll come up with the rituals again, but it’s not always cleaning my messy room, sometimes I just need to scrub my legs, or I need to put on a peeling mask, other times I even need to watch a film (because I won’t able to concentrate bofore I watch that film). And just like that, after doing all of that activity, I still end up tired, or sleepy, or the mood is already gone. You know my struggle is real. And that my friends, is the story how I procrastinate. But now, after writing it, I know where I did wrong. I shouldn’t do all of that activity before finishing my task, but I need to make it a reward instead. I can clean my room after my task is done, I can take care of my skin after my task is done, I can watch films as many as possible after my task is done, I can complete levels on Blossom Blast after the task is done, I can read books as many as possible after my task is done. Well, I think I’ll try that after I watch Rudy Habibie on cinema (oops sorry, but I already bought the ticket before I write this).
Kupejamkan Malam
Di antara getar dan gigil,
ada sesuatu yang tiada rampung untuk dikisahkan;
Sunyi datang, rinduku bimbang
Biar kupejamkan malam dengan sebuah tanda,
Menyelipkan namamu kepada Sang Maha Cinta,
Agar pagi datang tergesa,
Agar aku tahu kabarmu selalu baik-baik saja,
Agar sajak-sajak cinta tak pernah gagal untuk kita baca.
Serang, 24 Juni 2016 Untukmu, yang telah datang atas nama sunyi
Gut Feeling
Sometimes, you need to trust your gut feeling, and listen what is it talking about. This afternoon, I lost my phone charger at the library I talked about earlier. I usually double check my seat before I go, and make sure there's nothing I left behind. But today, I don't even look back, I just get up from my seat, and go. My gut feeling told me to look at my 'former' desk before I walk away, because there's possibility that I left my charger behind. I didn't look back tho, and that was my greatest regret this day. I'm so sure about myself, I'm so sure that I've already put my charger inside my bag. Hmmm...silly me, and the problem is, that's not even my charger I'm talking about, that was my cousin's, I borrowed hers. This is not the first time my gut feeling is trying to tell me the truth, and as per usual, I don't trust it. Sorry, I'll make sure that I'll listen to you next time.