Aku Benci Ketiba-tibaan; Tiba-Tiba Mencintaimu
Aku tidak mengerti, mengapa pertemuan denganmu membuatku mulai bertanya-tanya, apakah aku telah menemukan kebahagiaan yang tepat?
Aku benci ketiba-tibaan. Tiba-tiba bertemu denganmu. Tiba-tiba bertanya tentang perasaanku. Tiba-tiba meragu atas pilihanku. Sedangkan tentangmu, tanpa bicara, aku mengerti perihal kesedihan yang hidup di matamu itu. Perihal hati yang patah di antara tawamu yang kucuri dengar di antara pertemuan-pertemuan di dalam pekerjaan kita. Seakan, kamu berusaha untuk menganggap segalanya baik-baik saja, sedangkan kenyataannya ialah sebaliknya.
Andaikan, kita bertemu di antara waktu yang berbeda, perasaanku takkan serumit ini. Rasanya, aku begitu bersalah memberikan ruang untukmu di dalam dadaku; sedangkan, aku masih memberikan perasaanku untuk seseorang lain. Namun, kini, aku tidak tahu apakah perasaan itu utuh atau tidak, yang jelas, di antara keterdiaman, kamu tiba-tiba hadir di dalam ruang perasaanku.
Perjalanan waktu setelah pertemuan kita, membuatku belajar arti perasaaan. Bahwa perpisahan yang mendalam dapat menjadikan luka itu abadi. Dan aku, entah mengapa, ingin terus berada di sampingmu; memberimu kekuatan bahwa kamu tidak harus melalui kesedihanmu sendirian. Aku ingin terus memberimu ruang, sedangkan aku juga tak ingin melepaskan. Dan itu batas paling jurang di antara kita.
Kamu tahu? Aku benci ketiba-tibaan. Tiba-tiba mencintaimu.










