Aku terbiasa terjebak di dunia kecil ku sendiri, dan melangkah ke dunia nyata mengingatkan ku bahwa; Aku bukanlah pusat alam semesta. Dunia ini besar dan aku tidak begitu penting.
It's a very pleasant feeling..
Sade Olutola
wallacepolsom
Not today Justin
will byers stan first human second

tannertan36

Andulka
No title available

Kiana Khansmith
No title available

izzy's playlists!

#extradirty
AnasAbdin
we're not kids anymore.
One Nice Bug Per Day

JBB: An Artblog!
Mike Driver
Three Goblin Art
noise dept.
No title available
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
seen from Italy

seen from Italy
seen from Türkiye
seen from Türkiye

seen from Germany

seen from Spain
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United Arab Emirates
seen from Italy

seen from United States

seen from Philippines

seen from United States

seen from United States
seen from Germany

seen from United States
@lunnaraslava
Aku terbiasa terjebak di dunia kecil ku sendiri, dan melangkah ke dunia nyata mengingatkan ku bahwa; Aku bukanlah pusat alam semesta. Dunia ini besar dan aku tidak begitu penting.
It's a very pleasant feeling..
Ser diferente para muchos es un logro, pero para mi ha sido una tortura. El hecho de nunca poder encajar en ningún lugar, siempre ser excluida y sentirme tan sola e incomprendida, fueron una y más razones para hundirme en la depresión. Por mucho tiempo me odié, incluso deseé nunca haber nacido, pero después de un largo proceso de dolor, autodescubrimiento, aceptación y algo de amor propio, he comenzado poco a poco a aceptarme, y quizá en un futuro hasta podré amarme.
En efecto, no puedo cambiar y ser lo que las personas quieren que sea. Nunca seré un ser sociable, popular, altamente comunicativo, que derrocha seguridad y el cuál se adapta a cualquier situación sin problema. Siempre seré todo lo opuesto: iré más lento que los demás, me seguiré cansando de las interacciones sociales, odiaré lo que a las personas por lo general les gusta, lidiaré con mis inseguridades, complejos, miedos e indecisión 24/7, y viviré feliz encerrada en mi pequeño mundo mágico que nadie puede entender, le guste a la gente o no.
Esta soy yo, sin máscaras ni falsas apariencias. Si alguien no le gusta, puede irse al carajo.
— Dani.
Butuh waktu untuk sampai pada kesimpulan bahwa aku tidak harus selalu "pas" di setiap ruang. Hidup melambat, memilih menutup diri dalam dunia kecil yang nyaman, atau mengambil keputusan yang tidak dipahami orang banyak, semuanya sah-sah saja bagiku.
Hidup ini milikku untuk dijalani. Cukup pastikan tidak ada yang terluka oleh pilihan itu, termasuk jiwaku sendiri.
Buku yang tepat, sebuah puisi, atau sekadar kata-kata yang pas bisa mengubah seseorang menjadi lebih baik. Asalkan, ia dibaca di waktu yang tepat.
Aku merasakannya sendiri. Membaca buku yang sama pada usia lima belas tahun dan dua puluh tahun ternyata memberikan dampak yang sepenuhnya berbeda.
Seiring berjalannya usia, aku seperti punya ruang yang lebih lapang. Ada pengalaman hidup dan luka-luka kecil yang akhirnya membantuku memahami makna tersirat di balik tulisan tersebut.
Lagipula, mencari jawaban di luar diri lewat lembaran buku tidak akan pernah cukup, jika dari dalam diriku sendiri belum ada kesiapan untuk menerima dan mencernanya.
Buku atau kata-kata itu hanyalah separuh bagian dari keajaiban. Separuh sisanya adalah kesiapan jiwaku saat menyambutnya.
What's the best way to spend time on the weekend?
Madrasah, German class, French class, and piano sesh.
be well.....
Semangat Lunnara..!
SE-MA-NG-AT,
Percayalah, suatu saat kita akan merindukan masa-masa sibuk kita. Saat ini, mungkin kita hanya melihat tumpukan tugas yang tak kunjung selesai. Stres jadi teman akrab, dan keluh kesah sering jadi sapaan pagi. Tapi, hal yang paling kita hindari sekarang, malah jadi yang paling kita cari di ingatan nanti.
Bukan karena kita suka lelahnya, tapi karena maknanya. Masa sibuk itu saat kita merasa benar-benar hidup. Buktinya, kita lagi ngejar sesuatu, berjuang, tumbuh, dan berkontribusi. Setiap kesibukan itu tanda progress, langkah nyata, bukan cuma diam aja.
Jadi, pas beban hari ini terasa berat, tarik napas aja. Lihat itu sebagai kesempatan, bukan beban. Nikmatin setiap detiknya, soalnya nanti bakal jadi cerita keren. Peluk kesibukan kita, karena ini fase yang buktikan kita hidup dengan sebenarnya, dan nanti kita bakal sangat merindukannya.
Tetiba kangen madrasah..
Dulu waktu kecil, jadwal harian rasanya penuh sekali, berpindah dari kelas musik, latihan bela diri, sampai belajar bahasa. Tapi anehnya, semua kepadatan itu rasanya seperti petualangan yang seru. Sekarang, meski hari-hariku tetap sibuk dan menyita waktu, entah kenapa atmosfernya terasa beda, linear, repetitif, dan monoton.
Kadang aku rindu sekali dengan masa kecil. Masa di mana setiap aktivitas terasa seperti penjelajahan baru, bukan cuma daftar kewajiban yang harus dicentang satu per satu. Kesibukan dewasa ternyata punya pola yang datar, dan sepertinya tantanganku sekarang adalah gimana cara tetap menikmati alurnya tanpa kehilangan rasa ingin tahu yang dulu pernah ada.
Ujung Tombak IGD
Menjadi dokter umum magang alias internship dan menjadi ujung tombak IGD rasanya naik turun. Selalu berpikir "Kira-kira diagnosis pasienku sudah benar nggak ya? Apakah benar sudah tepat sasaran mengarah ke satu diagnosis atau nggak ya?" Kalau akhirnya benar yaa alhamdulillah, ternyata arahnya sudah sesuai. Tapi saat melenceng dikit, mulai overthinking dan merenung, "oohh ternyata ituu diagnosisnya". Kadang menjadi ujung tombak penjaga IGD yang tidak pernah tutup ada hikmahnya. Jadwalnya tetap, gitu-gitu aja, tapi keadaan di saat jaga itulah yang mewarnainya.
Pokoknya terima kasih terbesar Aku sampaikan pada semua pasien-pasien yang kutemui di IGD RS tempatku magang. Terima kasih sebesar-besarnya karena kalianlah guru terbaik. Bagi kami seorang dokter, pasien adalah guru terbaik kami. Semoga kalau sudah sembuh nggak usah rajin-rajin ke IGD lah, jaga kesehatan aja biar sehat selalu.
Tetap jaga kesehatan yaa semuanya🥰
Seeing photos of people in the holy land today completely caught me off guard and made me miss it so much.
It’s honestly fascinating how our brain works; a single visual can instantly trigger an old memory like that. And that’s exactly where I am right now. This sudden wave of longing for the place, and for Baba, who is no longer here, just hit me out of nowhere. It brought back the memory of the three of us walking there together, a moment that now only exists in a quiet space within me.
Missing the Ka'bah and Baba.
Sekarang Dada pun sudah menyusul pergi.
Satu per satu yang kusayang berpulang, membuatku sadar kalau kehadiran fisik memang ada batasnya. Biar bagaimanapun, seluruh kebersamaan itu sekarang bertransformasi menjadi memori yang harus kujaga sendiri.
Ketika waktu mereka di dunia sudah selesai, tidak ada hal yang lebih masuk akal selain mengubah rindu menjadi doa. Semoga Baba, Dada, Bunda, Kakek, dan Nenek bisa berkumpul di tempat terbaik yang paling damai. Tunggu aku sampai seluruh waktuku di sini usai, semoga Allah pertemukan kita kembali.
Beberapa hari ini, hidup rasanya berjalan terlalu melelahkan dan aku merasa energi seperti terkuras habis. Kayak susah fokus, jadi ya sudah lah, coba nonton saja, mencari tontonan acak apa saja yang bisa mengalihkan pikiran.
Terus, di kepalaku tidak sengaja lewat satu drakor sageuk judulnya Hongrang, yang dulu sempat di-mention temanku.
Awalnya aku kira ini bakal jadi melodrama biasa. Cerita tentang anak saudagar kaya era Joseon yang diculik malam-malam, terus belasan tahun kemudian tiba-tiba pulang tapi hilang ingatan. Tipikal konflik perebutan harta keluarga yang rasanya sudah sering jadi formula cerita di mana-mana.
Tapi, makin ke sini episodenya malah bikin aku penasaran. Sisi gelapnya dikemas dengan begitu tenang, tanpa drama yang berlebihan.
Ternyata, dalang di balik penculikan malam itu adalah ibu kandungnya sendiri. Dia sengaja membuang anaknya ke tempat pelatihan yang brutal, logikanya supaya mental si anak "ditempa" jadi sedingin es dan kuat memimpin bisnis kelak. Sebuah ambisi yang mengerikan, di mana kasih sayang sengaja dimatikan demi sebuah pencapaian.
Karena penasaran, aku sempat mencari tahu lebih banyak dan menemukan kalau drakor ini diadaptasi dari novel asli berjudul Tangeum, yang artinya menelan emas. Arti judul itu langsung membuatku kepikiran.
Metaforanya dalam banget. Emas itu memang indah dan dikejar semua orang. Kisah ini berjalan seperti sebuah tamparan halus untukku; tentang bagaimana ambisi mengejar sesuatu yang berkilau - entah itu pencapaian atau materi - jangan sampai dibayar dengan cara yang justru meracuni warisan paling berharga di dalam diri sendiri, yaitu kemanusiaan dan ketenangan jiwa.
Pada cerita itu sendiri, si anak akhirnya pulang bukan untuk menyelamatkan kejayaan bisnis keluarganya, melainkan hadir sebagai konsekuensi hidup yang harus dibayar mahal oleh ambisi ibunya.
Niat awal cuma ingin mencari pelarian dari jenuh, malah berakhir jadi kepikiran. Melihat akhir dari ambisi yang keliru itu membuatku berkaca; bahwa memiliki standar hidup yang tinggi untuk melindungi diri memang tidak pernah salah, itu hal yang logis. Namun, jangan sampai benteng yang sudah susah payah dibangun itu justru runtuh dari dalam karena diri ini terlalu kejam dalam melangkah.
Padahal, keinginan untuk mandiri dan aman adalah bagian dari usaha menjemput rezeki yang halal. Menjaga agar proses mencapainya tetap ramah terhadap diri sendiri menjadi cara untuk memastikan bahwa apa yang diperoleh tetap thayyib dan membawa berkah.
Standar hidup boleh tinggi, tapi ketenangan jiwa hari ini tetap tidak boleh dikorbankan.
Dalam pandangan para ulama, musik termasuk perkara khilafiyah. Ada yang mengharamkannya, ada pula yang memakruhkannya. Semua kembali pada bagaimana musik itu digunakan, apakah mendekatkan hati kepada Allah, atau justru melalaikan dari-Nya.
Menurut Lunna bgaimna jika kelak suami Lunna menyarankan untuk berhenti memainkan alat musik?
Karena musik adalah ruang khilafiyah, maka kuncinya ada pada komunikasi.
Sebagai seseorang yang tumbuh bersama musik, aku tentu akan memilih untuk mendengarkan sudut pandangnya terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan.
Sebab biar bagaimanapun, harmoni dalam rumah tangga dibentuk oleh kesepakatan dua hati yang saling memahami, bukan paksaan.
Lunna, hidup/dunia menurut Islam kan hanya permainan/ canda gurau menurut kamu ada ga amalan/cheat code untuk mendapatkan gem dengan nilai paling tinggi seperti di game?
Life is a Game: The Ultimate Cheat Codes
Banyak yang bilang dunia ini cuma tempat mampir, tapi kalau kita pakai kacamata game, dunia ini adalah open-world yang sangat luas dengan satu tujuan akhir: Level Up ke Jannah.
Menurutku, cheat code yang paling membantu kita adalah Niat. Ini benar-benar "hack" yang paling memudahkan: kita bisa mengubah rasa ngantuk saat belajar atau lelahnya hari-hari kita menjadi tumpukan poin hanya dengan meniatkannya untuk kebaikan. Dengan satu klik niat yang benar, aktivitas biasa kita berubah jadi aset.
Kita juga punya Multiplier Effect lewat amalan yang manfaatnya terus mengalir, meski kita sedang offline atau beristirahat. Dan yang paling menenangkan adalah Respawn Point bernama istighfar. Di saat kita merasa game over karena salah langkah, kita selalu punya tombol reset untuk mencoba lagi.
Tapi di atas semua itu, kita sadar bahwa "gem" terbaik dan tujuan akhir dari semua level yang kita lalui adalah Ridho Allah.
Dunia mungkin cuma permainan, tapi lelah yang kita rasakan saat mencoba tetap tulus di dalamnya itu benar-benar nyata. Kita tidak perlu terobsesi jadi pemain paling sempurna atau terlihat hebat di mata manusia. Cukup pastikan saja, setiap hari kita punya progres kecil—sekecil apa pun itu—untuk mengejar satu ridho yang sama. Sebab sejauh apa pun kita melangkah, rumah tempat kita pulang hanyalah kasih sayang-Nya.
Semoga kita semua mendapatkan ridho-Nya.
Hey, I came across your profile from Kazakhstan and I'm from Dagestan. I'm in my 20s, and despite having friends, I feel lonely. I'm not looking for a relationship, so I'm wondering why I'm still feeling this way.
It’s totally okay to feel lonely even if you’re always hanging out with people. It’s a real thing, especially in our twenties.
Most of the time, it’s not about how many friends you have, but more about wanting a deeper connection, the kind where you feel like someone actually "gets" you, instead of just having people to kill time with. It’s hard when you have a lot of friends but no one really knows what’s going on in your head.
Maybe try being a bit more real with one or two of your closest friends. Real friendships usually get better when we stop trying to act like everything is perfect. Also, try to be okay with just being by yourself. Once you're cool with your own company, being alone doesn't feel so heavy anymore.
Hope this helps you out.
Thanks for reaching out.
Menurut Lunna, apakah ekonomi laki-laki harus stabil dlu baru menikah, atau gak perlu, yang penting dia mau bekerja aja?
Kalau menurutku, rasanya lebih tenang kalau laki-laki sudah sampai di titik stabil dulu sebelum melangkah ke pernikahan.
Kemauan buat bekerja itu memang modal yang luar biasa, tapi niat saja kadang ngga cukup buat menghadapi realitas kalau ga dibarengi sama manajemen yang baik.
Nah, kalau ditanya stabil itu yang kayak gimana, sebenarnya ngga harus nunggu sampai mapan banget kok. Ukuran stabil yang paling nyata itu ya sesederhana kita sudah bisa mencukupi kebutuhan sendiri dan punya pegangan buat besok.
Jadi, pas ada keperluan mendadak, kita ngga langsung panik atau bingung harus cari pinjaman ke sana-sini.
Kayaknya pemahaman soal melek finansial tu bukan cuma buat laki-laki saja, perempuan juga harus.
Dengan mencoba memahami kapasitas kantong sendiri, kita jadi lebih "tahu diri". Jadi, meskipun mulainya mungkin dari hal-hal kecil, perjalanannya bakal terasa lebih tenang karena kita punya rencana dan ngga cuma sekadar mengandalkan keberuntungan saja. Pokoknya yang penting itu punya kendali, biar rumah tangga nanti ngga gampang goyah cuma gara-gara urusan angka.
Ini sudut pandangku saja ya, karena setiap orang pasti punya batas kenyamanan yang berbeda-beda dalam memulai komitmen sebesar pernikahan.
anyway, maaf ya baru sempat jawab ask ini sekarang.
Jujur aku sempat merasa kurang punya kapasitas buat jawab ini. Tapi aku sadar kalau kadang yang kita butuhkan memang bukan jawaban mutlak, tapi perspektif lain yang bikin kita merasa ngga sendirian saat bingung.
Kenapa ujian kesulitan itu selalu ada?
Kadang aku juga bertanya hal yang sama. Kenapa ujian hidup datangnya bertubi-tubi?
Mungkin karena kita memang ngga pernah benar-benar "selesai".
Di kedokteran, kita belajar kalau tubuh manusia itu dinamis, selalu beradaptasi dengan tekanan. Mungkin mental kita juga begitu.
Kesulitan ini bukan tanda kita ngga mampu kok, tapi bagian dari proses adaptasi itu sendiri. Kita sedang membiasakan diri dengan rasa lelah dan tekanan, supaya nanti, saat harus menghadapi situasi yang lebih sulit, kita ngga kaget lagi.
Ujian itu ada bukan untuk pamer kekuatan, tapi untuk pelan-pelan membangun ketahanan yang kita butuhkan nanti. Kita cuma perlu bertahan sedikit lagi.
Lagi di fase yang cuma bisa bilang 'jalanin aja dulu'.
Semangat buat kita yang lagi berproses.
"Barangkali ibadah terpanjang itu adalah berprasangka baik kepada Tuhan."
Read this on X and it hit me differently. Lately, life has been a series of solo chapters. Kehilangan beberapa orang penting dan harus menata semuanya sendirian itu ternyata capek banget.
Ngga apa-apa kalau hari ini merasa lelah, karena memang sulit untuk terus bertahan saat keadaan lagi berat-beratnya.
Sadar ternyata menjaga sangka baik itu memang perjuangan paling melelahkan.
No pretenses, just trying to survive the day while keeping my heart kind.
Anak Pertamaku
Tulisan ini mungkin akan dibacanya bertahun-tahun kemudian, ditulis 9 Mei 2026 jam 5 pagi. Saat kakak masih tertidur.
Ayah dan Mamamu, sama-sama anak pertama. Dan seperti narasi yang sering kubaca di internet, anak pertama itu kayak salinan seorang ayah. Dan, itulah kakak.
Kenapa bisa ayah katakan begitu? Karakter kakak, benar-benar mirip dengan ayah. Jadi kalau kita sering bertengkar dan bersilang pendapat, karena kakak sudah cukup logis untuk berpikir di umur sekarang (tapi tetap saja masih anak-anak). Itu seperti ayah menghadapi diri ayah sendiri, waktu kecil dulu. Kita sama-sama berpikir jauh, bahkan memikirkan apa yang belum terjadi. Bahkan, di kepala ini, menciptakan berbagai macam alternatif kemumgkinan. Dan itu, sering bikin kita stres/overthinking.
Kita sama-sama super duper well-prepared, menyiapkan segala sesuatunya. Tapi sayangnya, kita sama-sama nggak pandai untuk ngelola ekspektasi kalau sesuatu nggak sesuai rencana. Kita sama-sama rapi, ingat detail, pinter di akademis, tapi malu untuk tampil. Takut dilihat banyak orang, penginnya jadi orang di belakang layar.
Ada banyak hal yang mirip sekali diantara kita. Ayah ingin menulis panjang, tapi nanti ayah jadikan buku aja. Semoga ayah diberi waktu untuk menulisnya, draftnya udah ada, sempat ayah kirim ke editor ayah untuk preview beberapa halamannya.
Beberapa waktu lalu, hasil evaluasi belajar kakak di sekolah. Statementnya hampir sama sepanjang tahun, kakak perlu lebih percaya diri. Bisa lebih lantang saat berbicara di depan, sebagaimana lantangnya kakak kalau bicara di rumah, atau ketika sedang berdebat dengan ayah. Nah, seperti itu lantangnya.
Kakak itu pintar, tapi sering ragu sama diri sendiri. Ya, itu ayah juga begitu dulu. Merasa butuh validasi orang lain untuk bisa menunjukkan bahwa kita itu bisa. Nah, kakak perlu kepercayaan diri untuk bisa meyakini bahwa kakak itu bisa, kakak mampu.
Oh ya, satu hal yang tidak pernah ayah sangka adalah; kakak pandai memasak. Punya sense takaran yang bagus, setiap racikannya terasa pas. Padahal hanya modal lihat di video ig/tiktok, lalu ujicoba sendiri. Benar-benar keren.
Mungkin tulisan ini akan dibaca bertahun-tahun kemudian, saat kakak sudah cukup mengerti atau mungkin sudah dewasa. Satu hal yang ayah ingin kakak selalu tahu, ayah selalu menyayangi kakak.
Meski kita sering berdebat, kita sering beda pendapat, kita sering ngambek-ngambekan - tapi kemudian baikan lagi, begitu seterusnya berulang-ulang. Ayah selalu merasa bahagia setiap hari mengantar kakak berangkat ke sekolah. Atau saat kita pergi berdua mencari jajan. Atau saat kita tiduran di kasur, diam saja, kakak membaca komik dan ayah main hp.
Sebagai sesama introver, ayah bisa memahami dunia yang membuat kita nyaman. Tapi introver ini, jangan sampai menjadi alasan dan penghambat kakak untuk berani tampil percaya diri. Ayah yakin, mungkin suatu saat, kakak akan menulis juga seperti ayah. Tahu dari mana? Kemampuan linguistik kakak sangat bagus! Betah baca buku! Semoga ayah ada kesempatan untuk membaca karyamu nanti.
Ayah nggak tahu, saat tulisan ini kamu baca. Apakah ayah masih ada atau tidak. Tapi ayah ingin kamu selalu tahu, bahwa ayah bangga padamu. KG
Kenapa ya, saat kecil sosok ayah sering kali terasa begitu menyebalkan?
Mungkin ini adalah fase yang dialami hampir semua anak pertama, atau mungkin semua anak.
Kini aku sadar bahwa rasa menyebalkan itu adalah bagian dari proses belajar dewasa; sebuah cara kita berdamai dengan sosok yang karakternya ternyata paling serupa dengan kita. Yang sebenarnya aku sedang belajar mengenali kekuatan dan kelemahanku sendiri.
Seseorang pernah bertanya kepada saya, "Jika waktu bisa diputar kembali 10 sampai 20 tahun ke belakang, apa yang akan kamu lakukan? Keputusan apa yang kamu ingin ubah?"
Dengan tegas saya jawab, "Saya akan menjalani hidup sama persis dengan apa yang saya jalani sampai detik ini. Pilihan di sekolah yang sama, tempat kerja yang sama, dsb."
Tentu dia bertanya kenapa. Lantas saya jawab, selain memang sesuatu yang sudah terjadi tidak bisa kita ubah, saya tidak yakin bahwa anggapan sesuatu akan lebih baik di kepala saya, akan lebih baik dari takdir yang Allah telah berikan.
Selalu ada makna dibalik setiap kejadian. Sesuatu yang di awal kamu bingung hikmah di balik pilihan itu, sampai kemudian hadiah dari kecewa, sedih dan amarah itu dibayar Allah dengan hadiah yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya dalam benak manusia.
Saya tidak yakin, jika saya bisa mengubah masa lalu, kondisi hari ini akan jauh lebih baik dari yang saya alami. Maka pilihanny hanya satu, tetap melaju mengikuti ritme atas segala hal yang Allah berikan, sembari terus menangkap peluang kebaikan di depan sana.
Setidakny itu jauh lebih menenangkan, ketimbang berada dalam pusaran kekecewaan dan keputusasaan. Keputusan Allah adalah yang terbaik, meskipun sejuta mata menegasikannya.
Ada kalanya aku melihat ke belakang dan berandai seolah hidup bisa dirancang tanpa cela. Padahal, setiap pilihan selalu datang sepaket dengan risikonya masing-masing, tidak ada jalan yang benar-benar mulus.
Menyesali keputusan masa lalu dengan pengetahuan yang aku miliki hari ini sebenarnya tidak adil bagi diri sendiri di masa itu.
Sejatinya, penerimaan bukan sekadar bentuk pasrah, melainkan sebuah kesadaran; bahwa ketetapan-Nya selalu memiliki alasan yang jauh lebih bijak daripada skenario yang aku susun sendiri.
Ada banyak hal yang harus dikejar di depan sana, tapi di sini, aku hanya ingin bertahan sebentar pada detik yang sedang berjalan.
Tiba-tiba saja aku teringat pesan Baba (nenek) dulu, tentang manty (dumpling). Beliau selalu bilang kalau belajar membuat manty, prosesnya harus dari awal sampai akhir. Mulai dari menghaluskan isian, merasakan tekstur tepung di tangan, hingga memastikan adonan kulitnya kalis sempurna. Ternyata, membuat adonan yang pas itu memang tidak semudah itu.
Saat itu aku mungkin cuma mendengar, tapi baru sekarang aku benar-benar merenungkan maknanya.
Ternyata hidup juga mirip seperti proses membuat manty ini. Apa pun yang berharga, butuh waktu untuk dibungkus dengan baik, tenang, tidak terburu-buru sebelum nantinya diuji oleh waktu.
Kita sering kali dipaksa keadaan untuk serba cepat. Padahal, kalau "bungkusnya" dibuat terburu-buru, ia akan mudah hancur saat terkena uap panas.
Aku tidak sedang ingin berlomba dengan siapa pun. Aku cuma ingin memastikan bahwa setiap proses yang aku jalani sekarang, sekecil apa pun itu, sudah terbungkus dengan cukup kuat. Karena bagiku, tugas kita hanyalah menyempurnakan ikhtiar dalam setiap prosesnya, sementara biarlah ketetapan-Nya yang bekerja pada hasilnya.
Jadi, aku kembali fokus pada apa yang ada di depan mata. Satu per satu. Perlahan saja.
Sebab nyatanya, ketenangan dalam mempersiapkan dirilah yang membuat kita tetap bertahan dan tetap bersyukur.
n.b. protecting my pace and just romanticizing the process, the way baba taught me.
Saya mencoba bergabung dilembaga sosial dgn niat iseng, alhamdulillah keterima,,saya bersyukur krna di circle in saya di kelilingi oleh org² hebat,, namun secara bersamaan sya merasa minder/insecure, krna saya jauh banget dari mereka,,.
Terkadang terbesik dalam hati, sebenarnya takdir seperti apa yang Allah siap kan untuk sya..
Ini sekadar sudut pandangku saja ya, mungkin ada yang bisa menambahkan perspektif yang lebih baik lagi nanti.
Perihal takdir, sepertinya itu bagian dari rahasia yang memang belum saatnya untuk dipahami utuh sekarang. Tapi kalau menurut aku, salah satu hal yang membantu adalah dengan mencoba mensyukuri posisi kita sekarang dulu.
Dikelilingi orang-orang hebat rasanya bukan sebuah kebetulan. Barangkali, mereka adalah orang-orang yang 'tertulis' untuk membantu kita tumbuh. Rasa minder itu wajar sekali muncul, dan mungkin itu cara kita menyadari bahwa masih banyak ruang dalam diri yang bisa dikembangkan.
Aku pun belajar bahwa tidak ada keharusan untuk langsung setara dengan siapa pun. Terkadang, peran menjadi pendengar dan penyerap ilmu sudah lebih dari cukup. Rasanya jauh lebih ringan saat bisa menghargai langkah kecil sendiri, tanpa merasa terbebani oleh pencapaian orang lain yang memang sudah memulai lebih awal.