ASEANs featuring me and my friend's Hetalia OCs + Philippines from @ask-emilz-de-philz
Binondo, Laos and Singapore belong to two of my friends
Thailand, Malaysia (♀) and Indonesia are mine

seen from United States

seen from Switzerland

seen from United States

seen from Russia

seen from United States

seen from France
seen from United States
seen from Russia

seen from United States
seen from China

seen from United States

seen from United States
seen from Japan
seen from United States
seen from United States

seen from Switzerland
seen from Russia

seen from Italy
seen from Russia
seen from China
ASEANs featuring me and my friend's Hetalia OCs + Philippines from @ask-emilz-de-philz
Binondo, Laos and Singapore belong to two of my friends
Thailand, Malaysia (♀) and Indonesia are mine
Si Sulung
Katanya aku kuat, sebab lahir lebih dulu dari yang lain. Padahal yang lebih dulu kupelajari adalah menahan, bukan mengeluh panjang-panjang.
Aku tumbuh bersama tuntutan, bersahabat dengan kata “ngalah” dan “nanti dulu”. Bahuku belum selalu siap, tapi dunia terlanjur menitipkan banyak hal di situ.
Aku yang pertama diminta mengerti, meski sering tak sempat dimengerti. Yang pertama diminta dewasa, meski diam-diam ingin dimanja juga.
Anak sulung bukan tanpa lelah, hanya pandai menyembunyikan resah. Bukan tak pernah goyah, hanya terlalu terbiasa terlihat tabah.
Jika hari ini ia terlihat diam, mungkin sedang belajar memeluk dirinya sendiri. Karena tak semua yang terlihat paling kuat benar-benar tak pernah ingin dikuatkan lagi.
Anak Pertama
Kelahirannya dilabeli dengan harapan yang membumbung tinggi, menembus sampai luar angkasa. Masa kecilnya dituntut serba bisa, sampai lupa siapa yang anak kecil siapa yang orang dewasa. Masa remajanya dipertemukan untuk melawan keindahan hidup anak muda, kemudian bertahan hidup dari kerasnya ibu kota. Impiannya tersandera beban yang tak kunjung reda. Semua luka terpendam dalam hening malam. Ia kubur dalam-dalam. Tak perlu ada nisan, karena semua manusia lebih suka perayaan. Lebih banyak yang hadir di acara pernikahan dibanding upacara kematian bukan?
Nelangsa
Kata bapak rumah ini kekurangan laki-laki, sebabnya dimata itu banyak pengharapan pada tulang kecil ini, katanya hidup ini tentang berjuang, berperang dan tiap rumah harus ada tulang yang lebih kokoh walaupun dia adalah seorang putri raja, biarkan dia hitam atau luka telapak kakinya, lebih baik dan mulia.
Kata bapak, ini mungkin takdir dari ilahi, jangan dihiraukan Panjang dan jangan lari dari kenyataan. Anak perempuan lebih kuat bahu dan lututnya, sendi dan ruasnya kecil tapi di pupuk doa dan dikokohkan keadaan, sulung bapak ini harus bisa jadi rumah untuk pulang saudara-saudaranya.
Kata bapak setiap orang hakikat hidupnya tentang perjalan menuju pulang, sulung harus kuat walau jauh jarak memisah, pergi dari kampung halaman adalah kebaikan, tugasnya menjadi panutan, dunia harus menjadi miliknya.
Duhai tuhan, orang-orang punya tujuan pulang ketika pergi bagaimana hamba mengingat pulang pada rumah? yang ku tujuh memandangiku dengan cemas dan tiada hari bertambah tugas dan harapannya.
Muslimah, Si Putri Sulung
Hai sulung, mari kita selami sedikit dirimu. Sulung, kebahagiaan pertama dalam keluarga kecil Sulung, pusat perhatian pertama seisi rumah Sulung, membuat seorang lelaki mendadak bertitel "bapak", membuat seorang perempuan mendadak bergelar "ibu" Lalu.... Menjadi sulung, berarti harus bersiap pasang badan kalau ayah ibu sudah tak sanggup lagi. Menjadi sulung, katanya punya "ego" tinggi, tapi di dalam hatinya ia sungguh peduli. Menjadi sulung juga terkadang berarti merelekan mimpi; karena biasanya, si sulung mendapatkan "hal lebih" dari yang lain, maka membuat adik merasa "lebih" juga menjadi penting. Untukmu, Muslimah, si putri sulung.... Menjadi sulung itu bukan kelebihan ataupun kekurangan, tapi salah satu takdir Allah. Menjadi sulung, harus mengerti kondisi rumah, harus mengerti kondisi asmara bapak dan ibu. Harus mengerti, kenapa ibu menangis, kenapa ayah diam sejak semalam. Menjadi sulung harus pintar, bukan untuk membanggakan diri, tapi untuk membantu adik mengerjakan PR. Menjadi sulung, Muslimah, berarti Allah memberimu amanah yang harus dikerjakan sebaik-baiknya. Menjadi sulung, Muslimah, berarti Allah memberimu ruang untuk belajar, untuk bertumbuh. Maka, selamat bertumbuh! Kamu sulung yang hebat!🌱💌👑
Sebagai anak pertama, ibu kita dipanggil dengan nama kita. Ayah kita pun juga. Gimana sih saat anak2 pertama denger ibunya dipanggil dengan nama mereka, pun ayahnya dan itu didepan mereka?. Haha.
Terus nanti kalo mereka (anak pertama) punya anak, apakah panggilan terhadap ayah dan ibu mereka itu berubah secara alamiah?
Si Sulung
Tidak ada yang tau bagaimana bisa ia dilahirkan menjadi sulung
iakah yang meminta pada Tuhan?
atau ia kalah undian?
Tapi selalu ada tugas mengekor dari detik pertama seorang adik lahir ke bumi
menjadi pemimpin perjalanan
dan sulung-sulung dalam hidupku
begitu besar cintanya untuk wanita-wanita dalam lingkar hati ungu nya
begitu pula perhatiannya untuk laki-laki dalam garis arahnya
Membiarkan langit kelam malam meraupnya, untuk suam di dalam kamar kami
menyimpan rapat-rapat pilu yang diderita
mengaburkan kesepian yang diemban sendiri
lalu merelakan yang diberikan
memberikan kebahagiaan dan aman dalam kepalan
Mereka tak nampak, tapi penuh kerinduan
Di dalam benak, akan selalu ada nama mereka menjadi tumpuan hati yang lelah dan meronta dalam sepi
Sulung
Ternyata bukan prihal mudah menjadi sosok anak laki-laki Pertama di keluarga Kau harus menanggung Banyak hal ketika dewasa
Harus menggantikan posisi Tulang punggung keluarga Harus menjadi sosok Orang tua yang mampu Membimbing adik adiknya
Belum lagi nanti menikah Lalu menjadi suami serta Ayah yang mampu Dengan baik menuntun Istri dan anak-anaknya
Dan yang paling buruk ialah Kau harus dengan tabah Berkorban merelakan patahnya mimpimu Demi keluarga.
Belum lagi cerita gagalnya meminang Si dia ,karna masalah Waktu jarak kesabaran Dan lain sebagainya.
Ternyata benar bukan prihal mudah menjadi anak pertama di keluarga. Sejak kecil kau sudah di latih menjadi sosok pemimpin yang mampu membimbing segala halnya setelah dewasa, kau telah di latih menjadi seseorang yang akan menggantikan posisi pemimpin di keluarga, terlebih beberapa hal yang kita ingin kerap selalu menjadi senyap sebagai harap. Mutlak kau sebagai orang yang akan terus menerus berkorban lebih banyak dari pada adik-adikmu kelak. Sungguh ini hal yang menyebalkan dan sulit untuk di lakukan. Dari mulai mengalah untuk hal yang sangat sederhana sampai hal-hal yang besar adanya, lalu merelakan mimpi demi tanggung jawab yang kau embani mungkin salah satu yang paling berat ternyata.
Saya adalah seorang lelaki yang sedang berada di fase quarter life crisis dimana segala hal yang saya hadapi membuat saya selalu patah arah, ya.. meski kerap saya enggan untuk menyerah. Menjadi sosok laki-laki pertama di keluarga adalah hal yang begitu istimewa begitu juga dengan tanggung jawabnya. Kelak saya akan menjadi se-seorang yang akan menuntun kedua adik saya. Kelak saya akan mempunyai keluarga, saya akan menuntun seorang wanita yang saya ikrarkan janjinya sebagai istri saya. Kelak saya akan menjadi seorang ayah yang mampu mengayomi anak-anaknya. Lalu saya menyadari betapa bodohnya saya hari ini ketika saya menulis sesuatu yang saya sadari akan saya hadapi tanpa pernah mempersiapkan bagaimana cara saya melakukan aksi. Untuk orang yang egois dan keras kepala seperti saya tentu bukan hal mudah untuk mengalah,namun kini saya harus belajar secara perlahan untuk melakukannya.
Di sisi lain saya mempunyai mimpi-mimpi (cita-cita) besar yang ternyata tidak kalah besarnya dari rasa cinta saya untuk keluarga. Kedua hal yang harus saya pilih, kedua hal ini yang selalu di bersanding rapih. namun naasnya, ternyata saya harus meng- kesampingkan mimpi-mimpi saya yang teramat indah, demi keberlangsungkan hidup keluarga saya. Namun saya belum menyerah untuk mewujudkannya.
Keluar dari cerita mimpi dan keluarga, saya ingin bercerita sedikit bagaimana kondisi asmara seorang laki-laki di fase quarterlife crisis nya. Singkat yang saya akan bagi sekiranya, saya jatuh cinta dengan seorang wanita yang saya tau kelak saya harus mengikhlaskan kepergiannya. Saya harus meng-iakan dia menikah dengan seorang lelaki yang ternyata bukan saya orangnya. Saya tau betul bagaimana keadaan saya sekarang, di satu sisi saya ingin tetap sama-sama dengannya di sisi lain saya juga tidak bisa memaksakan ia tetap ada di hidup saya yang seperti ini adanya. Sungguh luar biasa bagaimana tuhan mengajarkan saya arti sabar dan ikhlas. Selepas ia mendapatkan gelar sarjana dan begitu pula saya setelahnya. Kami berada di fase yang sama dengan cerita yang berbeda. “kamu harus bekerja” itu yang menjadi ucapnya terakhir kali kami bicara. Lalu saya mengajukan pertanyaan yang sama kerasnya “jika aku bekerja dan berjuang memenuhi janji ku padamu, mau kah kau menunggu ?” dan naasnya ia memberi jawaban yang membuat saya merasa ingin mundur selangkah “berapa lama saya harus menunggu ?”, sungguh seperti di tampar ribuan tangan mendengar pertanyaannya. Yaa memang saya ini lelaki, saya harus tegas dalam segala hal termasuk soal janji dan tanggu jawab yang saya katakan padanya. Sejenak terdiam dan berfikir .. lalu saya menjawab dengan sedikit kepasrahan “ aku tidak bisa mengatakan seberapa lamanya kamu harus menungguu tapi yang pasti aku akan berjuang segila mungkin untuk membuktikan padamu .. secepatnya. “ . Mungkin kali ini saya terdengan menyerah seraya saya bercerita, namun dari sini saya mengerti bagaimana cara mencintainya. Mencintainya mungkin saja saya hanya perlu meng-iakan keputusannya tanpa perlu mengelu- elukan, tanpa perlu mengeluhkan, tanpa perlu maksakan, tanpa perlu menuntut kejelasan. Yang semestinya saya lakukan hanya perlu memperjuangkan, hanya perlu menegaskan, hanya perlu memposisikan keberadaan yang meski pada akhirnya saya tau saya akan kehilangan.
Ingin sekali saya bertemu dengannya lalu bilang “andai aku bisa memilih di lahirkan dalam keadaan yang seperti apa, dan menjadi bagaimana untuk selanjutnya, maka aku hanya akan memilih menjadi seseorang yang kau impi-impikan.” . Namun kenyataannya, hidup tidak memberikanku pilihan apapun selain menjadi diri sendiri yang tuhan telah kehendaki.
Bersambung ...
Teruntuk anak pertama;
Kau hadir dan terlahir sebagai pribadi yang istimewa Di berikan tanggung jawab yang begitu besar adanya Di hadiahkan kehilangan yang berulang-ulangkali sekiranya Karna tuhan percaya kau mampu melakukan Lebih dari yang lainnya.