I love you completely and you love me the same. The rest is confetti
Eleanor Craine - The Haunted of Hill House

tannertan36
Peter Solarz
Alisa U Zemlji Chuda
Cosmic Funnies
RMH
Today's Document
dirt enthusiast

blake kathryn
Cosimo Galluzzi
i don't do bad sauce passes
Keni
art blog(derogatory)
wallacepolsom
Misplaced Lens Cap

titsay
YOU ARE THE REASON
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
No title available

Kaledo Art
will byers stan first human second

seen from United States
seen from Canada

seen from Hungary

seen from Russia

seen from United Kingdom
seen from T1

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States

seen from United States
seen from Italy

seen from Türkiye
seen from Italy

seen from Belgium

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
@malikarrahiem
I love you completely and you love me the same. The rest is confetti
Eleanor Craine - The Haunted of Hill House
Haunting of the Hill House
Sudah lama gak menulis di Tumblr. Jadi saya mau nulis sedikit aja, tentang film seri tv yang saya tonton sekitar 3 minggu lalu, judulnya Haunting of the Hill House, dari Netflix.
Film hantu ini seru banget, totalnya 10 episode, setiap episodenya sekitar 45-60 menit. Ceritanya tentang keluarga Crain, Olivia dan Hugh serta 5 orang anaknya, yang tinggal di rumah berhantu, Hill House. Olivia dan Hugh ini semacam arsitek yang keahliannya merenovasi rumah-rumah tua untuk kemudian dijual lagi.
Film hantu ini genrenya horor keluarga, konflik-konflik antar tokohnya tipikal keluarga. Orang tua yang menyimpan rahasia, anak yang kehilangan rasa percaya pada orang tuanya karena orang tua tidak jujur, adik tidak bicara dengan kakak, dan seterusnya.
Karakter orang-orangnya hidup dan berkembang dari episode awal sampai akhir. Konfliknya seperti keping-keping yang acak tapi kemudian paripurna di akhir. Akhirnya mencengangkan, tak terduga dan pecah!
Horornya bukan tipe-tipe conjuring yang ngagetin, meskipun tetep serem dan kadang pengen terus nutup mata.
Silakan langsung dibuka netflixnya, ditonton di hari minggu yang tenang dan damai.
Tarian Sungai
Sungai tak lagi menari Ia dipaksa berlari lurus menuju peraduannya Lalu rawa-rawa kelokannya kini tiada Ton-tonan tanah menimbunnya Tebal hingga hilang danau oxbownya
Sungai tak lagi menari Lembah terjalnya disumbat struktur mega Alirannya tiada Menggenang desa-desa Tanah moyangku lenyap tak bersisa
Sungaiku tak menari lagi Dataran banjirnya jadi pemukiman elit katanya Pemukiman kumuh di pinggir-pinggirnya Air yang bertamu setiap tahunnya Kini tak diingini Padahal sudah terjadwal ia selalu mampir ke sana
Sungaiku tak menari lagi yang menari disana hanya kasur seolah perahu karet bahkan sekali aku lihat dapur dibawa air menari
Sungaiku tak lagi menari Warnanya pekat seolah karpet berwarna Berganti-ganti setiap hari tergantung musim apa Sebentar lagi musim sekolah Ia kan merah, biru tua, dan abu-abu seperti warna celana
Sungaiku tak menari lagi tapi herannya masih banyak yang percaya bahwa sungai memang tak seharusnya menari heran.
Melipat Jarak
Melipat jarak antara kita Terpisah ratusan stasiun kota Terpisah bandara-bandara Terpisah waktu begitu lama Terpisah jarak merentang antara kita Aku melipatnya tajam Malam kita sama malam Siang kita sama terang Senjanya Sukab kita bagi berdua Aku kamu menikmatinya bersama Tak lagi lama sayang Melipat jarak mengingatkanku Tentang hutang rindu Aku melunasi kontan padamu Apakah kamu juga begitu? Melipat jarak antara kita Ribuan kilometer benua samudera Kini, kau kah disana?
Perbudakan dalam Pakaian Kita
Dalam kumpulan cerita Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma karya Idrus, tertulis sebuah kisah tentang Kusno, seorang opas, jelata, orang kebanyakan di negeri Indonesia. Pada usianya yang ke 14, ayah Kusno membelikan sebuah celana pendek, celana kepar 1001, made in Italia, merk terkini di zamannya. Masa itu adalah masa perang, zaman pendudukan Jepang, tidak banyak pekerjaan, dan bagi Kusno, celana keparnya adalah hartanya yang paling berharga. Setiap hari ia bekerja, tak mampu ia membeli celana yang serupa. Setiap hari ia berdoa semoga Tuhan tak turunkan hujan, karena jika basah, maka begitu sengsara ia kenakan celananya.
Zaman itu begitu keras, bahkan pakaian saja orang tak mampu membelinya. Pakaian seolah barang mewah. Nenek sering bercerita orang memakai karung goni, badannya lecet, kutu dan serangga mengigiti, gatal dan nyeri tak terperi.
Tapi itu dulu, ternyata di zaman serba nikmat, saat orang bisa membeli pakaian sesukanya, masalah tak berhenti disana malah semakin besar tak terhentikan.
Saya sering lihat komentar-komentar dari teman-teman saya di media sosialnya, “Lemari penuh, tapi merasa gak punya baju”, atau “diundang nikahan si anu, duh gak ada baju, beli dulu deh”, dan semacamnya. Sering juga di hari-hari yang lain melihat teman-teman yang bajunya baru terus, setiap minggu mampir Zara atau H&M atau Mangga Dua ITC dan pusat perbelanjaan baju lainnya. Kalau bajunya murah dan kita punya uang, lantas apa yang salah?
Saya tersadar dan tersindir setelah menonton film dokumenter The True Cost karya Andrew Morgan. Ada yang salah kawan-kawan, dengan cara kita mengonsumsi pakaian. Kalau zaman kita kecil dulu beli baju baru hanya saat lebaran, sekarang setiap minggu atau minimal setiap gajian kita belanja baju baru, sepatu baru, topi, tas, rok, jas, gamis, kerudung, mukena, sajadah, semua kita beli karena kita merasa harganya semakin terjangkau dan kita mampu.
Di Amerika sendiri, sekitar 15 juta ton sampah tekstil dihasilkan setiap tahunnya. Hal ini karena orang-orang merasa pakaian begitu murah dan tak dipakai lagi pun tak apa-apa. Disumbangkan saja ke yang membutuhkan, kasih orang lain, sementara orang makin enggan kenakan pakaian bekas, toh pakaian baru pun murah harganya. Akhirnya sampah tekstil menggunung. Ia tak terurai dengan mudah kawan, sekurang-kurangnya 200 tahun sampai terurai sempurna.
Industri tekstil adalah industri yang mencemari sungai-sungai kita. Di Indonesia kita akrab dengan cerita Citarum, yang ke dalam alirannya sentra industri tekstil Bandung Raya membuang limbah tekstilnya. Konon cerita sungai bisa berubah-ubah warnanya, kala pesanan kain warna merah maka sungai merah pula warnanya. Kala pesanan kain warna biru, maka birulah sungai dibuatnya. Di India, Sungai Gangga yang menjadi sungai suci masyarakat hindu pun tak kalah kena dampaknya. Status sebagai sungai suci tak berhasil melindungi sungai ini dari hantaman polutan.
Perkara kedua adalah dari baju murah yang kita pakai sekarang, baju-baju berlabel kelas dunia yang ada di mal-mal yang senantiasa digandrungi pemuda, kita tak pernah tahu bagaimana mereka diproduksi, yang ternyata ada perbudakan modern di dalamnya. Saat ini baju-baju yang banyak di mal biasanya diproduksi di Bangladesh dan Kamboja. Disana sedang terjadi perbudakan modern. Orang-orang dipekerjakan dengan gaji murah, fasilitas bekerja yang kurang aman, tunjangan dan remunerasi yang tak cukup, jam kerja yang tak masuk akal. Alasannya sederhana, industri tekstil memberi mereka pekerjaan, mereka tak punya pilihan.
Pada tahun 2013, terjadi sebuah tragedi memilukan di Bangladesh. Rana Plaza runtuh. Gedung berlantai delapan ini merupakan pabrik pakaian. 1134 orang tewas tertimpa bangunan, dan 2500 cedera serius. Tragedi Rana Plaza ini membuka tabir gelap industri tekstil di Bangladesh. Rana Plaza sendiri ternyata menyalahi aturan bangunan, izinnya lima lantai, dibangun delapan lantai. Sehari sebelumnya keretakan sudah terdeteksi, tapi diabaikan meskipun pekerja sudah menolak untuk bekerja karena merasa tidak aman. Meski begitu suara mereka tak didengar, mereka terpaksa harus bekerja dan akibatnya fatal.
Industri tekstil diakui sebagai industri padat karya yang mempekerjakan banyak orang. Dan dengan semakin tingginya permintaan tekstil karena gaya hidup yang menuntut orang-orang terus membeli pakaian yang baru, para pemilik modal berlomba-lomba menanamkan modalnya di negara-negara yang bisa menjamin harga produksi semurah-murahnya. Maka diincarlah negara-negara seperti Bangladesh dan Kamboja. Buruh-buruh yang hidup sengsara tak punya daya tawar atas perbudakan modern yang terjadi. Tenaga mereka secara konstan diperas dengan gaji yang tak seberapa. Mereka digaji sekitar Rp300.000 – Rp500.000 perbulan untuk bekerja tanpa henti, tanpa perlindungan ketenagakerjaan yang layak, tanpa adanya THR, dan jaminan-jaminan ketenagakerjaan lainnya.
Di Kamboja pada tahun 2014, para pekerja tekstil berdemo. Mereka menuntut gaji sekitar USD160, sekitar Rp2.000.000 per bulan sebagai gaji layak. Demonya kemudian berakhir anarkis karena pihak keamanan menembakkan peluru, tiga orang tewas, banyak luka-luka. Kenapa orang yang memperjuangkan haknya harus bersimbah darah meregang nyawa? Di tangan pemerintahan yang seharusnya melindungi mereka. Apakah pemerintah terlalu takut industri tekstil itu hengkang dari negerinya karena buruh menuntut haknya dipenuhi?
Entah kenapa saya merasa bahwa dalam pakaian yang kita pakai saat ini ada keringat dan darah para pekerja tekstil yang bekerja dengan gaji yang mungkin kurang layak hanya demi kita tampil cantik tampan enak dipandang yang cocok dengan dompet kita kelas menengah ngehe yang haus pengakuan.
Ada yang salah dengan gaya hidup kita kawan. Konsumsi gila-gilaan, secara kontinu membeli baju-baju lucu yang kita lihat, membelanjakan uang kita untuk pakaian yang entah kapan akan kita pakai, menumpuk baju-baju di lemari kita dan tetap bingung tatkala ada acara yang akhirnya kita terpaksa membeli baju yang lainnya.
Ada yang salah dengan kita kawan, jika kita tahu sampah tekstil yang kita hasilkan kelak akan dibuang ditumpuk dan tak akan terurai hingga 200 tahun yang akan datang dan kita tetap membeli, membeli, membeli!
Ada yang salah dengan kita kawan, jika kita tetap membeli produk-produk yang kita tak tahu apakah ada keringat orang-orang malang yang diperas untuk menghasilkan baju yang kita mau, yang kemudian kita tak pernah memakainya lagi karena memang kita tak perlu.
Ada yang salah, teramat salah.
Ditulis setelah menonton The True Cost,
28 Juni 2017
Terkadang orang berlomba-lomba mengincar pengakuan. Seperti sertifikat ini, harus ditebus oleh sekian dolar, hanya agar ada pengakuan. Padahal ilmunya gratis, dibagikan oleh coursera bebas bisa diakses siapa saja. Tapi tetap orang butuh pengakuan. Selama struktur kehidupan kita disusun oleh kertas-kertas pengakuan, maka pengakuan kemudian menjadi sebuah komoditas yang diperjualbelikan. Sebabnya lah orang membeli ijazah. Buat apa sekolah toh akhirnya hanya untuk bekerja? Yang penting ijazah karena hanya itu prasyaratnya bekerja dan naik gaji. Namun satu hal mengingatkan saya, boleh jadi selembar surat ini kelak akan menjadi saksi di hari pengadilan nanti, pada apa ilmu ini saya amalkan? Apakah ilmu ini akan saya sia-siakan? Atau justru saya gunakan untuk kebatilan? Maka aku berlindung padaMu Yaa Allah, semoga ilmu ini jadi ilmu yang bermanfaat bagi orang banyak, semoga engkau berkahi mereka yang senantiasa membagi ilmunya. Aamiin.
Merancu Meragu
Semakin kita dewasa maka semakin kita tak paham bagaimana dunia bekerja. Betapa makin rumit memelik. Jika direnungi maka benarlah bahwa semakin aku mencoba untuk tahu, semakin aku tidak tahu. Pemikiran2 berkembang semakin membingungkan. Standar kebenaran berkembang merancu, makinlah kita meragu.
Hingga Tiba Waktunya
Kau pergi aku pulang Kau kembali ku telah di jalan Menyusuri bumi Mencari kemana hati kembali Kau mengudara aku melaut Kau menggunung aku memuara Menyusuri endapan-endapan muda Emas perak tembaga Kau merindu aku juga Kau ingin bertemu aku pun begitu Meratapi nasib enggan berpihak Menanti waktu tepat begitu sesak Kau mengarung laut samudera Aku mengukur lempeng benua Kau dingin salju aku gigit malaria Kau kesepian aku meratapi nasib sendirian Dalam waktu yang tak tentu Aku akan bertemu denganmu Dalam waktu yang tak tentu Aku peluk erat dirimu Hingga tiba harinya Mari sabar berselisih jalan Nabire, 20 Maret 2017
Si Anak Gang
Aku ini anak gang. Lahir dan besar di gang sempit kampung nenek moyangku di Sukajadi. Meski kini sudah jadi pusat kota, ditandai dengan pusat perbelanjaan yang tak pernah sepi dari orang, Sukajadi selalu jadi kampung buatku. Menelusur gang-gang, warung-warung tempatku jajan, yang ibu-ibunya telah tua, yang banyak nenek telah meninggal dunia, aku dibesarkan disana. Menyusuri labirin gang-gang kecil, stang motor pun tak bisa lewat, tukang baso tahu menggerutu tak bisa memotong jalan pintas ke gang sebelah. Kami berlarian menyepak-nyepak bola plastik yang jika lepas ke jalan maka sial lah terpaksa berhenti bermain bola. Suatu ketika dalam pengembaraan pramuka pangkat siaga, kami ditugasi menghitung jumlah blek kerupuk dari Sukajadi hingga Jalan Cemara beserta nama pedagang dan Pak RT untuk dipertanggungjawabkan. Kami si bocah lugu menanyai satu per satu tanpa pernah menyadari bahwa itu kali pertama dan terakhir kami berkenalan dengan mereka. Aku ini anak gang, besar menyusur sungai dan jatuh dari galengan karena berlari terlalu kencang. Saat petak umpet bersembunyi di rumah Mang Enda, dan diusir diteriaki tapi kabur tertawa-tawa. Baru tadi ku susuri perkampungan gang sempit Babakan Siliwangi hingga Cihampelas dan memoriku merekah kembali. Jati diri yang seolah teringat masa-masa dua dekade lalu menyinggahi rumah kawan-kawan di pemukiman padat begitu mudah tersesat. Apakah aku bukan anak gang lagi? Melainkan anak jalanan yang gemar macet menyembur emisi mesin diesel kaya gas rumah kaca. Ibu-ibu dan bocah-bocah kecil mengaji menenteng iqro menabung seribu seribu hingga seratus ribu dan pergi belanja. Bahagianya sederhana, berbagi dengan kawan-kawannya, tidak mahal konsumtif dan individualis seperti kebahagiaan semu orang-orang generasiku kini. Yang tak ku sadari anak gang masih ada, sepercik jiwaku terpanggil ingin kembali. Hanya perlu lebih banyak berjalan kaki menyusuri kampung kota tanah airku, tanah air ibuku. Identitasku, identitas nenek moyangku. Dan ku sambut diriku sendiri. Terinspirasi dari perjalanan ITB-Sukajadi berjalan kaki. Bandung, 16 Februari 2017
Harus kemana rindu hati ini ku alamatkan di musim penghujan Pada siapa rindu hati ini kan ku sematkan di musim penghujan
Merentang jarak antara kita Andai hanya ribuan hasta laut dan samudera Andai hanya perantaraan pelabuhan dan bandara Kau bergetar di dada Aku, tiada?
Yang Enggan Merindukan
Aku percaya bahwa tak ada frasa “pernah jatuh cinta”, pernah lalu tak ada itu tak bisa. Sekali pernah maka selamanya ia bersemayam dalam rongga dada. Bersemi saat-saat tak terduga. Terhimpit sakit, mengenangnya kau tersiksa. Mencoba lupa, mencoba lupa, lupa. Sayang bukan begitu cara hati bekerja.
Apa kabarnya ia, ia, ia, dan ia? Dirimu cemburu, jangan begitu. Aku tak kuasa tentukan pada siapa rindu ku rasakan. Pada akhirnya hidup adalah sekumpulan pilihan. Hidup terikat pilihan, mati harus pertanggungjawabkan.
Oh wahai dirimu yang bersemayam di hatiku, aku merindu.
Terinspirasi dari La La Land
Menyambut Tahun Baru
Satu hal yang aku tahu pasti, hidup bertambah sulit setiap saatnya. Semua tiada bertambah mudah. Setiap pilihan mengandung pengorbanan, tak bisa semua didapatkan. Hidup bertambah pelik setiap masalahnya. Bercampur berbaur manusia dengan manusia lainnya. Bertaut permasalahanmu dengan mereka yang tiada terkira. Pilihanmu memengaruhi mereka yang tiada kau duga. Satu hal yang aku tahu pasti bahwa dalam doaku takkan kuminta hari-hari yang lebih mudah, aku hanya minta diriku yang lebih tabah. Hanya diriku yang lebih tangguh dan bersungguh, yang teguh lagi kukuh. 2017 ku songsong dirimu dengan berani.
Mencarimu
Ada saat-saat dimana aku dalam kondisi terburukku. Tapi kau tak ada. Dimana kau berada?
Pun ketika aku begitu bahagia. Kau tiada. Kau ada dimana?
Lalu hari-hari yang lain penuh dinamika. Lagi-lagi kau tak ku jumpa. Bersembunyi kah kau disana?
Mengharapimu hadir, lantas aku berpandir, anganku getir.
Mencarimu aku tak tahu kemana. Bahkan tak tahu dirimu siapa. Hanya merasa kau ada dekat meski belum kita bersua. Mungkin sudah dalam mimpi-mimpi yang lama. Dalam ingatan peristiwa-peristiwa.
Mencarimu setengah mati. mati. mati. mati
Diinspirasi oleh film Kimi No Na Wa - Your Name karya Makoto Shinkai
Si Pandir Merindu
Waktu aku bermenung dan kau tersenyum Sekali kau beri tak mau lepas lagi Berbayang padaku di malam malam merindu Berbekas padaku di tempat-tempat bersamamu Yang hadir lantas minggir Tempatmu terlalu luas meranggas Yang mampir nampak pandir Berpayah aku menutupimu Memikir hal-hal mustahil Hari-hari bersamamu Mengukir di atas air Berharap memilikimu
Sejak jaman Trunodongso lebih 100 tahun yang lalu, penguasa kita tak berhenti menggadaikan bangsa. Dulu tanah-tanah rakyat dipaksa dirubah menjadi perkebunan gula. Kini ladang nelayan melaut ditimbun pasir dibangun istana untuk si kaya. Nelayan merana, kaumnya Soekarno, mereka yang penghasilannya hanya cukup untuk hidup hari itu saja. Sakit rasanya, lirih membayangkannya. Segubuk butut harta satu-satunya, perahu bocor sana-sini melaut alakadarnya. Mau dirampas, ditindas, dikatakan lautmu tak ada ikannya. "Pindah sana ke Pulau Seribu ikan ruah melimpah!" ujar gubernur sinis tak bertulang lidahnya. "Kau kira hidup bagai permainan Sim City, tanah air tak punya arti. Biar kau maki-maki, tanah air kubela sampai mati." Semoga Allah menyertaimu saudara-saudara nelayan.
Watch Chasing Ice with Subtitles Online For Free in HD. Free Download Chasing Ice. Watch free movie Streaming now.
When my daughters, Simone and Emily, look at me 25 or 30 years from now and say “what were you doing when, when global warming was happening and you guys knew what was coming down the road?” I want to be able to say, “guys, I was doing everything I knew how to do.”
-James Balog-