1.000 Hari
Kemarin tepat 1.000 hari kematian almarhum bapak yang ditandai dengan pergantian tenger/paesan.
Mungkin terlihat sederhana, tapi itulah yang dicontohkan mbah kakung sama mbah putri dulu.
KIROKAZE
Today's Document
Sweet Seals For You, Always
No title available
occasionally subtle

No title available

Product Placement
Claire Keane
Sade Olutola
Misplaced Lens Cap
we're not kids anymore.
YOU ARE THE REASON
🩵 avery cochrane 🩵

Discoholic 🪩
Monterey Bay Aquarium
Lint Roller? I Barely Know Her

Andulka
art blog(derogatory)
d e v o n
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

seen from Türkiye

seen from Kenya
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Argentina

seen from Italy
seen from Costa Rica

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Costa Rica
seen from Iraq
seen from Uzbekistan
seen from Malaysia
seen from Russia

seen from Germany
seen from France
seen from Spain
seen from Vietnam
seen from Ireland

seen from Italy
@madsolihin
1.000 Hari
Kemarin tepat 1.000 hari kematian almarhum bapak yang ditandai dengan pergantian tenger/paesan.
Mungkin terlihat sederhana, tapi itulah yang dicontohkan mbah kakung sama mbah putri dulu.
Teruslah berbuat baik
Ada sebuah filosofi jawa kira-kira begini bunyinya, "Berbuat baiklah karena itu akan kembali ke diri sendiri, ketemu awak. Ora ketemu awak, ketemu anak/mantu. Ora ketemu anak, ketemu putu."
Intinya kebaikan apapun itu berbalas, meski balasan kebaikan itu belum tentu kembali ke si pembuat kebaikan. Tetapi mungkin ke anak turunan.
Maka teruslah berbuat baik, meski kadang merasa lelah. Tak apa, manusiawi. Tapi jangan menyerah.
Tertipu
Kemarin malam ibuku cerita, kata seseorang ibu sebenarnya sudah menang arisan. Namun uangnya tidak diberikan oleh si pengepul.
Tega, kejam dan tidak berperasaan.
Sebenarnya tidak hanya ibu, tapi masih ada yang lain. Dan ini karena tidak ada kontrol anggota, kebanyakan sudah asok arisan dan dipasarankan ke pengepul. Masalah ngocok undian arisannya kapan dan siapa saja yang ikut menyaksikan tidak tahu.
Repot emang.
Saya ingat betul bagaimana ibu ketika sudah jatuh tempo tanggal untuk asok arisan pasti akan berusaha untuk memenuhinya. Bagaimanapun caranya, termasuk kadang harus hutang terlebih dahulu. Kadang juga rasan ke saya, tanya apakah punya uang untuk digunakan buat asok arisan.
Ada 8 juta total penerimaan arisan. Bukankah bukan nominal yang sedikit?
Tahukah kamu, bahwa uang tersebut ibu gadang-gadang untuk membayar hutang.
Akupun punya gambaran, uang tersebut bisa digunakan untuk membeli material untuk membuat kamar mandi.
Entah bagaimana nanti nasibnya, apakah bisa kembali atau tidak. Yang jelas saya yidak rela dan tidak ridho. Tidak tahu bagaimana perasaan ibu saat ini.
Tabik
11 Maret 2025
Dapur
Tempat ini adalah tempat dimana sehabis buka dan sahur di bulan Ramadhan saya menghabiskan beberapa ler rokok.
Tentu bukan tanpa alasan. Adanya dedek bayi yang takut terpapar asap rokok menjadi alasan utamanya. Masih mending si, daripada tidak boleh merokok sama sekali.
Dan setelahnya harus ganti baju dan cuci tangan karena baunya masih menempel.
Tak apa.
Terkadang ada hal-hal yang demikian dalam berkeluarga. Demi kebaikan semua. Demi menjaga perasaan istri dan juga mungkin demi ego saya yang ketika tak dituruti serasa kosong.
Hanya alasan sebenarnya.
Tapi bagi para laki-laki, itu mungkin menjadi waktu untuk merenung sambil pikiran berkelana entah kemana.
Kalau kamu bisa berhenti, berhenti saja. Tapi kalau gak bisa, ya sewajarnya saja.
Membas Pesan
Hari ini dapat pelajaran tentang membalas pesan, bahwa menanggapi atau memberikan komentar juga termasuk bagian dari support.
Hal ini juga realate dengan apa yang pernah saya tulis beberapa tahun lalu, bahwa saya pernah WA tetapi lama balesnya. Meski lama tetapi kalau di balas rasanya ada kelegaan.
Dan yang terpenting adalah mindset atau pola pikir kita saja yang kadang membatasi. Karena ternyata dan sudah sering saya alami, apa yang saya takutkan sebelumnya nyatanya tidak terjadi.
Dan ini juga mungkin remender juga, untuk tidak abai dan membiasakan ikut komentar. Karena silent rider juga itu masuk ke habit yang tentunya bisa di ubah.
Tabik
Silatnas PPDI
Hari ini untuk kedua kalinya datang ke Jakarta. Jika dulu agenda kampus, PPL maka kali ini dengan agenda Silatnas PPDI menagih janji Jokowi untuk menambah Dana Desa 1,4 M dan menjadikan perangkat desa PNS secara bertahap. Dan hari ini pula pertama kalinya menginjak kaki di Masjid Istiqlal dan melihat Monas secara langsung. Semoga saja apa yang diikhtiyarkan hari ini berujud hasil pada terlaksananya gaji perangakt desa setara PNS AII.
Balaslah Meski Sedikit
Jum'at kemarin, aku menepati kata yang telah terucap untuk menemui guruku, dosen sewaktu masih kuliah dulu. Beliaulah yang ku jadikan sebagai mentor atas langkah yang ku tempuh. Karena saat ini jalanku masih belum final dan perlu bimbingan. Tentu tidak mutlak, karena aku sadar bahwa sandaran pada manusia hanya akan berujung kecewa jika seseorang yang kita harapkan tak sesuai ekspetasi. Hanya saja karena aku tak memberitahukan terlebih dahulu rencana berkunjungku, ketika sampai di kampus ternyata beliau sudah pulang. Aku kirim pesan lewat WA. Lama tak ada balasan. Ku buka lagi pesan yang ku kirim dan "sudah dibaca" terlihat dari tanda centang dua yang berubah warna menjadi biru. Sayang, tak ada balasan. Kecewa? Ada. Tetapi aku lebih memilih untuk intropeksi diri, bahwa itu salahku karena tak memberi kabar terlebih dahulu. Dan semua orangpun punya kepentingan sendiri-sendiri. Maybe, beliau sedang punya urusan, itu khusnudzonku. Beruntung ada Afid, teman sekelasku dulu sehingga bisa menjadi teman ngobrol sambil menunggu balasan agar tidak seperti orang hilang. Hingga selesai ngopi di kantin Al-Kahfi juga tak kunjung ada balasan. Maka ku putuskan untuk pulang dan mengurus berkas pendaftaran PLD. Tinggal matere saj yang kurang. Setelah lengkap segera saja ku antar ke tempat Pak Bowo yang ternyata Krandegan bukan Randegan. Untung saja aku orang yang sudah sering bepergian sehingga langsung paham poin kesasarnya. Malam hari kira-kira setelah isya ku buka hp. Ada dua pesan yang membuatku tersenyum. Pesan itu dari dua orang yang hari itu aku hubungi. Satunya tanya perihal perpustakaan dan hanya di read. Satunya dari dosenku yang gagal ku temui. Ada kelegaan tersendiri. Setidaknya aku merasa dihargai. Dari hal ini aku belajar bahwa membalas pesan ternyata sangat berdampak. Ada kelegaan dari sang pengirim bahwa ia merasa dihargai. Maka jangan sepelekan pesan apapun karena bisa jadi itu melegakan sang pengirim. Pringamba, 19 Agustus 2017
Gelisah Itu Muncul Lagi
Hari ini tak ada hasrat untuk mengajar. Niatku ingin fokus di perpustakaan. Hanya saja ketidakhadiran Pak Darto selaku wali kelas 1 membuatku mau tidak mau harus menggantikan beliau. Kalau tidak, kelas 1 kosong dan tak terurus. Awalnya aku bersikukuh untuk tidak masuk, namun keributan yang ditimbulkan anak-anak kelas 1 membuatku luluh juga. Ada perasaan tak tega juga jika membiarkan kosong tanpa belajar apapun. Guru yang lain pun sudah fokus ke kelasnya masing-masing. Tak ada Gaji Sudah satu bulan sejak masuk semester ini. Namun belum juga ada tanda-tanda bahwa kerja selama satu bulan itu mendapat imbalan, minimal bensinlah. Bagaimanapun aku mencoba untuk ikhlas, tapi kebutuhan tak peduli itu. Belum lagi debat antara ibu dan bapak di pagi hari membuat mood menjadi buruk. Tanpa sengaja bisikan merantau terdengar nyaring. Allah, kuatkan hati ini. Berilah petunjuk jalan terbaik dan lapangkanlah rezeki hamba-Mu ini. Aamiin. Bandingan, 18 Agustus 2017
Namanya Elisa Murtia Rahayu. Sekarang kelas IV SD N 1 Pringamba. Dan dia adalah satu-satunya delegasi kelas IV yang ikut dalam Jambore Pramuka Kwartir Ranting Sigaluh 2017.
Gadis cilik yang mendapat peringkat 1 ini mempunyai cita-cita untuk menjadi Polwan.
Apapun cita-citanya, harapku ia tak selesai hanya sebagai Ibu rumah tangga yang urusannya dapur, kasur dan sumur.
Singomerto, 12 Agustus 2017
Fokus pada Solusi
Bisa saja aku memilih merutuki keadaan sekarang. Ketika ban motor yang sudah terlihat benangnya, lampu kamar yang redup, sepatu yang minta di ganti dan berbagai rincian yang jika ku tulis akan membuat sesak dada. Hasilnya penuh dengan keluh kesah. Namun aku tahu itu bukan pilihan bijak dan menentramkan. Bukankah merinci hal yang patut disyukuri itu lebih baik dan membuat kita nyaman. Atau kalau dapat bonus, insya Allah nikmatnya akan ditambah. Bukankah itu yang Allah janjikan? "Barang siapa yang bersyukur, niscaya Aku tambahkan nikmatnya." Daripada fokus ke masalah bukankah lebih baik fokus pada solusi? Pringamba, 30 Juli 2017
Hari Pertama di SMK Taruna Negara
17-07-2017. Bukankah itu angka istimewa? Seistimewa hariku memulai untuk pertama kalinya meresmikan diri menjadi guru di SMK Taruna Negara. Kamu tahu apa rasaku? Ternyata tak semenakutkan yang kubayangkan dulu. Gerogi dan takut itu hanya ilusi yang tercipta ketika aku membayangkan bagimana reaksi anak-anak sewaktu bertemu denganku. Kamu tentu tahu ceritaku perihal PPL dulu bukan? Aku yang merasa tidak begitu berhasil menguasai diri membuatku takut. Tetapi tahukah kamu bahwa pengalaman dulu ternyata membuatku lebih menguasai diri. Setidaknya sewaktu masuk kelas aku tak mengatakan hal-hal yang akan menjatuhkan citraku sebagai guru. Menjatuhkan kepercayaan murid-murid atas peranku sebagai guru. Sungguh, aku belajar dari masa lalu. Guru-guru disana juga welcome. Ramah dan tak menakutkan seperti drakula. Aku pun merasa nyaman, meski itu juga tergantung diriku dalam beradaptasi. Setidaknya pergulatanku dalam organisasi berbuah manis, semanis senyummu. He Tetapi yang jelas, berada disana membuatku harus belajar lagi. Dan semoga saja akan membawa kebaikan yang mengantarkan kepada kebaikan-kebaikan lainnya. Doakan ya, semoga aku bisa menjadi guru yang menginspirasi. Tidak hanya sekedar mengajar tetapi mendidik. Menjadi orang yang bermanfaat. Pringamba, 17 Juli 2017 ll Mad solihin
Meraba Jalan Masa Depan
Aku masih gamang tentang jalan mana yang harus kutempuh. Tentang keinginan lanjut S2 atau fokus kerja. Jika S2, jurusan apa yang paling pas dan kedepan juga mempunyai prospek menjanjikan. Pengalaman S1 yang mengikuti alur tentu tak ingin terulang lagi. Aku harus benar-benar matang mempertimbangkannya. Jika di luar negeri, dimana dan apa yang harus ku ambil juga masih aku raba. Sepertinya aku butuh nasehat dan cerita dari mereka yang telah berpengalaman. Aku tak ingin melangkah dalam ketidakpastian. Karena kedepan, hidup itu penuh persaingan. Siapa yang mampu membaca kondisi serta mempunyai kemampuanlah yang mampu bertahan. Jika tidak, maka kesempatan akan dilibas oleh mereka yang jeli membaca peluang. Di zaman yang serba tidak pasti, perlu pembacaan yang teliti agar sekiranya berjalan tidak menuju jalan buntu. Sekiranya berjalan tidak pada jalan yang tak menentu. Ah, semoga kegamangan ini segera berlalu. Pringamba, 16 Juli 2017 ll Mad solihin
Meraba Jalan Masa Depan
Aku masih gamang tentang jalan mana yang harus kutempuh. Tentang keinginan lanjut S2 atau fokus kerja. Jika S2, jurusan apa yang paling pas dan kedepan juga mempunyai prospek menjanjikan. Pengalaman S1 yang mengikuti alur tentu tak ingin terulang lagi. Aku harus benar-benar matang mempertimbangkannya. Jika di luar negeri, dimana dan apa yang harus ku ambil juga masih aku raba. Sepertinya aku butuh nasehat dan cerita dari mereka yang telah berpengalaman. Aku tak ingin melangkah dalam ketidakpastian. Karena kedepan, hidup itu penuh persaingan. Siapa yang mampu membaca kondisi serta mempunyai kemampuanlah yang mampu bertahan. Jika tidak, maka kesempatan akan dilibas oleh mereka yang jeli membaca peluang. Di zaman yang serba tidak pasti, perlu pembacaan yang teliti agar sekiranya berjalan tidak menuju jalan buntu. Sekiranya berjalan tidak pada jalan yang tak menentu. Ah, semoga kegamangan ini segera berlalu. Pringamba, 16 Juli 2017 ll Mad solihin
Tak Usah Takut
Aku masih saja terkekang atas nama takut. Aku masih saja merasa tak leluasa bergerak, seolah jika melakukan ini itu akan dianggap salah yang pada akhirnya berujung pada ketidak ridhoan. Iklim pendoktrinan itu yang membuatku sampai hari ini serasa belum merdeka. Trauma atas kejadian-kejadian masa lalu masih menghantui. Dan sungguh itu sangat tidak nyaman. Seniorku pernah bilang, "Hidup cuma sekali. Kalau bukan merdeka sekarang, kapan lagi?" Tentu temanku juga mengalami hal sama. Cuma cara mengatasinya yang cuek dan lebih memendamnya dalam hati membuatku tak terlalu tahu dan benarkah ia tidak merasakan hal yang sama denganku. Tetapi baiklah, aku akan mencoba berlaku sewajarnya. Tak perlu takut bukan? Toh apa yang aku pikirkan hanya terkaan semata. Benar atau salah aku sama sekali tak tahu. Maka biarlah, selama aku tak membuat kesalahan dan merugikan kenapa harus takut? Satu hal, Jika tak merdeka hari ini kapan lagi? Jika hidup selalu dalam bayangan ketakutan, maka energi dan kemampuan luar biasa yang terpendam dalam diri akan selalu tersembunyi. Maka bersikaplah sewajarnya dan tak usah takut. Itu saja. Banjarnegara, 15 Juli 2017
Bayangan untuk Merantau
Keinginan untuk merantau masih begitu membayangi. Bertahan dalam keadaan saat ini memaksa otakku untuk merasionalkan hubungan sebab akibat. Banyak mimpi yang harus dipenuhi, orang sekitar yang mengetuk hati agar dibantu dan rasa penasaran untuk menguji ketahanan dalam mengarungi hidup. Mimpi kuliah S2 di luar negeri sulit tercapai jika aku tak ikut kursus bahasa inggris. Karena kursus tentu tudak gratis, belum lagi biaya tes toefl sampai 500 ribu per tes. Itu yg toefl, ada yang IELT'S atau ITB yang biayanya lebih mahal sampai 4 juta an. Tak mungkin kan membebankan kepada orang tua? Mimpi menjadi penulis juga akan kandas karena sebelum akhirnya tulisan-tulisanku tercetak menjadi buku minimal aku harus mengeprint terlebih dahulu dan memintakan saran masukan pada orang-orang yang terlibat dalam tulisanku. Pun pada orang-orang yang mampu mendongkrak agar bukuku lebih menarik. Dan itu juga tak gratis. Apalagi jika nanti aku harus mencetaknya secara indie, butuh biaya lebih mahal lagi bukan? Membeli buku juga hal yang tak bisa dihindarkan jika tulisanku ingin lebih bernas dan renyah dibaca. Karena tanpa membaca, seorang penulis akan banyak mengalami kemandekan dalam proses menulis sekaligus tulisannya akan membosankan. Dan buku tidak bisa dibeli dengan daun bukan? Orang disekitar, ibu dan bapak yang selama ini telah truka tak mungkin aku bebani lagi dengan rengekan minta saku demi memenuhi kebutuhanku. Bahkan sebaliknya, merekalah yang harus aku bantu sebagai rasa ta'dzim atas jasanya yang tak ternilai. Ya, hanya sebagai rasa ta'dzim karena jika memilih balas jasa, sebesar apapun yang kuberikan tak sebanding dengan secuil kotoran hitam pada kuku. Dan bagaimana mungkin aku bisa membantu jika kebutuhan sendiri saja belum tercukupi? Ada juga Lulu, keponakanku. Anak dari Mba'ku, Inti Rohimah yang tahun depan meminta kuliah karena sekarang sudah kelas XII, padahal ekonomi keluarga juga pas-pasan. Ada pula Khoiriyah, ia putri bu lik Nisem. Kemenerimaannya pada keadaan sekarang membuatku iba. Dua kakaknya yang sudah tak sekolah, maka dialah penerus yang minimal bisa kuliah. Dan membantu mereka tak mungkin hanya sekedar omongan bukan? Nasehat tak berimbas banyak selain balasan debat yang akan membuatku terkena skakmat. Itu seklumit cerita yang membuatku merasionalkan keadaan. Tentu ada orang-orang disekitar lainnya yang juga ada dalam anganku. Maka, rantau adalah jalan yang hari ini membayangi untuk kupilih. Tapi yang jelas aku harus "Do the best anytime, anywhere and everything." Melakukan yang terbaik dalam keadaan apapun, dimanapun dan kapanpun. Karena itulah kunci dalam segala hal. Saat hal itu abai, maka kepercayaan orang-orang pun sulit didapatkan kembali. Pringamba, 14 Juli 2017
Aku Ingin Menulis, Itu Saja
Menulis itu laiknya berenang. Tak mungkin bisa apalagi mahir jika tak pernah mencebur ke air. Teori saja tak cukup dan tiada guna. Harus mencebur dan berlatih berkali-kali. Itu pula yang harus aku lakukan jika ingin tulisanku renyah dan enak dibaca. Aku meyakini bahwa mereka yang tulisannya bagus juga telah mengalami hal sama, berlatih terus menerus. Menulis, menulis dan menulis. Selain membaca tentunya. Dulu aku memang menyadari hal ini, namun kesadaran itu berlalu tanpa guna. Aku benar-benar merasakan energi untuk rutin menulis setelah bulan ramadhan kemarin ikut #NulisRandom2017. Karena setiap hari nulis di facebook selama satu bulan full maka rasanya sayang jika kebiasaan itu hilang begitu saja. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk memasang aplikasi tumblr supaya leluasa untuk menulis. Perihal manfaat dan benarkah tulisan ini akan bertahan serta membuat tulisanku ke depan lebih baik, biarlah waktu yang menjawabnya. Yang ingin aku lakukan hari ini adalah istiqomah menulis. Itu saja. Pringamba, 13 Juli 2017
Lunturnya Bahasa Jawa
Tiga hari mengikuti bintek kurikulum 2013, cukup banyak ilmu yang kudapat meski membingungkan juga. Bagaimana harus memahami spektrum maupun membuat LK Nuri, semacam tugas yang harus dikerjakan. O ya aku jadi ingat bahwa dalam spektrum itu tak tercantum bahasa jawa. Kok bisa ya? Padahal bahasa jawa adalah bahasa lokal yang wajib dilestarikan mengingat hampir kebanyakan generasi yang lahir pada zaman milenial, banyak yang tidak paham dengan bahasa Jawa. Miris bukan? Jangankan huruf Jawa Ha na ca ra ka, bahasa kromo inggil, ngoko dan alus saja sudah banyak yang tidak tahu. Kalau di sekolah tak diajarkan, bahkan dihapus, 10 tahun depan orang Jawa akan hilang Jawanya. Padahal banyak kehidupan bijaksana yang diwariskan dari sana. Semoga saja bahasa Jawa tetap lestari. Pringamba, 12 Juli 2017