sebenarnya aku sangat senang dengan hidupku.
tapi terkadang aku ingin meromantisasi perasaah sedihku lebih lama.
entahlah, merasa buruk lebih melegakan daripada merasa baik.
No title available
Misplaced Lens Cap
Not today Justin
Monterey Bay Aquarium

if i look back, i am lost
official daine visual archive
NASA

Jar Jar Binks Fan Club
RMH

Andulka
Keni

shark vs the universe
Cosimo Galluzzi
hello vonnie

PR's Tumblrdome
TMBGareOK. The Official They Might Be Giants tumblr
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
One Nice Bug Per Day

gracie abrams

Discoholic 🪩

seen from Belarus
seen from Germany
seen from United States

seen from TĂĽrkiye
seen from Vietnam

seen from Bangladesh

seen from Canada
seen from Bangladesh

seen from Canada

seen from France
seen from Vietnam

seen from Russia
seen from Bangladesh

seen from Germany

seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from Canada
seen from Germany

seen from TĂĽrkiye
@maharaniprs
sebenarnya aku sangat senang dengan hidupku.
tapi terkadang aku ingin meromantisasi perasaah sedihku lebih lama.
entahlah, merasa buruk lebih melegakan daripada merasa baik.
ketika beranjak dewasa seringkali dengar kalimat
"hiduplah untuk dirimu sendiri,atas semua pencapaian dan kegagalan,hanya untuk dirimu"
tapi aku teringat perihal ritual sebelum ujian sekolah saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar hingga Menengah Atas saat itu. setiap kami akan menghadapi ujian nasional yang tingkat kesulitannya lebih besar dari ujian yang lain. yang dimana ketika tidak lulus berarti gagal dan tidak bisa beranjak ke tahapan pendidikan selanjutnya. walau pada kenyatannya temanku yang paling dongo dan jarang sekali terlihat di kelas pun akhirnya lulus juga.
kami semua akan di kumpulkan di aula sekolah, berhimpitan dengan anak-anak kelas lain di angkatan kami. sesak --- penuh bau kringat. di hadapan kami akan ada guru - guru dengan wajah serius. beliau akan segera mengatakan mengenai ujian yang sudah ada di depan mata, mengenai segala perjuangan kami selama 3 tahun disini, mengenai harapan mereka bahwa kami harus lulus dan melanjutkan pendidikan lebih tinggi lagi. kemudian akan sampai pada kondisi dimana kita diminta untuk menutup mata dan membanyangkan wajah kedua orang tua kita, membayangkan bahwa mereka semakin tua dan renta, membayangkan mereka berkelahi dengan pekerjaanya untuk membayar uang sekolah kita, membayangkan bahwa kami kebanggakan mereka dan kami harus sukses. kemudian hal yang paling menyebakan ketika kami diminta untuk membayangkan mereka tiada, membanyangkan bagaimana kami pulang sekolah dan menemukan bahwa mereka sudah tiada. sungguh sangat menyebalkan. sampai sekarang aku masih belum menemukan korelasi antara hal tesebut dengan keberhasilan kami untuk lulus ujian nasional.
aku berfikir bahwa dorongan yang diberikan melalui hal tersebut semata-mata untuk mengatakan kalau kami harus berhasil demi kedua orang tua kami. padahal sebenarnya, untuk apa kita bertanggung jawab atas mereka. kami lebih harus bertanggung jawab terhadap diri sendiri. mengapa mereka tidak meminta kita membayangkan beberapa tahun kedepan jika tidak bekerja keras dan hidup dengan baik akan di injak-injak oleh society, akan menjadi pecundang yang bahkan kesulitan untuk mengimbangi gaya hidup yang semakin gila ini, bahwa kita akan kesulitan membayar catering untuk menikah,menyewa gedung dan membeli rumah. semua itu lebih mengerikan saat ini.
pada akhirnya apapun yang kita lakukan untuk masa depan untuk diri sendiri, untuk merasa cukup, untuk bisa menjauhkan dari kesusahan dan untuk melanjutkan hidup.
Ruang tunggu ICCU
pertama kali bagi seseorang selalu menjadi sangat berkesan. apapun itu kesannya.
tahun 2022 bulan juli lalu, pertama kalinya bagiku menjalani kehidupan sebagai cargiveer. saat itu usiaku masih 21 tahun, belum terlalu banyak menyentuh dunia dewasa pada umumnya (menurutku). tapi sudah cukup dewasa untuk itu.
sore hari aku mendapatkan pesan dari om ku "ayahmu masuk IGD, pulang" , aku pun pulang esok harinya. langsung menemui ayah di ruang ICCU,bukan lagi IGD. sepertinya kali ini cukup serius, pikirku.
sebelumnya memang ayah sudah berkali-kali keluar masuk RS dirawat dan kembali tumbang. bukan karena apa, salah satunya karena kebiasaan hidupnya yang bahkan tidak pernah dia ubah setelah pulang dari RS. siapa manusia yang di diagnosa dengan banyak penyakit tapi pulang langsung menyulut rokok, seperti manusia tanpa riwayat penyakit. menyebalkan. kita sempat beradu mulut karena itu. sering lebih tepatnya.
saat sampai RS aku langsung bisa menangkap seberapa besar rasa cemas mamaku. omku yang sudah 2 hari menunggu akhirnya memutuskan pulang karena aku sudah datang. aku lupa saat itu ayah di diagnosa apa karena banyak sekali yang di sampaikan oleh dokter. tapi yang pasti ayah harus menunggu jadwal ruangan Hemodialisa alias cuci darah karena gagal ginjal. aku masih cukup awam.
berhari-hari akhirnya kami habiskan menjaga ayah di ruang tunggu ICCU, aku dan mamah. karena tidak bisa selalu berada di sampingnya kita hanya bisa menengok ayah sesekali dijam makannya.
mamahku adalah manusia yang sangat mudah cemas. cemasnya ini sudah sangat menghawatirkan. sebagai anak psikologi akupun sudah tidak sanggup memberikan nasehat klise apapun itu.
dengan kondisi mental seperti itu, kami disini menunggu ayah tanpa kepastian. seminggu berlalu ayah masih di ruang ICCU. rekan penunggu yang bersama di ruang tunggu pun berbeda-beda. suatu sore ada pasien baru masuk ke ruang ICCU, diagnosanya mirip ayah seingatku. kami mengobrol dengan keluarga pasien. lalu malam hari sekitar pukul 02.00 dini hari. pasien tersebut berpulang. kami terbangun. menyaksikan keluarga menangis, pasien yang di bawa ke ruang jenazah. kami terdiam. mama semakin khawatir,ia tidak bisa tidur kembali. berjalan kedepan ke mushola. aku tau betul mamah sangat khawatir. seperti yang aku katakan sebelumnya, teman menunggu pasien kita selalu berganti-ganti. itu karena banyak dari mereka berpulang atau pindah ke ruang rawat dan meninggal. ayah cukup tangguh bertahan cukup lama di ruang ICCU. melihat begitu banyak kematian yang sangat dekat dengan kami rasanya menyesakkan. sesekali aku menangis di parkiran depan RS.
saat itupun kali pertamanya bagiku melakukan persetujuan tindakan untuk ayahku. aku mendengarkan penjelasan dokter dengan seksama, dan memberikan tanda-tangan. aku cukup lama terdiam di lorong Rumah Sakit, mencerna. dan merasa kalau "wah, aku sudah cukup dewasa untuk mengambil keputusan untuk kehidupan orang tuaku" - tapi aku selalu merasa bahwa aku masih cukup kecil untuk hal ini, aku masih butuh ayahku yang melakukannya. tp ini aku lakukan untuk ayahku. ini hal yang baru. berkesan.
Kini, yang tersisa hanya "ibu"
entah kenapa belakangan aku menyadari bahwa aku sering kali menangis mengingat ayah daripada ibu. aku sering kali mengasihi ayahku, aku merasa sangat kasihan dengan ayah. mungkin karena semua dirumah mengasihi ibu dan sering menyalahkan ayah. relasiku dengan ibu juga tidak se-membekas dengan ayah. mungkin karena selama ada ayah semua yang komunikasi antar anak dan orang tua yang di perluka melalui ayah. ibu hanya sebagai support di balik semua keputusan ayah. namun, belakangan aku berfikir,kenapa aku merasa lega meninggalkan ibu di rumah sendirian sekarang (?) bukankah sekarang hanya anak- anaknya yang dia punya. walau tidak sepenuhnya aku berjarak dengan ibu. mungkin juga aku selalu melihat ibu setegar itu menjalani hidupnya. mungkin karena aku selalu melihat ibu sehat. sedangkan ayah, dia sakit,tidak memiliki kehidupan yang menyenangkan. padahal, telfon ibu setiap pagi, pertanyaan "kapan pulang?'' darinya cukup untuk menunjukan bahwa ibu kesepian. aku selalu merasa bahwa sepertinya ibu akan hidup lebih lama. padahal kita semua disini sedang di kejar deadline yang hanya tuhan yang tau. sepertinya aku harus sering-sering memperhatikan orang tua ku yang hanya tersisa ibu.
monster hitam
kadang rasa cemasku menjelma monster yang mengerikan. sering kali membuatku kuwalahan. rasa takut yang tidak terbendung, penyesalan yang berbentuk makhluk halus. aku sangat membenci perasaan ini, perasaan yang berasal dari pikiran yang sulit kali di kendalikan. ia suka sekali lari kesana kemari, menerawang jauh sekali. menyebalkan ketika mengetahui segalanya bermuara pada lorong yang gelap, jalan yang berliku dan langit yang hampir jatuh. sesak. aku kesulitan untuk bernafas lega. ini sulit untuk seseorang sepertiku. ditengah segala hal buruk yang berputar di kepala, aku selalu tenggelam dalam kesedihan yang selalu ku rayakan. berlarut, setidaknya itu yang selalu ku lakukan.
seperti tidak pernah mengasihani diri sendiri, membiarkan hal buruk itu merasuk kedalam sukma.
Perihal seseorang yang sangat berarti dalam hidupku;;
Di sepanjang jalan pulang kerja dari Solo ke Jogja, jalannya yang panjang bikin aku memikirkan banyak hal. Kadang aku ingat bagaimana struggle-ku dulu selama menjalani kehidupan kuliah hingga kerja, sampai akhirnya bisa ada di titik sekarang—titik yang dulu selalu bikin aku bertanya ke diri sendiri, “bisa nggak ya aku sampai sana?”
Aku sering meragukan diriku sendiri, tapi di saat yang sama aku juga selalu bergerak, mencoba, dan melawan semua rasa takutku. Kalau ditanya bagaimana aku bisa sampai di titik sekarang, selain karena rasa percaya diri dan kemampuanku sendiri, ada dorongan besar yang secara nggak langsung muncul karena pasanganku.
Titik balik keluargaku terjadi saat ayah mulai sakit. Aku masih ingat, hari ayah didiagnosa gagal ginjal adalah hari pertama aku first date dengan pasanganku yang sekarang. Rasanya seperti Tuhan memberikan beban sekaligus mengirimkan support system di hari yang sama.
Hari-hariku sebagai caregiver waktu itu terasa nggak terlalu berat karena aku masih punya kehidupan yang menyenangkan bersamanya. Saat skripsi, teman-temanku yang dekat sudah nggak lagi di Solo. Aku sempat merasa stuck dan overthinking, tapi aku mendapat energi untuk benar-benar fokus mengejar lulus tahun itu karena dia juga punya semangat yang tinggi. Ambisius, selalu mengingatkanku, dan membuatku merasa nggak mau tertinggal.
Akhirnya kami lulus di tahun yang sama. Di bulan-bulan sebelum wisuda, kami sama-sama sibuk melamar pekerjaan dan interview ke sana kemari. Pernah berangkat subuh ke Semarang lalu pulang malam, besoknya ke Jogja lagi dari pagi sampai sore baru kembali ke Solo. Semua peluang yang bisa menghasilkan uang kami coba jalani.
Dia magang di agency, aku part-time di konveksi baju. Dia nggak pernah malu untuk antar-jemput aku, mendukung apa pun yang aku coba. Mulai dari kerja proyekan di Klaten sampai akhirnya aku mulai bekerja sesuai jurusan di Jogja—dari info pekerjaan yang dia berikan juga. Mungkin kalau dia nggak membukakan jalan itu untukku, aku nggak akan punya pengalaman seperti sekarang.
Lalu datang tahun 2025, tahun terberat dalam hidupku. Kena layoff, kehilangan ayah, menganggur selama tiga bulan. Tapi ternyata 2026 membawa banyak hal yang berbalik. Aku mendapat pekerjaan di perusahaan yang bagus, salary lebih tinggi, full WFH, bisa jalan-jalan ke Bali selama dua minggu, ke Malang, dan semua itu selalu dia support.
Bukan cuma secara finansial, tapi juga mental dan rasa aman.
Ketika aku ingin mencoba hal baru dalam karierku, rasa takut untuk gagal selalu datang. Tapi dia selalu bilang, “gapapa.” Gapapa kalau gagal, gapapa kalau jatuh, karena semuanya akan baik-baik aja—masih ada dia.
Dan entah kenapa, itu selalu berhasil membuatku percaya bahwa hidup memang seberat itu, tapi mungkin akan terasa lebih ringan kalau dijalani bersama seseorang yang benar-benar ada.
aku dan olivia sepakat bahwa manusia yang pernah mengisi hati kita dulu masih memiliki tempat kecil di sudut hati yang sudah terkunci rapat. dia tetap disana sebagai bagian cinta yang utuh.
jangan sampai kesepian yang merasuk dalam bentuk tidak terpenuhinnya keinginanku untuk bertukar pikiran membuatku mundur selangkah untuk yakin denganmu.
Pemeran
Manusia senang sekali menciptakan skenario yang tak perlu untuk berputar di kepalanya. Seakan lupa bahwa ia diciptakan sepaket dengan sedih dan senang. Namun tetap saja meminta bahagia, lalu memaki ketika jatah sedih datang.
Terdengar seperti tidak tahu diri. Tapi memang begitulah manusia.
Kalau tidak seperti itu, mungkin bukan manusia namanya— yang serakah akan hal-hal baik saja, yang selalu mencari celah untuk memuaskan dirinya.
Sadarlah. Kau hanya pemeran.
Meski sesekali kau ingin melewati beberapa bab dalam hidupmu, kau tetap harus menjalaninya.
Lakukan saja peranmu, dan kau akan sampai di akhir cerita.
--- rani, 2021.
(telah disunting rani 2026)
Jangan menyimpan seseorang di dalam lagu—ternyata benar adanya.
Entah sudah berapa banyak manusia yang tanpa sadar kusematkan dalam lagu-lagu yang sering kudengar. Setiap nada seperti pemicu kecil yang menyalakan ledakan memori yang tak bisa dihindari.
Meski kadang menyebalkan, aku sering kali tetap tersenyum. Kadang kesal. Kadang bahkan merasa sedikit jijik pada diriku sendiri ketika ingatan itu muncul tiba-tiba—dipanggil oleh musik yang diputar di sebuah kafe, atau dari speaker Indomaret saat aku sedang mengantre.
Sebagian besar dari mereka yang terperangkap di dalam musik itu kini sudah melanjutkan hidupnya. Kami tidak pernah lagi bersua. Mereka berada di belahan bumi yang tak mudah lagi untuk kujangkau.
Namun anehnya, lagu-lagu itu masih menyimpan mereka dengan rapi—seolah waktu tidak pernah benar-benar memindahkan mereka dari sana.
Sorrow of Reunion – Reality Club.
Belakangan ini lagu itu terus membawaku kembali pada ingatan tentang seseorang yang tanpa rencana kutemui lagi di tempat yang terlalu indah untuk sebuah pertemuan yang canggung.
Di pinggir pantai berpasir putih, sore hari, ketika langit perlahan menguning.
Dari dulu rasanya memang selalu ada sesuatu yang tidak selesai di antara kita. Bukan hubungan, tapi dulu kita pernah sedekat itu. Setiap kali bertemu kembali, kita selalu senang mengenang semuanya. Sampai tanpa sadar ternyata sudah empat tahun sejak terakhir kali kita bersua.
Sebenarnya keputusan untuk menemuinya lagi adalah bentuk closure buatku. Aku ingin memastikan bahwa aku benar-benar membencinya. Dan anehnya, pertemuan canggung itu justru membuatku lega—cukup untuk menjadi bekal melanjutkan hidup.
“See you when I see you,” katanya sebelum aku beranjak meninggalkannya di depan kedai seafood yang enak itu. Aku bahkan sempat tertawa kecil.
He’s so funny. Aku selalu suka mengobrol dengannya. Dia punya begitu banyak mimpi yang menurutku keren, dan entah bagaimana dia selalu menemukan cara untuk meraihnya. Posisi yang dia jalani sekarang bahkan sudah ia ceritakan lima tahun lalu, saat kita masih sedekat itu—waktu kami duduk di lereng Merapi dan dia berkata ingin bekerja dan melanjutkan hidup di sebuah tempat.
Dan dia benar-benar melakukannya.
Setelah ini mungkin mimpinya akan jauh lebih besar. Begitu juga denganku.
sebenarnya terkadang aku menyesali banyak hal di masa lalu ku. dan bahkan terkadang aku takut menyesali banyak hal di masa depan nanti. terdengar sangat sia - sia. tapi sepertinya memang aku banyak melakukan hal sia - sia. ketika aku menyesali suatu hal aku pasti akan tersadar itu sudah terjadi bahkan 4 sampai 5 tahun lalu bahkan lebih. itu waktu yang cukup lama bagi seseorang untuk terus merasa menyesal. katanya waktu akan membantu menghapus memori buruk itu. ternyata semua terbawa waktu bukan terbuai waktu. walaupun jika di telaah kembali untuk apa aku menyesalinya kalau - kalau ternyata di masa sekarang dan akan datang aku tidak melakukan apa-apa untuk menjadi lega.
aku terus menyesali diriku yang menjadi bodoh di masa itu dan aku terus menyesali betapa tidak bijaknya aku di masa itu. hingga akhirnya aku membenci kata “seandainya”.
ada hal yang kita saling sadari tapi memilih diam.
aku,adikku, dan mama. manusia yang kini mengisi rumah itu. setelah kepergian ayah sebenarnya kita belum benar-benar di berikan ruang untuk bersedih sepuasnya. tapi seperti yang kita tau,kita tumbuh dalam keluarga yang gengsi menunjukan emosi secara gamblang. aku tau mama,aku,dan adikku yang setiap hari bertemu selepas meninggalnya ayah masih ingin menangis tapi kita selalu menahannya di depan satu sama lain.
kita selalu membicarakan ayah dengan tertawa, saat mama bercerita bahwa ayah selalu begini begitu saat di rs, aku tau mama ingin menangis sambil bercerita.
saat aku membicarakan ayah yang mengajariku banyak hal, yang berdebat denganku tentang semua hal dan semua kejadian menyebalkan, kita semua tau bahwa aku ingin menangis sambil mengingatnya. begitu pula adikku. tapi kita seperti saling ingin menguatkan dengan tidak meneteskan air mata walau sangat ingin.
pada akhirnya,aku memilih ambil ruangku sendiri keluar dari rumah ,memberi ruang mama untuk menangis. akupun juga. dikamar indekosku. menangis sepuasku, maaf ayah kadang aku meraung raung.
tapi aku sekarang tau caranya agar terhubung dengan ayah. berdoa,mendoakan,ziarah.
desember tahun pertama tanpa ayah
hai desember, rasanya hidupku sempat terhenti sejenak di november kemarin. banyak hal yang aku alami secara bertubi tubi, secara cepat,terjadi begitu saja tanpa aba aba tapi memang seperti itu kan dunia memperlakukan kita. aku tak apa, hanya sedikit lebih rapuh dari sebelumnya. sampai saat ini aku masih baru mencerna, bahwa aku mengalami duka dan kehilangan yang lain. tapi aku selalu percaya bahwa tuhan selalu memberikan keberkahannya yang lain. setidaknya itu yang aku percayai.
aku saat ini masih mudah menangis. aku sampai harus berpesan ke pasanganku bahwa "kalau aku tiba tiba menangis padahal kita sedang baik baik aja biarkan lah, biarkan aja aku, tidak perlu kamu bertanya ya" ia pun tidak banyak bertanya dan langsung meng"iya"kan mau ku. karena begitu lucunya, aku dalam keadaan se spontan mungkin tiba tiba menangis mengingat ayah. maafkan aku ayah.
terkadang aku juga ingin mengatakan ke teman temanku, kalau aku tidak masalah ketika harus membahas soal ayah, walau sedih tapi aku senang, kadang juga aku merasa terlalu banyak bicara soal ayahku, rasanya sungkan karena banyak bicara. menceritakan ia semasa hidupnya membuatku terbiasa tegar jika mengingatnya.
bulan ini, aku mulai melanjutkan hidupku, memperjuangkan yang sempat hilang. terkadang juga aku merasa "apakah aku sudah pantas hidup seperti biasanya sedangkan aku masih berduka, aku tidak ingin orang orang merasa aku sudah semudah itu melalui duka" tapi apalah, menjelaskan membuatku lelah.
selamat bertambah usia albasku 🤍
semoga kamu selalu dalam lindungan, bahagia,sehat dan penuh keberkahan. terimakasih karena masih dan akan selamanya membersamaiku di tahun tahun kelahiranmu. senang karena bisa bersamamu di usia yang tidak mudah ini. teruslah bertumbuh menjadi albas yang lebih hebat lagi dan lagi, aku selalu mendukung dan mendokan segala inginmu. sekali lagi, selamat menua sayangku, i love u so much 🫶🏻
ketika memulai kebiasaan mengirim Al - Fatihah untuk ayah selepas ibadah, sejenak aku menyadari bahwa satu satunya cara untuk terhubung dengan ayah hanyalah doa.
aku tidak lagi dapat menghitung berapa kali aku membuka album kenangan di ponselku,hanya untuk mengenang, tersenyum dan pada akhirnya menyadari bahwa ayahku hanya hidup dalam kenanganku,saat ini — hingga selamanya.
selamat hari ayah.