Untungnya mereka tak pernah tahu, bahwa..
Pura-pura beramal shalih itu menyenangkan. Apalagi jika disaksikan jutaan insan. Bergetar hebat hati ini selalu bisa buat mereka terkesan. Sungguh, kita memang idaman.
°°
Terasa anggun sujud kita yang kian dilama-lama. Pasti semua orang takjub memandang syahdunya. "Inilah shalih-shalihah kita," mungkin begitu pikir mereka.
Lagipula, dalam sujud kita cukup diam saja, tak perlu selipakan munajat doa. Semuanya, kan, hanya bercanda. Yang penting, kita terlihat mulia.
°°
Bahkan tentang sepertiga malam. Tak afdal rasanya jika munajat tak direkam. Bergagah diri seakan salat sepanjang malam. Padahal, hanya menulis doa via instagram.
Setelah itu, ya.. mata lanjut terpejam. Hiraukan saja kokokan ayam.
°°
Siang harinya, kita mulai bersyiar.
Di depan puluhan kawan, kita bicara lantang menggelegar. Mendengar elok diksi kita, katanya hati mereka bergetar. Bahkan tak sedikit yang menitikan air mata sambil lantunkan istighfar.
Hari itu, kita benar-benar jadi orang besar.
°°
Ah, indah sekali bersandiwara.
Berlaga bak pahlawan yang hadir di momentum sesuka saja. Kata mereka, "Kamu memang luar biasa! Selalu ada saat dibutuhkan semua."
Haha.
Padahal, mereka tak tahu saja. Kita lakukan ini-itu sejatinya bukan untuk mereka. Tetapi untuk kita, membesarkan nama.
°°
Aduhai, jika bisa lebih dari itu, mereka pasti akan benar-benar anggap kita sesuatu.
Lalu dunia pun tahu, kalau kita ini memang patut diaku.
°°
Sejenak sajalah kita lupakan akhirat. Toh, ini, kan, hanya sesaat. Tinggal nanti.. kita tutupi saja dengan taubat.
Akan datang masanya, kok, saat tergugur habis dosa-dosa kita yang terlanjur melekat.
Pasti belum terlambat.
°°
Hingga di satu hari..,
barulah kita tersadari.
Saat mahsyar himpunkan kita dalam ketegangan berhari-hari. Lantas busuknya kita mulai ditampakkan di pengadilan ilahi.
Tiada satu pun yang tersisa selain hanya sesalkan diri.
°°
Tiba tiba,
sejenak dari kejauhan kita mencium nikmatnya suatu aroma. Sayang, dari kejauhan saja. Mendekat sedikit, sungguh tak bisa.
Kepada Tuhan kita hendak bertanya, "Kenapa tak bisa?"
Tapi, rupanya kita lebih dulu sadar salahnya di mana.
Semuanya.. karena riya'.
Semuanya.. karena setitik dzarrah itu; yang cegat kita di teras syurga.
°°°
"Syirik kecil (riya') yang ada di tengah-tengah umat ini lebih tersembunyi daripada jalannya semut hitam di atas batu hitam di tengah kegelapan malam."
(HR. Al-Hakim, dari 'Aisyah r.a., Al-Mustadrak, Juz II, hal. 319, hadits no. 3148)
Saking samarnya, seringkali kita tak menyadari, betapa amal-amal shalih itu tengah ditunggangi setan menuju tempat kebinasaan.




















