Sedikit merindukan tulis menulis
No title available

Discoholic 🪩
Today's Document
Lint Roller? I Barely Know Her
noise dept.

No title available

if i look back, i am lost
Xuebing Du
h
Show & Tell
One Nice Bug Per Day
Stranger Things

gracie abrams
RMH
Cosmic Funnies
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
𓃗

ellievsbear

#extradirty
Mike Driver

seen from Brazil
seen from United Kingdom

seen from United States

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Argentina
seen from Finland

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States

seen from Japan

seen from Germany

seen from Mexico
seen from United States
seen from South Korea
seen from United States
seen from Bangladesh
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
@macaretisalya
Sedikit merindukan tulis menulis
It wears a crown of thistle-down upon its wicked head.
If you don't like me, just say it and I'll be long gone. Don't hide behind the curtains.
Ini nih
“I do know my own mind…The trouble is, my mind changes and then I have to get acquainted with it all over again.”
— L.M. Montgomery, Anne of the Island
Time to time
“Silence is so freaking loud.”
— Sarah Dessen, Just Listen
“A single person is missing for you, and the whole world is empty.”
— Joan Didion, The Year of Magical Thinking
Terbiasa menghadapi apapun sendiri. Terbiasa mengerjakan apapun sendiri. Terbiasa memendam apa yang dirasa sendiri.
Hai diriku, kamu hebat, kamu kuat dan aku bangga.
My first time embroidering a cat! Does anyone else sit on an embroidery piece for months because they’re afraid to mess it up, or is it just me? by ObjectiveJacket6457
Setiap kali aku mengingat mimpi itu, ada banyak rasa berkecamuk di dalam hati dan pikiranku. Di satu sisi, mimpi itu teramat membuatku bahagia, tapi di sisi yang lain mimpi tersebut juga membuatku merasa menjadi manusia paling tidak bersyukur di dunia ini. Yah, tanpa perlu kau katakan, aku tau kau telah melabeliku seperti apa.
Aku sudah tidak bisa menghitung berapa kali aku memimpikanmu. Ketika tidur di malam hari atau pun siang hari, kamu yang paling sering mampir di mimpiku. Kurang ajar betul rasanya kalau aku masih memimpikan kamu. Tapi bagaimana lagi, aku juga tidak mengerti kenapa itu terjadi. Bahkan sebelum mimpi itu hadir aku tidak dalam keadaan memikirkan kamu atau tanpa sengaja melihat kamu di internet.
Orang bilang, jika kita memimpikan seseorang itu berarti orang yang berada di dalam mimpi kita tersebut yang tengah merindukan atau memikirkan kita. Tapi, aku rasa di kasus ini hal itu tidak berlaku. Entah kenapa aku sangat yakin jika kamu memang tidak pernah sedikitpun memikirkan bahkan merindukanku. Aku sungguh menyadari siapa diriku bagi dirimu. Jika memang aku memiliki arti, kita tidak akan sejauh ini.
Walau seringkali aku membaca tulisanmu dan bertanya, siapa perempuan yang kamu maksud di dalam tulisan itu? Tidak jarang aku bergumam, "apakah itu untukku?" Tapi rasanya tidak mungkin, aku tidak se-PD itu, dan aku rasa kamu juga tidak menaruh rasa terhadapku. Karena, jika iya, kenapa kita menjadi sejauh ini.
Tapi kan kamu sudah punya pacar? Ya, ya, ya, aku tahu. Aku memang sudah punya pacar. Itulah mengapa aku sangat bersalah telah memimpikan kamu. Sangat bersalah. Ketika kita dekat kala itu, aku memang telah selesai dengan mantanku. Benar-benar selesai. Tapi, ketika aku menjalin hubungan dengan kekasihku saat ini, aku merasa urusanku dengan kamu juga sudah selesai. Tapi jika memang iya, harusnya aku tidak memimpikan kamu lagi, aku bahkan sudah sangat lama tidak mampir di sini, aku takut membaca tulisanmu dan kembali berpikir bahwa itu aku.
Kita memang tidak pernah menjadi kita. Tapi bagiku, hari-hari yang ku lalui bersamamu kala itu sangatlah berkesan. Menjadikanku merasa kita akan menjadi kita. Kembali, aku dihancurkan oleh ekspektasiku sendiri.
Hari ini, ketika aku menulis tulisan ini. Aku kembali bertanya-tanya, kenapa saat itu kamu menjauhiku? Padahal kita baik-baik saja, tapi kenapa kamu bilang tidak mau bercerita lagi kepadaku, kemudian membuat jarak sejauh ini? Apakah kamu sudah tahu kalau aku menyukaimu, atau apa?
Sungguh, aku rindu hari-hari aku dan kamu kala itu. Aku rindu kamu.
Hello, aku kembali!
Mungkin bagi kebanyakan orang ini adalah hal yang tidak lazim. Berpacaran dengan seseorang yang kau kenal melalui media sosial dan belum pernah sama sekali kau temui. Kebanyakan orang akan menganggap ini adalah hubungan yang sia-sia, tidak akan berjalan dan berkembang.
Semua orang menganggap aku berbohong, membuat hubungan palsu, seakan-akan aku memang tidak layak untuk memiliki seorang kekasih.
Aku sering mengunggah percakapanku dan kekasihku di akun Twitter ku. Beberapa orang meanggap lucu dan menggemaskan. Tapi sebagian besar dari mereka menganggap aku menjijikan. Kasihan sudah terlalu lama jomlo dan memilih jalan instan. Membuat hubungan palsu. Mereka pun menilai, gaya komunikasi kamu begitu menjijikan.
Sedih sekali rasanya.
Ketika aku menemukan orang yg tepat, orang yg sesuai kebutuhanku, tapi ada saja hal-hal yg membuatku tidak bahagia. Sudah jarak ini terlalu jauh, tidak bisa datang ke sana dan ke sini begitu saja karena sedang pandemi, ditambah orang-orang menyangsikan hubunganku. Benar atau hanya editan.
Aku sedih, ketika rindu hanya bisa melihat fotonya. Aku tidak bisa nganter makan siang ke kantornya seperti yg selama ini aku impikan. Aku tidak bisa tiba-tiba ke rumahnya ketika weekend atau dia yg tiba-tiba mengunjungi ku. Kami tidak bisa seperti pasangan lain di luar sana. Sudah cukup hal ini membuatku sedih. Tidak usah kalian nilai hubunganku ini sangat menjijikan.
Tujuanku mengunggah di Twitter hanyalah untuk kenang-kenangan. Menunjukkan kepada dunia bahwa aku sudah benar-benar tidak terikat dengan masa lalu. Aku siap dengan masa depan, bersama dia.
Tapi orang-orang nampaknya suka sekali melihat aku sedih. Ketika aku masih dililit masa lalu, aku dikatai tidak bisa melepasnya. Ketika aku hadir dengan masa depan, aku dikatai menjijikan.
Yah, aku lupa. Aku tidak bisa membuat semua orang bahagia.
Ko.Kopi
Tempatnya tipikal coffeshop di Banjarmasin. Mungil. Hanya bagian kecil dari sebuah rumah. Ke sini karena nyamperin temen yang jd barista di sana. Tapi bakal mikir2 sih kalo emang pengen ngopi di sini. Kecuali kalo cuma mau nyamperin Ran dan beli minum yg lain. Ga tau, kopi arennya menurutku agak aneh. Aneh bukan berarti buruk. Tp belum jd seleraku.
Aku tidak ingin kehilangan (lagi)
Banyak sekali hal yang membuatku merasa kehilangan. Hingga aku tidak mengerti mengapa ini terjadi. Jujur di usai 22 tahun begini kehilangan teman begitu menyakitkan ketimbang putus (ya gimana, terakhir pacaran aja 3 tahun yg lalu).
Hari itu, temanku marah padaku. Itu semua karena aku tidak sengaja meemberi lihat DM kami ke temanku yg lain. Dia marah karena username nya terlihat dan dia tidak ingin teman-teman kuliah yg lain tau username Twitternya. Padahal, aku membagikan isi chat tersebut ke teman akrabku di kelas yg jg beberapa kali kami semua pernah jalan bareng dan tidak pernah ada masalah. Aku pikir kami berempat berteman. Tapi, ternyata dia pikir tidak demikian. Dia menganggap 2 temanku yg lain itu seperti orang lain. Terbukti dia marah besar saat aku memperlihatkan DM twitter itu ke dua orang temanku ini.
Dua minggu dia tidak membalas chatku padahal aku sudah minta maaf dan mengatakan kalau 2 orang temanku ini tidak peduli dengan username nya. Tp dia merasa aku telah tidak bisa dipercayai lagi. Setelah 2 Minggu dia tiba-tiba menghubungi ku lagi dan kami menggosipkan banyak hal lagi. Kemudian kami kembali ngopi bareng dan mengerjakan tugas negara.
Tapi sebulan setelah itu. Dia memblokir twitterku. Aku pikir kami baik-baik saja karena sudah ngobrol dan jalan lagi. Tapi ternyata dia masih marah. Setelah hampir 2 bulan dan dia baru saja memblokir twitterku. Ya, itu hak dia. Aku tidak memiliki kewajiban untuk memaksa dia tetap keep contact denganku. Hanya saja, kenapa dia tidak memblokirku dari awal dia marah?
"kamu blokir twitterku?"
"iya"
"oh"
"gue masih kesel perkara kemaren"
Trus aku read aja. Aku tidak butuh keterangan itu karena semua jelas. Masalah apalagi coba selain itu? Besoknya, dia minta maaf walau aku tau dia punya gengsi sebesar alam semesta dan ku hargai itu. Walau kami sudah bermaafan dan kembali dengan obrolan ngalor ngidul. Tapi untuk bisa temenan kaya dulu susah, ya? Aku ingin sekali sebenarnya ngajak dia ngopi lagi. Ngobrolin apa aja. Tapi, chat terakhir ku 2 minggu yg lalu saja tidak ada dia baca hingga hari ini. Walau aku tau dia masih berkeliaran di dunia maya. Ya, mau gimana lagi? Itu hak dia bukan?
Dan aku menjadi orang yang tidak bisa dipercaya.
Aku pun kembali kehilangan teman terbaikku. Hanya karena, aku berkata jujur walau perasaan itu telah lama menghilang. Aku ingin sekali bisa duduk berdua dengan dia dan mengatakan semuanya bahwa pertemanan ini murni karena aku ingin berteman bukan karena aku pernah menyukainya.
Agar jelas, akan ku ceritakan kenapa aku mulai tertarik dengannya. Sebenarnya aku pernah menulis ini dan sudah sebanyak 3 halaman. Aku ingin mengirimkan tulisan tersebut kepadanya tahun lalu saat dia berulang tahun. Tapi ku urungkan, karena bulan berikutnya kami akan nonton penyanyi F dan aku tidak ingin kami jadi canggung.
Semua berawal saat tahun terberatku, 2017. Tahun itu aku benar-benar hancur, aku yg tidak pernah mengiyakan ajakan jalan-jalan bersama keluarga kala itu langsung mengiyakan begitu saja. Aku ingin sejenak lepas dari luka, pikirku. Kemudian, aku mendapat gambar yg bagus dan langsung ku unggah ke IG. Dan ya, dia mengomentari fotoku dengan bahasan kami yg aneh tapi seru. Dari sana aku berpikir, "kok bisa ada cowok se seru ini ngobrolnya? Mana bahasannya ga jelas." Walau aku sudah kenal kamu dari 2015 (tentu saat kita baru masuk bangku perkuliahan) tapi aku baru mencoba memerhatikan mu saat kita saling berkomentar di postinganku. Dari sana aku mulai lebih memerhatikan mu. Mencoba membalas stori2 IG mu, untuk sekadar ngobrol ringan.
Karena aku tau, kamu terlalu jauh untuk aku gapai. Dan aku belum tau yg terjadi itu suka, tertarik, penasaran, atau apa?
Aku diamkan saja perasaan itu hingga 2 tahun. Selama itu aku liat kamu punya pacar dan ya, aku kembali tidak berharap dan mencoba mengurangi perhatianku ke kamu.
Aku mencoba biasa saja. Aku mencoba mengartikan itu semua dengan "aku baru hancur, aku kesepian, dan kamu menarik" begitu saja. Setidaknya, aku menjadi senang melihatmu update stori. Receh memang.
Kemudian kita kembali melempar komentar di postinganku. Kali ini kita berpuisi. Aku lemah dengan laki-laki yg berpuisi. Jujur saat itu aku ingin kembali memerhatikan mu. Tapi aku masih belum bisa mengartikan perasaanku ini ke dalam bentuk yg mana. Aku kembali diam.
Hingga hari itu, kamu tiba-tiba menghubungi ku, menanyakan apakah aku datang ke Gramedia. Aku bilang, ya dengan teman atau mungkin sendirian saja. Kemudian kamu meminta tolong padaku untuk mengajak temanmu ke sana karena kamu yg sudah berjanji tapi tiba-tiba tidak bisa memenuhi janji itu. Aku iyakan karena toh aku juga sendirian ke sana. Kau tahu, aku merasa jadi perempuan bodoh kala itu. Jarak rumahku ke Gramedia hanya 8 menit. Dan aku harus ke kos temanmu yg jaraknya 15 menit (kalau aku ngebut). Aku sungguh tidak mengerti kenapa kamu minta tolong kepadaku padahal kamu tau rumahku di mana, kos temanmu di mana. Tapi aku tidak bisa menolak karena aku tau itu setelah aku sudah terhubung denganmu. Kembali ku ucapkan mantra "gapapa, daripada sendirian". Aku lakukan itu bukan karena janjimu bahwa kamu ngajak aku ngopi. Bukan karena itu.
Setelah itu, kita ngopi pertama kali. Aku gugup setengah mampus. 2 tahun aku memerhatikanmu dan sekarang kamu ada di depanku untuk waktu yang cukup lama dan obrolan yg menyenangkan.
Setelah hari itu, aku menuliskan cerita ini dan aku berniat mengirimkannya pada hari ultahmu. Hanya saja, tidak lama setelah hari itu aku tau kamu punya pacar. Kembali, aku mundur. Aku pun sebenarnya tidak ingin maju. Aku sadar diri kok. Aku tidak pantas untukmu. Aku menuliskan itu semua hanya karena ingin jujur saja. Tapi aku tidak ingin mengganggu hubungan kalian dan aku tidak ingin juga rencana nonton penyanyi F gagal karena aku tidak bisa menahan ego.
Setelah kita nonton penyanyi F, tulisan itu aku hapus. Aku rasa itu sudah tidak diperlukan karena aku ingin bicara langsung.
Kemudian kita jadi sering ngopi dan ketemu. Seminggu sekali. Di kopisop, toko buku, perpustakaan, warung soto. Kita menjadi akrab dan aku menjadi tau banyak hal tentangmu.
Saat masa itu terjadi, aku sadar bahwa aku hanya suka karena kamu menarik, ngobrol denganmu itu enak, bahasan kita berada di frekuensi yg sama (ini adalah kriteria utamaku jika nanti aku punya kekasih). Masa-masa itu juga membuat perasaanku ke kamu fluktuatif. Ada banyak faktor yg membuatnya demikian.
Aku tidak bisa mentoleransi keterlambatan. Dan kamu seringkali terlambat. Aku pun akhirnya tiba di titik "sudah bisa biasa saja kalau di dekatmu"
Tapi, ternyata. Saat aku sudah nyaman denganmu sebagai teman, kamu tiba-tiba bilang kalau tidak ingin lagi curhat denganku. Kau tau gimana perasaanku saat itu? Aku kecewa kepada diriku sendiri. Bagiku saat orang lain memutuskan untuk tidak lagi ingim bercerita kepadaku, aku berpikir apakah aku membosankan? Apakah aku sudah tidak bisa dipercaya? Apakah aku sudah gagal menjadi teman.
Dan ya aku menyesal pernah bilang kalau bagus kalau kamu melakukan hal itu dan itu bisa membuatku mengurangi rasa suka ku ke kamu. Padahal jauh sebelum itu pun aku sudah tidak punya ketertarikan romantisme terhadapku. Aku hanya kecewa dan marah.
Tapi aku juga merasa lega, karena bagaimanapun aku memendam sangat lama untuk kalimat itu. Aku lega telah jujur padamu.
Tapi aku tidak lega dengan apa yang terjadi setelahnya.
Karena aku merasa, kamu menganggap aku mau membantumu karena aku punya niatan lain, karena aku menyukaimu makanya aku mau nolongin kamu terus. Jujur aku tidak tau apa yg kamu pikirkan, ini hanya isi kepalaku yg kelebihan muatan.
Maka dari itu, aku berusaha mengajakmu untuk duduk bersama lagi. Menjelaskan ini semua.
Tapi, makin ke sini kamu semakin jauh. Bahkan setelah sekian bulan kita tidak bertemu dan kamu aku minta kamu menemani aku nonton (dan setelah itu aku mencoba mengajakmu mengerjakan tugas bersama lagi, tapi responmu begitu dingin), kita tidak bisa lagi menjadi teman seperti berbulan-bulan yg lalu. Kamu sangat kaku dan dingin, hingga aku tidak berani menyentuhmu lagi. Aku takut kamu semakin menjauh dan kita menjadi benar-benar asing.
Semua sudah beda.
Dan aku kehilangan teman lagi.
Untuk teman-temanku yang menghilang dari kehidupanku di waktu yg bersamaan. Semoga kalian bahagia selalu dan bisa menjaga hubungan pertemanan dengan orang lain. Jangan seperti aku, aku bodoh tidak bisa mempertahankan pertemanan kita karena apa yg telah aku lakukan.
Tapi setidaknya, aku minta maaf kalau memori pertemanan kita masih segar di dalam ingatanku. Aku selalu mendoakan kebahagiaan kalian.
Dan kenapa aku menuliskan cerita ini? Karena kalian berdua adalah temanku yang frekuensi obrolannya bisa ku raih. Aku suka ngobrol dengan kalian, membahas apa saja, mendiskusikan apa saja.
Tapi kalau kalian sudah tidak suka berteman denganku. Tidak apa. Aku bisa menghilang dari pandangan kalian.
G.
“When dealing with myself I am powerless.” - Franz Kafka, Letters To Felice
"Masing-masing dari kita adalah sebuah kota. Keluar, masuk, menetap, dan pindah. Tak ada kata 'selamanya' di kota kita. Karena, 'selamanya' adalah fana.
MT.
Aku takut ketika harus mencintai dalam diam. Aku takut kalau aku tidak bisa menyembunyikan dengan benar. Aku takut kalau perasaan ini menggema dan tersampaikan. Aku takut kita menjadi tidak bisa biasa saja.
Ingin mengatakan tapi tak ingin diketahui
Heeehh!!
Salah satu hal yang aku takutkan adalah, kehilangan dirimu karena kebodohanku. Tiba-tiba mengatakan suka, misalnya. Kemudian kita menjadi asing satu sama lain.
Brie
Woy lu zaman kapan nulis beginian ?