Yang Lalu; dan Sedang; ...
Kurang dari dua pekan lagi, usiaku akan tepat dua puluh lima. Dan di titik ini, terkadang aku merasa ada beberapa hal dalam kehidupan yang terasa mengambang, tidak menjejak pasti.
Ada beberapa warna, suasana, pun aroma yang membuat memoar-memoar atas apa yang sudah lalu kembali menguar di kepala. Dan hati. Seperti saat memandang marun yang membuatku teringat warna sandal semasa awal kuliah. Atau hitam yang menjadi favoritku. dan kamu. Atau saat mencermati ramai gerombolan manusia putih abu, kilas balik ke delapan tahun lalu: jilbab dengan ciput dua rangkap, jas abu opni, serta serambi Masjid Assalam yang mengantarkan pada Merbabu yang gagah nan indah. Lain pula setiap aku membuka penanak nasi lalu uap mengepul menyapa muka dengan aromanya yang khas: sayup-sayup suara Ibu jadi terdengar dekat, beliau sedang di dapur dan aku yang sering berseru "baunyaa enaak, Umi masak apaa?", "hidungnya di uap dulu sinii."
Memang benar, beberapa hal menjadi indah dan semakin indah saat ia sudah berlalu pergi dan tidak mungkin kembali. Masa-masa saat kita lebih muda dan kekanak-kanakan. Masa-masa yang dulu saat menjalaninya terasa biasa saja atau bahkan terkadang menyebalkan. Adalah benar, sejauh-jauhnya jarak adalah masa lalu, sebab tidak mungkin kita akan sampai padanya (lagi).
Dan di sini letak ironi terbesar dari hidup: di usia yang hampir genap dua puluh lima ini, aku justru belajar bahwa ketidakterjangkauan itu bukan hanya milik masa lalu, tetapi juga milik masa kini. Karena apa yang sedang kualami detik ini—sebelum sempat kupegang utuh—selalu lolos menjadi lalu. Aku hidup di antara sela-sela. Di antara uap nasi yang telah membumbung hilang, dan aroma nasi yang belum matang di panci berikutnya.
Saat ini, aku berada di ruang yang sama sekali tak pernah kusangka akan kudiami—ramai dengan segala yang terjadi di sekelilingku, tapi sunyi oleh tanya yang tak terjawab; asing karena tak ada yang benar-benar tahu, akrab karena hanya aku yang tahu persis rasanya. Tidak ada lagi seragam abu-opni, tidak ada Merbabu di kejauhan, tidak ada sandal marun, tidak ada suara Ibu yang memanggil dari dapur. Tergantikan dengan meja kerja, layar ponsel yang menyala-nyala, daftar tugas yang tak pernah selesai, dan tanya yang bergema di kepala: apakah yang aku lakukan hari ini cukup?
Ponorogo, 21 Juni 2026. sedang kejar-kejaran dengan tugas akhir, sebelum kejar-kejaran denganmu.