[Terima Kasih 'Ayah'] Cukup dibaca, dipahami dan dihayati. Risalah ini ku sampaikan kepada semua keluargaku, di mana pun kalian berada. Terkhusus alumni pondok Al Binaa, dan siapa pun yang peduli dengan ummat. Syukur rasanya, di tengah kesibukan dan padatnya kegiatan ngampus yang tak ada surutnya, di tengah terpaan tugas, bahts, dan ikhtibar, kami kedatangan tamu istimewa, Ayah. Ya, beliau ayah kami, ketika kami sebagai santri terpisah dari ayah-bunda kandung, beliaulah salah satu ayah kami di pondok. Tak diragukan, nasehatnya terngiang penuh hikmah dan pelajaran. Kenangan bersama di pondok, ya pahit manis. (Mungkin banyak pahitnya kali ya😅 Eh tapi manisnya sekarang lho). Hanya Allah yang bisa membalas segala kebaikan guru kami. Dari pondok, kami belajar, bahwa hidup itu belajar untuk mencoba dan akhirnya menyempurnakan. Pondok kami lahir dari sesuatu yang tak punya, dan sampai sekarang, bihamdillah. Semoga beliau selalu diberi kesehatan dan keberkahan umur, selalu lebih baik berkhidmah untuk ummat ini. Pondok kami, Al Binaa, miniatur dari ummat. Al Binaa hanya merk, dan merk ini milik ummat. Al Binaa milik ummat Islam. Apa yang bisa kita lakukan untuk pondok, bukan untuk membesarkan Al Binaa, tapi tujuannya untuk I'laa kalimatullah, meninggikan kalimatullah. Bukan artinya semua harus jadi ustadz yang berdiri di atas mimbar-mimbar. Tapi apapun itu dengan prinsip, "Ana muslim qobla kulli syaiin." Ayo, rapatkan barisan. Lakukan apa yang bisa kira lakukan, sekecil apapun. Berdayakan diri, memberdayakan ummat. Semangat menolak menyerah! Dari markaz IMLA, rumah kita, rumah kalian. Karena IMLA hanya judul dan nama, tapi kita satu, kira satu tubuh, tubuh ukhuwwah imaniyyah, ikatan yang menyatukan kita semua atas dasar keimanan. 18 Safar 1439 H mahaSiswa(Santri) yang selalu butuh nasehat Di tengah terpaan badai ujian tengah semester















