Perihal seseorang yang sangat berarti dalam hidupku;;
Di sepanjang jalan pulang kerja dari Solo ke Jogja, jalannya yang panjang bikin aku memikirkan banyak hal. Kadang aku ingat bagaimana struggle-ku dulu selama menjalani kehidupan kuliah hingga kerja, sampai akhirnya bisa ada di titik sekarang—titik yang dulu selalu bikin aku bertanya ke diri sendiri, “bisa nggak ya aku sampai sana?”
Aku sering meragukan diriku sendiri, tapi di saat yang sama aku juga selalu bergerak, mencoba, dan melawan semua rasa takutku. Kalau ditanya bagaimana aku bisa sampai di titik sekarang, selain karena rasa percaya diri dan kemampuanku sendiri, ada dorongan besar yang secara nggak langsung muncul karena pasanganku.
Titik balik keluargaku terjadi saat ayah mulai sakit. Aku masih ingat, hari ayah didiagnosa gagal ginjal adalah hari pertama aku first date dengan pasanganku yang sekarang. Rasanya seperti Tuhan memberikan beban sekaligus mengirimkan support system di hari yang sama.
Hari-hariku sebagai caregiver waktu itu terasa nggak terlalu berat karena aku masih punya kehidupan yang menyenangkan bersamanya. Saat skripsi, teman-temanku yang dekat sudah nggak lagi di Solo. Aku sempat merasa stuck dan overthinking, tapi aku mendapat energi untuk benar-benar fokus mengejar lulus tahun itu karena dia juga punya semangat yang tinggi. Ambisius, selalu mengingatkanku, dan membuatku merasa nggak mau tertinggal.
Akhirnya kami lulus di tahun yang sama. Di bulan-bulan sebelum wisuda, kami sama-sama sibuk melamar pekerjaan dan interview ke sana kemari. Pernah berangkat subuh ke Semarang lalu pulang malam, besoknya ke Jogja lagi dari pagi sampai sore baru kembali ke Solo. Semua peluang yang bisa menghasilkan uang kami coba jalani.
Dia magang di agency, aku part-time di konveksi baju. Dia nggak pernah malu untuk antar-jemput aku, mendukung apa pun yang aku coba. Mulai dari kerja proyekan di Klaten sampai akhirnya aku mulai bekerja sesuai jurusan di Jogja—dari info pekerjaan yang dia berikan juga. Mungkin kalau dia nggak membukakan jalan itu untukku, aku nggak akan punya pengalaman seperti sekarang.
Lalu datang tahun 2025, tahun terberat dalam hidupku. Kena layoff, kehilangan ayah, menganggur selama tiga bulan. Tapi ternyata 2026 membawa banyak hal yang berbalik. Aku mendapat pekerjaan di perusahaan yang bagus, salary lebih tinggi, full WFH, bisa jalan-jalan ke Bali selama dua minggu, ke Malang, dan semua itu selalu dia support.
Bukan cuma secara finansial, tapi juga mental dan rasa aman.
Ketika aku ingin mencoba hal baru dalam karierku, rasa takut untuk gagal selalu datang. Tapi dia selalu bilang, “gapapa.” Gapapa kalau gagal, gapapa kalau jatuh, karena semuanya akan baik-baik aja—masih ada dia.
Dan entah kenapa, itu selalu berhasil membuatku percaya bahwa hidup memang seberat itu, tapi mungkin akan terasa lebih ringan kalau dijalani bersama seseorang yang benar-benar ada.