Luka yang (tak) kau ceritakan
Berada dalam pertemanan yang cukup dekat, tentu akan berhadapan dengan banyak karakter yang ada. Dan menurutku, tidak baik membandingkan sikap begini dengan sikap yang lain. Membandingkan mana yang lebih baik? Misalnya, ada teman yang menceritakan kesedihannya terhadap orang tertentu tanpa mau diceritakan ke teman lain. Sedang ada teman lain yang membaginya di status aplikasi chatting.
Menjadi bijak dengan tidak berprasangka macam-macam sungguh sulit, tidak berprasangka pada salah satu kelakuan teman kita. Apalagi ketika kamu berada dalam posisi yang bisa mengetahui perbuatan yang disembunyikan seperti patungan untuk hadiah, dan hal lain. Aku harus berusaha untuk tidak berprasangka pada angka-angka nominal yang aku ketahui. Aku bersyukur menjadi pribadi yang tidak berisik untuk menceritakan kepada orang lain soal ini itu.
Aku bersyukur bisa berada pada posisi yang dipercaya untuk tahu cerita temanku. Walaupun mungkin aku tidak memiliki respon yang diharapkan seseorang ketika bercerita. Sungguh orang itu berbeda-beda, ketika ku bilang aku nyaman dengan tidak bercerita pada semua orang. Ada orang lain yang menjadikan itu sebagai proses untuk membuat dia lebih senang. Walaupun aku memilih menjadi yang tidak bercerita kepada banyak orang, tidak menjadikan aku menganggap orang lain buruk melakukan hal kebalikannya.
Tapi akhir-akhir ini aku sedang terpikirkan oleh salah seorang teman yang tak mau menceritakan tentang masalahnya. Bersyukurnya aku tahu, walaupun tidak bisa berbuat lebih dari sekedar tahu. Tapi banyak sekali hikmah yang bisa aku tangkap dari sikap tersebut.
Untuk luka yang (tak) kamu ceritakan, Semoga Alloh sembuhkan semua lukamu.












