Nak tengok seksi lagi tak ?reblog dulu
noise dept.

Kiana Khansmith
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

blake kathryn
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
One Nice Bug Per Day
★
Jules of Nature
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
h
NASA
untitled

oozey mess
Misplaced Lens Cap
Today's Document
Xuebing Du

if i look back, i am lost
Interview Vampire Daily

tannertan36
I'd rather be in outer space 🛸

seen from United States
seen from Singapore

seen from Bulgaria

seen from Türkiye
seen from Japan
seen from Italy
seen from Saudi Arabia
seen from Libya

seen from United States
seen from France
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
@malaysiawar701
Nak tengok seksi lagi tak ?reblog dulu
Bulat je di sebalik tudung tu.
Ayahku Sayang
Aku masih teringat betul ketika aku masih kecil ayah selalu yang mengurusku, walau ayah sebetulnya hanyalah ayahku tiri, tetapi sayangnya kepadaku betul – betul melebihi almarhum ayah kandungku sendiri. Dari umur 7 bulan aku diurusnya, dimandikan, disuapin pokoknya diurus selayaknya seorang ibu mengurus anaknya, ini disebabkan mama-ku bekerja dikantor dan ayah berwiraswasta. Yang aku ingat betul kalau tidur aku selalu minta dikeloni ayah, hal itu sampai aku umur 12 tahun, bila ayah tidur aku didekapnya dan pada umurku yang ke 9 tahun aku merasakan didekap dan disayang sebab memekku selalu dielus-elus ayah.
Sewaktu aku umur 11 tahun dan aku duduk dikelas 6 SD, aku minta diajari ayah matematika dan ayah selalu mengajariku, tetapi pada malam itu ayah memegangi memekku dan rasanya betul2 enak sekali, aku betul merasakan nikmat sampai keluar cairan dari memekku sehingga membasahi celana dalamku bahkan sampai kepahaku, dengan sayangnya ayah menyekanya dengan sapu tangannya lalu saya disuruhnya istirahat tidur.
Bangun pagi kepalaku pusing dan berat, sampai aku membolos sekolas, aku betul2 merasakan sesuatu yang belum pernah aku rasakan semalam. Semenjak itu aku semakin dekat dengan ayah dan mersa lebih menyayanginya, bahkan aku belum tidur sebelum ayahku mengajakku tidur.
Pada suatu saat seperti biasanya aku diajak berenang oleh ayah dan aku masih taraf belajar aku diajari ayah berenang tetapi ayah saya minta memegang pahaku dan seperti biasa ayah memegang memekku, hal tersebut aku nikmati, jadi bukan belajar renang tetapi aku betul2 menikmati rabaan ayahku.
Selesai berenang aku diajak ayah kekamar ganti pakaian, aku telanjang bugil (maklum anak kecil), ayah lalu mengelap badanku dengan handuk, seluruh badan dilap sampai kering dan tiba2 aku disuruh duduk dibangku, kakiku dibuka ayah memekku diraba aduh enaknya dan cairan mulai keluar dari memekku, lalu ayah jongkok dijilatinya memekku, aaaccchhhhh…..” aaaaacchhhhh……..” aku merasakan lebih enak, yang akhirnya badanku terasa seperti melayang sampai2 aku dekap kepala ayahku, aaacchhhh……..,” ayaaaahhhh………”
Sewaktu aku mulai masuk SMP aku kalo berangkat bersama-sama ayah, sebab arahnya satu jalan kearah tempat kerja ayahku, setiap pagi aku betul2 senang sebab sambil menyetir mobil tangan ayah selalu mengelus-elus pahaku, eemmmhhhh……” betul2 enak.
Pada umurku yang ke 14 kebetulan mama-ku pergi keluar kota menengok saudaranya yang baru beli rumah, aku berdua dengan ayah dirumah. Waktu malam hujan turun deras sekali dan aku merasa takut lalu aku minta ayah menemaniku tidur dikamarku, wah aku betul2 merasa aman dalam dekapan ayahku, sampai aku tertidur pulas, aku merasakan memekku ada yang mengelus, betul2 enak dengan memekku yang masih belum numbuh rambut masih polos. Aku terbangun tetapi diam saja sebab aku tahu ayahlah yang meraba.
Semakin lama semakin enak, sampai - sampai cairan dimemekku keluar aduh aku betul - betul tersiksa rasanya, aku beranikan diriku aku raba Titit ayahku, aduh aku kaget betul - betul besar sekali, baru sekali inilah aku megang Titit. Dengan sabar bajuku dibuka ayah (sebab kalau tidur aku tidak pernah pakai BH, walaupun Buah dadaku masih kecil) setelah terbuka leherku mulai dicium ayah dan aku betul2 terangsang, tahu2 Buah dadaku dicium, dijilatnya aduh enaknya eeehhh malah diemut aduh maakkk!! aku tak tahan, tanpa aku sadari keluar suara dari mulutku aaaaccchh……”. uuugghhh……..” aaaaacccchhhh…..”
Rupanya ayahku jauh berpengalaman, di tariknya CD ku pelan - pelan dan setelah terbuka sampai aku betul - betul bugil pelan – pelan dari toket yang dicium turun ke perut terus ke paha teruusss pelan - pelan dibukanya kakiku yang kecil dengan sayang dijilatinya memekku, aku tarik rambut ayah saking enaknya dan ayah pun tahu aku mulai merasakan lalu posisinya dirubah kakiku dikangkangkan dan pelan - pelan kepala Tititnya digosok-gosokkan dibibir memekku aduuuuuhhhh…..” aaaayyyaaaaahhhhh…….,” rintihanku dengan lembut ditekannya Titit ayahku kelubang memekku aduh ngilu campur geli rasanya, lalu dielus - eluskan lagi kepala Titit ayahku di bibir memekku setelah itu aku terangsang lalu ditekannya lagi dengan lembut, lama - lama sssrrrreettt kepala titit Ayahku masuk, ayaaaahhh…..!” rintihku dan ayah mencabutnya lagi lalu digosok-gosok lagi sampai aku terangsang lagi dan ditekannya lagi, ber-kali - kali hal tersebut dilakukan ayah, lama - lama aku betul - betul merasakan enak yang selama ini belum pernah aku rasakan, yang akhirnya aku menggelinjang dan kupeluk ayah aaaayyyyyaaaahhhhh……,” uuuggghhh……,” aaayyyyaaahhh……,” aaaaccchhhh……” aaayyyaaahhh…..” eeeennnaaaak…….!” dan terasa hangat didalam memekku, rupanya semprotan air mani ayah.
Aku terasa ngantuk sekali, lama Titit ayah didalam memekku setelah mengecil baru ayah cabut dan dijilatinya memekku, sampai aku terangsang lagi aduh ayah….” “Devie minta lagi, pintaku , ayahpun melayaniku lagi, aduh enak ayah, sampai - sampai aku tertidur dalam entotan ayahku. Pagi aku bangun pakaianku sudah terpakai dibadan, rupanya ayah semalam yang mengenakannya dan ayah sudah membuat- kan minum hangat untukku serta sarapan pagi, kebetulan hari itu hari minggu, setelah minum dan makan aku ajak ayahku sayang tidur lagi dan terjadi lagi seperti semalam. Jadi selama mama pergi kami selalu melakukan dengan ayah, demikian juga setelah mama pulang kami masih sering sembunyi - sembunyi melakukan gituan ( Hubungan Seks ). Bahkan sama teman cewek yang sudah punya punya cowok kalo mereka melakukan gituan aku ikut nimbrung.
Sekarang aku sudah 16 tahun dan kelas 2 SMU akan naik ke kelas 3, masih aku sering minta ayah melakukan itu untukku dan ayah tidak pernah menolaknya.
Terima kasih ayah ku sayang, engkau telah membesarkanku dan engkau pulalah yang mendewasakanku, aku sulit melupakan.
Aku dan papi ku
Namaku adalah Regina, orang di rumah biasa memanggil ku Egin, demikian juga teman-temanku . Aku mempunyai postur tubuh yang lumayan tinggi, 170cm dengan berat 59 kg. Banyak yang bilang kalau aku memang seksi, montok dan menggemaskan. Karena memang kalau dilihat ukuran payudaraku yang juga besar, 36c. Umurku sekarang 25 tahun, sudah menjadi seorang wanita yang cukup matang. Namun aku memutuskan untuk belum menikah. Aku bekerja di sebuah perusahaan swasta milik papiku di daerah Sudirman, Jakarta. Sudah 2 tahun aku bekerja di sana, sebagai general manager, yang membawahi sekitar 35 karyawan.
Cerita ini berawal sekitar 7 tahun yang lalu, waktu itu aku kuliah semester 1
Beginilah kisahku….
Semuanya ini berawal dari kehidupan keluargaku yang boleh di bilang berantakan….Papiku seorang pengusaha yang sukses…bergerak di bidang property yang cukup terkenal di Indonesia. Dia seorang yang gila kerja tetapi juga gila wanita, sehingga sepertinya beliau banyak memiliki wanita simpanan. Sedangkan mami selalu sibuk dengan kegiatan sosial, karena mami juga adalah seorang yang sangat aktif di sebuah partai yang bonafit. Dan tidak jarang aku memergoki mami sedang asyik bercanda mesra di handphonenya. Pernah satu kali aku, secara tidak sengaja membaca sms di handphone mamiku, isinya membuat aku jadi jijik, karena ternyata sms itu dari pacar-pacarnya. Yang paling membuatku tambah kesal setelah ku selidiki pacar-pacar mami itu adalah pemuda-pemuda yang biasa kita kenal dengan istilah gigolo.
Hancur hatiku melihat semuanya ini terjadi dalam keluargaku.
Hingga pada suatu malam, di saat aku tidur dalam kamarku aku merasakan ada sesuatu yang menggerayangi tubuhku. Awalnya aku merasa seperti ada binatang yang merayap dari ujung rambutku sampai ujung kaki, lalu akhirnya naik lagi dan berhenti di sekitar selangkanganku, antara sadar dan tidak aku membuka mataku, dan alangkah kaget nya aku setelah kulihat papi dengan tubuh tanpa selembar benang pun sedang mengelus-elus celana dalam ku sementara tangan kanannya sedang mengocok penisnya sendiri.
“Sambil berteriak aku berkata :
“paappiii….apa yang sedang papi lakukan???, tenang sayang jangan berteriak nanti semua orang bangun…., kata papiku.
Sambil aku membereskan dasterku yang sudah berantakan, sementara papiku masih terus mengocok penisnya yang besar dan berurat itu. "Lalu papiku berkata :
"ayo puaskan papi sayang….sudah lama papi melihat pertumbuhan badanmu yang semakin seksi….”.
Sementara aku menjadi bengong dengan semua yang telah ku lihat, juga melihat sifat liar papi, aku juga mulai melirik ke arah penis papi yang menurutku sangat besar itu. Karena di banding dengan penis pacarku, penis papi jauh lebih besar dan panjang. Terus terang aku juga belum pernah merasakan apa yang namanya ML, aku dan pacarku hanya sebatas pegang-pegang alat kelamin saja…..tidak lebih dari itu, karena aku sangat takut untuk melakukan hal2 yang aku anggap tabu , maklum usiaku masih 18 tahun waktu itu. Lalu papi mulai meraba-raba ku lagi, “ayo sayang jangan takut, buka daster mu yuuuu….”. “tidak…seharusnya papi tidak berbuat ini….akukan anak papi sendiri….darah daging papi….!!!”.
Lalu terhirup aroma minuman keras dari mulut papi, begitu kencangnya sehingga rasanya kamarku di penuhi aroma itu. Dan akupun segera tahu kalau papiku sedang mabuk berat dan disergap oleh nafsu birahi yang tak terbendung lagi.
“Papi kan bisa melakukannya dengan mami atau wanita2 lain yang bisa papi bayar”, kataku. “Ach…mamimu sudah tidak perduli dengan papi, dan juga papi bosan dengan wanita2 itu, papi kepingin mencicipi kamu sayang….., balas papi. Antara bingung dan marah (namun dalam hatiku kagum melihat penis sebesar itu) akupun tidak tahu harus berbuat apa….akupun berkata "nanti kalau ketahuan mami atau orang lain bagaimana???”. “ach…..perduli setan dengan mereka semua……
Sambil tangan nya yang kekar itu menarik tubuhku, papi mulai mencium bibirku dengan nafsu yang sudah membakarnya, dirobeknya daster ku hingga tubuhku hanya dibalut bra dan celana dalam saja. Aku pun tak kuasa melawan tenaga papiku yang begitu besar, walaupun aku sudah mencoba, namun sia saja, papiku malahan tambah liar karena melihatku meronta ronta….
Akupun hanya bisa pasrah dan menangis saat papi menarik bra dan celana dalam ku, hingga sekarang tubuhku benar2 telanjang bulat. Papi pun mulai menjilat jilat puting susuku, sambil tangannya memainkan vaginaku. Dari yang tadinya aku meronta ronta, sekarang sedikit demi sedikit aku mulai menikmati permainan papi. "sshhhh….aaaaachhh…..ooooowwww…” “tttteeeerrruuuuusss……oooooohhhhh….” desahku. Akupun mulai di kuasai oleh nafsu yang bergerak perlahan menjalari tubuhku. Sementara papi dengan rakusnya mulai menjilati vagina ku, dan sesekali menghisap klitoris ku. Dan tangan ku pun mulai mencari cari rudal papi. Ku kocok pelan-pelan sambil mengimbangi serangan papi.
Saking besarnya hingga tangan ku tidak muat lagi untuk menggenggam rudal papi.
“ Ayo gin terus kocokin kontol papi….. ” sssssshhhh……aaahhhhh….. Dan akhirnya papi pun mengakhiri jilatan jilatannya dan kaki ku ditariknya, sambil berjongkok dia pun memegang batang penisnya dan langsung mengarahkan ke lubang vagina ku. “ papi nanti kalau egin hamil bagaimana??? ” gampang nanti kita gugurin aja….. “ tapi egin belum pernah begini…..pelan2 ya…. ” iya sayang ini juga pelan2…. Papi mulai menempelkan penisnya di bibir vagina ku…. “ aauuuuwwww…..sakit pi……. ” cuma sebentar sakitnya sayang…..abis itu pasti enak banget d…. Dia pun mulai menekan lagi…. “ bless….ssrreeet…….ssrreeettt…… ” oooouuuuwww…..pppaaaapppppiiiiiiii…….
Akupun berteriak sekencang-kencangnya, tanpa perduli ada yang mendengar atau tidak. Papi pun mulai menggenjot tubuhku. Lama kelamaan aku pun tidak merasakan sakit lagi….tapi kenikmatan yang tiada taranya…..dan aku merasa penis papi memenuhi seluruh rongga rahimku. Akupun mulai mengikuti irama goyangan papi dengan menggoyang pantat ku ke kiri dan ke kanan.
“ ssssshhhhh…aaaacchhhhh……ooooooohhhh…. ” eeennnaaakkkk ssseeeekkkaaallllii ppaaapppp…. “ ooooohhh……aaahhhh…..yyeeessss…..terus goyang sayang….. ” ppeeegggaannggg pppannntttaattt pppappi…..saaayaaannngg… “ oooohhhh….ttterrrruuussss……gggiiinnn……. Mulut papi mengulum-ngulum puting susuku, dan sesekali menjambak rambutku…..akupun sudah terbakar oleh birahi yang menyala-nyala…tidak sadar kalau lelaki yang sedang menyetubuhiku adalah papiku sendiri. ” pi…egin mau di atas ya…. “ iya sayang…., sambil menghentikan genjotannya dan berbaring di sisiku Akupun mulai menaiki tubuh papiku yang sudah basah oleh keringat kami berdua. Dan aku mulai mengarahkan rudal papi ke lubang vaginaku….. "blesssek….oooohhhh…..
Masuklah seluruh penis papi ke dalam vagina ku yang mungil. Tapi aneh, sekarang sudah tidak sakit lagi seperti pertama papi menusukkan penisnya tadi. Akupun mulai bergerak naik turun dan goyang ke kiri dan ke kanan, sambil kedua tangan papi meremas remas susuku.
” ahhhhh…ahhhhh…yyyeeeaahahhh…… “ teeeruuuus…..gggooyyyaannnggg….sssayyyyaaannng g…. ” aaaaahhhh….aaaahhhh…….aahhhh…ppppaaaappppi iii….. “ aaayyyyyoooo…..ssssoooodooookkkk….ppppiiii…. . ” yyyaaannngggg….kkkeeennncceeeenngg….oooohhhh.. .. Gerakanku semakin tidak beraturan dan mulutku meracau hebat…..hingga akhirnya ada sesuatu yang mendesak ingin keluar dari dalam tubuhku. “ paaaapppiiii….eeegggiiinnn….uuuddaahh….ggaa. …tttaaahhhaannn…. ” eeeggiiinnn…mmmaaauuu..kkkeellllluuuaarrrr….. Papi semakin gencar menaikkan pantatnya menghujam vaginaku….semakin cepat….dan cepat lagi…. “ taaahhhaannn ssebbenntaarr ssaayaaannggg…. ” papi jjjugggaa maauuu kkkellluuuarrr….. “ kkitaa kkkelluuaarriinnn ssaaammaa ssssaaammmaa yyayaaa….. ” ahhhh…..aaahhh….ahhhhh…aahhhh “ yyeeess…..yyeesss…. ” aayyoooo….ssaayaaannggg….pppaaapppiii…kkkell llluuuaarr…. “ cccrrootttzzzz….crooottssss…..ccrrotttsss….. ” eeeegggiinnnn jjjuuugggaaa kkkellluuuarrr pppaaapp…… “ ssrrreeettt….srrreeeetttzz……aaaahhhhhhhh….
Papi langsung membalikkan tubuhku dan menekan penisnya sambil mendekap tubuhku sekuat tenaga, begitu pun aku membalas memeluk tubuh papi, sampai aku merasa melayang di awan2. Tak terasa sudah 35 menit berlalu, waktu sudah menunjukkan pukul 3 lewat 10 menit, kami bertempur dengan hebatnya, sehingga ranjangku pun basah oleh peluh kami.
” kamu hebat sayang….“ kata papi. ” papi ga sangka…. “ iya tapi papi mau perkosa egin tadi… ” maafin papi ya… “ iya….tapi papi janji mau beliin egin apa aja yang egin minta… ” iya papi janji sayang…..
Sambil mengecup keningku papi pun keluar dari kamar ku, dan aku pun menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku dengan siraman air hangat….
Setelah itu aku dan papi selalu mengulangi perbuatan ini kapan saja dan dimana saja kami suka, kadang di rumah, di hotel, di kantor papi, di kantor ku, di mobil, dll. Sampai saat ini (aku bekerja di perusahaan milik papi ku) kami pun masih tetap melakukannya, walau usia papi yang sudah hampir 60 tahun, dan tidak ada yang mengetahui perbuatan kami ini termasuk mami. Karena mamipun sibuk dengan gigolo2 nya, kurasa mami pun tahu, tapi dia tidak ambil pusing dengan ulah kami ini. Beginilah kisahku dengan papiku tercinta….
Ita Anak Tiriku
Sudah satu bulan aku pulang pergi ke rumah sakit karena istriku sedang sakit lever yang cukup akut. Aku tinggal di rumah bersama satu pembantu dan Ita anak tiriku yang baru saja menginjak kelas satu SMA.
Sore itu aku baru pulang kantor dan hendak ke rumah sakit pukul 18.00 WIB, aku sedang duduk di teras depan sambil membaca koran harian sore.
“Sore pak… ini Ita buatkan teh buat bapak..” sambil Ita memberikan secangkir teh kepadaku.
“Makasih Ta…! ” jawabku padanya.
“Bibi kemana Ta..?” tanyaku padanya, karena dari tadi pembantuku tidak kelihatan.
“Tadi katanya mau nengok saudaranya di Pulo Gadung..!” jawabnya.
Sore itu Ita kelihatan nampak sexy sekali, mengenakan bawahan pendek putih dan kaos tipis, sehingga tampak lekuk tubuhnya membuat libidoku menjadi bangun apalagi aku sudah lama tidak mendapatkan kenikmatan dari istriku.
“Pak kelihatannya tampak lelah sekali ya pak… ?”
“Iya Ta” jawabku.
“Ita pijitin ya pak…”
Lalu Ita tanpa dikomando sudah memijit kepalaku.
“Oh pijitan kamu enak sekali Ta… !”
“Iya dong pak… ! ” jawabnya.
Aku dipijit Ita dari belakang dan jemari tangannya membuat aku semakin ingin menerkamnya. Dan tiba-tiba posisi Ita berganti memijatku dari depan sehingga dua gundukan susu Ita tampak jelas terlihat. Sesekali tubuh Ita menempel ke tubuhku dan kontolku pun semakin keras mengacung ke depan.
Aku mencoba untuk tenang dan memejamkan mata, tapi ketika tangan Ita mulai memijat punggungku dan tubuhnya sangat rapat sekali dengan tubuhku, sehingga dengan sengaja aku majukan pinggulku.
“Ah… Tititnya Bapak nyenggol lutut Ita nih……!!!” candannya padaku.
“Kalau nyenggol memangnya kenapa Ta…?”
“Ah bapak… Ita hentiin nih mijitnya..?!”
“Jangan dong sayang… Ita enggak kasihan sama bapak… ?”
Lalu aku tarik pinggul Ita dan langsung Ita tertarik tubuhnya di pangkuanku. Ita mencoba untuk bangkit tapi aku malah mendekapnya.
“Pak… ah… pak… jangan… dong…!!”
Tapi apa boleh buat posisi Ita sudah dalam pangkuanku, dengan kondisi berhadapan dan kedua kakinya tepat berada dalam sanggahan pahaku. Sementara bawahan pendeknya sudah agak sedikit tersingkap dan kontolku sudah menempel tepat di memeknya. Lalu aku tekan pinggul Ita dan pinggulku aku gesek-gesekkan ke arah pinggulnya dan terasa gundukan daging memek Ita terkena benggolan kontolku yang besar.
“Pak ah… pak… ja… jangan… pak…geliii!!” Ita mencoba meronta tapi sesekali dia tampak sedikit menikmati karena di balik rontaannya terkadang ada satu gerakan pinggulnya yang mencoba mengimbangi irama gerakanku.
Ita mulai mengurangi gerakannya dan akupun semakin menggila. Aku keluarkan seluruh kontolku dari balik celanaku, sehingga makin menyembul keluar, lalu aku kulum mulut Ita dengan mesra. Awalnya dia agak kaku tapi lama-kelamaan mengikuti juga irama ciumanku.
Sleep… ah… sleeep ah… Ita mendengus ketika lehernya mulai kena oleh serangan bibirku.
“Ah… pak .. enak… pak… Ita belum merasakan seperti ini” rintihnya.
Lalu tangan kiriku mulai menelusup ke dalam bawahannya dan aku langsung merangsek ke bagian depan celana dalamnya. Terasa mulut memek Ita sudah basah. Jari-jariku menyisir bagian pinggir celana dalamnya dan aku singkapkan sedikit, sehingga aku merasakan lubang memek Ita sudah bebas tidak tertutup lagi oleh celana dalamnya. Lalu aku arahkan kontolku mencari lubang kemaluan Ita. Dan ketika aku tekan aku merasakan ujung kontolku sudah tepat di lubang memeknya dan ketika aku tekan.
“Ah… pak… ngilu… pak… ahhh… geliii !!!” Mata Ita tampak terbelalak.
“Bentar sayang bapak masukin ya…” dan napasku makin mendengus.
“Tapi… pak… ah… ah… ge… gelii… pak….!!!”
Ketika seluruh kontolku masuk merangsek memeknya yang masih sempit itu, kontolku merangsek masuk dan rasanya begitu sempitnya memek Ita.
“Bapak… aduh… bapak… aduh… pak… ah… ah….!!!”
Ita mulai menjambak rambutku, ketika kontolku menghujami memeknya berkali-kali.
Sleep… slepp… sleep… plok… plokkk… antara pahaku dengan paha Ita saling berbenturan.
“Ahhh… aaah… aaaah… bapak sudah pak….. memek Ita ngilu..!!!!”
“Bentar sayang… uh…. uhhh… bapak lagi enak…..!!!”
Aku terus merojok-rojokkan kontolku pada Ita, sehingga Ita terkadang meringis menahan sakit tusukan kontolku. Tubuh Ita sudah mulai agak sedikit lunglai dan tersandar pada tubuhku, sedangkan pinggulku masih dengan perkasa menggoyang naik-turun sehingga seluruh kontolku keluar masuk ke memek Ita yang masih perawan itu.
“Bapak… bapak…. enaaak… pak… ah…. ah… pak… kenapa jadi begini… pak…”
Tubuh Ita nampak sudah basah kuyup oleh keringatnya yang keluar deras dari pori-pori kulitnya.
“Oooh sayang… oh… punya kamu enak sekali… ooohh….!!!!”
Lalu aku hentak keras ke atas ketika ujung kontolku sudah terasa akan mengeluarkan spermaku. Crooot…. crooot… croot…. ah… ah… aku dekap Ita dengan pelukanku begitu erat. Pinggulku aku tekan kuat-kuat ke arah memeknya. Seluruh spermaku masuk ke dalam memeknya dan Itapun menjerit histeris.
“Ah… paaaaak…. ah…..”
Aku biarkan kontolku menancap di memek Ita. Aku merasakan denyutan rongga-rongga memek Ita. Kami terdiam sejenak, sementara Ita masih dalam dekapanku dengan rambut yang masih acak-acakan.
“Hmmm… pak… hmmm” Enak…“ Ita mulai sedikit merajuk.
"Kenapa sayang… enak enggak punya bapak ?”
“Ah… bapak… punya Ita sobek nih pak… ah… bapak jahat” sambil tangan Ita memukul-mukul ke arah tubuhku.
Lalu Ita merebahkan tubuhnya ke tubuhku dengan manjanya sambil jari-jari manisnya memainkan ujung rambut panjangnya.
“Pak… bapak puas engga ngentotin Ita ?” tanyanya padaku.
“Bapak puas sayang… punya Ita enak sekali… mandi bareng yuuk sayang… nanti kita jenguk ibu di rumah sakit”
Ita mengangguk kecil dan kami akhirnya untuk pertama kali mandi bersama. Setelah mandi aku dan Ita pergi menuju rumah sakit.
Ayahku Sendiri
Ini adalah kisah nyata yang saya alami semasa kecil . Saya membuat cerita ini sebagai gambaran agar tiap cewe dewasa terutama remaja putri mengerti apa itu seks.
Nama saya Maria, 18 tahun, Kejadian ini bermula pada bulan April 1995 di rumah saya di Jakarta Selatan,ketika itu usia saya baru 11 tahun. Saya berasal dari keluarga berada dan ayah saya seorang dokter spesialis THT.
Ayah saya sangat menyayangi saya dan memang saya adalah anak tunggal. Pada awal bulan Maret 1995, ibu saya pergi ke Kalimantan untuk kerja dinas dari kantornya selama 2 bulan.
Selama ½ bulan pertama keadaan biasa-biasa saja, hanya saja saya melakukan kesalahan yang tidak saya sadari yaitu saya menjadi senang memakai daster tipis yang sebatas lutut saja tanpa memakai BH. Ibu saya memang selalu menganjurkan saya untuk memakai BH semenjak 2 bulan yang lalu karena usia saya mulai menginjak 11 tahun. Tetapi karena saya terlalu cuek, maka saya tidak memakai BH saya karena terasa panas kalau dipakai.
Tapi setelah ½ bulan kepergian Ibu saya ke Kalimantan, saya mulai memperhatikan gerak gerik ayah saya yang kadang-kadang memperhatikan ke arah paha saya kalau saya sedang menonton (saya suka menonton di lantai dengan mengangkat sebelah kaki saya), tapi saya tidak menghiraukan itu semua.
Kadang pula ketika saya sedang mengerjakan PR ayah saya suka melirik ke arah belahan daster saya. Saya tahu buah dada saya akan terlihat oleh ayah, yang pada saat itu dada saya masih kecil tapi sudah mulai agak terbentuk. Tapi saya berpikir, kenapa harus malu, khan ayah saya sendiri ??
Pada suatu hari saya merasa tidak enak badan. Saya mengatakan ke ayah saya untuk tidak sekolah saya besok. Lalu pada malam harinya ayah saya meminta kepada saya untuk membuka daster saya supaya dipijit saja agar lekas sembuh. Mulanya saya merasa agak risih juga sih…. tapi yah sudahlah ! Lalu saya membuka daster saya dengan badan membelakangi ayah saya….soalnya saya agak malu juga !! lalu saya tidur tengkurap dengan hanya memakai CD saja . Ayah saya lalu memijit betis saya dengan lembut dan perlahan-lahan kearah paha saya. Saya merasa geli juga soalnya pijitannya itu lebih pantas disebut belaian !
Lalu tangan ayah saya mulai merayap ke arah pangkal paha saya. Di situ saya merasa perasaan campur aduk antara geli, nikmat, dan darah mengalir akibat jantung berdegup dengan kencang ! Saya jadi bingung, jantung saya berdebar-debar, keringat mulai keluar. Sesekali jari ayah saya menyentuh belahan vagina saya yang masih tertutup CD. Saya menengok ke arah kanan saya…astaga ! ayah saya tidak memakai CD di balik belahan celana pendeknya ! Saya melihat sebuah “ular” yang berotot, tegang dan besar dengan kepalanya bewarna pink.
Tiba-tiba tangan ayah saya merayap ke dalam CD saya dan menyentuh Anunya saya. “Geli yah !” kataku Lalu dia menjawab, “Ria..biar ayah buka saja celana dalammu supaya ayah bisa memijit bagian pantatmu, soalnya penyakitnya mungkin ada di bagian tulang ekor kamu !”.
Saya menganggukkan kepala saya lalu ayah membuka CD saya (tubuh saya masih tengkurap saat itu). Lalu dia mulai memijit pantat saya dengan lembut dan perlahan. Tangannya kadang membuka belahan pantat saya..saya jadi malu juga..pasti terlihat anus dan belahan Anunya saya ! Dia lalu berkata: “Ria coba balikkan badanmu supaya ayah bisa memijit perutmu”. Saya bingung ! Akhirnya saya membalikkan badan saya dan terlihatlah dada saya yang mulai terbentuk sedikit dengan pentil bewarna merah jambu dan Anuku yang belum tumbuh 1 bulu pun ! Ayahku mulai memijit perutku lalu ke dadaku dan menyentuh puting susu ku juga. “Geli yah !” kata saya. Lalu ayahku menurunkan tangannya ke perutku lagi dan akhirnya ke bagian Anuku dan sekali lagi saya berkata “Geliiiii yahh!”
Lalu dengan tenang dia berkata : “Ria…tenang saja, ayah kan dokter, jadi ayah tahu cara menyembuhkan kamu…biar ayah lihat bagian dalam Anumu, mungkin disitu ayah bisa ngeliat gejala penyakitnya” Saya heran..kok ngeliatnya di dalam Anuku padahal saya kan cuma nggak enak badan !
Yah sudah ! akhirnya saya melentangkan kedua kaki saya. dia mulai membuka bagian Anuku dengan jarinya. Terlihatlah sudah seluruh bagian dalam Anuku ! Geli, nikmat, ditambah dengan nyut-nyutan bercampur jadi satu di sekitar Anuku dan tubuhku terasa dalam hatiku, saya hanya bisa menutup mata saya !
Tiba tiba saya merasa ada belaian yang basah di Anuku….astaga ! dia menjilat Anuku….geli dan nikmat bercampur menjadi satu. Saya hanya bisa melenguh saja dan memegang kepalanya. Lalu kepalanya berpindah ke dadaku dan menghisap puting susuku. Nikmatnya ! geli dan nikmat !
Akhirnya dia membuka baju dan celana pendeknya dan menyodorkan batang Tititnya ke mulutku, “Ria…hisaplah Titit ayah, enak kok ! jangan malu-malu, saya khan ayah mu sendiri !” Lalu saya mulai menjilat-jilat, dan akhirnya mengulum sebagian Titit ayahku (soalnya Titit ayahku besar). Tangannya juga membelai sebelah dadaku dan Anuku.
Lalu ayah mengubah posisi ke atas tubuhku sambil memegang ke-2 kakiku dan berusaha memasukkan batangnya ke mulut Anuku ! Tapi dia kelihatannya kesulitan, lalu tangannya memegang Tititnya dan mendorong Tititnya dan akhirnya tembuslah kepala Tititnya ke mulut Anuku. Aku merasa kegelian, sakit, nikmat bercampur jadi satu “ Aaaaarghhh ayaaah !”…tapi itu hanya sementara. Saya merasa nikmat kemudian ! Dia mulai menghempas-hempaskan tubuhnya dan saya hanya pasrah sambil menikmati sensasi permainan seks pertama kali dari tubuh ayahku.
Akhirnya saya merasa ingin kencing tapi kencing kali ini beda ! Terasa nikmat kencing saya dan saya merasa lemas. “Ngilu yah” itu yang saya katakan karena dia saya masih saya bergoyang diatas badan saya. “Sebentar lagi sayang” Tiba-tiba dia memegang dengan keras kedua dada saya dan akhirnya jatuh lemas di atas tubuh saya. “ Ria, kamu cantik sekali !, jangan bilang ke Ibu, janji loh ?” Saya hanya mengangguk kepala saya.
Kejadian ini terus berlangsung sampai sekarang. Hendaknya kepada remaja putri untuk tahu apa itu seks dan bagaimana merangsang kepada lelaki !
Gadis gadis kecilku
Cerita ini bermula ketika aku berumur 34 tahun, aku waktu itu sudah bekerja sebagai bagian umum di sebuah perusahaan CV, penghasilanku lebih dari cukup. Apapun bisa kupenuhi, hanya satu yang belum dapat kuraih, yaitu kebahagiaan keluarga, atau dengan kata lain punya istri dan punya anak. Aku hidup sebagai bujangan, kadang untuk memenuhi hasrat biologisku, aku mencari cewek yang kesepian.
Ketika itu aku masih kerja di kota T, kota yang ramai dan cukup semerawut tantanan kotanya, sebab di kota T itulah aku bekerja. Aku kost di rumah seorang ibu muda dengan satu anak gadisnya. Sebut saja ibu muda itu adalah Tante Linda, dan anak gadisnya yang masih 12 tahun usianya dan duduk di bangku SMP kelas 1, namanya Lia. Suami Tante Linda, sebut saja Oom Frans bekerja di ibukota, di suatu instansi pemerintah, dan mempunyai jabatan strategis. Setiap 2 minggu sekali, Oom Joko pulang ke kota T, aku sendiri cukup akrab dengan Oom Frans, umurku dengannya tidak terlalu terpaut jauh. Oom Frans aku taksir baru berumur sekitar 35 tahun, sedangkan Tante Linda justru lebih tua sedikit, 37 tahun. Aku menyebut mereka Oom dan Tante, sebab walaupun beda umur antara aku dan mereka sedikit, tetapi mereka sudah berkeluarga dan sudah punya seorang anak gadis.
Tante Linda merupakan seorang sekretaris di sebuah perusahaan otomotif di kota B yang jaraknya tidak begitu jauh dari kota T. Tante Linda berangkat pagi dan pulang malam, begitu seterusnya setiap harinya, sehingga aku kurang begitu dekat dengan Tante Linda. Justru kepada anak gadisnya yang masih SMP yang bernama Lia, aku merasa dekat. Sebab pada hari-hari kosongku, Lia lah yang menemaniku.
Selama tinggal serumah dengan Tante Linda dan anak gadisnya, yaitu Lia, aku tidak pernah berpikiran buruk, misalnya ingin menyetubuhi Tante Linda atau yang lainnya. Aku menganggapnya sudah seperti kakak sendiri. Dan kepada Lia, aku juga sudah menganggapnya sebagai keponakanku sendiri pula. Sampai akhirnya ketika suatu hari, hujan gerimis rintik-rintik, pekerjaan kantor telah selesai aku kerjakan, dan saat itu hari masih agak siang. Aku malas sekali ingin pulang, lalu aku berpikir berbuat apa di hari seperti ini sendirian. Akhirnya aku putuskan meminjam kaset VCD Blue Film yang berjudul “sex is blind” ke rekan kerjaku. Kebetulan dia selalu membawanya, aku pinjam ke dia, lalu aku cepat-cepat pulang. Keadaan rumah masih sangat sepi, sebab Lia masih sekolah, dan Tante Linda bekerja. Karena aku kost sudah cukup lama, maka aku dipercaya oleh Oom Frans dan Tante Linda untuk membuat kunci duplikat. Jika sewaktu-waktu ada perlu di rumah, jadi tidak harus repot menunggu Lia pulang ataupun Tante Linda pulang.
Aku sebetulnya ingin menyaksikan film tersebut di kamar, entah karena masih sepi, maka aku menyaksikannya di ruang keluarga yang kebetulan tempatnya di lantai atas. Ah.. lama juga aku tidak menyaksikan film seperti ini, dan memang lama juga aku tidak ML (making love) dengan wanita malam yang biasa kupakai akibat stres karena kerjaan yang tidak ada habis-habisnya.
Aku mulai memutar film tersebut, dengan ukuran TV Sony Kirara Baso, seakan aku menyaksikan film bioskop, adegan demi adegan syur membuatku mulai bernafsu dan membuat Tititku berontak dari dalam celanaku. Aku kasihan pada adik kecilku itu, maka kulepaskan saja celanaku, kulepaskan juga bajuku, sehingga aku hanya menggunakan kaos singlet ketat saja. Celana panjang dan celana dalamku sudah kulepaskan, maka mulai berdiri dengan kencang dan kokohnya Tititku yang panjang, besar dan berdenyut-denyut. Aku menikmatinya sesaat, sampai akhirnya kupegangi sendiri Tititku itu dengan tangan kananku. Mataku tetap konsentrasi kepada layar TV, melihat adegan-adegan yang sudah sedemikian panasnya. Seorang kakak cowok yang bodoh itu sedang diajari oleh cewek keponakannya sendiri untuk memasukkan Tititnya itu ke lubang Memek si cewek.
Titit yang dari tadi kupegangi, kini telah kukocok-kocok, lambat dan cepat silih berganti gerakanku dalam mengocok. Setelah sekian lama, aku merasa sudah tidak kuat lagi menahan cairan mani yang ingin keluar.
Lalu,“Ahh… crrrottt.. cccroottt…,”
aku sudah menyiapkan handuk kecil untuk menampung cairan mani yang keluar dari lubang Tititku. Sehingga cairan itu tidak muncrat kemana-mana. Ternyata tanpa sepengetahuanku, ada sepasang mata melihat ke arahku dengan tidak berkedip, sepasang mata itu rupanya melihat semua yang kulakukan tadi. Aku baru saja membersihkan Tititku dengan handuk, lalu sepasang mata itu keluar dari persembunyiannya, sambil berkata kecil.
“Oom Angga…, lagi ngapain sih…, "kok main-main titit begitu…, "emang kenapa sih?” kata suara kecil mungil yang biasa kudengar.
Bagaikan disambar geledek di siang hari, aku kaget, ternyata Lia sudah ada di belakangku. Aku gugup akan bilang apa, kupikir anak ini pasti sudah melihat apa yang kulakukan dari tadi.
“Eh, Llliiiiaaa.. baru pulang?” sahutku sekenanya. “Iya nih Oom, ngga ada pelajaran.” tukas Lia, lalu Lia melanjutkan perkataannya, “Oom Angga…, "Lia tadikan nanya, Oom lagi ngapain sih, kok mainin titit gitu?” “Oohh ini..,” aku sudah sedikit bisa mengontrol diri, “Ini.. Oom habis melakukan olahraga , Lia.” “Ooohh.. habis olahraga yaaa..?” Lia sedikit heran. “Iya kok.. olahraga Oom, ya begini, sama juga dengan olahraga papanya Lia."jawabku ingin meyakinkan Lia. "Kalo olahraga Lia di sekolah pasti sama pak guru Lia disuruh lari.” Lia menimpali. “Itu karena Lia kan masih sekolah, jadi olahraganya harus sesuai dengan petunjuk pak guru.” jawabku lagi. “Oom, Lia pernah lihat papa juga mainin titit persis seperti yang Oom Agus lakukan tadi, cuma bedanya papa mainin tititnya sama mama.” Lia dengan polosnya mengatakan hal itu. “Eh, Lia pernah lihat papa dan mama olahraga begituan?” aku balik bertanya karena penasaran. “Sering lihat Oom, kalo papa pulang, kalo malem pasti melakukannya sama mama.” ujar Lia masih dengan polosnya menerangkan apa yang sering dilihatnya. “Seperti ini yaa..?” sambil aku menunjuk ke cover gambar film “sex is blind” gambar seorang kakak cowok dengan memasukkan Tititnya ke lubang Memek adik cewek keponakannya. “Iya Oom, seperti apa yang di film itu lho!” jawab Lia, “Eh.. Oom, bagus lho filmnya, boleh ngga nih Lia nonton, mumpung ngga ada mama?” “Boleh kok, cuma dengan syarat, Lia tidak boleh mengatakan hal ini sama papa dan mama, oke?” aku memberi syarat dengan perasaan kuatir jika sampai Lia cerita pada mama dan papanya. “Ntar Oom beliin coklat yang banyak deh.” janjiku. “Beres Oom, Lia ngga bakalan cerita ke mama dan papa.” dengan santai Lia menjawab perkataanku, rupanya Lia langsung duduk di sofa menghadap ke TV.
Kuputar ulang lagi film “sex is blind” tersebut, dan Lia menontonnya dengan sepenuh hati, adegan demi adegan dilihatnya dengan penuh perhatian. Aku sendiri termenung menyaksikan bahwa di depanku ada seorang gadis kecil yang periang dan pintar sedang menonton blue film dengan tenangnya. Sedangkan aku sendiri masih belum memakai celanaku, ikut melihat lagi adegan-adegan film “sex is blind” itu, membuat Tititku tegang dan berdiri kembali, kubiarkan saja. Lama kelamaan, aku tidak melihat ke arah film “sex is blind” itu, pandanganku beralih ke sosok hidup yang sedang menontonnya, yaitu Lia.
Lia adalah yang tergolong imut dan manis untuk gadis seusianya. Entah kenapa, aku ingin sekali ngentot dengan Lia, aku ingin menikmati rasanya lubang Memek Lia, yang kubayangkan pastilah masih sangat sempit. Ahhh.. nafsuku kian membara karena memikirkan hal itu. Aku mencoba mencari akal, bagaimana caranya agar Memek imutnya Lia bisa kudapatkan dan kurasakan. Kutunggu saja waktu tepatnya dengan sabar. Tidak terasa, selesailah film tersebut. Suara Lia akhirnya memecahkan keheningan.
“Oom…, tuh tititnya berdiri lagi.” kata Lia sambil menunjuk ke arah Tititku yang memang sedang berdiri. “Iya nih Lia, tapi biarin saja deh, gimana dengan filmnya?” jawabku santai. “Bagus kok Oom, persis seperti apa yang papa dan mama lakukan, dan Lia ada beberapa pertanyaan buat Oom nih.” Lia sepertinya ingin menanyakan sesuatu. “Pertanyaannya apa?” tanyaku. “Kenapa sih…, kalo olahraga gituan harus masukin titit ke… apa tuh, Lia ngga ngerti?” tanya Lia. “Oh itu.., itu namanya titit dimasukkan ke lubang Memek, pasti papa Lia juga melakukan hal itu ke mama kan?” jawabku menerangkan. “Iya benar Oom, papa pasti masukin tititnya ke lubang yang ada pada memek mama.” Lia membenarkan jawabanku. “Itulah seninya olahraga beginian Lia, bisa dilakukan sendiri, bisa juga dilakukan berdua, olahraga ini khusus untuk untuk cowok dan cewek.” kataku memberi penjelasan ke Lia. “Lia sudah boleh ngga Oom.. melakukan olahraga seperti itu?” tanya Lia lagi. Ouw.. inilah yang aku tunggu.. dasar rejeki.. selalu saja datang sendiri. “Boleh sih, dengan satu syarat jangan bilang sama mama dan papa.” jelasku.
Terang saja aku membolehkan, sebab itulah yang kuharapkan.
“Lia harus tahu, jika Lia melakukan olahraga beginian akan merasa lelah sekali tetapi juga akan merasakan enak.” tambahku. “Masa sih Oom? Tapi kayaknya ada benarnya juga sih, Lia lihat sendiri mama juga sepertinya merasa lelah tapi juga merasa keenakan, sampai menjerit-jerit lho Oom, malahan kadang seperti mau nangis.”
Lia yang polos rupanya sudah mulai tertarik dan sepertinya ingin tahu bagaimana rasanya.
“Emang gitu kok. Ee…, mumpung masih siang nich, mama Lia juga masih lama pulangnya, kalo Lia memang ingin olahraga beginian, sekarang saja gimana?” aku sudah tidak sabar ingin melihat pesona Memeknya Lia, pastilah luar biasa.
“Ayolah Oom…!” Lia mengiyakan.
Memang rasa ingin tahu anak gadis seusia Lia sangatlah besar. Ini adalah hal baru bagi Lia. Segera saja kusiapkan segala sesuatunya di otakku. Aku ingin Lia merasakan apa yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Kaos singlet yang menempel di tubuhku telah kulepas. Aku sudah telanjang bulat dengan Tititku mengacung-ngacung keras dan tegang. Baru pernah seumur hidupku, aku telanjang di hadapan seorang gadis belia berumur 12 tahun. Lia hanya tersenyum-senyum memandangi Tititku yang berdiri dengan megahnya. Mungkin karena kebiasaan melihat papa dan mamanya telanjang bulat, sehingga melihatku telanjang bulat merupakan hal yang tidak aneh lagi bagi Lia.
Kusuruh Lia untuk membuka seluruh seragam sekolahnya. Awalnya Lia protes, tetapi setelah kuberitahu dan kucontohkan kenapa mama Lia telanjang bulat, dan kenapa adik ceweknya yang di flim tadi itu juga telanjang bulat, sebab memang sudah begitu seharusnya. Akhirnya Lia mau melepas pakaiannya satu persatu. Aku melihat Lia melepaskan pakaiannya dengan mata tidak berkedip. Pertama sekali, lepaslah pakaian sekolah yang dikenakannya, lalu rok biru dilepaskan juga. Sekarang Lia tinggal mengenakan kaos singlet putih dan celana dalam putih saja.
Di balik kaos dalamnya yang cukup tipis itu, aku sudah melihat dua benjolan yang baru tumbuh putting susu kecil yang mencuat, pastilah puting susunya Lia yang baru tumbuh. Baru saja aku berpikiran seperti itu, Lia sudah membuka kaos dalamnya itu dan seperti apa yang kubayangkan, puting susu Lia yang masih kuncup berwarna merah jambu, bersih, dan mulus membenjol terlihat dengan jelas di kedua mataku. Puting susu itu begitu indahnya. Lain sekali dengan yang biasa kulihat dan kurasakan dari setiap cewek kesepian yang aku entotin , rata-rata puting susu mereka sudah merekah dan matang, sedangkan ini, aku hanya bisa menelan ludah.
Payudara Lia memang belum nampak, sebab karena faktor usia. Akan tetapi puting susunya sudah mulai menampakkan hasilnya. Membenjol cukup besar dan mencuat menantang untuk dinikmati. Aku melihat puting susu itu menegang tanpa Lia menyadarinya. Lalu Lia melepaskan juga celana dalamnya. Kembali aku dibuatnya sangat bernafsu, kemaluan Lia masih berupa garis lurus, seperti kebanyakan milik anak-anak gadis yang sering kulihat mandi di sungai. Bibir Memeknya yang bersih, masih gundul. Aku sungguh-sungguh melihat pemandangan yang menakjubkan ini. Terbengong-bengong aku dibuatnya.
“Oom…, udah semua nih, udah siap nih Oom.”
Aku tersentak dari lamunan begitu mendengar Lia berbicara.
“Oke…, sekarang kita mulai yaaa…?”
Kuberi tanda ke Lia supaya tiduran di sofa. Pertama sekali aku meminta ijin ke Lia untuk menciuminya, Lia mengijinkan, rupanya karena sangat ingin atau karena Lia memang sudah mulai menuruti nafsunya sendiri, aku kurang tahu. Yang penting bagiku, aku merasakan liang Memeknya dan menyetubuhinya siang ini.
Aku ciumi kening, pipi, hidung, bibir dan lehernya. Kupagut dengan mesra sekali. Kubuat seromantis mungkin. Lia hanya diam seribu bahasa, menikmati sekali apa yang kulakukan kepadanya. Setelah puas aku menciuminya,
“Lia, boleh ngga Oom mimi itunya Lia?” tanyaku meminta. “Tapi Oom, payudara Lia kan belon sebesar seperti punya mama.” kata Lia sedikit protes. “Ngga apa-apa kok Lia, buah dada segini malahan lebih enak.” kilahku meyakinkan Lia. “Ya deh, terserah Oom saja, asalkan ngga sakit aja.” jawab Lia akhirnya memperbolehkan. “Dijamin deh ngga sakit, malahan Lia akan merasakan enak dan nikmat yang tiada tara.” jawabku lagi.
Segera saja kuciumi puting susu Lia yang kiri, Lia merasa geli dan menggelinjang-gelinjang keenakan, aku merasakan puting susu Lia mulai mengalami penegangan total. Selanjutnya, aku hisap kedua puting susu tersebut bergantian. Lia melenguh menahan geli dan nikmat, aku terus menyusu dengan rakusnya, kuemut dengan lembuts, kujilat-jilat, sedangkan puting susu yang satunya lagi kuemut-emut kecil sambil sedikit di hisap.
“Oom…, kok enak banget nihhh… oohhh… enakkk…” desah Lia keenakan.
Lia terus merancau keenakan, aku sangat senang sekali. Setelah sekian lama aku menyusu, aku lepaskan puting susu tersebut. Puting susu itu sudah memerah dan sangat tegangnya. Lia sudah merasa mabuk oleh kenikmatan. Aku bimbing tangannya ke Tititku.
“Lia, mainin dong tititnya Oom Angga.” aku meminta Lia untuk mengurut-urut Tititku.
Lia mematuhi apa yang kuminta, Lia mulai memainkan Tititku sambil mengocok-ngocok dengan tidak beraturan. Aku memakluminya, karena Lia masih lugu dan polos, sampai akhirnya aku justru merasa kenikmatan yang lain akibat kocokan Lia tersebut, maka kuminta Lia untuk menghentikannya. Selanjutnya, kuminta Lia untuk mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar, tanpa bertanya Lia langsung saja mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar, aku terpana sesaat melihat Memek Lia yang merekah. Tadinya Memeknya itu hanya semacam garis lurus, sekarang di hadapanku terlihat dengan jelas, buah iti/klitoris kecil Lia yang sebesar kacang kedelai, Memeknya berwarna merah jambu tanpa ada jembut ( rambut kemaluan ), dan yang terutama, lubang memeknya Lia yang masih sangat sempit.
Jika kuukur, hanya seukuran ibu jari lubangnya. Aku lakukan sex dengan mulut, kuciumi dan kujilat Memeknya Lia dengan lembut, Lia kembali melenguh. Lenguhan yang sangat erotis. Meram melek kulihat mata Lia menahan enaknya hisapan lembutku di Memeknya. Kujilat itil/klitorisnya. Lia menjerit kecil keenakan, sampai tidak berapa lama.
“Oom, enak banget sih, Lia senang sekali, terussinnn…” pinta Lia.
Aku meneruskan menghisap-hisap Memeknya Lia, dan Lia semakin mendesah tidak karuan. Aku yakin Lia hampir mencapai puncak orgasme pertamanya selama hidup.
“Oommm… eeeghhh… Lia mau pipis nich…” “Lia merasakan ada sesuatu yang mendesak ingin keluar, seperti ingin pipis. "Tahan dikit Lia… tahan yaaa…”
sambil aku terus menjilati, dan menghisap-hisap Memeknya.
“Udah ngga tahan nich Oommm… aahhh…”
Tubuh Lia mengejang, tangan Lia berpegangan ke sofa dengan erat sekali, kakinya menjepit kepalaku yang masih berada di antara selangkangannya. Lia ternyata sudah sampai pada klimaks orgasme pertamanya. Aku senang sekali, kulihat dari bibir lubang Memeknya merembes keluar cairan kental berwarna putih yang cukup banyak. Itulah cairan mani nikmatnya Lia.
“Oohhh… Oom Angga… "Lia merasa lemes dan enak sekali… "tadi itu apa sih yang barusan Lia alami, Oom…?” tanya Lia disela-sela sisa kenikmatan yang dia alami barusan. “Itulah puncaknya Lia.., Lia telah mencapainya, pingin lagi ngga?” tanyaku. “Iya.. iya.. pingin Oom…” jawabnya langsung.
Aku rasa Lia ingin merasakannya lagi. Aku tidak langsung mengiyakan, kusuruh Lia istirahat sebentar, kuambilkan semacam obat dari dompetku, obat dopping dan kusuruh Lia untuk meminum 1/4nya. Karena sebentar lagi, aku akan membawa si Lia ke dalam kenikmatan surgawi di lubang Memeknya yang sempit itu, jadi aku ingin Lia dalam keadaan segar bugar. Tidak berapa lama, Lia kulihat telah kembali fit.
“Lia… tadi Lia sudah mencapai puncak kenikmatan yang pertama, dan masih ada satu puncak kenikmatan lagi, Lia ingin mencapainya lagi kan..?” bujukku. “Iya Oom, mau dong…” Lia mengiyakan sambil manggut-manggut. “Ini nanti bukan puncak kenikmatan Lia saja, tetapi juga puncak kenikmatan Oom Angga juga, ini finalnya Lia” kataku lagi menjelaskan. “Final?” Lia mengernyitkan dahinya karena tidak paham maksudku. “Iya, final.., Oom ingin memasukan titit Oom ke lubang memek Lia, Oom jamin Lia akan merasakan sesuatu yang lebih enak lagi dibandingkan yang tadi.” akhirnya aku katakan final yang aku maksudkan.
“Ooh ya, tapi.. Oom.. apa titit Oom bisa masuk tuh? "Lubang memek Lia kan sempit, sedangkan tititnya Oom.. gede banget gitu…” Lia sambil menunjuk lubang nikmatnya. “Pelan-pelan dong, ntar pasti bisa masuk kok.. cobain ya..?” pintaku lagi. “Iya deh Oom…”
Lia secara otomatis telah mengangkangkan kakinya selebar-lebarnya. Kuarahkan Tititku ke lubang Memek Lia yang masih super sempit tersebut. Begitu menyentuh lubang kenikmatannya, aku merasa seperti ada yang menggigit dan menyedot Tititku, memang sangat sulit untuk memasukkannya. Sebenarnya bisa saja kupaksakan, tetapi aku tidak ingin Lia merasakan kesakitan. Kutekan sedikit demi sedikit, Tititku bisa masuk, Lia melenguh dan mendesah-desah karena merasakan geli. Aku menyuruhnya untuk menikmatinya. Efek dari obat dopping itu tadi adalah untuk menambah kenikmatan, selanjutnya kutekan kuat-kuat. “Blusss…” Lia menjerit cukup melenguh panjang, “Ooommm… tititnya sudaaahhh masuk… kkaahhh?” “Udah sayang… enak ya…” kataku sambil mengelus-ngelus rambut Lia. Aku mundurkan Tititku. Karena sangat sempitnya, ternyata bibir Memeknya Lia ikut menggembung karena tertarik. Kumajukan lagi, kemudian mundur lagi perlahan tetapi pasti. Beberapa waktu, Lia pun sepertinya sudah merasakan keenakan. Setelah cairan mani Lia yang ada di lubang Memeknya semakin membanjir, maka lubang kenikmatan itu sudah sedikit merekah. Aku menggenjot maju mundur dengan cepat.
“Ahhh… ” inikah kemaluan perawan gadis imut. “
Enak sekali ternyata. Hisapannya memang tiada duanya. Aku merasa keringat telah membasahi tubuhku, kulihat juga keringat Lia pun sudah sedemikian banyaknya. Sambil kuterus berpacu, puting susu Lia kumainkan, kuemut dengan lembut, bibir Lia aku ciumin, kumainkan lidahku dengan lidahnya. Aku merasakan Lia sudah keluar beberapa kali, sebab aku merasa kepala Tititku seperti tersiram oleh cairan hangat beberapa kali dari dalam lubang surganya Lia. Aku ganti posisi. Jika tadi aku yang di atas dan Lia yang di bawah, sekarang berbalik, aku yang di bawah dan Lia yang di atas. Lia seperti kesetanan, bagaikan cowboy menunggang kuda, oh enak sekali rasanya di Tititku. Naik turun di dalam lubang surga Lia.
Sekian lama waktu berlalu, aku merasa puncak orgasmeku sudah dekat. Kubalik lagi posisinya, aku di atas dan Lia di bawah, kupercepat gerakan maju mundurku. Lalu aku peluk erat sekali tubuh kecil dalam dekapanku, kubenamkan seluruh batang Tititku.
Aku menegang hebat,"Crruttt… crruttt…”
Cairan maniku keluar banyak sekali di dalam Memeknya Lia, sedangkan Lia sudah merasakan kelelahan yang amat sangat. Aku cabut Tititku yang masih tegang dari Memeknya Lia. Lia kubiarkan terbaring di sofa. Tanpa terasa, Lia langsung tertidur, aku bersihkan Memeknya dengan mulutku dari cairan mani yang perlahan merembes keluar, kukenakan kembali semua pakaiannya, lalu kubopong gadis kecilku itu ke kamarnya. Aku rebahkan tubuh mungil yang terkulai lelah dan sedang tertidur di tempat tidurnya sendiri, kemudian kucium keningnya. Terima kasih Lia atas kenikmatannya tadi. Malam pun tiba.
Keesokan harinya, Lia mengeluh karena masih merasa nyut-nyut enak di Memeknya, untungnya Tante Linda tidak tahu. Hari berlalu terus. Sering kali aku melakukan olahraga senggama dengan Lia, tentunya tanpa sepengetahuan Oom Frasns dan Tante Linda.
Kira-kira sudah berjalan setengah tahun lamanya, Lia sudah sangat pintar untuk ukuran gadis seusianya dalam melakukan olahraga senggama/ngentot/hubungan seks. Aku pun sangat memanjakannya, uang yang biasa kuterima dari cewek kesepian yang butuh kenikmatan seks, kuberikan ke Lia. Untuk menghindari kecurigaan orang tuanya, uang itu kubelikan hal-hal yang Lia suka, seperti makanan, mainan dan masih banyak lagi.
Sekarang Lia sudah kelas 2 SMP, naik kelas dengan nilai yang bagus, apa yang kulakukan dengan Lia tidak mempengaruhi belajarnya. Inilah yang membuat aku semakin sayang, dan sampai suatu saat, Tante Linda diharuskan pergi beberapa hari lamanya ke ibu kota untuk menemani Oom Frans menghadiri resepsi-resepsi pernikahan dari rekan-rekan kerja Oom Frans yang kebetulan berurutan tanggalnya. Aku ditinggal berdua di rumah dengan Lia, memang sudah terlalu biasa, sedikit bedanya adalah sekarang sudah super bebas, tidak mengkhawatirkan kalau-kalau Tante Linda pulang dari kerja.
Lia pernah menjanjikan kepadaku akan membawa teman-teman akrabnya main ke rumah untuk diajarkan olahraga senggama/hubungan seks alias ngentot. Dan saat yang tepat adalah sekarang, dimana Tante Linda tidak akan ada di rumah untuk beberapa hari, dan Lia juga mulai libur karena kelasnya dipakai untuk testing uji coba siswa kelas 3. Sangat kebetulan sekali kalau hari ini sabtu, sekolah Lia pulang sangat awal dikarenakan guru-guru sibuk menyiapkan bahan untuk testing uji coba siswa kelas 3. Lia telpon ke kantorku, menanyakan apakah aku bisa pulang cepat atau tidak. Lia juga mengatakan kalau dia membawa teman-temannya seperti yang telah dijanjikannya.
Kontan saja mendengar kabar itu, aku langsung ijin pulang. Sebelum pulang ke rumah kusempatkan mampir ke apotik untuk membeli sejumlah obat-obatan yang kuperlukan nantinya, aku ingin penantian yang begitu lamanya, di hari ini akan terlaksana.
Sesampainya di rumah, benar saja, ada tiga gadis teman akrab Lia, mereka semua cantik-cantik dan imut, Tidak kalah dengan keluguan dan keimutan Lia. Gadis pertama bernama Anna, wajahnya cantik, hidungnya mancung, rambutnya lurus potongan pendek, tubuhnya tidak terlalu kurus, senyumnya selalu menghiasi bibirnya yang sensual, payudaranya kelihatan belum tumbuh akan tetapi satu yang membuat aku heran, dari benjolan bajunya, kutahu kalau itu puting susunya Anna, sepertinya lumayan besar. Tetapi masa bodo, yang penting miliknya bisa dinikmati. Anna ini sepertinya feminim, wow, kuat juga nih senggamanya, pikiran kotorku muncul mendadak.
Lalu gadis kedua bernama Yulia, wajahnya mirip Lia, hidungnya mancung, rambutnya lurus panjang sebahu, agaknya lumayan pendiam, tubuhnya sedikit lebih besar dibandingkan dengan Lia dan Anna, payudaranya sudah sedikit tumbuh, terlihat dari permukaan bajunya yang sedikit membukit, lumayan bisa buat diremas-remas, sebab tanganku sudah lama tidak meremas payudara montok.
Gadis yang ketiga, inilah yang membuatku terpana, namanya Devi. Ternyata Devi ini masih keturunan India, cantik sekali, rambutnya pendek, hidungnya sangat mancung, dan sepertinya sedikit cerewet. Tubuhnya sama dengan Lia, kecil dan imut, payudaranya kurasa juga belum tumbuh. Sekilas, puting susunya saja belum terlihat.
Aku pulang tidak lupa dengan membawa oleh-oleh yang sengaja kubeli, aku manjakan mereka semua sesuai dengan pesan Lia. Teman-temannya ingin melihat olahraga senggama/ngentot yang sering Lia lakukan. Lia memang sedikit ceroboh, membocorkan hal-hal seperti ini, tetapi Lia menjamin, karena ketiga gadis itu adalah sahabat sejatinya.
Singkat waktu, malam pun tiba. Ketiga gadis teman Lia itu sudah berencana untuk menginap di rumah Lia, sebab besoknya adalah minggu, alias libur, seninnya juga masih libur dan lagi mereka pun sudah ijin kepada orang tuanya masing-masing untuk menginap di tempatnya Lia, alasannya menemani Lia yang ditinggal mamanya ke luar kota.
Pertama sekali, aku diperkenalkan Lia kepada ketiga temannya, dan tidak ada basa-basi seperti apa yang kulakukan kepada Lia dulu. Aku meminta Lia memutarkan film “sex is blind” kesukaannya kepada ketiga temannya itu. Gadis-gadis kecil itu rupanya sudah menantikan. Menonton pun dengan konsentrasi tinggi layaknya sedang ujian. Aku takjub melihat mereka, dan justru cekikikan sendiri melihat adegan demi adegan, sepertinya ketiga teman Lia itu sudah pernah melihat yang sesungguhnya atau pemandangan yang nyata.
Setelah film usai, aku lalu beranikan diri bertanya ke mereka. Pertama sekali adalah ke Anna yang aku nilai paling berani.
“Anna, Oom penasaran, kayaknya Anna sering lihat olahraga begituan?” tanyaku penuh selidik. “Iya benar kok Oom… Anna sering lihat olahraga begitu, terlebih kakak Anna sama pacarnya, mereka selalu berbuat begituan di rumah” jawab Anna jujur menjelaskan dan membenarkan. “Hah? Masak sih di rumah..” tanyaku lagi dengan heran. “Iya, bener kok Oom, sebab papa dan mama Anna kan ngga tinggal di sini” Anna menjawab keherananku. “Oohhh…” aku hanya bisa manggut-manggut. “Emang sih, Anna lihatnya dengan sembunyi-sembunyi, sebab merasa penasaran sebenarnya apa sih yang kakak Anna lakukan bersama pacarnya? Ternyata seperti di film itu Oom…” Anna menjawab dengan menerangkan tanpa merasa aneh atau bahkan malu.
Lalu aku selanjutnya bertanya kepada Yulia. Yulia sedikit tergagap sewaktu kutanya, ternyata Yulia sendiri sudah mengetahui hal begituan secara tidak sengaja sewaktu sedang menjemur pakaian di loteng rumahnya. Yulia bercerita, tanpa sengaja dia melihat di halaman belakang tetangganya, ada yang sedang bermain seperti yang dilakukan di dalam film “sex is blind” tersebut. Intinya Yulia tahu kalau titit itu bisa dimasukkan ke Memeknya cewek.
Terakhir aku bertanya ke Devi, dengan polosnya Devi mengungkapkan kalau dia mengetahui hal-hal begituan dari melihat apa yang papa dan mamanya lakukan ketika malam hari. Sama seperti dengan pengalaman Lia pertama kali melihat hal itu.
Setelah aku mendengar cerita mereka, aku menawarkan, apakah mereka ingin melihat langsung, kompak sekali mereka bertiga menjawab ya. Lalu aku bertanya sekali lagi, apakah mereka ingin merasakannya juga, sekali lagi dengan kompaknya, mereka bertiga menjawab ya.
“Kalo begitu… Oom mulai sekarang ya…?”
jantungku berdegup kencang karena girang yang tiada tara, aku tidak mengira akan semulus ini. Aku akhirnya melepaskan seluruh pakaian yang kukenakan, sesuai dengan rencana, aku akan memamerkan olahraga ngentot itu berpasangan dengan Lia, dan sebetulnya Lia yang mempunyai ide merencanakan itu semua.
Anna, Yulia dan Devi memandangi terus ke bagian bawah tubuhku, apalagi kalau bukan Tititku yang sangat kubanggakan panjang, besar, berotot, dan berdenyut-denyut. Lia sendiri sudah melepaskan seluruh pakaiannya. Puting susu Lia sudah membenjol cukup besar karena sering kali kuhisap, dan oleh Lia sendiri sering ditarik-tarik saat menjelang tidur. Payudaranya masih belum nampak mulai menumbuh. Untuk bagian bawah, Memeknya Lia sudah sedikit berubah. Dulunya hanya seperti garis membujur, sekarang dari Memeknya Lia sudah mencuat bibir bibir berdaging, hal ini dikarenakan sudah sering kumasuki dengan Tititku tentunya, tetapi itu semua tidak mengurangi keindahan dan kemampuan empotnya (hisapan dan pijatan Memeknya).
Aku main tembak langsung saja kepada Lia, sebab aku tahu Lia sudah sangat berpengalaman sekali untuk hal beginian. Kucium bibir Lia, tanganku memainkan puting susu dan Memeknya, Lia sudah cepat sekali terangsang, kulepaskan ciumanku, lalu kuciumi puting susunya. Kuhisap bergantian, kiri dan kanan. Anna, Yulia dan Devi melihat caraku memainkan tubuh telanjang Lia, napas mereka bertiga mulai memburu, rupanya nafsu ingin ikut merasakan telah menghinggapi mereka.
Sekian lama kuciumi dan hisap puting susu mungil yang sudah lumayan membenjol besar itu, aku memang sangat suka sekali menetek dan menghisap puting susu, terlebih bila melihat ibu muda sedang menyusui bayinya, ouw, pasti aku langsung terangsang hebat. Setelah puas kuberkutat di puting susu Lia dengan ciuman dan hisapan mulutku, kualihkan ke liang senggama Lia, kalau dahulu Lia tidak bisa menahan puncak kenikmatannya, sekarang sudah sedikit ada kemajuan. Kujilat dan kuciumi Memeknya, Lia masih bisa menahan agar tidak jebol, tidak lama aku merasakan Lia sudah bergetar, kupikir jika aku terlalu lama memainkan, Lia pasti tidak akan kuat lagi menahan cairan maninya keluar, maka langsung saja kumasukkan Tititku yang sudah sangat tegang itu ke lubang Memeknya Lia. Aku tidak merasa kesulitan lagi untuk memasuki lubang Memeknya Lia, sudah begitu hapal, maka semua batang Tititku amblas ke dalam Memeknya Lia.
Anna, Yulia dan Devi melihat dengan sedikit melotot seolah tidak percaya batang Tititku yang panjang dan sedemikian besarnya bisa masuk ke dalam Memeknya teman mereka, yaitu Lia. Mereka bertiga mendesah-desah aku merasa mereka sudah ingin sekali merasakan Memeknya mereka juga dimasukin Tititku.
Aku menggerakan maju mundur, mulai dari perlahan lalu bertambah cepat, kemudian berganti posisi, berulang kali sekitar 15 menit. Aku sudah merasakan Lia akan mencapai puncak orgasmenya. Betul saja, tidak lama kemudian, Lia memelukku erat dan dari dalam Memeknya aku merasakan ada semprotan yang keras menerpa kepala Tititku yang berada di dalam lubang Kenikmatannya. Banyak sekali Lia mengeluarkan cairan mani, Lia terkulai lemas, Tititku masih gagah dan kokoh, memang aku sengaja untuk tidak menguras tenagaku berlebihan, target tiga Memek gadis yang menanti harus tercapai.
Lia kusuruh istirahat, Lia langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan badan sekaligus beristirahat, selanjutnya kutawarkan ke Anna, Yulia, dan Devi, siapa yang mau duluan. Sejenak mereka bertiga sepertinya ragu, lalu akhirnya Anna yang mengajukan diri untuk mencoba.
“Bagus Anna, kamu berani deh.” pujiku kepada Anna.
Tanpa berlama-lama, kusuruh Anna untuk membuka seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya, langsung saja Anna melakukan apa yang kusuruh, aku memandangi Anna yang mulai melepas pakaiannya satu persatu, sampai akhirnya telanjang bulat. Tubuh Anna putih bersih, apa yang tadi membuatku penasaran sudah terobati, puting susu Anna kunilai aneh, payudaranya memang sudah mulai tumbuh, akan tetapi puting susunya itu masuk kedalam. Bentuknya unik dan baru kali ini aku melihatnya, bentuknya mengerucut tumpul, puting susu dan lingkaran merah jambu bersih dan mulus. Kata kamus ilmiah, puting susu berbentuk seperti ini langka sekali dan kualitas sensitifnya sangat tinggi, bisa dikatakan sangat perasa sekali. Sedangkan Memeknya masih berupa garis, dengan bagian sisinya sedikit membukit. Sepertinya Memek ini kenyal sekali dan super enak. Tidak sabar rasanya kuingin segera merasakannnya.
Aku langsung menciumi bibir Anna yang sensual itu, kuciumin dengan mesra. Tanganku bergerak mengusap puting susu unik milik Anna. Benar saja, begitu telapak tanganku mengusap puting susunya, Anna merasa sangat terangsang.
“Ouwww… Oommm… enak sekali Oom..” Anna mengomentari apa yang dirasakannya.
Aku merasakan puting susu Anna mulai menegang. Segera saja kulepaskan ciumanku di bibir Anna, aku merasa senang, rupanya Anna telah tanggap dengan apa yang kumau, dengan tangannya sendiri menjepit puting susunya dan menyodorkan kepadaku. Maka dengan rakusnya, mulailah kuciumi dan kuhisap, Anna berkali-kali menjerit kecil. Rupanya puting susu Anna sangat perasa, tanganku tanpa sadar menyentuh permukaan Memeknya Anna, ternyata Memeknya Anna sudah basah dan banyak juga cairan maninya yang merembes keluar. Aku terus saja menyusu dan menggemut puting susu Anna, kiri dan kanan bergantian.
“Oomm… Anna kok seperti mau pipis nih… Ada sesuatu yang mau keluar dari Memeknya Anna nih…” Anna mengungkapkan apa yang akan terjadi. “Tahan dikit dong…” jawabku.
Mendengar hal ini, kulepaskan hisapanku dari puting susu Anna, lalu mulutku beralih ke liang Memeknya Anna. Secara otomatis, Anna sudah mengangkangkan kedua kakinya, aku mencium aroma dahsyat dari Memeknya Anna. Sungguh legit. Memeknya Anna merah jambu, bersih sekali dan sudah mengkilap, kujilati memeknya yang basah itu, selanjutnya kuhisap dalam-dalam. Anna rupanya mengelinjang liar karena merasa nikmat.
“Oomm… Anna udah ngga kuat lagi nihhh… aahhh…” jerit Anna seiring dengan tubunnya yang menegang.
Saat itu, mulutku masih bermain dilubang Memeknya Anna, aku merasakan ada sesuatu yang menyemprot, rasanya asih dan gurih. Inikah cairan mani Anna karena sudah mencapai kenikmatan yang pertamanya, tanpa pikir panjang kutelan saja cairan mani itu, kujilati dengan rakus. Kulihat juga buah klitoris Anna yang kecil mencuat berdenyut-denyut. Aku sendiri merasakan sudah akan mencapai puncak kenikmatanu.
“Anna.. Oom mau masukin titit Oom ke lubang memek Anna nih..” aku meminta ijin kepada Anna. “Ya Oom, masukin saja, ayo dong cepat…”
Anna rupanya sudah tidak sabar lagi ingin merasakan batang Tititku memasuki lubang surganya. Kuarahkan kepala Tititku ke lubang Memeknya Anna, Anna tanpa diminta sudah memegang batang Tititku dan membimbingnya memasuki lubang Memeknya. Surprise, insting Anna hebat juga nih pikirku, tanpa kesulitan, lubang Memeknya yang sudah banjir dengan cairan mani itu menerima kepala Tititku dan batang Tititku. Lumayan sempit juga, untungnya tertolong oleh cairan mani dan pengertian Anna membimbing masuk batang Tititku sehingga aku tidak kerepotan saat memasukannya.
“Blusss…” kutekan sepenuhnya, aku maju mundurkan dengan segera, perlahan, lalu cepat. Aku merasa akan mencapai titik kenikmatanku, hisapan otot Memeknya Anna sungguh dahsyat. Ini yang membuatku tidak kuat menahan cairan maniku untuk lama keluar. Anna memang kuat sekali, aku merasakan Anna berkali-kali menyemprotkan cairan maninya, mungkin ada lima kali lebih, akan tetapi Anna masih mampu mengimbangi gerakanku, hebatnya lagi, goyangan pantatnya. Oh edan, akhirnya aku merasa tidak kuat menahan lagi, kulihat Anna pun sudah akan mencapai orgasme puncaknya.
“Anna.. kita sama-sama keluarkan yaaa.. please sayang..” pintaku sambil sekuat tenaga menahan. “Iiiiyaaa.. Oommm.. sekarang yaaa…” Anna berkata dengan bergetar. Aku mengeram, tubuhku menegang, tubuh kecil Anna yang kutindih, kupeluk erat sekali.
“Crottt… crrruttt… aaahhh.. seerrr…”
kukeluarkan cairan mani puncak kenikmatanku di dalam Memeknya Anna yang sempit itu. Karena banyaknya cairan mani di dalam lubang Memeknya Anna, lubang Memeknya itu tidak bisa menampung semua, maka merembes dengan derasnya cairan mani itu keluar dari lubang senggama/Memeknya, cairan maniku yang bercampur dengan cairan mani Anna. Kucabut Tititku yang masih cukup tegang dari Memeknya Anna, Tititku sangat mengkilap, seperti habis di pernis.
Yulia dan Devi, tanpa sepengetahuanku ternyata telah telanjang bulat, rupanya mereka berdua tidak tahan melihat pergulatanku yang cukup lama dengan Anna. Memang kuakui Anna sangat kuat, cewek feminim ternyata benar-benar hebat permainan ngentotnya. Apa yang dikatakan orang memang bukan isapan jempol, aku sudah membuktikannya hari ini lewat gadis kecil bernama Anna. Kupikir jika gadis feminim yang sudah matang pasti akan lebih kuat lagi.
Kulihat juga Lia sudah selesai membersihkan badan dan sekarang dengan penuh pengertian sibuk di dapur untuk membuat makanan. Anna yang masih terkulai lemas, kusuruh untuk mandi dulu dan istirahat, lalu setelah itu kusuruh juga untuk membantu Lia di dapur.
Yulia dan Devi dengan telanjang bulat telah menghampiriku, dari pandangan mata mereka seolah meminta giliran. Aku sebenarnya merasa kasihan, aku masih cukup lelah untuk memulainya lagi. Kupikir kalau kubiarkan mereka terlalu lama menanti, pastilah akan membuat mereka kehilangan gairah nantinya, akhirnya kuminum obat yang kubeli tadi di apotik. Kuminum 2 pil sekaligus, reaksi obat ini sangat cepat, badanku merasa panas. Melihat tubuh-tubuh kecil telanjang bulat milik Yulia dan Devi, Tititku yang tadinya loyo sekarang tegang dan mengacung-ngacung, gairahku lebih membara lagi.
Yulia seingatku tadi masih menggunakan pakaian lengkapnya, sekarang sudah telanjang bulat, sungguh aku mengagumi tubuhnya, payudaranya sedikit menumbuh dan membukit, puting susunya kecil, mungil, merah jambu mulus telah menegang sehingga meruncing, lubang Memeknnya pun kulihat sudah basah menunggu penantian. Lalu Devi, yang juga tadi masih kulihat berpakaian lengkap, sekarang telah telanjang bulat pula. Devi memang lain sendiri dibandingkan Anna, Lia dan Yulia, mungkin karena masih keturunan jepang manado, akan tetapi Devi juga yang paling muda sendiri. Usianya selisih satu tahun lebih muda dibandingkan Anna, Indah maupun Lia. Jelas sekali dengan kurun usia relatif sangat muda, pertumbuhan payudaranya belum ada sama sekali, puting susunya juga belum menampakkan benjolan yang berarti, masih rata dengan dada. Tetapi karena terangsang, rupanya menjadi sedikit meruncing. Lalu Memeknya pun masih biasa saja, kesimpulanku Devi masih imut sekali. Mungkin satu tahun ke depan baru ada perubahan, aku sebenarnya tidak tega untuk mengentotnya sekarang, tetapi apa komentarnya nanti, pastilah dikatakan olehnya tidak adil, bahkan yang kukuatirkan adalah Devi nantinya akan marah dan cerita tentang hal ini kepada orang lain.
Dalam waktu yang bersamaan, kurengkuh dua gadis kecil itu sekaligus. Kupagut bibir Devi, kuciumi leher dahi dan tengkuknya. Devi merasa enak dan geli, sedangkan yulia, puting susu dan payudaranya kuusap-usap dengan tanganku, payudaranya yang sudah cukup membukit menjadikan tanganku bisa meremasnya. Indah mendesah keenakan. Aku minta ke Indah untuk memijat-mijat batang Tititku, ternyata Yulia pandai juga memijat. Tititku semakin menegang. Pijatan Indah sungguh enak sekali, apalagi remasan tangganya di buah Tititku.
Selanjutnya, kulepaskan pagutanku di bibir Devi, kulanjutkan dengan menghisap puting susu Devi yang meruncing kecil. Devi menggelinjang keenakan, kujilati dan kubuat cupang banyak sekali di dada Devi, sampai akhirnya aku beralih ke liangnya Devi yang sangat imut, Memek ini sama seperti kepunyaan anak-anak kecil yang sering kulihat mandi di sungai. Tetapi, ah masa bodo. Devi kegelian ketika kumulai menciumi, menjilat dan menghisap Memeknya itu. Kukangkangkan kedua kaki Devi, maka terkuaklah belahan Memeknya dengan lubang yang sangat sempit. Jika kuukur, lubang Memeknya itu hanya seukuran jari telunjuk. Aku sempat gundah, apakah Tititku bisa masuk? Tetapi akan kucoba, kuyakin lubang Memek itu kan elastis, jadi bisa menampung Titit sebesar apapun.
Devi merasa sangat keenakan ketika kumainkan Memeknya, berkali-kali Devi mendapat puncak kenikmatan. Cairan maninya sungguh wangi. Setelah puas memainkan Memeknya Devi, kuminta Devi bersiap, sedangkan Yulia kusuruh berhenti memainkan buah zakar dan Tititku. Lalu kucium bibir Yulia sebentar, kemudian kuciumi leher dan tengkuknya. Indah mendesah, tidak berapa lama, kuberalih ke payudara dan puting susu Yulia. Kuciumi dan hisap dengan penuh kelembutan dan kehangatan, payudara yang baru membukit itu kuremas-remas dengan lembut. Puting susunya yang kecil itu kuhisap dan kujilati. Aku menyusu cukup lama, Memeknya Yulia yang sudah basah pun tidak luput dari hisapanku. Devi sudah menunggu-nunggu, menantikan kehadiran Tititku memasuki lubang nikmat kecilnya.
Segera saja kuselesaikan hisapanku di Memeknya Yulia. Kurasa dengan Memeknya Yulia, aku tidak akan merasa kesulitan, lubang Memeknya Yulia kunilai sama dengan punya Anna dan Lia waktu pertama kali dimasukin Tititku. Yang kupikir, kesulitannya adalah lubang Memeknya Devi, selanjutnya kusuruh Yulia untuk bersiap-siap juga.
Kuberikan pelumas seperti jelly untuk Tititku agar licin, lalu kuarahkan perlahan kepala Tititku itu ke lubang surganya Devi. Kutekan sedikit, meleset, kuposisikan lagi, tekan lagi, tetap saja meleset, tidak mau masuk. Untunglah Anna dan Lia datang, mereka berdua tanggap dengan kesulitan yang kuhadapi. Lia dengan sigap membukakan kedua sisi bibir Memeknya Devi dengan kedua sisi telapak tangannya. Lubang senggama/Memeknya Devi bisa terkuak, kucoba masukkan lagi, ternyata masih meleset juga, Anna yang melihat hal itu tanpa ragu-ragu juga ikut turun membantuku. Anna mengulurkan jari tanggannya, memijat bagian atas dan bawah lubang senggama Devi, sehingga secara elastis lubang Memeknya Devi bisa lebih terkuak sedikit. Aku berkonsentrasi memasukkan kepala Tititku ke lubang Memeknya Devi itu.
Tititku dengan sedikit kupaksakan, agar bisa masuk ke lubang Memeknya Devi, kutahu Devi mengalami sensasi yang luar biasa dan pertama kali Memeknya yang mungil dan imut di cumbu oleh Tititku. Devi hanya menikmati pasrah dan dari sudut wajahnya yang berseri-seri. Yulia yang dari tadi menunggu giliran lubang Memeknya dimasukin Tititku, karena mengetahui bahwa aku mengalami kesulitan, akhirnya ikutan pula membantuku memuaskan Devi. Tanpa malu-malu, Yulia menyodorkan puting susunya ke mulut Devi, layaknya ibu kepada bayinya yang minta susu. Devi mengulum puting susu Yulia dengan kuat. Yulia merasakan kalau puting susunya diemut oleh Devi, Yulia diam saja, hanya sedikit menyeringai, menahan geli tentunya.
Aku menekan terus, sehingga sudah separuh dari Tititku masuk ke dalam lubang Memeknya Devi. Kepala Tititku bagaikan disetrum dan dihisap oleh suatu tenaga yang luar biasa mengenakan. Kutekan sekuat tenaga, dan
“Blusss…”
Masuknya seluruh batang kejantananku ke dalam lubang kemaluan Devi diiringi dengan dua jeritan. Yang pertama adalah suara lenguhan yang panjang Devi sendiri karena merasakan sensasi yang enak, matanya sampai meram melek, kadang membelalak. Satunya lagi adalah suara lenguhan panjang Yulia, sebab tanpa Devi sadari, Devi telah menggemut keras puting susu Yulia yang masih dikulumnya itu.
Anna dan Lia hanya tersenyum-senyum saja, kubiarkan Tititku terbenam di dalam Memeknya Devi. Kurasakan empotan-empotan otot dari memeknya Devi. Setelah sekian lama aku menikmati, kumundurkan pantatku, ternyata bibir Memeknya Devi ikut tertarik. Bibir Memeknya Devi mengikuti gerakan pantatku, begitu aku mundurkan maka bibir Memeknya Devi akan mencuat ke atas karena ikut tertarik. Sebaliknya, jika kumajukan lagi pantatku, maka bibir Memeknya Devi pun ikut mencuat ke bawah dan terbenam. Sungguh fantastis dan imut, aku tidak menyesal merasakan enaknya yang luar biasa.
Kupercepat gerakan maju mundurku, semakin lama aku merasakan lubang Memeknya Devi membasah dan membanjir. Lorong lubang Memeknya Devi pun semakin licin, tetapi tetap saja sempit, sampai akhirnya Devi terkuras tenaganya dan tidak bisa mengimbangiku mencapai puncak kenikmatan. Tubuh Devi berkali-kali menegang.
“Oommm… Devi pipis lagi… ahhh…” desahnya.
Cairan mani putih yang kental dan hangat milik Devi merembes deras keluar dari celah-celah lubang Memeknya yang masih disumpal oleh Tititku. Devi sudah lelah sekali, aku pun sudah mulai bergetar pertanda puncakku pun sudah dekat, maka kucabut saja Tititku dari lubang Memeknya Devi. Begitu kucabut, terdengar bunyi, “Ploppp…”
seperti bunyi batang pompa dikeluarkan dari pipanya. Devi kusuruh istirahat, ternyata Devi suka menyusu juga, karena puting susu Yulia ternyata masih dikulumnya. Devi manja tidak mau melepaskan, sampai akhirnya, Anna yang sedang duduk-duduk berkata.
“Eh Vi… udah dong neteknya, kasihan tuh Indah, kan sekarang gilirannya dia.” Anna mengingatkan, “Besok-besok kan masih bisa lagi…” tambah Anna. “Iya-iya… aku tahu kok…” Devi akhirnya menyadari, lalu melepaskan puting susu Yulia dari mulutnya. “Vi… nih kalo mau… puting susuku juga boleh kamu isepin sepuasnya…” ujar Anna sambil memijat-mijat sendiri puting susunya yang membenjol paling besar sendiri.
Devi mau saja memenuhi ajakan Anna, maka kulihat Devi begitu rakusnya mengulum dan menyedot puting susu Anna. Kadang Devi nakal, menjilati puting susunya Anna, sehingga Anna menjerit kecil dan menikmati setiap emutan dan jilatan dari si Devi. Setelah lepas dari Devi, Yulia kemudian menempatkan diri dan bersiap-siap. Yulia mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar, sehingga terkuaklah lubang Memeknya yang sudah cukup basah karena cairan mani yang meleleh dari dinding di lubang Memeknya. Betul juga, aku berusaha tanpa melalui kesulitan, berhasil memasuki lubang Memeknya Yulia, seperti halnya aku pertama kali menerobos lubang Memeknya Lia dan Anna. Kumasukkan Tititku seluruhnya ke dalam lubang kenikmatan Yulia. Yulia menahan suara, karena Memeknya baru saja kutembus. Tetapi karena sudah sangat bergairahnya, maka kenikmatan, yang ada hanyalah rasa enak, geli dan nikmat. Yulia merem melek merasakan adanya Tititku di dalam Memeknya.
“Oom Angga, gerakin dong…”
Yulia memintaku untuk segera memulai.
“Baik Yulia, Oom minta Yulia imbangi Oom ya…!”
Yulia tidak menjawab tetapi hanya manggut-manggut. Kumulai saja gerakan maju mundur pantatku, Tititku masuk dan keluar dengan leluasanya, pertama dengan perlahan dan kemudian kupercepat. Yulia sudah banyak belajar dari melihat langsung permainanku tadi dengan Lia, Anna, maupun dengan Devi. Yulia memutar-mutar pantatnya sedemikian rupa. Aku merasa kalau Yulia yang pendiam ternyata mempunyai nafsu yang besar. Kurasa Yulia akan lebih kuat mengimbangiku.
Betul juga dugaanku Yulia memang kuat juga, setelah hampir seperempat jam kuberpacu, Yulia masih belun juga mengeluarkan cairan maninya, sedangkan aku sendiri memang masih bisa menahan puncak orgasmeku, disebabkan aku telah minum obat dopping 2 pil sekaligus.
“Ayoooo Oomm… Indah merasa enakkk… terusiiinnn…” Yulia kembali meracau.
Kuteruskan memacu, aku heran, kenapa Yulia bisa selama ini, padahal Yulia baru pertama kali merasakan nikmatnya ngentot.
“Yulia… kamu kok kuat sekali sih…?” tanyaku sambil terus memacu. “Ini berkat obat Oom lhoooo…” jawab Yulia bersemangat sambil memutar-mutarkan pantatnya ke kiri dan ke kanan, sedangkan kedua tangannya meremas-remas payudaranya sendiri dan sesekali menarik-narik puting susunya yang masih menegang.
Aku kaget juga mendengar pengakuan Yulia, sampai aku berhenti melakukan gerakan. Ternyata Yulia meminum obatku juga, jelas saja.
“Kok berhenti Oom… gantian Yulia yang di atas ya?” kata Yulia lagi.
Aku diam saja, kami berganti posisi. Kalau tadi Indah dalam posisi aku tindih, sekarang Indah yang berada di atas dan menindihku. Yulia menaik-turunkan pantatnya, maju mundur, perlahan dan cepat, kadang berposisi seperti menunggang kuda, liar dan binal.
Permainan dalam posisi Yulia di atas dan aku di bawah, ternyata menarik perhatian Lia. Dari tadi Lia memang hanya melihat pergulatanku dengan Yulia. “Oom Angga… masa sih kalah sama Yulia…” sindir Lia kepadaku. “Ngga dong… tenang saja Lia…” jawabku membela diri.
Kulihat juga Devi rupanya menyudahi kegiatan menyusunya dari puting susu Anna. Mereka bertiga rupanya tertarik menontonku. Kadang berkomentar yang membuatku tersenyum.
“Yaccchhh… Oom Angga ngga adil… Oom Angga curang, sama Yulia bisa selama ini, sama Anna kok cepet sekali.” Anna memprotes. “Lho, kan Anna tadi sudah kecapean, maka Oom suruh istirahat, dan cuma Yulia sendiri yang belon capek nih…” lanjutku. Yulia sudah berkeringat banyak sekali, aku merasakan ada cairan hangat yang merembes di Tititku. Aku sendiri mulai merasa adanya desakan-desakan dari pangkal Tititku. “Oomm… Yulia udah ngga kuat nahannya nih… eeeghh…aarghh…” kata Yulia sepertinya menahan.
Mendengar ini, langsung saja kuganti posisi lagi. Aku kembali di atas dan Indah di bawah, kupercepat gerakanku sampai maksimal.
“Oommmm… Yuliaaa… aaakkkhhhh… eeeghhhh… aahhh…” Yulia melenguh panjang.
Tubuhnya menegang dan memelukku dengan erat, rupanya Yulia telah mencapai puncak kenikmatannya, dari dalam lubang Memeknya menyemprot berkali-kali cairan maninya yang hangat menyiram kepala Tititku yang masih berada di dalam Memeknya. Lubang Memeknya Yulia dibanjiri oleh cairan maninya sendiri, becek sekali Memeknya Yulia, Tititku sampai terasa licin, sehingga menimbulkan bunyi berdecak. Yulia sudah tidak bisa mengimbangiku, padahal aku dalam keadaan hampir sampai, katakanlah menggantung. Kucabut saja Tititku dari Memeknya Yulia, lalu kutarik Devi yang sedang duduk bengong, kusuruh Devi tidur telentang dengan kaki di kangkangkan. Devi tahu maksudku. Segera saja Devi melakukan apa yang kusuruh. Anna dan Lia langsung riuh berkomentar.
“Yacchhh Oom Angga, kok Devi sih yang dipilih…” rungut Anna.
Sedangkan Lia hanya tersenyum kecut sambil berkata,
“Ayoooo Oomm… cepetan dong… habis ini kita makan… Lia udah buat capek-capek tadi.” sambil menyuruhku menyelesaikan finalnya.
Aku seperti terhenyak. Segera saja kumasukkan Tititku ke lubang Memeknya Devi yang masih merah. Beruntung sekali, Memeknya itu masih basah oleh cairan mani, sehingga hanya dengan kupaksakan sekali saja langsung masuk. Memeknya Devi yang begitu sempit memijat hebat dan menghisap Tititku. Aku ingin menyelesaikan puncak orgasme/kenikmatanku secepatnya. Makin kupacu gerakanku. Devi yang tadinya sudah dingin dan kurang bernafsu langsung terangsang lagi. Tidak sampai lima menit, aku memeluk erat tubuh kecil Devi dan kumuncratkan cairan maniku di dalam Memeknya Devi.
“Aaahhh… aarrrghhh… Cruuutttt… Crottt…”
Cairan maniku banyak sekali. Aku langsung lemas seketika. Tititku pun sudah mulai loyo, sungguh pergulatan yang hebat. Aku dikeroyok oleh empat gadis kecil dengan hisapan mulut Memeknya yang luar biasa. Kucabut Tititku dari lubang kenikmatannya Devi. Kemudian kuajak Devi dan Yulia mandi sekalian denganku. Habis mandi kami makan bersama, lumayan enak makanan buatan Anna dan Lia.
Setelah makan, aku mengevaluasi dan bercakap-cakap dengan gadis-gadis kecil itu. Ternyata Anna, Lia, Yulia dan Devi masih bersemangat dan mereka mengajakku melakukannya lagi. Aku terpaksa menolak, kelihatan sekali mereka kecewa. Untuk mengobati rasa kecewa mereka, kuberikan kepada mereka kaset Blue Film tentang lesbian untuk ditonton. Isi ceritanya tentang hubungan badan cewek dengan cewek yang saling memberi rangsangan. Aku hanya mengawasi saja, sampai akhirnya mereka mempraktekkan apa yang baru saja mereka tonton.
Aku dikelilingi oleh gadis-gadis kecil yang haus sex. Besok harinya, kebetulan adalah hari minggu, aku memuaskan gadis-gadis kecil itu dalam berolahraga senggama/ngentot, sampai aku merasa sangat kelelahan, sehari minggu itu aku bercinta dengan gadis-gadis kecil. Betul-betul enak.
Kejadian ini berlangsung lama. Akulah yang membatasi diri terhadap mereka, sampai akhirnya mereka mengalami yang namanya masa datang bulan, dan mereka juga mengerti kalau apa yang kusebut olahraga ternyata adalah hubungan sex yang bisa untuk membuat adik bayi, tetapi mereka tidak menyesal. Jadi jika akan melakukan senggama/ngentot, kutanyakan dulu jadwal mereka. Aku tidak ingin mereka hamil. Anna, Lia, Yulia, maupun Devi akhirnya mengetahui kapan masing-masing akan mendapatkan jatahnya.
Setelah mereka berempat duduk di bangku SMU kelas 2, bisa dikatakan telah beranjak dewasa dan matang, begitu juga umurku sudah menjadi 36 tahun. Aku sudah menjalin hubungan serius dengan cewek rekan sekerjaku, lalu aku menikahinya dan aku membeli rumah sendiri, tidak lagi kost di tempat Lia. Anna, Lia, Yulia, dan Devi pun sudah mempunyai pacar, tetapi mereka tidak mau melakukan hubungan senggama/ngentot dengan pacarnya. Mereka hanya mau berbuat begitu denganku saja.
Karena aku sudah beristri, mereka pun memahami posisiku. Hubunganku dengan mereka tetap terjalin baik. Istriku juga menganggap mereka gadis-gadis yang baik pula, aku pun berterus terang kepada istriku mengenai apa yang sudah kualami bersama gadis-gadis itu. Istriku memakluminya, aku sangat mencintai istriku. Akan tetapi istriku kurang bisa memenuhi kebutuhan seksku yang memang sangat tinggi. Karena istriku mengetahui kekurangannya, lalu istriku yang bijaksana mengijinkan Anna, Lia, Yulia, dan Devi untuk tetap bermain seks denganku.
Pernah dalam semalam, aku melayani lima wanita sekaligus, Anna, Lia, Yulia, Devi dan istriku sendiri. Dari keempat gadis kecil itu, yang paling sering menemaniku dan istriku bersenggama/ngentot hanyalah Anna dan Lia. Untuk Anna, disebabkan selain orang tua dan kakak Anna tidak tinggal di kota ini, Anna takut tinggal sendiri di rumah besarnya. Hampir tiap hari Anna menginap di tempatku. Untunglah para tetanggaku mengira kalau Anna adalah keponakan istriku. Sedangkan Lia, masih tetap seperti dahulu, papanya bekerja di ibukota dan mamanya masih bekerja di otomotif, kadang justru tidak pulang, jadi jika begitu, Lia ikut pula menginap di rumahku. Tante Linda masih percaya penuh kepadaku. Walaupun sepertinya mengetahui hubunganku dengan anak gadisnya, aku santai saja.
Pak mamat
Johar sudah dua hari berangkat ke luar negeri untuk suatu urusan tugas dengan majikannya. Tinggallah isterinya Milah dengan bapa mertuanya, Pak Mat. Sebelum pergi, sehari sebelumnya Johar bercuti sehari untuk memenuhi keperluan kejantanannya dan permintaan kebetinaan isterinya Milah. Sehari, dari siang bawa ke malam, hampir sepuluh round Johar dan Milah bergelumang dan dipukul gelombang. Maklumlah, pengantin baru tiga bulan bersama. Baru mengenal nikmat bahagia. Ketiadaan Johar mendatangkan kesedihan kepada Milah kerana rindu dan berahinya kepada suaminya walaupun dua hari lagi suaminya akan kembali.
Pada masa yang sama ketiadaan Johar juga meresahkan Milah kerana memikirkan tabiat bapa mertuanya, Pak Mat. Sudah dua hari Johar di luar negeri, Pak Mat sudah mula menunjukkan belangnya semula. Dari kata-kata kepada perbuatan. Tinggal melaksana untuk mencapai matlamatmya sahaja, hanya masa yang akan menentukan. Sebenarnya ini bukan pengalaman pertama Milah. Bahkan sebelum ini bapa mertuanya pernah berlaku curang kepada anak lelakinya sendiri dengan berlaku sumbang dengan menantunya sendiri. Sudah dua kali Milah mengalaminya. Dan kali ini, sewaktu ketiadaan Johar, Pak Mat, bapa mertuanya, pasti akan merasa bebas untuk meminta ulangan ke tiga kalinya.
Sudah tiga tahun Pak Mat menduda semenjak kematian isterinya, kini nafsu jantannya tidak terbendungkan lagi. Pernah Milah dan Johar cadangkan Pak Mat berkahwin lagi tetapi Pak Mat punya agenda lain. Menantu cantik seksi yang dibawa ke rumah oleh anak lelakinya, akan menjadi penawar rindu dendam dan berahinya pada wanita. Malam kedua ketiadaan Johar, kebetulan hujan turun dengan lebatnya pada pukul lapan. Sampai jam sembilan lebih, hujan masih tidak berhenti. Milah rasa kesejukan. Kedinginan ditambahkan dengan kekosongan badannya tanpa suaminya membuatkan Milah rasa tak karuan dibuatnya.
Berahinya benar-benar memuncak. Tapi apakan daya Johar jauh di mata. Tanpa disangka, apa yang ditakutinya berlaku juga. Jam sepuluh, daun pintu biliknya dikuak dari luar. Bila Milah memandang ke pintu dari kamarnya yang suram cahaya, dia lihat Pak Mat tercegat dengan hanya berkain pelikat sahaja menayangkan badannya yang gempal itu. Cepat-cepat Milah membetulkan kain batik yang dipakainya yang tersingkap ke lutut. Dan Milah duduk bersandar ke kepala katil membetulkan rambutnya pula.
“Milah, belum tidur lagi nak?” Pak Mat masuk mendekati katil pembaringan menantunya itu tanpa diundang. Pintu kamar dibiarkan terbuka.
“Pak nak apa pak?” Milah resah. Air mukanya tampak benar resah.
“Bapak susah nak lena le Milah.. Bapak rasa sakit badan sebab sejuk.. Boleh kita berbual?” Pak Mat terus mendudukkan pinggulnya di kaki katil sambil memandang ke arah susu anak menantunya yang hanya dibungkus kemeja T yang nipis.
“Milah sudah ngantuk Pak.. ” “Bapak bukan apa.. Nak borak aje.. Nak mintak urutkan belakang bapak sedikit.. Kalau Milah tak keberatan. Kalau Johar ada, tentu bapak sudah mintak dia urutkan.. ” Pak Mat tersenyum gatal.
Milah termangu. Nak dihalau, bapak mertuanya. Nak dilayan, bapak mertua juga. Nak tak nak, Milah bangun juga mencapai minyak baby oil di meja solek. Pak Mat gembira. Melonjak rasa seronok di hatinya sehinggakan terus meniarap di katil setelah sempat melonggarkan simpulan kain pelikatnya tanpa pengetahuan Milah. Perlahan-lahan Milah menuangkan minyak di belakang badan bapak mertuanya lalu mulai mengurut dari sisi.
Pak Mat geram. Terus mengeras dibawah. Rasa tak sabar di hatinya hendak terus menelentang menunjukkan kehidupan yang baru di bawah perutnya. Biar Milah tampak tiang khemah yang terpacak setinggi tujuh inci dalam kain pelikatnya. Tak sampai lima minit, Pak Mat minta diurutkan betis dan pehanya. Kononnya lenguh juga. Pak Mat terus singkap hingga sedikit sahaja lagi hendak mendedahkan pinggulnya. Pak Mat sudah siap-siap tak pakai seluar dalam. Milah tuang minyak urut lagi. Dan urut dari betis naik ke peha. Dan baru lima minit di situ, sesuai dengan melimpahnya air jernih berahi Pak Mat yang sudah membocor macam paip yang bocor, Pak Mat terus mengiring.
“Anginnya sudah lari ke peha depan le, Milah.. ” kata Pak Mat berpura-pura walhal Milah sudah dapat agak yang selepas ini dia pastikan nampak khemah kanopi setinggi tujuh inci menjulang ke langit. Pak Mat terus menelentang. Tiang khemah sudah berdiri tujuh inci. Dan puncak kainnya sudah basah lenjun. Milah tuang minyak ke peha.
“Atas lagi.. ” kata Pak Mat.
Milah tuang ke atas lagi dan mulai mengurut.
“Atas lagi.. ” kata Pak Mat dan terus menarik lagi sedikit kainnya sehinggakan kalau Milah meletakkan kepalanya di paras peha Pak Mat, pasti tampak tiang khemah tujuh incinya yang sudah keras menjulang.
“Bukan situ, kat ari-ari lak perginya.. ” Pak Mat bawa tangan Milah ke perutnya dan terus ke ari-ari, rapat ke pangkal tiangnya.
“Buang kain sekali le senang ya nak?” Pak Mat tak minta persetujuan langsung dan terus menjungkit membuang kain pelikatnya ke lantai.
Tampaklah Milah ke tiang tujuh incinya dan seluruh isi tubuhnya yang gendut itu. Milah tak kuasa nak tutup mata atau pandang ke lain lagi. Dia sudah pernah nampak. Dia malas nak tengok lagi. Tapi kali ini, dia sudah lali dan sudah pun nampak lagi. Milah urutkan tangan ke ari-ari membawa ke tiang Pak Mat.
“Milah marah ke?” Tanya Pak Mat.
“Tak, pak.. ” Milah terus mengurut ari-ari bapak mertuanya. Bulu kemaluannya sudah habis dicukur.
“Kat situ pun lenguh juga la Milah.. “
“Kat mana?”
“Sini.. ” Pak Mat letak tangan Milah ke pangkal tiangnya yang gemuk itu. Milah genggam perlahan.
“Tak mahu la pak.. ” Milah tidak menggenggam kuat dan tidak pula melepaskan tangannya kerana fikirnya kalau dilepaskan pun, bapak mertuanya pasti memaksa.
“Tolonglah bapak Milah.. ” Pak Mat urut pinggan anak menantunya itu. Milah tak kuasa menepis.
“Bapak nak apa sebenarnya.. ” Milah tenung mata bapa mertuanya yang tersengih macam kerang busuk.
“Bapak sunyi le Milah.. Lagi pun malam ni sejuk.. ” Pak Mat makin berani menyelinapkan jarinya ke dalam kemeja t menantunya dan meraba lembut pinggang menantunya yang ramping itu. Hangat terasa kulit Milah. Itu menambahkan gelora nafsu berahinya.
“Janganlah pak.. ” Milah melarang bila Pak Mat mulai merayapkan jarinya
Hampir rapat ke kakibukit mudanya yang membengkak.
“Apa Milah nak malukan? Bapak pun tak pakai, apa salahnya Milah pun tak pakai.. Bukak la.. ” Pak Mat memujuk.
“Bapak nak urut ke nak apa ni.. ” Milah macam marah sedikit.
“Bukalah Milah.. Kesian le bapak telanjang seorang.. Malu bapak.. Milah pun bukakla sekali.. Bukak semua ya nak?” Pak Mat terus menyemburkan ayat beracunnya.
“Jangan la pak.. Biar Milah pakai tangan saja ya pak?” Milah mulai berterus terang. Dan Milah mulai menggenggamkan jarinya erat pada batang pelir mertuanya itu.
Perlahan-lahan dia mengurutnya dari pangkal dilurutkan ke hujung kepalanya. Pak Mat tersenyum. Tapi tangannya masih belum dilepaskan dari pinggang menantunya. Sambil dia menikmati perbuatan tangan Milah, sambil dia cuba membangkitkan rangsangan pada Milah.
“Pak, jangan pak.. ” rayu Milah lagi bila Pak Mat mulai sampai semula ke bukit mudanya yang sedang subur.
Tapi permintaan itu tak dipenuhinya. Telunjuk dan jari hantunya mulai melangkah perlahan mendaki dari kaki bukit. Milah menahan rasa geram. Dan kerana geram, dia genggam batang Pak Mat dengan kuat dengan cara yang menyakitkan.
“Kuat lagi nak.. Kuat lagi.. Begitu.. Em, sedap.. ” sebaliknya itu yang diperkatakan oleh Pak Mat kepada Milah sedangkan jarinya sudah sampai ke puncaknya dan sedang mengulit manja penuh mesra puting buah dada anak menantunya itu.
“Tak best la.. Lenguh tangan bapak macam ni.. Bukak terus ya s ayang?” Tiba-tiba Pak Mat gunakan dua tangannya mengangkat baju kemeja t nipis itu sehingga mendedahkan kedua-dua buah dada yang subur milik Milah.
“Pak!” Milah berkeras tapi tangan Pak Mat lagi cekap. Genggaman tangannya terlepas dari batang Pak Mat bila baju itu mulai dicabut keluar dari kepalanya.
“Pak.. Jangan le buat Milah macam ni.. Milah kan menantu bapak?” Milah merayu dengan nada yang lemah lembut tapi rayuan itu dipandang sinis oleh Pak Mat.
Sebaliknya dia terus menarik tangan Milah supaya terus mengulangi lancapannya manakala Pak Mat sudah merangkul rusuk anak menantunya itu sambil merapatkan mukanya yang disembamkan ke buah dada anak menantunya yang bukan sahaja subur, bengkak, tegang, pejal, menggiurkan tapi berkulit putih bersih dan gebu sehinggakan kalau di buah dadanya Milah sahaja sudah menerbitkan rasa berahi yang amat-amat.
“Pak.. Milah tak suka.. ” Milah berkeras sambil melepaskan pegangannya ke batang pelir Pak Mat.
Perbuatan itu membuatkan nafsu Pak Mat kian menyirap. Dengan sekali tolakan, Milah terdampar terlentang dan dengan sepantas kilas Pak Mat merangkak naik ke atas tubuh anak menantunya yang hanya tinggal kain batik sahaja, itupun sudah tersingkap hingga ke peha gebunya yang mengghairah dan mengundang. Peha Milah rapat. Batang Pak Mat mencari laluan sambil dia terus menikmati hidangan lauk nasi lemak kelas hotel lima bintang di atas dada anak menantunya itu.
“Belum pernah bapak tengok buah kepunyaan kau ni sebelum ni, Milah. Walaupun terletak berbaring begini.. Masih tegak melonjak.. Emm.. Emm” buas sekali geloranya menikmati buah dada Milah yang secara biologinya sudah terrangsang hinggakan puncaknya mulai menegang dan keras.
“Bapak.. Jangan pak.. ” Milah masih lagi merayu sewaktu merasakan pehanya mulai dikuak dengan ganas oleh kaki Pak Mat. Sedikit demi sedikit dia kian terkangkang luas memberikan kemudahan untuk Pak Mat mencelapak di tengah. Dan kemudian kakinya mulai terangkat ke atas bila Pak Mat meletakkan peha Milah ke atas pehanya.
“Bestnya Milah.. ” kata Pak Mat melepaskan ikatan kain batik Milah yang dilepaskan melalui kepala. Batang pelir sudah terpacu keras kepalanya di pintu masuk. Tinggal nak masuk aje.
“Pak.. Jangan pak.. Milah tak sanggup nak buat lagi.. ” rayu Milah tetkala merasakan jari jemari nakal Pak Mat mulai mencemar kelopak bunga farajnya.
Sentuhan jari itu dibiji kelentitnya membuatkan Milah tak dapat menahan kegelian bila ianya menggentel biji kelentitnya yang memang sedia tersembul dan tak pernah dikhitankan sejak kecil dahulu.
“Kenapa Milah? Milah tak suka dengan bapak? Bukankah kita pernah buat dulu?” Pak Mat beralih kepada mengusap lembut alur faraj Milah yang secara kimianya merangsang rembesan zat lendir pelincir yang memberikan laluan mudah untuk apa sahaja objek kasar untuk membenam dalam liang itu.
“Milah takut pak.. Lagipun, Milah ni anak menantu bapak.. Milah kan isteri Johar anak bapak?” Milah rasa hendak menangis tetapi kenikmatan yang mulai dirasakan dari mainan jari Pak Mat di bawahnya membuatkan dia berada dalam kedudukan yang serba salah, takut dan keliru.
“Milah tak suka barang bapak? Bapak punyakan lebih panjang dari Johar? Dulu Milah kan pernah kata Milah tak pernah rasa yang sebesar dan sepanjang ini..?” Pak Mat menjilat-jilat puting buah dada Milah sesambil memujuk, dan sesambil menggesel biji kelentit Milah lagi.
“Itu lain pak.. Itu Milah tak dapat mengawal diri.. Siapa sahaja akan berkata yang bukan-bukan dalam keadaan itu, Pak.. ” Milah mengingat semula kata-kata berahi lucah yang pernah diperkatakannya dahulu sewaktu keterlanjuran yang kedua bersama bapak mertuanya, yang terjadi ketika dia sedang menikmati unjuran keluar masuk yang padat dan ketat dari batang pelir Pak Mat.
Pak Mat tersenyum. Dia merancang sesuatu.
“Baiklah Milah.. Bapak tak mahu paksa.. Tapi izinkanlah bapak sekadar merendamkannya sekali sahaja.. ” Milah terdiam. “Bapak janji.. Kalau sudah masuk semua nanti, bapak akan cabut balik dan takkan pancut dalam pun.. Lepas cabut, nanti Milah boleh lancapkan saja, ya sayang?” Pak Mat meracun.
Milah terdiam. “Boleh Milah?” kata Pak Mat sambil mulai mengasakkan kepala pelirnya ke bibir faraj Milah, cuba melepaskanbengkakan kepala pelirnya melalui pintu masuk yang ketat itu. “Boleh keMilah?” Sedikit demi sedikit Pak Mat mengasak.
Kepala pelir mulai terlepas. Hampir melepasi garisan takuk. Milah memejamkan matanya. Pak Mat tahu Milah membenarkannya walaupun tanpa rela.
“Sedikit lagi sayang.. ” kata Pak Mat, sedangkan lima inci lebih lagi masih perlu diganyang ke dalam daerah yang sedang tandus itu. Seinci demi seinci menguak. Milah membetulkan kuakan pehanya supaya memberi laluan yang lebih menyenangkan Pak Mat. Itu petanda baik. Pak Mat berjaya melepasi garisan lima inci. Milah merasakan ruang dalamannya mulai penuh dimasukki barang Pak Mat.
“Sedikit lagi.. ” dan dengan sekali santakan, seluruh tujuh inci terbenam dalam memenuhi daerah tandus Milah.
Milah tersentak. Dadanya menggeliat. Tersantak hingga ke batu meriannya. Dia rasa sedikit senak. Tapi rasa itu hilang berubah menjadi nyaman. Kemudian perlahan-lahan dia membuka matanya sambil mengetap bibirnya kerana malu.
“Pak.. Apa yang telah bapak lakukan, pak.. ” Milah timbul rasa serba salah agaknya? Atau sebenarnya sedang mencari alasan untuk menyalahkan Pak Mat sambil cuba memujuk hatinya untuk mengenepikan rasa yang sedang dirasakan olehnya ketika itu.
“Milah tak suka juga nak?” Pak Mat tahu Milah hanya memberikan alasan.
Pak Mat tahu Milah hendak ianya terus dilakukan. Sifat perempuan, pada mulanya pasti melarang tapi bila sudah mengena, pasti tak boleh dilarang.
“Kita ni anak menantu dengan bapak mertua, pak.. Tak patut melakukan semua ini.. ” kata Milah, berubah rentak.
“Baiklah.. Bapak sudah rendam. Bapak cabut seperti mana bapak janji ya sayang?” Pak Mat cuba berganjak untuk menarik semula batang pelirnya tetapi dia mulai merasa faraj Milah seakan mengemut-ngemut batang pelirnya dengan rakus, dengan maksud tidak mahu batang itu dicabut keluar pada waktu itu.
Oleh kerana itu, Pak Mat pula kembang-kembangkan kelopak cendawannya supaya batangnya terasa membengkak-bengkak dalam faraj Milah. Perbuatan itu membuatkan faraj Milah kian bertambah kuat kuncupannya. Dan kemutan itu semakin kerap dan berulang laju. Pak Mat lihat anak menantunya sudah memejamkan matanya kembali. Nafasnya seakan cemas. Tapi orang berpengalaman macam Pak Mat membuatkan dia lebih dewasa untuk menangani situasi itu lalu digentelnya biji kelentit Milah dengan laju dalam keadaan batangnya masih terrendam kuat dan padat dalam faraj yang kian rakus kemutannya itu.
Tak semena-mena kemudian Milah melonjak sedikit. Nafasnya terhenti helaannya. Kemutnya menyepit. Pak Mat rasa basah di dalam. Milah mengetap bibirnya. Dahinya berkerut merasakan kemuncak berahi yang amat lazat. Lama.. Hampir tiga empat minit, mencecah lima minit. Dan sudahnya, gelinjatnya tenang semula. Dadanya mulai berombak semula. Nafasnya terhela lesu. Dan bibirnya tak diketap lagi tapi seakan mahu membicarakan sesuatu. Farajnya berdenyut perlahan dan basah. Perlahan-lahan Milah membuka kelopak matanya dengan perasaan malu.
“Dapat?” Tanya Pak Mat. Milah tidak menjawab. Kakinya terdampar luas menguak selepas tadinya sewaktu mencapai tahap berahi, ianya terkancing rapat.
“Bapak memang sengaja.. ” Milah memukul dada bapak mertuanya dengan perlahan, masih menyalahkan bapak mertuanya itu sedangkan sepatutnya dia boleh menghindarkan sahaja pencerobohan yang mengasyikkannya itu tadi.
“Bapak kasihanmu Milah.. ” kata Pak Mat menyindir. Walhal dia sendiri memang gian nak berjunub.
“Tapi Milah anak menantu bapak.. Milahsudah macam anak bapak.. ” Milah terasa ingin menangis.
Sesudah mengecapi klimaks betinanya yang pertama tadi, tetiba dia merasa menyesal dan teringatkan suaminya. Buat kali ketiganya dia sudah tidak jujur. Dan pada waktu itu, dia masih terus pula membiarkan batang pelir bapak mertuanya terus terrendam dalam farajnya yang baru sahaja memberikan kelegaan bathin kepadanya. Tiba-tiba Pak Mat dakap Milah erat dan dalam keadaan batangnya masih terbenam rapat dalam faraj menantunya, dia berpaling posisi dengan susah payah sehinggakan akhirnya, kini Pak Mat pula berada terlentang di bawah dan Milah duduk di atas. Milah menolak tubuhnya duduk memandang bapak mertuanya. Posisi itu membuatkan batang pelir Pak Mat makin terasa menyucuk dan menyenak di dalam farajnya sehingga menganjak pintu rahimnya yang berbonggol pejal. Dia rasa begitu malu sekali ketika itu kerana bapa mertuanya dapat melihat buah dadanya yang subur gebu, perutnya yang slim, pinggangnya yang ramping, dan semak halus di bawah perutnya yang kini menelan sepenuhnya tongkol keras batang pelir bapak mertuanya.
“Kalau Milah tak suka, terserah Milah.. Bapak hanya kasihankan Milah.. Dan bapak baru sahaja menunaikan hajat gelora di hati Milah sebentar tadi.. Bapak tak kisah kalau tak mendapat apa-apa keuntungan.. Kalau Milah tak suka, Bapak pun tak dapat hendak menghalang ketika ini sebab bapak sudah berada di bawah.. ” Pak Mat menguji sambil mendepangkan tangannya dan meluruskan kakinya sambil merenung tepat ke mata ayu menantunya itu.
Dan Milah sudah terkena. Terjebak dengan perasaannya sendiri ketika ini. Dia tak dapat hendak menyalahkan bapak mertuanya lagi selepas ini. Keputusan berada di tangannya sama ada akan terus di situ atau mengundurkan diri. Pak Mat terus meneran mengembangkan kelopak cendawannya supaya meregang memadatkan ruang dalaman faraj menantunya supaya menantunya terus merasakan tekanan yang memberangsangkan.
“Bapak menyiksa bathin Milah..” jumpa juga dengan alasannya.
“Kenapa pulak?”
“Bapak sudah memulakan semua ini.. “Milah teragak-agak tetapi merasakan kata-katanya itu betul.
“Jadi?” Tanya Pak Mat yang sememangnya bijak dan berpengalaman itu.
“Bapak memang sengaja mahu menguji Milah.. ” Milah terus mengasak Pak Mat dengan kata-kata perangkapnya setelah dia merasakan dirinya memang sudah terperangkap.
“Bapak tidak mengujimu, Milah.. Kalau Milah mahu, bapak sedia membantu.. Bapak ini seperti bapak-bapak yang lain atau bapak mertua yang lain, hanyalah menumpang senang di atas kebahagiaan anak menantu.. ” Pak Mat menggaru hidung yang tak gatal sambil sempat merenung gayutan buah dada Milah yang masih mantap dan memberangsangkan.
“Maksud bapak?” Milah geram.
Bercampur marah. Dalam hatinya yang keliru ketika itu, berharap kalau dia terus diperlakukan secara paksa supaya dia dapat terus menyalahkan bapak mertuanya sedangkan dia menikmati bonus dari paksaan yang melazatkan itu tetapi perangkap bapak mertuanya ketika itu sungguh licik. Sudahnya Milah mengalah. Perlahan-lahan dia mengangkat pinggulnya melepaskan batang pelir yang ditelan oleh farajnya. Kelihatan licin kulit batang pelir itu diselaputi benih Milah tadi. Keruh dan lendir. Zat yang menikmatkan. Dan Milah benar-benar terasa kecundang sebab terpaksa juga dia melepaskan batang pelir itu dalam keadaan yang begitu berat melepaskan kepala cendawan bapak mertuanya yang kejang membesar itu.
PLOP!
Terlepas dari farajnya dan Milah terus berbaring meniarap dengan kepala terteleng ke arah yang bertentangan dari bapak mertuanya. Pak Mat tersenyum. Dia tahu Milah mengambil tindakan nekad. Jadi kali ini dia akan mengenakan beban tekanan bathin yang lebih hebat terhadap Milah. Diambilnya minyak baby oil Johnson yang terletak di meja sebelah katil. Lalu dituangkannya minyak itu ke pinggul Milah sehingga mengalir turun ke alur farajnya. Kemudian digosokkannya minyak itu penuh menyelaputi pinggul Milah. Dan sekali sekala dia melajakkan jarinya itu ke faraj Milah yang masih menginginkan tusukan tumpul batangnya yang setongkol 7 inci itu.
Perlahan-lahan dan berhati-hati dia naik merangkak memanjat ke belakang Milah lalu menindih. Batang pelirnya diletakkan di alur pinggul menantunya yang pejal itu. Pak Mat tersenyum nyaman. Milah berdiam membiarkan. Dan dia tahu Milah mahu perbuatan itu berterusan. Pak Mat gesel dari bawah ke atas. Bila pelirnya mengena celah peha Milah, ianya memukul sedikit pintu dubur dan pintu faraj Milah secara bergilir sebelum dilayangkan semula naik ke alur pinggul Milah.
Lama Pak Mat berbuat demikian. Sehinggalah dia terperasan yang Milah telah menonggekkan pinggulnya untuk menunjukkan rekahan pintu farajnya yang sudah basah diminyakkan oleh baby oil Johnson itu. Pantas Pak Mat merendamkan kembali kepala cendawannya masuk melalui liang yang indah lagi nikmat itu. Berdesup masuk dengan lebih mudah dari pertama kalinya. Dan Milah.. memberikan tindak balas berlawanan untuk membantu menelan batang bapak mertuanya supaya tertujah lebih jauh lagi ke dalam farajnya. Pak Mat sorong perlahan-lahan, kemudian tarik sedikit, kemudian sorong lagi dan tarik lagi.
Pada setiap kali sorongan masuk, Milah melonjak ke belakang ke arah Pak Mat, pada masa sorongan tarik keluar, Milah makin menganjak ke arah Pak Mat kerana tidak mahu batangnya terkeluar. Lalu Pak Mat memulakan gerakan sorong tariknya dengan konstan dan konsisten, mengikut rentak Milah yang sudah naik berahi semula menerima asakan demi asakan dari tenaga batang yang sungguh besar dan panjang, dan memenuhi keperluannya ketika itu.
“Milah suka Milah?” Pak Mat sengaja mengusik.
Tapi Milah hanya melepaskan keluhan manja anak kecilnya yang seakan menagihkan belaian yang lebih merangsangkan dari semua itu.
“Emm.. Emm.. Ooouuhh.. ” itu sahaja yang keluar dari bibirnya yang basah dijilat berkali-kali oleh lidahnya.
Sekejap kemudian Pak Mat melajukan henjutannya. Dan keluhan Milah kian laju juga seperti tempo tekanan yang diberikan. Makin ianya laju, makin Milah tak karuan. Bunyinya seperti enjin sangkut tetapi kuasa enjinnya Ferrari pulak. Bila Pak Mat santak habis ke dalam, terasa pinggulnya yang pejal dan empuk itu menganjal menolak pelirnya. Dan itu merangsangkan Pak Mat untuk makin mengganas.
Ditariknya rambut Milah. Milah mengerang. Diramasnya pinggul Milah. Milah merengek. Ditamparnya pinggul Milah. Milah mengaduh. Dan kemudian..
“Ahh ahh ahh ahh ahh.. Eieiikkhh.. ” Milah mengejang dan menggelinjat sehingga kepalanya terlonjak ke belakang sedangkan kakinya kian rapat menjadikan kemutan farajnya jadi sendat dan mengetat menggrip pelir Pak Mat. Milah kemuncak kedua.
Pak Mat masih beraksi selamba. Sepanjang lima minit Milah menikmati orgasm yang panjang tidak berhanti itu, Pak Mat terus mengepam laju memberikan kepuasan bathin kepada Milah, kepuasan yang suami Milah tak pernah berikan dari pelirnya yang tak sehebat bapaknya. Kepuasan yang optimum. Basah lagi pelir Pak Mat digenangi kolam Milah yang membasah oleh cairan keruh kenyal dari terbitan matair berahi kemuncak inzali dari dalam faraj Milah.
“Emm.. ” nafas Milah lega semula tetapi masih lagi dia merasakan kelazatan kerana pergerakan konsisten bapak mertuanya yang masih belum menunjukkan tanda-tanda kemuncak berahi jantannya.
Milah sudah tak sabar ingin merasai benih jantan bapak mertuanya memenuhi ruang farajnya yang kontang. Dia ingin benih itu bercantum dengan benihnya pada masa dan pertemuan yang serupa. Dia ingin bila Pak Mat pancut, dia juga percik. Dia ingin Pak Mat kejang, dia juga ingin erang sama. Dia mahu Pak Mat menggelisah kerana dia mahu menggelinjat serupa. Tapi dia malu hendak bertanya bila Pak Mat akan kemuncak bersama-sama dengannya sebab dulu pernah lama.
Dulu kali pertama dan kedua dahulu, kalau tidak sampai dua jam lebih, selagi Milah tak kemut kemuncak sampai lima enam atau sepuluh kali, selagi itu Pak Mat takkan lepas. Mahukah dia berterus terang? Tidakkah nanti bapak mertuanya akan mengetawakannya pulak? Agak sesudah lega dari klimaks keduanya, Pak Mat cabut kembali pelirnya. Kali ini Milah tak terkejut. Dan tidak menghalang atau menahan. Dia tahu dia akan menerimanya lagi. Perlahan-lahan Milah merangkak. Dan kemudian berpaling kepada Pak Mat yang tersenyum manja kepadanya. Wajah tuanya sudah hilang tua pada mata Milah. Pangkat bapak mertuanya itu sudah hilang seketika. Pak Mat sudah menjadi part time sex lovernya yang akan memberikan kepuasan kepadanya pada waktu Johar gagal memenuhi kehendak dan gelora kemahuannya. Milah duduk merengkok dekat kepala katil. Tapi kakinya dilipatkan mengangkang selepas duduk di atas bantal. Pak Mat faham benar fesyen itu. Dan tanpa banyak kerenah terus memenuhi kekosongan ruang di antara celah kelangkangan Milah yang memberontak.
“Boleh?” Tanyanya sebelum mengasak masuk.
Milah menggeleng. Dipegangnya batang Pak Mat lalu ditariknya naik ke atas. Pak Mat terdorong sehingga berdiri dengan batang pelirnya tersua ke mulut Milah. Dia asak perlahan sehingga Milah dapat mencapai lidahnya yang tajam ke kepala cendawannya. NGAP! Seinci tenggelam dalam mulutnya. Dan Milah menikmati jus-jus buah-buahan yang tadinya terpalit dari farajnya ke batang Pak Mat.
“Sedap Milah.. Emm.. Pandai Milah.. Sedut Milah.., sedut kuat sikit.. ” Pak Mat memberikan pujian perangsang untuk memberi galakan berterusan yang sudahnya memberikan hasil yang baik kepada kaedah kuluman vakum yang ketat itu.“Mmm.. Mmm.. ” Milah terasa tercekik dan terbelahak bila kepala cendawan itu menutup tekaknya sehingga menyukarkannya bernafas tetapi kemudian dia adjust.
Dan dapat menerima hampir tujuh inci itu dalam mulutnya, mencecah tekaknya. Pak Mat mengepam bila tangan Milah penat. Bila kepala Milah lesu, Pak Mat mengepam. Milah hanya perlu sedut vakum. Pak Mat usahakan segalanya. Sampai besok pun Pak Mat sedia pam.
“Mmm.. ” Milah rasa lemas.
Dia pandang tepat ke wajah mertuanya sambil menggeleng. Pak Mat cabut pelirnya semula lalu turun mencelapak antara celah kelangkang Milah. Dilihatnya faraj Milah sudah basah lenjun di bawah dek rasa berahi yang amat sangat. Tanpa banyak lengah batang dipacu. Pendayung direndam. Kemudian mulai diasak masuk semula ke dalam. Tapi Milah rasa kurang selesa pulak.
“Kejap Pak.. ” rayu Milah sambil menahan dada bapak mertuanya.“Kenapa Milah?” Pak Mat manja sekali melayani anak menantunya. Mintak apa saja pun pasti dibaginya. “Lenguh.. ” Milah beralih mendekati tebing katil.
Pinggulnya diletakkan betul-betul di tebing tilam. Kakinya terjuntai ke bawah sehingga tapaknya mencecah ke lantai. Milah menguak luas. Pak Mat turun ke lantai. Di lututkannya kaki mencium faraj Milah sepuas hati. Dijilat dan dikemamnya bijik kelentit Milah, sebelum berdiri mengacu senapangnya semula.
Milah kuak kaki luas-luas sambil menguak kelopak mawarnya dengan jari tangan kedua belah menunjukkan pintu farajnya yang sedikit terbuka. Slow-slow Pak Mat meletakkan kepala cendawannya. Milah bantu dengan tangan kiri. Dipacukannya ke liang. Sehinggalah Pak Mat terjah ke dalam baru dilepaskan. Masa Pak Mat mulai mengepam, Milah paut tangan ke leher Pak Mat.
Merengkok badannya sambil ditujah laju oleh Pak Mat dengan penuh nikmat. Tidak ada rasa yang lebih bagus dari pertemuan dua alat kelamin itu dalam posisi itu. Geselan kulit batang yang keras berurat itu dengan dinding faraj yang penuh menyimpan urat sensitif segala rasa geli dan berahi, membuatkan Milah tak karuan haluan. Kepala cendawan Pak Mat juga menyimpan urat geli berahinya tetapi kematangan Pak Mat membuatkan dia mudah mengawal urat geli berahinya supaya tidak cepat membawa dia ke penghujung upacara.
“Bapak.. Ooohh.. ” Milah mulai berkata-kata dalam mimpi nyatanya.“Kenapa Milah.. ” Pak Mat tenung rapat matanya ke buah dada Milah yang bergetar kencang selaras dengan kelajuan pelirnya yang mengepam.“Cepatlaa.. ” ringkas jawab Milah. “Awal lagi sayang.. ” Pak Mat memujuk. “Milah tak tahan.. Hemm” “Hem?” “Milah nak sekarang.. “ “Sekarang? Takkan cepat sangat?” “Dahh.. sudah sejaamm.. “ “Tak suka lama?” Pak Mat cabut pelirnya lalu ketuk ke biji kelentit Milah untuk mengimbangi rasa sedapnya. “Nakk.. Tapi nanti buatlah lagii..” Pak Mat senyum. “Baiklah.. Jap lagi..” Pak Mat masukkan semula pelirnya ke dalam faraj yang begitu mudah memberikan laluan itu, tetapi masih begitu sempit untuk digeledah oleh Pak Mat. “Naik atas.. ” Milah mengajak bapak mertuanya mengesot semula naik ke atas. Pelir tercabut semula.
Milah naik menelentang menggalas pinggulnya dengan bantal. Pak Mat naik merangkak mencelapak tengah kelangkang.
“Cantik.. ” puji Pak Mat melihat faraj Milah.
Tapi Milah sudah tidak sabar. Jarinya mengutil-ngutil biji kelentitnya dalam keadaan yang paling mengghairahkan. Lebih ghairah dari menerima batang lima inci suaminya Johar. Dia sudah lupa Johar seketika. Dia masih sayangkan Johar tapi ketika itu, batang tujuh inci itu adalah bahan penyedap yang akan mendamparkannya ke syurga dunianya sebentar lagi.
“Cepatlah Pak.. ” Milah menarik tangan bapak mertuanya. Orang tua itu terdorong mendepang tangan antara rusuk kanan kiri Milah.
Milah rangkul pinggul Pak Mat dengan kakinya seraya memberi bukaan luas dengan jarinya supaya batang pelir Pak Mat dapat menyelinap dengan mudah.
“Lembut? Kasar?” Tanya Pak Mat.
Milah hanya meelayukan pandangan matanya. Kelopak matanya mengecil. Sedikit demi sedikit Pak Mat memainkan peranannya sekali lagi. Dia mengambil posisi sedap. Dengan kaki celapak katak, peha Milah di atas pehanya, Pak Mat maju.
“Ahh!!” Milah mengerang manja menerima kemasukan batang Pak Mat. Liang farajnya membuka perlahan. Seinci menjelajah masuk.“Pak.. ” Milah memanggil lemah. “Kenapa?” Pak Mat berhenti mengasak. “Sedaappmyaa.. ” Milah melepaskan kelopak mawarnya bila kelopak cendawan Pak Mat sudah ditelan oleh farajnya yang tercunga tinggi atas galasan pinggul di bantal. “Lagi.. ” seinci lagi masuk, tinggal lima lagi.
Milah menahan geli bila Pak Mat gentel biji kelentitnya. Dia cuba menahan tangan Pak Mat dari meneruskan gentelen itu tetapi Pak Mat tetap beraksi bagi menerbitkan segera berahi Milah.
“Masuklaah laagi.. ” Milah merintih manja.
Bibirnya diketap erat menahan rasa yang indah itu dari begitu cepat menghanyutkannya ke inderaloka. Seinci lagi menerjah. Tinggal empat.
“Padatnyaa.. ” Milah menggelinjat menikmati asakan perlahan dan teratur dari permainan terrancang itu.
Seinci lagi ditolak perlahan ke dalam. Pak Mat rasa liang dalam yang semakin mengecil itu kian menghimpit kebesaran kepala cendawannya. Tinggal tiga. Faraj Milah dirasakan makin lincir.
“Pak.. Milah tak tahan pak.. ” Milah makin mengeluh dalam.“Kau takkan dapat merasakan ini dari Johar Milah.. ” Pak Mat menolak lagi seinci ke dalam meninggalkan dua inci lagi.
Milah rasa ingin mengemut tapi ditahankannya. Batang pelir bapak mertuanya dirasakan begitu besar lagi mengembang dan mengeras di dalam farajnya. Terasa lebih besar dari selalu. Atau sebenarnya dia terasa begitu ghairah amat dengan nikmat yang hendak dicapainya dengan bapak mertuanya sekejap lagi bersama-sama bila Pak Mat menyemburkan benihnya ke dalam farajnya yang turut akan bersama memercikkan benihnya untuk ditemukan dengan benih Pak Mat.
“Santak pak.. Dalam lagi.. ” Milah merayu.“NAH!!” ZUPP! “AAHH!!” “YEAASSHH!!”
CLOP! CLOP! CHLUP!
Berdecap decip bunyi hempapan dan ganyahan batang pelir Pak Mat keluar masuk liang sempit Milah yang kesat-kesat licin itu. Hangat dan merangsang.
“LAJU LAGI.. LAJU..!!” Milah menjungkit-jungkit pinggulnya hendak merasakan santakan yang lebih ganas.“Sempitnyaa.. ” Pak Mat tak pernah merasa reaksi sebegitu rupa dari Milah.
Kemaruk sungguh dia. Lima inci tarik, enam inci membenam. Seakan tumbuh seinci. Tarik enam, simpan satu, masuk tujuh jadi lapan.
“BAPAK!!” Milah mengejang.“Kenapa sayang..?” Pak Mat terus mengasak laju macam kereta lumba yang baru kena minyak pelincir baru. “Cepat Pak.. Milah tak tahan.. Tolongg.. ” Milah makin tak tentu arah bila Pak Mat gigit puting buah dadanya dari sebuah ke sebuah. “Relax.. ” Pak Mat memujuk. “Tak boleh.. Milah nak sekarangg!!” Milah memang sudah tak tentu arah lagi sebab dia sudah bertahan begitu lama.
Dia menahan percikannya. Dia menahan pancaran berahinya. Dia sudah hampir ke pantai berahi yang lazat. Dia tinggal hendak terjun ke laut untuk berenang ke tepian sahaja. Tinggal Pak Mat untuk mengemudikan nafsunya.
“Pak.. Jangan biarkan Milah sendiriann..!!” Milah menarik-narik kemasukan batang Pak Mat sambil merapatkan pehanya supaya laluan Pak Mat jadi lebih sempit.
Pak Mat sendiri sebenarnya hanya menunggu lampu hijau. Dia simpati dengan Milah. Dia tahu Johar selalu bawak Milah hanyut bersama dalam satu perhentian waktu yang serupa. Dia tahu Milah tak suka klimaks seorang. Milah mahu pancut sama dengan pasangannya. Asakan kian laju. Bantal galas dipinggul sudah terbang entah ke mana. Cadar sudah bersepah bertebaran ke lantai. Tidak ada apa lagi yang mahu diingati oleh kedua pasangan itu kecuali mengecapi kemuncak berahi mereka bersama-sama.
“Milah.. ” Pak Mat tak tahu hendak laju mana lagi. Gear lima sudah masuk.
Sudah pun berpindah ke gear tinggi lori kontena. Sorong tariknya sudah hilang tempo. Peluh membasah di merata-rata menitik-nitik ke tubuh dan muka Milah. Peluh di celah kelangkang menambahkan kelinciran.
“Bapak.. Milah sudah hampir.. ” Milah gentel kelentitnya.“Sabar Milah.. Bapak jugaa.. ” Pak Mat sudah tak tahan sama terikut-ikutkan berahi Milah. “CEPAT PAK!!” “MILAHhh.. Aduhai sempitnya lubangmu.. ” Pak Mat tindih badan Milah.
Buah dada Milah menjadi pelantar kusyen yang empuk di dadanya. ipeluknya Milah sampai ke belakangnya. Lagi laju dia mengepam, lagi kuat pelukan. Milah sendiri sudah mencakar-cakar Pak Mat di belakangnya dengan kukunya yang panjang. Terasa calar dan melukakan. Tapi Pak Mat sudah naik stim.
“MILAHH!!”“PAKK.. PANCUT DALAM PAKK..!! Ahh ahh ahh!!” Milah makin sampai.
Pak Mat juga semakin sampai. Mereka berdua sudah dekat ke penambang. Laut bergelora kian kencang. Ombak yang memukul ke pantai berulang-ulang membanyak buih dan busa di tepian. Licin. Enak. Empuk.
“MILAH!”“BAPAK..” “MILAH..!” kerandut zakar Pak Mat berdenyut mengepam cairan benih yang likat dari kilangnya naik melalui salurnya. “BAPAKK!!” Milah kemut kian kuat dan kencang. “Milah.. Ini dia.. ” Pak Mat bisik ke telinga sambil meneran. “BAPAK!”
PUT PUT PUTT PUT!! SRUTT! SRUT!
“BAPAK!!” Faraj Milah mengemut kuat.
Rasa macam melekat. Rasa bergelen-gelen benih Pak Mat memenuhi ruang dan memancut di dalam. Pak Mat tak pernah rasa pancaran sebegitu rupa. Milah pula macam menyedut-nyedut air mani bapak mertuanya masuk ke dalam rahimnya sesudah bertemu dengan percikan mazinya sendiri. Basah seluruhnya. Tidak ada yang lebih basah dari mandian peluh dan mandian mani mereka. Milah dan bapak mertuanya tercungap-cungap kelesuan. Tak pernah dirasakan jkelazatan yang sebegitu indah.
“Pak.. Sedapnya.. ““Kau hebat Milah.. “
Pelirnya terus kekal keras terrendam setelah habis melepaskan saki baki maninya dalam faraj Milah. Kalau kena gayanya, Milah bakal mengandungkan anak Johar yang akan menjadi adiknya. Milah rasa longgar. Pelukannya longlai. Dia terdampar lesu. Wajah Johar dan bapak mertuanya Mat silih berganti. Tapi batang Pak Mat sepanjang tujuh inci itu tak akan dilupa lagi. Kalau agaknya akan berulang lagi, pasti akan jadi seperti acara malam itu. Mula-mula tolak. Sudahnya sukar ditolak.
Janda kesepian
Maya A.R
Nie 1 lgi video dye mengerang kegersangan..kasi viral semua dye nk sgt tu..viral dlm fb ngn youtube skli..ak nk dptkn no dye je nie.
Akak Tudung Body Gred (A+) Part3 #Special Part😋
Akak nurul I’d & number. From faiz89. Tq for the number.
Reblog…
mak mentua. buat dua id
milf
untuk one hundred polower..ngehhhh gggrrrrrr
milf
sambungan
milf
Tiera 😋😋😋