lalu selanjutnya harus ku ingat sebagai apa Tu(h)an ~
Lint Roller? I Barely Know Her
RMH
tumblr dot com
No title available
ojovivo
No title available
art blog(derogatory)
Fai_Ryy

Origami Around
★
Today's Document
KIROKAZE
occasionally subtle
taylor price
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Color Me Curious

Game Changer & Make Some Noise
No title available
One Nice Bug Per Day
No title available
seen from United States
seen from France
seen from United States
seen from Singapore

seen from China

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye
seen from Australia
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Brazil
seen from Kenya
seen from Iraq
seen from Senegal
seen from Canada

seen from France
@losamatesdelailovizna
lalu selanjutnya harus ku ingat sebagai apa Tu(h)an ~
Cinta Hujan
Seketika aku mencintai hujan lebih dari sebelumnya
kadang aku bertanya kecewa jika ia datang sendiri
"dimana angin? mengapa kau datang sendiri ?!"
sejak saat itu..
bahkan badai nya pun aku tunggu
Pernah aku bernyanyi riang saat ketiga nya datang
malam itu, sama sekali tak terasa dingin bagiku
ku amati sekitar..
semua menggigil, basah kuyup, sebagian berteduh
aku bergumam "untuk apa berteduh? tidak kah nikmat bernyanyi dan berdansa riang bersama hujan badai?"
kapan lagi bisa bertemu ketiganya pada saat yang tepat seperti malam itu..
kuyakini mantra yang kurapal akan lebih cepat sampai
Seketika aku mencintai hujan lebih dari sebelumnya
kau tahu
tanggal, bulan bahkan musim menciptakan dejavu yang membuat tubuh melayang
kabut tebal tak kunjung hilang
kunangkunang terbang dalam ingatan
ini sudah berapa malam?
ya..
kau benar, hanya ada sedih dan sepi..
some souls are too beautiful for this world, so they leave
9june, and still hurt
Tenang, ini (cuma) Rindu
Seseorang yang duduk berpangku tangan disebelahku tibatiba berujar, “yang jauh akan terasa lebih baik, sedangkan yang dekat sebaliknya”, aku memalingkan wajah padanya, hanya memandang, mengangguk sebentar, kuberikan senyum seadanya untuknya.
Tak lama ia berujar kembali, “biarkan waktu yang akan menjawab, kau hanya perlu duduk dan mengamati”, aku masih melakukan hal yang sama, memalingkan wajah ku padanya, hanya memandang, mengangguk sebentar, namun tak ada senyuman untuknya.
Kami saling diam, meski kami tahu isi dikepala ramai riuh lebih dari hiruk pikuk taman ria di akhir pekan.
Sesuatu yang telah lama tinggal dan diam dalam diriku memecah keheningan sambil berujar “Tenang, ini (cuma) Rindu”
Tidak adanya pesan, juga merupakan sebuah pesan
akhir datang sebentar lagi, aku bahkan lupa bagaimana awal menyapa, kemarin
me, tentang akhir yang begitu cepat menjemput
hujan pagi tadi, datang bersama mendung
kau tahu apa yang kusuka dari mendung? Dia abuabu
aku menghela saat rintiknya yang cukup pekat menyentuhku
kupikir "apakah kau ikut serta bersamanya?" atau ada sapa "hai, aku datang di kemarau mu"
aku menengadah, mengangkat tangan ku lebih tinggi, melebarkan telapak tangan untuk bisa lebih merasakan apa yang ingin kurasakan.
tapi ku tak dapat apa yang kunginkan
kau tak ikut serta bersamanya kau tak datang menyapa di kemarau ku
hujan pagi tadi, datang bersama mendung sebentar, lalu pergi lagi.
apa kau tak merindukanku?
tak?
Mantra yang kurapal menguap di udara. Sejak saat itu, sajak ku ikut abuabu.
Genap
Aku pernah kehilangan; sekali Kini sudah tergenapi
Entah bagaimana rupa hatiku kini Jauh dari kata rupawan Jauh dari kata menawan
Ada Lubang tak berdasar Ada Hilang tak bertepi
Dia menggenapi Luka juga Sepi
Lirih dalam mantra Ku ucap tanpa henti
Aku pernah kehilangan; sekali Kini sudah tergenapi
Aku pernah kehilangan sekali kini sudah tergenapi
segala sepi hadir kini
entah apa yang menyusup dalam dirimu kami rapal mantra kami siram air mata tak juga sirna entah apa yang menyusup dalam dirimu kami bilang lelah kami bilang pergilah tak juga berputus asa entah apa yang menyusup dalam dirimu kau bilang sudahlah
untuk kau, yang tak bisa memilih
(Untuk) Membencimu
aku tak paham bagaimana logika ini mengalir mengantar naluri ke hilir bersama semua polapikir yang kian lama kian fakir
untuk membencimu
aku pernah menangis mendesis, dan kini tersisa hati yang terkikis entah berapa malam(malam) lagi yang menanti ku tepis
untuk membencimu
aku tak paham bagaimana bisa tegak berdiri kedua nya pun sudah perih namun apa daya, teriak ini sungguh lirih
hallo, langit biru awan putih senyum merekah selebar sayap hangat dipelukan dan tawa riang yang sangat nyaring! kau akan kutemui lebih sering dari sebelumnya kita akan bersama lebih lama dan tak akan pernah ada coretan-coretan luka, amarah, air mata dan abu-abu lainnya. selamanya
Fa-biayyi alaa'i Rabbi kuma tukadzdzi ban
tak semua kehilangan diantar airmata ini hanya masalah apa yang kau rasa tak ada rasa; tak ada airmata
Tu(h)an Aku melihatnya pada malam itu Seketika ada rasa yang membuncah; entah apa
Ah sial, aku mengingatnya