Sometimes you feel like you donāt belong to anyone else in this world. And in other time, you feel like itās enough to live with people. But it would make you miss the one more. The almighty.
Thank everything. Thank life.
KIROKAZE

if i look back, i am lost
The Bright Sessions
šŖ¼
Today's Document

shark vs the universe
hello vonnie

oozey mess

titsay
almost home

Love Begins

Origami Around
RMH
No title available

pixel skylines
ā
Cosimo Galluzzi
Aqua Utopiaļ½ęµ·ć®åŗć§čØę¶ćē“”ć
EXPECTATIONS

Product Placement
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye

seen from Belgium
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from India
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Peru
seen from United States
@lonelyashtray-blog
Sometimes you feel like you donāt belong to anyone else in this world. And in other time, you feel like itās enough to live with people. But it would make you miss the one more. The almighty.
Thank everything. Thank life.
Selamat Malam, Jakarta.
Selamat malam, Jakarta.
Perlu kau tahu bahwa sore ini telah menyapaku untuk berbincang dengan seorang perempuan yang tak bisa lagi kutemukan pendar di dalam matanya. Begitu nelangsa, membuat betah untuk berteduh walau hanya sementara. Seperti cerminan diri yang tengah duduk berhadap-hadapan, namun tak kutemui keberadaannya.
Oh,
Jakarta.
Kali ini kau telah berhasil memberi tarikan nafas teramat dalam ketika orang-orang lalu lalang menyibukkan diri untuk membunuh waktu. Dan realita pun enggan berkesesudahan berbau ironi.
Barangkali kebersamaan kami sedang ditendang semu; Serupa anjing berkudis yang tak hentinya dipanggil najis.
[embed]https://www.youtube.com/watch?v=BmxXHF9C3Yg[/embed]
āBerhakkah aku untuk mati?"
Dua cangkir kopi tanpa gula di antara kami berdua sudah terlalu dingin untuk diseruput kembali.
"Aku ingin hidup. Aku tidak merasa butuh dicintai. Apalagi merasa bahagia. Aku tak menginginkan apa-apa lagi kecuali hidup itu sendiri. Namun, berhakkah aku untuk hidup? Sebab mati saja tak menginginkanku.
Aku lelah.
Ingin pulang.
Dulu sempat menyambangi rumah, yang kutemukan hanya mata yang bernanah. Sebab terlalu banyak tangis di tiap-tiap malam yang selalu memberi kelam.
Aku lelah.
Suara-suara dalam kepala ini terus saja berulah.
Barangkali esok mereka tak akan kembali. Namun, siapa bisa mengira? Minggu depan, mereka diam bersama sepi. Bulan depan, terus memaki. Tahun depan, mereka mungkin memang kembali memberi celah yang berambisi, agar bunuh diri. Segala telah kucoba.
Semua candu yang berimbas merugikan, apalagi semua hal yang bersifat menenangkan. Tidak ada satupun jua yang meringankan punggungku untuk memikul beban.
Entah. Lagi-lagi entah.
Aku lelah.
Tak ada kata tuntas yang dapat mengenal batas.ā
Bersabarlah sebentar lagi. Kau tahu lenganku lapang untuk disandari. Sebab suara-suara itu masih juga sama menunggu mati.
"Lara, yang bisa kita lakukan hanya menunggu mereka berani," jawabku dalam hati.
Aku kira:
Beginilah nanti jadinya Kau kawin, beranak dan berbahagia Sedang aku mengembara serupa Ahasveros
Dikutuk-sumpahi Eros Aku merangkaki dinding buta Tak satu juga pintu terbuka
Jadi baik juga kita padami Unggunan api ini Karena kau tidak ākan apa-apa Aku terpanggang tinggal rangka
Chairil Anwar Februari 1943
Maka pergilah,
Bukan maksudku untuk memberi luka
Karena kutahu jiwamu telah koyak tak henti-hentinya berisi elegi yang membabi buta.
Sebab masih saja pikiran meraba-raba tentang apakah aku pernah menyakiti sebegitu dalamnya hingga kau kemudian mencampakkanku begitu saja.
Seperti yang pernah kutorehkan dalam perwujudan nyata: bahwa aku tak akan pergi ke mana-mana.
Ia masih di sini, terlepas dari janji yang tak pernah sekalipun ditanamnya.
Kupastikan esok ia akan pulih seperti sedia kala,
Walau harus menghapus serpihanmu dalam ingatannya.
Koloni Awan Gelap
Perempuanku,
Apa kabar?
Apakah masa lalu masih melukai hati dan pikiran dengan penderitaan?
Seperti dulu.
Selalu ada tangis yang kau sembunyikan disela-sela teriak yang kau binasakan.
Sekarang, bagaimana jika kita berimajinasi tentang hal yang indah-indah saja? Tentang masa kecilmu yang lebih berbahagia. Mungkin kau bisa kembali lagi menjadi Wau yang diam-diam mencuri biji pala milik Oma, lalu menjualnya ke kedai tetangga agar bisa mencicipi permen dan cemilan yang ingin kau nikmati. Atau menjadi tuan putri yang dipayungi oleh penjaga titipan Opa ketika berwisata ke Yogyakarta.
Lupakan ketika kau dilarang untuk bermain bersama anak-anak seumuran. Aku tak ingin kau bersedih.
Masihkah kau ingat ada Peter yang menjagamu? Coba kau pandangi langit dengan bintang-bintang di atas sana. Mungkin Pite tak henti-hentinya mengirimkan engkau doa, agar hatimu selalu tentram. Iya, sebesar itu Pite menyayangimu setulus hati. Aku bisa membayangkan ia menggendongmu lagi di atas punggungnya untuk mencari kunang-kunang saat kau begitu menginginkan mereka. Kali ini bersama. Bukankah itu bisa membuatmu tersenyum untuk yang kesekian kalinya?
Maafkan aku, Perempuanku.
Lengan ini tak lagi bisa memeluk seperti ketika kau akhirnya bisa menangisi hidup untuk membuat lega di bawah naungan kimia, yang menjadi tempat satu-satunya pelarianku dan telah kubagi bersamamu. Sebab kini, ia harus memeluk dirinya sendiri. Padahal kutahu kedua lengan itu masih juga ingin membawamu ke mana saja, dengan mobil milik Bapaknya, mengitari kota kecil tempat kita bertumbuh tanpa satupun yang tahu ke mana kita harus pergi.
Dan kedua mata iniā¦
Kedua mata ini telah usai masanya menjadi saksi diammu yang begitu ringkih. Sebab kini, ia harus mengerjakan tugasnya sendiri. Seperti masa sebelum kau ada. Seperti sedia kala. Ketika tiap-tiap buliran air yang jatuh melupakan kehadiran orang lain untuk menangkapnya.
Bicara tentang waktu, sungguh aku tak tahu apakah kedua telinga itu masih memiliki kesempatan untuk mendengarkan suara merdu merpati itu berbicara kembali. Begitu lucu ketika aku harus berhadapan dengan waktu. Lantaran semua akan hilang.
Perempuanku,
Langkahnya kian lunglai. Satu per satu malam saat ia harus pulang setelah membunuh waktu dengan semua keringat demi sesuap nasi, kamar itu memeluknya dengan tubuh gemetar dan bantal yang penuh dengan bercak asin untuk lebih baik dinikmati sendiri.
Bukan.
Bukan karena kehilanganmu kemudian ia bersedih. Sebab ku tahu kini kau bisa tertawa bersama alam dan orang-orang pedalaman di tengah rimba. Dan ia pun turut berbahagia.
Bukan juga benih dari Bapaknya yang tengah sakit-sakitan. Aku tahu ia sangat menghargai usaha Bapak untuk menunda kematian. Atau malah karena cerita itu sedikit memberi hawa dingin di dalam dada. Toh, akhirnya Bapak tak lagi harus terus tegak berdiri dengan banyak beban kehidupan di pundaknya. Bapak akan pulang. Aku tahu.
Ia bersedih untuk rasa lelah. Meski tahu bahwa suatu hari nanti akan bersinar.
Ia bersedih untuk berpasrah. Ketika terus diharuskan mencari alasan untuk bertahan di kemudian hari, saat semua mimpi telah tercapai.
Maafkan aku, Perempuanku.
Bolehkah ia menitipkan sandaran pada kenangan?
Walaupun kenangan itu penuh luka, membabat habis jiwa dan raga. Namun, ia merasa bersyukur penuh karenanya. Sebab dengan itu ia tahu rasanya dimiliki. Dan bibit benci yang kau dan aku tanam, tak akan mampu merenggut kasih sayang itu darinya. Sebab kenangan itu adalah sebuah bentuk kebahagiaan untuk ia yang kini tengah tersenyum menuliskan kata-kata yang tak jauh lebih baik dari orang-orang kebanyakan.
Tulisan ini membuat ia berdamai dengan dirinya sendiri.
Mengenangmu membuatnya merasa lebih hidup. Seperti ombak yang berkejaran berebut cahaya, aku telah mengerti makna pulang.
Meski hari ini secangkir kopi di atas lantai hanya bisa ia nikmati dengan sepotong senja yang letih tertatih memanggul kesunyian, esok ia simpan kau dengan koloni awan gelap di atas sana yang menggulung langit dengan peluk hujannya.
Begitu hangat. Seperti pelukmu yang menyelimuti dinginnya hari di tepi pantai pada masa itu.
Perempuanku,
Rindu ini akan kubawa mati.