Koloni Awan Gelap
Perempuanku,
Apa kabar?
Apakah masa lalu masih melukai hati dan pikiran dengan penderitaan?
Seperti dulu.
Selalu ada tangis yang kau sembunyikan disela-sela teriak yang kau binasakan.
Sekarang, bagaimana jika kita berimajinasi tentang hal yang indah-indah saja? Tentang masa kecilmu yang lebih berbahagia. Mungkin kau bisa kembali lagi menjadi Wau yang diam-diam mencuri biji pala milik Oma, lalu menjualnya ke kedai tetangga agar bisa mencicipi permen dan cemilan yang ingin kau nikmati. Atau menjadi tuan putri yang dipayungi oleh penjaga titipan Opa ketika berwisata ke Yogyakarta.
Lupakan ketika kau dilarang untuk bermain bersama anak-anak seumuran. Aku tak ingin kau bersedih.
Masihkah kau ingat ada Peter yang menjagamu? Coba kau pandangi langit dengan bintang-bintang di atas sana. Mungkin Pite tak henti-hentinya mengirimkan engkau doa, agar hatimu selalu tentram. Iya, sebesar itu Pite menyayangimu setulus hati. Aku bisa membayangkan ia menggendongmu lagi di atas punggungnya untuk mencari kunang-kunang saat kau begitu menginginkan mereka. Kali ini bersama. Bukankah itu bisa membuatmu tersenyum untuk yang kesekian kalinya?
Maafkan aku, Perempuanku.
Lengan ini tak lagi bisa memeluk seperti ketika kau akhirnya bisa menangisi hidup untuk membuat lega di bawah naungan kimia, yang menjadi tempat satu-satunya pelarianku dan telah kubagi bersamamu. Sebab kini, ia harus memeluk dirinya sendiri. Padahal kutahu kedua lengan itu masih juga ingin membawamu ke mana saja, dengan mobil milik Bapaknya, mengitari kota kecil tempat kita bertumbuh tanpa satupun yang tahu ke mana kita harus pergi.
Dan kedua mata ini…
Kedua mata ini telah usai masanya menjadi saksi diammu yang begitu ringkih. Sebab kini, ia harus mengerjakan tugasnya sendiri. Seperti masa sebelum kau ada. Seperti sedia kala. Ketika tiap-tiap buliran air yang jatuh melupakan kehadiran orang lain untuk menangkapnya.
Bicara tentang waktu, sungguh aku tak tahu apakah kedua telinga itu masih memiliki kesempatan untuk mendengarkan suara merdu merpati itu berbicara kembali. Begitu lucu ketika aku harus berhadapan dengan waktu. Lantaran semua akan hilang.
Perempuanku,
Langkahnya kian lunglai. Satu per satu malam saat ia harus pulang setelah membunuh waktu dengan semua keringat demi sesuap nasi, kamar itu memeluknya dengan tubuh gemetar dan bantal yang penuh dengan bercak asin untuk lebih baik dinikmati sendiri.
Bukan.
Bukan karena kehilanganmu kemudian ia bersedih. Sebab ku tahu kini kau bisa tertawa bersama alam dan orang-orang pedalaman di tengah rimba. Dan ia pun turut berbahagia.
Bukan juga benih dari Bapaknya yang tengah sakit-sakitan. Aku tahu ia sangat menghargai usaha Bapak untuk menunda kematian. Atau malah karena cerita itu sedikit memberi hawa dingin di dalam dada. Toh, akhirnya Bapak tak lagi harus terus tegak berdiri dengan banyak beban kehidupan di pundaknya. Bapak akan pulang. Aku tahu.
Ia bersedih untuk rasa lelah. Meski tahu bahwa suatu hari nanti akan bersinar.
Ia bersedih untuk berpasrah. Ketika terus diharuskan mencari alasan untuk bertahan di kemudian hari, saat semua mimpi telah tercapai.
Maafkan aku, Perempuanku.
Bolehkah ia menitipkan sandaran pada kenangan?
Walaupun kenangan itu penuh luka, membabat habis jiwa dan raga. Namun, ia merasa bersyukur penuh karenanya. Sebab dengan itu ia tahu rasanya dimiliki. Dan bibit benci yang kau dan aku tanam, tak akan mampu merenggut kasih sayang itu darinya. Sebab kenangan itu adalah sebuah bentuk kebahagiaan untuk ia yang kini tengah tersenyum menuliskan kata-kata yang tak jauh lebih baik dari orang-orang kebanyakan.
Tulisan ini membuat ia berdamai dengan dirinya sendiri.
Mengenangmu membuatnya merasa lebih hidup. Seperti ombak yang berkejaran berebut cahaya, aku telah mengerti makna pulang.
Meski hari ini secangkir kopi di atas lantai hanya bisa ia nikmati dengan sepotong senja yang letih tertatih memanggul kesunyian, esok ia simpan kau dengan koloni awan gelap di atas sana yang menggulung langit dengan peluk hujannya.
Begitu hangat. Seperti pelukmu yang menyelimuti dinginnya hari di tepi pantai pada masa itu.
Perempuanku,
Rindu ini akan kubawa mati.













